Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 7


__ADS_3

“Pak Imran, Pak Imran,” teriak Doni memanggil sambil mengitari pohon-pohon sawit di sekitar kebun. Berharap secepatnya menemukan Pak Imran.


“Jangan teriak-teriak, Don. Aku takut kalau hantu itu mendengar kita,” ungkap Abu.


“Kalau kita nggak teriak, Pak Imran nggak tau kalau kita sedang mencarinya,” kata Doni.


“Benar, Don. Kalau hantu itu mendengar bagaimana?” Abu menanyakan itu kepada Doni. Karena memiliki kekhawatiran yang sama dengan Dandi.


“Lalu, kalau nggak teriak bagaimana caranya supaya Pak Imran mendengar kita?” Tanya Doni kepada Abu dan Dandi.


“Kita cari aja mengelilingi kebun sawit ini. Nggak usah teriak-teriak. Kita cari sampai ketemu,” kata Abu menjelaskan kepada Doni.


“Masalahnya takut ada orang lain yang mendengar juga kalau kita teriak-teriak memanggil Pak Imran,” jelas Dandi.


“Benar, Don. Nanti kita malah disangka mau mencuri sawit Pak Somad lagi,” kata Abu membela Dandi.


“Benar juga apa yang kalian bilang,” Kata Doni. “ Ya sudah, kita terus jalan ke arah sana,” tunjuk Doni.


“Sebelum kita melanjutkan pencarian kita. Apa kalian berdua yakin kalau Pak Imran masih ada di kebun ini?” Tanya Dandi ragu kepada Doni dan Abu.


“Kalau bukan di kebun ini, lalu Pak Imran ada di mana?” Tanya Doni balik.


“Soalnya dari tadi kita di sini tapi belum menemukan Pak Imran,” kata Dandi cemas.


“Aku yakin Pak Imran ada di sekitar sini,” kata Abu.


“Aku juga yakin Pak Imran ada di sekitar sini,” kata Doni mantap.


Mereka bertiga terus masuk ke dalam kebun sawit Pak Somad untuk mencari Pak Imran.


“Ular, ada ular.” Dandi tiba-tiba menjerit sehingga membuat Abu dan Doni kaget.


“Ular, di mana?” Doni menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan mendengar jeritan Dandi.


“Itu di sana,” jawab Dandi.


Doni menuju ke arah yang Dandi tunjuk.


“Hati-hati, Don,” kata Abu mengingatkan.


“Mana ularnya? Nggak ada ular di sini, Dan,” kata Doni.


“Tapi aku melihat ular itu di situ,” tunjuk Dandi kembali.


“Aku juga nggak lihat,” timpal Abu.


“Mungkin kamu salah lihat, Dan. Apalagi malam gelap seperti ini,” kata Dandi.

__ADS_1


“Tapi tadi bergerak, di sebelah pohon sawit itu,” jelas Dandi lagi.


“Ya, sudah lah. Kalau memang ada ular. Syukurlah berarti ular itu sudah pergi. Jadi tidak ada yang mengganggu kita. Itu ada pondok, kita cari Pak Imran ke sana,” ajak Doni.


*****


Di rumahnya Pak Somad duduk santai di sofa sambil menghitung uang. Dia tertawa terbahak. Selesai menghitung dihamburkan uang itu ke atas lalu berjatuhan mengenai muka. Pak Somad tertawa girang melihat uang yang berhamburan itu.


“Hari ini aku senang, sangat senang. Aku dapat uang yang banyak,” kata Pak Somad. Tangannya memegang uang lalu mengibaskannya seperti kipas.


“Bos memang hebat,” puji anak buah Pak Somad.


“Ini berkat bantuamu juga. Kamu berhasil membuat Imran yang sok berani itu tak sadar diri.”


“Kalau Bos menyuruhku untuk menghabisinya. Sudah kuhabisi Imran itu tadi.”


“Tidak perlu, setelah ini aku yakin dia tidak akan berani lagi mencampuri urusan kita.”


“Tapi, bagaimana dengan teman-temannya itu, Bos. Bukankah mereka juga akan mengganggu bisnis kita?”


“Kita hanya membuat Imran jera. Kalau dia sudah jera dia tidak akan berani lagi membawa anak-anak ingusan itu mengetahui urusanku,” kata Pak Somad. “Nah, ini bagianmu malam ini.” Pak Somad memberikan beberapa lembar uang kepada laki-laki yang sudah membuat Pak Imran tak sadar diri di kebun sawit itu.


“Ini banyak sekali. Terimakasih, Bos,” ucap lelaki itu.


“Aku sangat puas dengan kerjamu. Ini aku tambah lagi, itu bonus untukmu” kata Pak Somad menyerahkan beberapa uang kembali kepada lelaki bertubuh gempal itu.


“Terimakasih, Bos,”kata anak buah Pak Somad itu.


“Baik, Bos.”


“Tapi ingat jangan sampai ada yang mencurigaimu, Burhan. Dan jangan sampai ada yang tahu rahasia kita. Kalau tidak kamu akan tahu sendiri akibatnya,” ancam Pak Somad kepada anak buahnya yang bernama Burhan tersebut.


