Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 5


__ADS_3

“Tolong, tolong.” Seorang laki-laki berteriak minta tolong. Suara teriakannya terdengar sampai rumah Pak Imran.


Pak Imran dan Doni terdiam. Mereka berdua bertatapan karena sama-sama mendengar suara teriakan itu. Sementara Abu dan Dandi asyik mengunyah biscuit yang disajikan Bu Imran.


“Eh, dengar nggak? Kayak ada suara orang minta tolong,” ungkap Doni.


“Iya, aku dengar,” kata Abu sambal memasukkan biscuit ke dalam mulutnya.


“Kayanya ada di luar,” kata Pak Imran.


“Ayo! Kita lihat, Pak,” ajak Doni.


Pak Imran dan Doni keluar rumah mencari sumber suara. Dandi buru-buru menyeruput kopinya sampai habis. Lalu bergegas menyusul Pak Imran dan Doni.


“Mau kemana, Dan?” Abu bertanya kepada Dandi.


“Mau keluar menyusul Pak Imran dan Doni,” sahut Dandi.


“Tunggu,” pinta Abu.


“Ayo! Cepat,” ajak Dandi.


“Tunggu dulu. Kopiku belum habis,” kata Abu.


“Buruan,” pinta Dandi kepada Abu.


Setelah menghabiskan air kopinya yang tinggal setengah gelas. Abu setengah berlari mendatangi Dandi di luar.


“Tolong, tolong.” Seorang laki-laki berlari dan berteriak minta tolong.


Pak Imran yang sudah berada di pinggir jalan. Berusaha menolong laki-laki tersebut.


“Hey! Ada apa?” Pak Imran bertanya kepada laki-laki itu.


“itu, Pak, ada ha ha hantu,” jawab lelaki itu sambal terbata.


“Hantu, yang benar saja, Pak?” Pak Imran kembali bertanya.

__ADS_1


“Iya, Pak, tolong saya ada hantu,” kata lelaki itu sambal ketakutan.


“Coba tenang dulu. Apa benar kamu bertemu hantu?” Pak Somad mengulang pertanyaannya.


“Benar, Pak. Saya lihat sendiri. Hantu itu mengejar-ngejar saya,” jelas lelaki itu.


“Hantu? Tapi saya lihat tidak ada hantu yang mengejar-ngejar bapak,” kata Doni.


“Ada di sana. Ada hantu,” ulang laki-laki itu lagi.


“Memangnya kamu melihat hantu itu di mana?” Tanya Pak Imran lagi.


“Di sana, Pak. Awalnya saya melihatnya di kebun sawit. Terus pas saya perhatikan benar-benar. Dia menuju kearah saya, lalu mengejar-ngejar saya sampai ke sini,” jelas laki-laki itu lagi.


“Hantu? Di kebun sawit?” Abu tampak berpikir mencermati penjelasan lelaki itu.


“Dan, jangan-jangan,” suara Abu terhenti.


“Kebun sawit Pak Somad.” Abu dan Dandi bersamaan megucap kalimat itu.


“Ayo! Kita kesana,” ajak Abu.


“Ayo! Don, jangan bengong. Nggak usah takut kita ‘kan nggak sendirian,” kata Abu meyakinkan Doni.


“Sabar, nanti dulu,” pinta Pak Imran.


“Kenapa, Pak? Tunggu apalagi biar kita cepat-cepat apa benar yang dilihat laki-laki ini.” Dandi tak sabar ingin pergi ke kebun Pak Somad.


“Silakan kalau kalian berdua berani,” kata Pak Imran.


“Memang Pak Imran nggak ikut kita?” Abu menghentikan langkahnya mendengar Pak Imran berbicara seperti itu.


“Kalau Pak Imran nggak ke sana. Aku nggak jadi ke sana juga,” ungkap Dandi.


“Ya, sudah mari kita masuk rumah dulu,” ajak Pak Imran kepada lelaki itu.


“Tapi, Pak.” Laki-laki itu nampak ragu dengan ajakan Pak Imran.

__ADS_1


Meskipun sempat ragu, lelaki itu akhirnya menerima ajakan Pak Imran untuk masuk ke rumah. Abu dan Dandi yang dari tadi semangat untuk melihat penampakan hantu di kebun Pak Somad. Juga ikut masuk lagi. Dari ceritanya lelaki itu bernama Badu. Dia berasal dari Desa sebelah. Dia menceritakan bagaimana kejadian pertama melihat penampakan sampai dikejar oleh hantu tersebut. Pak Imran sedikit bingung dan merasa ada yang aneh dengan lelaki yang diketahui bernama Badu tersebut. Karena dari kebun Pak Somad sampai ke rumah Pak Imran lumayan jauh. Dan ada beberapa rumah yang harus dia lewati. Sepanjang jalan berteriak, apakah tidak ada yang mendengar teriakan lelaki itu. Pak Imran merasa yakin jika ada sesuatu yang janggal yang belum terpecahkan tentang misteri hantu penunggu kebun Pak Somad.


