Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 10


__ADS_3

"Alhamdulillah kalau begitu, Pak Somad. Saya senang melihat Pak Somad mau shalat di Desa kita," Kata Pak Imran.


"Tidak usah berlebihan dan memujiku Pak Imran," kata Pak Somad dengan percaya diri.


"Kalau begitu, mari, pak. Kita berangkat sama-sama ke masjid," ajak Pak Imran kepada Pak Somad.


"Silakan saja kamu duluan Pak Imran, saya belakangan saja. Masih ada keperluan sebentar," kata Pak Somad terlihat ramah.


"Ya sudah, Pak, kalau begitu saya duluan."


Mendengar Pak Somad berkata seperti itu. Pak Imran lalu kembali berjalan ke masjid.


Pak Somad tetao berdiri di pinggir jalan. Dia menyapa siapa saja yang lewat di depannya. Dia ingin menunjukkan kepada warga desa jika dia juga rajin shalat ke masjid.


Dari jauh dia melihat Abu dan Dandi. Pak Somad memasang wajah ramah dan senyum yang dipaksanya.


"Nah, anak muda seperti kalian ini harus lebih rajin ke masjid," kata Pak Somad ketika Abu dan Dandi berjalan di dekatnya.


"Iya dong, Pak. Insya Allah kami berusaha rajin," sahut Dandi.


"Jangan kalah kalian dariku. Aku yang lebih tua saja rajin beribadah. Masa kalian yang muda malas-malasan," terang Pak Somad.


Abu dan Dandi saling bertatapan mendengar ucapan Pak Somad.


"Pak Somad mau kemana?" Abu bertanya dengan polos.


"Iya, Bapak mau kemana rapi benar?" Dandi juga menanyakan hal yang sama.


"Kemana lagi kalau bukan ke masjid. Masa begitu saja kalian tidak tahu dan bertanya mau kemana. Tidak melihat pakaianku seperti ini. Aku berpakaian rapu dan bersih seoerti ini. Karena ingin melaksanakan shalat jum'at ke Masjid," jelas Pak Somad.


"Ooo, tumben," timpal Dandi.


"Apa kamu bilang?" Tanya Pak Somad kepada Dandi.


"Dia bilang Alhamdulillah, Pak," jawab Abu buru-buru mewakilkan Dandi.


"Iya, Alhamdulillah, Pak. Soalnya baru kali ini. Eh, sudah lama kami tidak melihat bapak ke masjid," kata Dandi.


"Jangan salah kalian berdua. Siapa bilang aku tidak ke masjid. Kalau aku tidak ke masjid ini. Berarti aku sedang ke masjid lain. Apa gunanya mobil mewahku? Jika tidak kugunakan ketempat-tempat yang jauh." Pak Somad tetap menjawab ramah meski sebenarnya dia menahan emosi.


"Ooo, gitu ya Pak ceritanya. Alhamdulillah kalau gitu," kata Abu.


"Ya, sudah Pak. Sebentar lagi mungkin adzan. Kami duluan," pamit Dandi.


"Kalian jalan kaki aja?" Tanya Pak Somad kepada Abu dan Dandi.


"Iya, Pak, kami jalan kaki saja," sahut Abu.


"Aku bawa mobilku ke masjid. Mungkin kalian mau numpang ikut denganku," kata Pak Somad.

__ADS_1


"Tudkk usah, Pak. Terimakasih. Kami jalan kaki saja," tolak Abu sopan.


"Tidak usah sungkan, kapan lagi kalian merasakan naik mobil mewah."


"Tidak, Pak. Terimakasih," ulang Dandi.


Bukan karena apa mereka berdua menolak ajakan Pak Somad. Meski tanpa diskusi Abu dan Dandi kompak untuk menolak ajakan Pak Somad. Karena mereka merasa curiga dengan perubajan watak Pak Sad yang dratis.


Abu dan Dandi lalu pergi meninggalkan Pak Somad. Sedangkan Pak Somad terlihat kesal karena ajakannya ditolak.


"Dasar kampungan, udik, cih," decak Pak Somad kesal.


Agak jauh Abu dan Dandi meninggalkan Pak Somad di pinggir jalan. Mereka mulai bercakap lagi.


"Eh, Dan. Memangnya kamu percaya dengan ucapan Pak Somad?"


"Bukannya tidak percaya, Bu. Tapi rasanya aku ragu dengan perkataannya."


"Sama, Dan. Aku juga ragu dengan ucapannnya. Kamu inggat nggak Jum'at lalu?"


"Jum'at lalu? Memangnya kenapa jum'at lalu, Bu?"


"Bukankah Pak Somad sedang di kebun."


"Iya aku ingat. Pak Somad saat itu ke kebun sawit miliknya," kata Dandi.


"Benar, Dan. Pak Imran juga bilang kalau dia melihat Pak Somad saat itu."


"Untung kamu menolak ajakannya."


"Kamu juga, Dan. Untung hari ini kita sehati menolak ajakan Pak Somad. Aku takut dijadikan tumbal untuk makan hantu penunggu kebunnya," kata Abu sambil bergidik.


