Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 4


__ADS_3

Keluar dari rumah Pak RT. Pak Imran, Abu dan Dandi kembali berbincang sambal berjalan.


“Eh! Dan, kamu merasa nggak kayak ada yang aneh sama Pak RT tadi?” Tanya Abu kepada Dandi.


“Aneh gimana maksudmu, Bu?” Tanya Pak RT.


“Aneh aja, Pak,” sahut Abu.


“Iya, Bu. Sepertinya Pak RT mengusir kita. Kelihatannya dia tidak senang ketika Pak Imran menyakan perihal kibang tadi,” ungkap Abu.


“Sudahlah nggak usah dipikirkan. Itu hanya perasaan kalian. Mungkin Pak RT sibuk,” kata Pak Imran.


“Mungkin saja sih,” kata Dandi.


“Harus kita pikirkan, Pak. Pak RT ‘kan selama ini sangat dekat dengan Pak Somad,” kata Abu.


“Benar juga katamu, Bu,” kata Dandi.


“Lalu apa hubungannya Pak RT sama Pak Somad?” Tanya Pak Imran.


“Hubungan mereka ya teman, Pak,” jawab Abu sambal terkekeh.


“kalau itu aku juga tau, Bu,” timpal Dandi.


“Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti malam kalau kalian nggak sibuk. Kita bicarakan hal ini di rumahku. Sekalian ajak Doni nanti malam,” pinta Pak Imran.


“Baik, Pak,” kata Abu.


“Oke! Sampai ketemu nanti malam,” seru Dandi.


*****


Jum’at malam selepas Isya, Abu, Dandi dan Doni berjalan kaki menuju rumah Pak Imran. Mereka bertiga tinggal satu RT. Diantara mereka rumah Doni lah yang paling jauh. Dan berbatasan dengan Desa sebelah.


Semenjak kejadian itu Doni jadi jarang berkumpul dengan Abu dan Dandi. Setelah pulang dari sawah atau habis mencari kayu bakar, Doni langsung berdiam diri di rumah. Dia memilih tidak keluar rumah. Karena sebagian warga masih menganggap dia sebagai pencuri di kebun Pak Somad. Dia beranggapan lebih baik di rumah daripada mendengar ucapan tetangga yang menyakitkan hatinya. Namun, karena Pak Imran meminta untuk ke rumahnya. Mau tidak mau, Doni menyetujui ajakan Abu dan Dandi untuk berkumpul di rumah Pak Imran malam ini.


“Eh! Don, kamu kok sekarang nggak ngumpul-ngumpul kayak dulu lagi?” Tanya Abu kepada Doni.


“Iya, Don. Biasanya tiap malam ‘kan kita kumpul,” ucap Dandi.


“Nggak apa, Don, Bu, sekarang aku lebih banyak di rumah menemani ibuku,” kata Doni.


“Memang kenapa ibumu?” Tanya Abu penasaran.


“Semenjak kejadian kemarin. Ibuku jatuh sakit. Karena mengetahui dari tetangga kalau aku adalah pencuri,” jelas Doni.


“Apa kamu nggak jelaskan sama ibumu kalau kamu tidak bermaksud mencuri?” Tanya Abu lagi.


“Sudah, Bu. Aku sudah berusaha menjelaskan kepada ibuku. Tapi ibu malah marah kepadaku,” kata Doni.


“Ibumu nggak percaya?” Tanya Abu kembali.


“Awalnya nggak percaya. Setelah aku jelaskan berulang kali. Akhirnya ibu percaya sama aku,” jelas Doni.


“Terus kenapa ibumu marah?” Abu kembali bertanya.


“Ibu bilang aku nggak hati-hati,” kata Doni.


“Terus…,” ucapan Abu terpotong.

__ADS_1


“Banyak banget pertanyaanmu, Bu. Kaya wartawan aja,” potong Dandi.


“Biar jelas, Dan,” sahut Abu.


“Tidak masalah, Dan,” kata Doni.


“Kamu nggak masalah, aku yang masalah, Don. Pusing aku dengarnya,” ungkap Dandi.


Setelah itu mereka bertiga tertawa. Saat tengah asyik bercerita di jalan sebuah mobil membunyikan klakson tepat di samping Abu.


“Buju busyeet, nyaring benar suara klakson. Bikin kaget aja, woi berhenti nggak!” Teriak Abu kesal.


Mobil itu berhenti mendengar teriakan Abu.


“Baguslah, kalau berhenti. Nantangin aku ya? Mentang-mentang pakai mobil. Seenaknya membunyikan klakson di samping orang,” tutur Abu.


“Emang kamu berani, Bu?” Tanya Dandi sama Abu.


“Nggak berani sih, Dan,” jawab Abu sambal terkekeh.


“Sok sokkan kamu, Bu, nantangin orang,” ucap Dandi.


“Kan ada kalian berdua yang bantuin kalua aku kenapa-kenapa,” kata Abu.


Seorang laki-laki bertubuh kekar keluar dari dalam mobil. Lelaki berbaju hitam itu berjalan ke arah mereka bertiga.


“Busyet besar benar tu badan,” kata Dandi kagum.


“Dia ke sini. Bagaimana ini Dan, Don?” Tanya Abu gugup.


