Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 3


__ADS_3

“Pak, gimana kabarnya Doni?” Tanya Bu Imran kepada suaminya.


“Doni baik, Bu. Barusan bapak ketemu dia pagi tadi,” jawab Pak Imran.


“Lalu bagaimana urusan Doni sama Pak Somad, Pak?”


“Pak Somad tidak melaporkan kejadian ini, Bu.”


“Syukurlah kalau begitu, Pak. Ibu hanya kasian sama Doni.”


“Kasihan kenapa, Bu?”


“Doni ‘kan anak yatim, Pak. Kalau dia terbukti bersalah terus di penjara. Bagaimana nasib ibunya. Bu Lasmi ‘kan sudah tua,” jelas Bu Imran.


Doni adalah anak yatim. Ayahnya meninggal sejak usianya dua tahun. Dia tinggal bersama ibunya Bu Lasmi. Semenjak ibunya sakit-sakitan Doni yang usianya baru menginjak tujuhbelas tahun. Sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Di Desa Doni terkenal anak yang baik dan suka menolong.


“Bapak yakin Doni tidak bersalah. Dugaan Bapak dia hanya dijebak.”


“Dijebak? Jadi menurut Bapak siapa yang menjebak Doni?”


“Bapak belum berani bilang, Bu, takut salah.”


“Apa Bapak menduga Pak Somad menjebak Doni,” terka Bu Imran.


“Sebenarnya Bapak tidak mau menuduh, Bu. Tapi, apa Ibu ingat ketika Doni bilang, dia melihat Pak Somad di kebun itu?”


“Iya, Ibu ingat, Pak.”


“Nah, mungkin saja itu benaran Pak Somad.”


“Kenapa Bapak berpikiran seperti itu? Dan buat apa Pak Somad menjebak Doni?”


“Ini hanya dugaan Bapak. Karena waktu Bapak ke rumah Pak Somad pagi itu. Pak Somad bilang kalau dia ingin menunjukkan kehebatannya kepada semua orang di desa ini.”


“Tapi, buat apa Pak Somad melakukan itu, Pak?


“Itulah yang ingin Bapak selidiki, Bu. Sementara ini dugaan Bapak, mungkin Pak Somad melakukan semua ini agar warga desa takut dengannya.”


*****


Jum’at siang, Pak Imran besiap-siap pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Di jalan dia bertemu dengan Pak Somad. Namun, Pak Imran merasa ada yang aneh dan mencurigakan. Pak Somad terlihat seperti tergesa-gesa. Dia membawa bungkusan dengan kresek hitam. Seperti membawa sesuatu yang sangat penting. Dilihat dari gayanya memegang bungkusan itu begitu erat. Sesekali dia menoleh ke belakang. Lalu mempercepat langkahnya.


“Mau kemana, Pak Somad sepertinya terburu-buru?” Sapa Pak Imran kepada Pak Somad. “Bukankah masjid arahnya ke sana,” tunjuk Pak Imran.


“Bukan urusanmu Pak Imran. Terserah, aku mau pergi ke mana. Kamu tidak perlu tahu,” jawab Pak Somad.


“Maaf, Pak, aku hanya bertanya tidak bermaksud mencampuri urusan Bapak,” jelas Pak Imran.

__ADS_1


“Bilang saja kamu mau tahu urusan aku ‘kan?”


Belum sempat Pak Imran menjawab dan menjelaskan kepada Pak Somad. Jika dia hanya ingin bertanya. Tidak bermaksud mencampuri urusan Pak Somad. Namun, Pak Somad keburu pergi meninggalkannya.


Setelah selesai shlat jum’at. Pak Imran bermaksud menemui Pak RT. Dia mengajak Abu dan Dandi untuk ikut.


“Abu, Dandi, aku mau mengajak kalian ke rumah Pak RT,” ajak Pak Imran kepada Abu dan Dandi.


“Ke rumah Pak RT? Ngapain, Pak?” Tanya Abu.


“Kita silaturahmi saja, sekalian mau membicarakan masalah Doni kemarin.”


“Apa Pak Somad sudah melaporkan kejadian itu, Pak?” Tanya Dandi.


“Tidak. Aku tidak mendengar kalau Pak Somad melapor,” jawab Pak Imran.


“Terus kita mau bicara apa sama Pak RT?” Tanya Abu kepada Pak Imran.


“Kita ceritakan saja kejadian kemarin kepada Pak RT. Kalian berdua ‘kan juga menyaksikan kejadian itu. Jadi tidak ada salahnya kalian ikut denganku,” jelas Pak Imran.


Abu dan Dandi mengangguk.


“Oh! Iya, Pak. Tadi di jalan pas mau ke Masjid. Aku melihat Pak Somad di kebun Sawit,” Kata Abu.