"Kita berpikir positif saja. Siapa tau Pak Somad insaf," kata Dandi.


"Entahlah," kata Abu ragu.


"Daripada mikiran Pak Somad. Mending kita fokus berjalan, biar ibadahnya nanti khusyuk," kata Dandi.


"Iya sih, nanti kita bahas lagi kalau ketemu sama Pak Imran."


*****


Adzan terdengar berkumandang. Menandakan sebentar lagi shalat jum'at akan dilaksanakan.


Disaat itu lah Burhan anak buahnya Pak Somad melancarkan aksinya. Di rumahnya, dia bersiap-siap seolah-olah akan pergi ke masjid. Supaya Bu Sumi istrinya tidak curiga dengan yang dia lakukan.


"Bu, aku mau berangkat dulu," pamit Burhan kepada Sumi.


"Tumben, Bapak jam segini baru berangkat ke masjid," kata Sumi.

__ADS_1


"Iya, Bu. Bapak mau berangkat dulu ," kata Burhan.


"Tapi, bungkusan apa yang Bapak bawa itu?"


"Bungkusan ini punya Pak Somad, Bu."


"Pak Somad, kok Ibu baru tau, Pak. Bapak nggak ada cerita sama aku. Memangnya kalau boleh ibu tau itu apa, pak?"


"Ibu nggak perlu tau. Bapak berangkat dulu, Bu. Kalau menjawab pertanyaan ibu yang tak ada habisnya. Takut terlambat keburu mulai shalat jum'atnya," kilah Burhan. Karena takut istrinya akan curiga dengan bungkusan hitam yang dia bawa.


Jalanan sepi, sudah menjadi kebiasan warga Desa. Jika hari Jum'at, semua aktifitas di luar rumah akan berhenti. Sampai shalat jum'at selesai dilaksanakan, barulah warga desa menjalan kembali aktifitas diluar rumah seperti berladang, berkebun dan yang lainnya.


Setelah memperhatikan keadaan sekitar dan meyakinkan tidak ada yang melihatnya. Burhan masuk ke dalam kebun sawit Pak Somad membawa bungkusan hitam itu.


Dia sengaja membungkusnya dengan kresek berwarna hitam. Supaya Sumi tidak melihat apa yang dibawanya. Bungkusan itu berisi bunga tujuh rupa yang akan ditaburkannya ke dalam pondok kecil ditengah kebun sawit Pak Somad. Tak lupa Burhan menyalakan dupa sesuai perintah Pak Somad.


Setelah melakukan itu. Buru-buru Burhan menemui seseorang yang sebelumnya sudah janjian di kebun Pak Somad.


"Kamu datang sendiri?" Tanya Burhan kepada laki-laki kurus itu.


"Aku datang berdua, temanku menunggu di mobil buat berjaga-jaga takut ada yang melihat," jelas laki-laki itu.


"Kamu yakin, sudah aman sebelum masuk ke sini?" Tanya Burhan kembali.


"Sangat yakin, aman. Pak Somad mana?"


"Pak Somad hari ini pergi ke masjid. Barangmu aku yang bawa. Nah, ini sesuai pesanan." Dengan hati-hati Burhan menyerahkan barang yang dibungkus sangat rapi kepada laki-laki kurus yang sudah menunggunya.


"Oke, aku pastikan akan kembali lagi dan memesan ini," kata laki-laki itu dengan sangat yakin. "Tapi, apa aku nggak salah dengar Pak Somad pergi ke masjid?"


"Biasalah, biar warga tidak terlalu curiga."


"Kreatif juga Pak Somad."


"Cepat pulanglah sebelum mereka selesai dari Masjid," kata Burhan mengingatkan.


"Oke bro, aku terima barangnya."


"Hati-hati tetap waspada, jangan sampai ada yang melihat dan curiga," kata Burhan mengingatkan.


Sementara itu tanpa sepengetahuan Burhan dan laki-laki itu. Seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Di balik pohon sawit dan pelepahnya yang jatuh dia bersembunyi. Sehingga Burhan tak akan menyangka jika ada orang disitu.


Dia melihat jika Burhan sedang memberikan barang itu kepada temannya. Namun, dia tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Orang itu adalah Doni. Sejak semalam Doni memang tidak pulang ke rumah.


Malam itu saat berhasil kabur dari kejaran hantu penunggu kebun Pak Somad. Doni bermaksud menemui Abu dan Dandi di rumah Pak Imran. Ketika sudah sampai, dia berusaha mengetuk pintu.


Baru saja mengetuk pintu rumah Pak Imran. Dia melihat Burhan bersama anak buah Pak Somad yang lainnya berjalan mengendap-endap menuju rumah Pak Imran. Karena takut terjadi sesuatu dan lain hal yang tidak diinginkan. Dia menghindar dan berlari ke samping rumah Pak Imran.


Doni tau jika keselamatannya terancam. Dia berusaha menghindar dan berlari. Dia tau Burhan sempat melihatnya pada saat mengetuk pintu tadi. Beruntungnya Burhan dan temannya tidak tahu jika yang dilihat dan dikejarnya itu adalah Doni.

__ADS_1


*****


__ADS_2