“Kamu sih! Pakai acara nantangin segala,” gerutu Dandi.


“Tenang aja, kita ‘kan nggak salah.” Doni menenangkan Abu dan Dandi.


“Permisi, Dek,” ucap lelaki itu.


“Permisi ke mana, Pak?” Tanya Dandi pada lelaki berwajah sangar itu.


“Dan, Bu,” panggil Doni. Dia memberikan kode kepada Abu dan Dandi agar jangan becanda dengan lelaki ini.


“Saya mau nanya, apa benar ini Desa Abadi Jaya?” Tanya lelaki itu.


“Benar, Pak. Ini Desa Abadi Jaya,” sahut Doni.


“Oh! Iya makasih, Dek,” ucap lelaki itu.


“Sama-sama, Pak,” kata Doni.


“Kalau rumah Pak Somad di mana?” Lelaki itu kembali bertanya.


Abu, Dandi dan Doni saling bertatapan ketika mendengar nama Pak Somad.


“Bapak mau ke rumah Pak Somad?” Abu bertanya kepada lelaki itu.


“Iya, Dek. Rumahnya sebelah mana?”


“Sudah dekat kok, Pak. Itu rumah yang catnya warna hijau,” jelas Abu.


“Kalau kebunnya Pak Somad dimana?” Tanya lelaki itu laki.

__ADS_1


“Maksud Bapak, kebun sawit Pak Somad?” Dandi bertanya penasaran. Apakah yang dimaksud lelaki itu kebun sawit Pak Somad.


“Benar, Dek. Kalau kebun sawitnya Pak Somad sebelah mana?”


“Maaf, Pak. Bukannya kami nggak mau bilang. Tapi buat apa Bapak memanyakannya kebun itu?” Selidik Abu.


“Tidak apa, Dek. Cuma ingin tahu saja,” kata lelaki itu.


“Jangan ke sana, Pak. Bahaya kalau ke kebun Pak Somad. Apalagi malam-malam begini. Bisa-bisa Bapak dikejar hantu penunggu kebun Pak Somad,” jelas Dandi.


Lelaki itu tertawa keras mendengar perkataan Dandi.


“Bisa aja kamu, Dek. Saya nggak takut kok dengan hal seperti itu.” Lelaki itu tertawa. Dia meanggap Dandi hanya bercanda.


“Bapak, nggak percaya sama hantu? Ini, Pak, teman kami sendiri pernah ditemui sama hantu itu.” Abu menunjuk Doni.


“Iya, benar kata teman saya ini, Pak,” bela Dandi.


“Ya, sudah. Kalau begitu saya permisi. Maaf sudah mengagetkan kalian.” Lelaki itu meminta maaf kepada mereka bertiga.


Lelaki itu kembali masuk ke dalam mobilnya. Abu, Dandi dan Doni melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Imran. Sebenarnya mereka penasaran dengan lelaki itu. Namun, karena ingin cepat ke rumah Pak Imran. Mereka abaikan rasa penasaran itu. Mungkin lelaki itu teman pak Somad dari kota. Terlihat dari mobil mewah yang dipakainya. Mereka bertiga pun sampai di rumah Pak Imran.


“Assalamualaikum,” ucap Abu, Dandi dan Doni secara bersamaan di depan rumah Pak Imran.


“Wa’alaikumussalam,” sahut Pak Imran dari dalam.


“Eh! Kalian bertiga silakan masuk,” ajak Pak Imran.


“Baik, Pak,” kata Doni.


Mereka bertiga duduk di kursi kayu yang ditata rapi di rumah Pak Imran.


“Bu, tolong bikinkan minuman buat mereka bertiga. Sekalian kopi buat bapak,” pinta Pak Imran kepada istrinya.


“Jangan, Pak. Nggak usah repot-repot,” kata Abu.


“Janganlah, Bu, biar kita enak ngobrolnya,” kata Pak Imran.


“Jangan lambat maksud saya, Pak,” kata Abu sambal cengar cengir.


Pak Imran tersenyum melihat tingkah kocak Abu.


“Malu-maluin aja kamu, Bu, nggak usah repot, Pak” kata Dandi.


“Bilang aja kalau kamu juga mau ‘kan?” Abu mengejek Dandi.


“Iya, nggak usah repot. Keluarkan aja semua yang ada,” ungkap Dandi sambal tertawa.


“Ada-ada saja kalian berdua ini,” kata Pak Imran.


“Biar nggak tegang, Pak. Soalnya kami baru saja mau berantem tadi,” kata Abu.


“Mau beranten sama siapa?” Tanya Pak Imran.


“Bohong, Pak. Tadi kami bertiga ketemu sama laki-laki berbadan kekar, wajahnya sangar. Tadi lelaki itu menanyakan alamat Pak Somad,” jelas Dandi kepada Pak Imran.


“Terus, siapa laki-laki itu?”


“Nggak tau, Pak. Tadi Abu kaget dengar suara klakson yang dibunyikannya. Abu teriak-teriak. Terus laki-laki itu berhenti menghampiri kami. Kami kira bakal terjadi sesuatu. Ternyata laki-laki itu Cuma bertanya alamat Pak Somad,” jelas Dandi.

__ADS_1


Mereka bertiga menjelaskan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Pak Imran.


*****


__ADS_2