
Hari sudah menjelang Shubuh. Rasa lelah dan mengantuk dirasakan Abu dan Dandi yang tak tidur semalaman. Pak Imran, Abu dan Dandi sudah cemas menunggu Doni yang tak kunjung datang.
"Istirahatlah kalian berdua, pagi nanti kita cari Doni di kebun Pak Somad," kata Pak Imran.
"Bagaimana kami bisa istirahat Pak. Sementara teman kita belum pulang. Saya kepikiran sama Doni," kata Abu gelisah.
"Setidaknya kalian di sini dulu, nggak usah pulang," pinta Pak Imran.
Karena permintaan Pak Imran, Abu dan Dandi tidak jadi pulang ke rumah. Mereka tetap di rumah Pak Imran menunggu pagi tiba. Mau mencari Doni di waktu yang seperti ini pun rasanya was-was. Takut ada warga yang melihat sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencari Doni saat pagi.
*****
"Assalamualaikum," ucap seseorang dari luar rumah Pak Imran.
"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Imran. "Biar Ibu yang buka pintu. Kalian disini saja," pinta Bu Imran kepada Abu dan Dandi saat melihat mereka akan beranjak membuka pintu.
Bu Imran membuka pintu setelah mendengar seorang laki-laki mengucap salam.
"Eh, Pak RT. Ada apa Pak? Nggak biasanya pagi-pagi ke sini?" Bu Imran bertanya heran.
"Nggak ada apa-apa Bu. Cuma ingin ketemu sama Pak Imran saja," jawab Pak RT. "Pak Imrannya ada?" Tanya Pak RT balik.
Bu Imran terdiam sejenak sambil berpikir untuk menjawab pertanyaan Pak RT.
"Iya ada ,Pak, di dalam. Tapi, maaf, kebetulan suami saya lagi nggak enak badan. Jadi masih istirahat dulu," jelas Bu Imran.
"Oh! Begitu ya, Bu."
"Iya, Pak. Mungkin Bapak ada yang mau disampaikan?"
"Sebenarnya saya mau bilang langsung sama Pak Imran. Tapi, ya sudahlah. Saya bilang ke Ibu saja."
"Iya, sekali lagi saya mohon maaf Pak RT. Pak Imrannya lagi istirahat dulu. Memangnya ada apa ya, Pak?"
"Saya hanya ingin ngasih tahu Bu. Kalau bisa Pak Imran tidak usah ikut campur urusan kebun sawitnya Pak Somad."
"Kenapa Pak RT bisa bilang seperti itu?"
"Bukan kenapa-kenapa, Bu. Saya hanya mengingatkan saja. Soalnya Pak Imran pernah ke rumah saya membahas kebun sawit milik Pak Somad itu."
"Oh, iya, Pak. Biar nanti saya sampaikan," kata Bu Imran.
Pak RT terlihat memperhatikan sekitar rumah. Sesekali matanya melihat ke dalam. Namun, sayang tubuh Bu Imran yang menghalangi depan pintu membuatnya tak bisa melihat dengan jelas ke dalam rumah.
Bu Imran melihat gelagat aneh dari gerak-gerik Pak RT. Sengaja dia tak menyuruhkan Pak RT masuk ke dalam rumah. Karena di dalam juga ada Abu dan Dandi. Entah, bagaimana dia menjelaskan jika Pak RT tau kalau mereka berdua bisa ada disini pagi-pagi.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."
"Iya, Pak. Silakan."
Begitu Pak RT pamit. Bu Imran langsung masuk ke dalam menyampaikan pesan Pak RT kepada Pak Imran. Dia juga menceritakan tentang gelagat aneh Pak RT kepada mereka bertiga.
"Benar dugaan kita, waktu kita berkunjung kerumahnya dulu. Pak RT terlihat tidak suka saat kita membahas kebun sawit Pak Somad," kata Abu.
"Apa jangan-jangan Pak RT tau kalau Pak Imran baru saja dari kebun Pak Somad tadi malam?" Dandi mencoba menerka.
" Bisa jadi, Dan. Makanya dia ke sini," kata Abu.
"Entahlah, itulah yang membuatku semakin penasaran. Dan ingin sekali memecahkan misteri dibalik desas desus hantu penunggu kebun Pak Somad," jelas Pak Imran.
"Lalu agaimana dengan Doni? Hari sudah menjelang pagi. Namun, sampai sekarang kita tak tau kabar Doni?" Tanya Abu khawatir.
"Sebenarnya Ibu sangat khawatir dengan Doni. Tapi kalian tidak mungkin mencari Doni pagi ini."
"Kenapa tidak mungkin, Bu?" Tanya Dandi kepada Bu Imran.