“Tenang saja, Bos. Aku akan berusaha selalu hati-hati mengerjakan tugasku. Aku bisa dipercaya,” kata Burhan meyakinkan Pak Somad.


“Baiklah kalau begitu besok siang tepat saat warga desa shalat Jum’at. Temui aku ditempat biasa,” jelas Pak Somad.


“Siap, Bos. Kalua begitu saya permisi dulu mau pulang ke rumah,” pamit Burhan.


******


Di kebun sawit Pak Somad. Pak Imran mulai sadar. Dia merasa pusing, badannya terasa sakit. Dia masih belum paham kenapa bisa berada disitu. Pak Imran berusaha berdiri namun tak mampu. Dia menyenderkan tubuhnya ke pohon sawit. Mendengar suara Abu, Dandi dan Doni tak jauh dari tempatnya berada. Pak Imran berusaha berteriak meminta tolong.


“Tolong. Tolong,” teriak Pak Imran dengan suara yang lemah.


Serempak mereka bertiga berhenti mendengar suara teriakan Pak Imran.


“Kalian dengar nggak suara orang minta tolong?” Tanya Doni kepada Abu dan Dandi.

__ADS_1


“Iya, aku dengar. Sepertinya itu suara Pak Imran,” terka Abu.


“Aku juga dengar. Suaranya terdengar dari arah pondok itu,” tunjuk Dandi ke pondok.


“Tolong. Tolong,” ulang Pak Imran lagi. Dia berusaha bangun namun kpalanya terasa berat akibat pukulan anak buah Pak Somad.


Mereka bertiga kembali melangkahkan kakinya ke arah pondok.


“Pak Imran,” kata Doni setelah menemukan Pak Imran bersandar di pohon sawit.


“Doni, Abu dan Dandi. Syukurlah kalian menemukanku,” kata Pak Imran.


“Kenapa Bapak bisa ada di dalam sini?” Tanya Abu penasaran.


“Bukankah kita janji tak sampai masuk ke dalam?” Dandi ikut melontarkan pertanyaan kepada Pak Imran.


“Seseorang telah memukulku dari belakang, setelah itu aku tak sadar diri,” kata Pak Imran berusaha menjelaskan kepada mereka bertiga.


“Apa hantu penunggu kebun ini yang memukul Bapak?” Tanya Abu lagi.


“Entahlah, Bu. Aku juga tidak tahu pasti apakah dia hantu atau bukan? Tapi sepertinya dia bukan hantu.” Pak Imran berusaha menjawab pertanyaan Abu.


“Sudah, nanti saja kita lanjutkan pertanyaannya. Sekarang kita bantu Pak Imran dan kita tinggalkan kebun ini,” kata Doni.


Saat mereka akan meninggalkan kebun. Sosok makhluk menyeramkan yang dilihat Abu dan Dandi itu menampakkan diri. Makhluk bertubuh besar dan menyeramkan itu muncul dari belakang pondok. Berdiri menatap mereka berempat.


“Hantu,” teriak Dandi nyaring saat melihat makhluk itu berada di belakang Pak Imran.


Doni dan Abu yang berusaha membantu Pak Imran berdiri kaget mendengar teriakan Dandi.


“Hantu? Mana?” Tanya Abu.


“Itu, itu di belakang,” jawab Dandi sambal terbata.


Abu langsung menoleh ke belakang. Dan benar makhluk menyeramkan itu menampakkan gigi-ginya yang runcing.


“Gawat, Don. Bagaimana ini? Hantu itu pasti akan mengganggu kita. Karena kita sudah berani masuk ke dalam kebun sawit Pak Somad,” kata Abu ketakutan.


“Dan. Tolong bantu Pak Imran berdiri. Biar aku yang menghadapi makhluk itu,” kata Doni.


Dandi menggantikan posisi Doni dan memapah Pak Imran.


“Kalian bawalah Pak Imran keluar dari kebun ini,” pinta Doni.


“Lalu kamu sendiri bagaimana, Don?” Tanya Abu kepada Doni.


“Jangan pikirkan aku. Cepat, bawalah Pak Imran pergi dari sini,” pinta Doni lagi.

__ADS_1


Abu dan Dandi memapah Pak Imran. Berusaha membawa Pak Imran keluar dari kebun sawit Pak Somad. Makhluk besar bermuka rata itu mendekati Doni. Mukanya yang seram menunjukkan kalau makhluk itu tidak suka dengan kehadiran mereka di kebun Pak Somad. Doni berusaha mundur perlahan. Sambil berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mengalahkan hantu itu. Hantu itu terus mendekat Doni. Ttubuhnya yang tinggi besar membuatnya dengan mudah mendekati Doni. Tangannya yang berbulu terlihat saat hantu itu meangkatnya ke atas. Kuku-kukunya yang tajam siap menerkam Doni. Doni berusaha lari menghindarkan serangan makhluk itu. Namun, Doni tak berusaha lari untuk keluar dari kebun. Dia malah lari ke dalam kebun. Dan menjauhi Abu, Dandi dan Pak Imran.


*****


__ADS_2