“Jadi Pak Somad ke kebun sawit. Tadi aku juga sempat bertemu dengannya. Ketika aku bertanya mau kemana. Pak Somad bilang jangan ikut campur urusannya. Sepertinya dia tidak suka ditanya seperti itu,” kata Pak Imran.


“Iya, Bu. Dia seperti tergesa-gesa. Dari gerak-geriknya terlihat mencurigakan,” kata Pak Imran.


“Benar, Pak. Aku juga curiga sama Pak Somad. Ngapain dia ke kebun siang-siang gini? Bukankah seharusnya dia ke masjid melaksanakan shalat jum’at,” kata Abu.


“Terus kamu lihat dia kebun. Pak Somad lagi ngapain?” Tanya Pak Imran kepada Abu.


“Aku hanya melihat dari pinggir jalan, Pak. Dia terus berjalan ke dalam kebun. Seperti yang Bapak bilang tadi. Pak Somad terlihat mencurigakan. Dia berjalan terburu-buru sambil sesekali menoleh ke belakang,” ungkap Abu.


“Kamu bagaimana, Dan. Apa kamu juga melihat Pak Somad di kebun?” Tanya Pak Imran kepada Dandi. Yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan Abu dan Dandi.


“Aku nggak lihat, Pak. Boro-boro mau melihat ke kebun Pak Somad. Kalau ada jalan lain. Mending aku nggak melewati kebun Pak Somad,” ungkap Dandi.


“Bilang aja kamu takut, Dan,” ejek Abu.


“Emang kamu berani?” Tanya Dandi kepada Abu.


“Hehehe… nggak berani juga sih kalau sendirian,” jawab Abu.


“Nah, itu Pak RT,” kata Pak Imran.


Pak Imran, Abu dan Dandi berjalan menghampiri Pak RT yang baru keluar dari Masjid.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Pak RT,” ucap Pak Imran.


“Wa’alaikumussalam, Pak Imran,” balas Pak RT.


“Kebetulan ketemu Bapak. Kami bertiga mau ke rumah Bapak,” kata Pak Imran.


“Ada apa ya, Pak Imran?” Tanya Pak RT.


“Rencana kami mau silturahmi sama Bapak. Sekalian ada yang di omongin,” jelas Pak Imran.


“Oh! Iya, baik. Silakan, Pak kalau mau ke rumah saya,” kata Pak RT.


“Mau bicar di sini nggak enak, Pak,” jelas Pak Imran.


“Iya, Pak Imran. Kalau gitu saya duluan. Saya tunggu di rumah,” kata Pak RT.


Setelah Pak RT pulang dengan kendaraannya. Pak Imran, Abu dan Dandi menyusul dengan berjalan kaki ke rumah Pak RT. Setibanya di rumah Pak RT. Beliau menyuruh mereka bertiga masuk.


“Ada apa, Pak Imran?” Pak RT membuka obrolan.


“Gini, Pak. Kami mau nanya tentang Pak Somad,” jawab Pak Imran.


“Iya, ada apa dengan Pak Somad, Pak Imran?”


“Apa Pak Somad ada lapor sama Bapak, tentang kejadian semalam?” Tanya Pak Imran.


“Kejadian yang mana ya, Pak? Apa kejadian pencurian yang dilakukan oleh Doni?” Tanya Pak RT balik kepada Pak Imran.


“Iya, Pak, benar,’ jawab Pak Imran.


“Masalah itu nggak usah dipikirkan, Pak. Pak Somad sudah cerita sama saya. Dia memaafkan Doni. Bersyukur Pak Somad tidak melaporkan Doni ke pihak berwajib,” jelas Pak RT.


“Tapi, saya yakin Doni tidak bersalah, Pak. Dia anak baik,” ungkap Pak Imran.


“Sudahlah, Pak Imran. Tidak usah membela Doni. Beruntung Pak Somad baik tidak melaporkan Doni. Sudah cukup bukti buah sawit yang dibawa Doni. Kalau Pak Somad melapor Doni bisa di penjara,” kata Pak RT.


Abu dan Dandi sangat serius mendengarkan obrolan Pak RT dan Pak Imran. Sesekali mereka menggangguk.


Mereka tidak berani ikut berbicara. Kecuali jika di tanya.


“Lalu bagaimana dengan rumor kibang yang dibuat oleh Pak Somad, Pak,” tanya Pak Imran lagi.


“Sudahlah, Pak Imran. Tidak baik menuduh tanpa bukti. Jatuhnya pencemaran nama baik. Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan kalian boleh pulang,” Kata Pak RT.


Abu dan Dandi saling bertatapan mendengar ucapan Pak RT. Mereka berdua merasa diusir. Lalu menoleh kepada Pak Imran. Memberi kode agar segera pulang.


“Baiklah, Pak. Kalau begitu kami pamit. Terimakasih,” ucap Pak Imran.

__ADS_1


*****


__ADS_2