"Ibu sudah terlanjur bilang kepada Pak RT. Jika Bapak tak enak badan. Karena melihat gelagat Pak RT yang tak biasanya bertamu pagi-pagi. Jadi, Ibu bilang saja kalau Bapak lagi istirahat."
"Padahal Bapak sudah enakan, Bu," kata Pak Imran.
"Biarlah Bapak istirahat dulu," pinta Bu Imran kepada suaminya.
*****
Di rumah Pak Somad. Pagi-pagi anak buahnya sudah datang.
"Bagaimana rencana kita hari ini?" Tanya Pak Somad kepada lelaki kepercayaannya itu.
"Saya sudah membuat janji dengan mereka sesuai permintaan Bos," jawab lelaki itu.
"Bagus, siang ini tepat ketika mereka shalat Jum'at. Jangan sampai kamu datang terlambat ke kebun," kata Pak Somad mengingat anak buahnya tersebut.
"Bos sendiri bagaimana? Ikut ke kebun atau bagaimana?"
"Aku mengubah sedikit rencana kita. Hari ini aku tidak ikut dulu. Aku mau ke Masjid."
Anak buah Pak Somad itu tertawa dengan sangat keras mendengar Pak Somad ingin pergi ke Masjid.
"Apa saya tidak salah dengar, Bos?"
"Kamu tidak salah dengar."
__ADS_1
"Apa Bos sedang bercanda kepada saya?"
"Saya tidak bercanda," jawab Pak Somad serius.
"Lalu, apa Bos mau tobat dan berhenti melakukan semua ini?"
Sekarang Pak Somad yang tertawa mendengar pertanyaan anak buahnya. Dia terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata.
" Kamu ini polos atau bagaimana? Tidak mungkin aku meninggalkan pekerjaanku yang banyak menghasilkan uang ini."
Lelaki kepercayaan Pak Somad itu menggaruk-garuk kepala. Karena masih belum paham dengan peryataan Pak Somad.
"Tapi, saya tidak pernah sendirian, Bos, melakukan hal seperti ini."
"Justru itu, aku ingin mengajarimu. Tenang saja mereka tidak akan berani macam-macam kepadamu. Sudah lama aku tidak ke Masjid untuk shalat Jum'at. Aku tidak ingin membuat Imran dan anak-anak **** itu makin curiga kepada kita."
" Oh, jadi Bos ingin mengalihkan perhatian mereka?"
"Benar. Aku tidak mau rencana kita hari ini gagal. Jum'at lalu Imran dan anak-anak itu sempat melihat aku ke arah kebun. Bisa jadi merek penasaran dan kembali ingin menyelidiki lagi hari ini."
"Jadi, maksud Bos. Jika mereka melihat Bos ada di Masjid hari ini. Maka mereka tidak akan curiga dengan apa yang kita lakukan?"
"Tepat sekali."
"Baiklah, Bos.
"Ingat, hati-hatilah kamu saat akan pergi ke sana. Jangan sampai membuat gelagat yang mencurigakan. Termasuk istrimu, jangan sampai dia tahu pekerjaanmu yang sesungguhnya. Aku sudah menyiapkan apa yang mereka minta. Kita akan untung besar hari ini," jelas Pak Somad.
"Baik, Bos. Saya akan berhati-hati," jawab anak buah Pak Somad yang bernama Burhan tersebut.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Sebagian para laki-laki di Desa sudah bersiap-siap ke Masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at. Begitu juga dengan Pak Imran. Dengan koko berwarna putih dan peci putih. Pak Imran berjalan menuju ke Masjid.
Ditengah perjalanan, Pak Imran melihat seseorang yang sangat dia kenal. Dia melihat Pak Somad mengenakan pakaian muslim. Wajahnya tersenyum melihat Pak Imran yang keheranan. Seolah tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Pak Imran menghampiri Pak Somad.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Pak Imran?" Pak Somad memulai pembicaraan kepada Pak Imran.
"Ini, Pak Somad?" Tanya Pak Imran. Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa yang dilihatnya memang benar Pak Somad.
"Apa kamu tidak percaya kalau aku ini Somad. Orang terkaya di Desa kita ini," Kata Pak Somad.
"Alhamdulillah, Pak Somad mau pergi ke Masjid?"
"Jangan bertanya seperti merendahkan aku Pak Imran. Aku juga bisa seperti dirimu pergi ke Masjid. Aku hanya tidak ingin menunjukkan ke sholehanku selama ini," jelas Pak Somad.
__ADS_1
"Bukan, Pak. Tidak seperti itu maksud saya. Hanya saja rasanya sudah lama saya tidak melihat Pak Somad shalat di Masjid di desa kita ini. Mungkin Pak Somad shalat di Desa lain?"
"Iya, selama ini aku shalat di Desa lain."