*****


Setelah melakukan pertemuan di rumah Pak Imran. Mereka berempat merencakan sesuatu. Mereka ingin membuktikan sendiri apakah hantu penunggu kebun Pak Somad itu benar-benar ada. Mereka menyusun rencana untuk pergi ke kebun Pak Somad pada kamis malam.


Kamis sore, Pak Imran kembali mengingat kepada Abu, Dandi dan Doni untuk berkumpul di rumahnya dan menjalankan rencana yang sudah disusun semalam. Karena dari cerita warga hantu penunggu kebun Pak Somad itu akan menampakkan wujudnya saat malam. Terutama pada malam Jum’at.


Malam ini mereka kembali berkumpul di rumah Pak Imran. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Pak Imran akan pergi sendiri ke kebun Pak Somad. Sedangkan Abu dan Dandi akan mengawasi Pak Imran dari jauh. Doni mendapat tugas untuk berjaga-jaga di rumah Pak Imran. Jika terjadi sesuatu dan Pak Imran tidak pulang sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka Doni akan menyusul ke kebun Pak Somad. Rencana itu sudah disusun sedemikian rupa. Untuk membuktikan apakah hantu yang sering dijumpai warga itu benar adanya.


“Don, kamu tolong jaga di rumah ini. Jika aku tidak pulang dalam waktu yang sudah kita tentukan. Maka segeralah kamu susul aku ke kebun Pak Somad,” jelas Pak Imran kepada Doni.


“Baik, Pak,” kata Doni.


“Abu, Dandi, kalian ikuti aku dari belakang. Berjalanlah seperti biasa. Anggap saja kalian sedang sedang ronda. Jika ada sesuatu yang mencurigakan cepat lari temui Doni.” Pak Imran menjelaskan tugas yang harus dikerjakan Abu dan Dandi.


“Siap, Pak,” kata Abu dan Dandi kompak.


“Baiklah kalau begitu aku akan ke sana,” kata Pak Imran.


“Hati-hati, Pak,” kata Doni mengingatkan.


“Bu, bapak pamit sebentar. Ibu nggak usah takut ada Doni di rumah menemani ibu,” jelas Pak Imran kepada istrinya.


“Baik, Pak. Hati-hati, semoga bapak nggak kenapa-kenapa,” kata Bu Imran.


Tepat pukul 22.00 WIB Pak Imran keluar dari rumahnya menuju ke kebun sawit Pak Somad. Sepuluh menit kemudian Abu dan Dandi menyusul Pak Imran. Di jalanan tidak ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Pak Imran terus berjalan tak lupa dia melafalkan ayat kursi di dalam hati. Dia menoleh ke belakang namun Abu dan Dandi masih belum kelihatan. Pak Imran sudah hampir sampai di kebun sawit Pak Somad. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil parkir di dekat kebun sawit itu. Dia melihat dua orang keluar dari mobil itu lalu masuk ke dalam kebun.


Pak Somad bersembunyi dibalik pohon pisang di pinggir jalan. Tak jelas siapa dua orang yang dia lihat. Dia hanya melihat cahaya sintar yang dibawa dua orang tersebut terus masuk ke dalam kebun. Sekitar sepuluh menit dua orang itu kembali dan masuk ke dalam mobil. Dari perawakannya, Pak Imran yakin kalau diantara dua orang tersebut bukan Pak Somad. Suara mobil terdengar dihidupkan. Mobil itu pergi meninggalkan kebun.


Pak Imran semakin penasaran. Siapakah dua orang yang dia lihat tersebut. Jika dua orang tersebut adalah pencuri. Kenapa dua orang tersebut bisa bebas dan tidak mengalami hal seperti yang dialami Doni. Kalau bukan pencuri kenapa mereka malam-malam masuk ke dalam kebun Pak Somad. Pertanyaan itu membuat Pak Imransemakin penasaran. Dia tidak ingin gegabah masuk ke dalam. Karena dia hanya sendirian. Pak Imran menunggu Abu dan Dandi datang. Namun tak terlihat tanda-tanda mereka mendekati kebun. Cahaya sintar kembali terlihat dari kebun Pak Somad. Pak Imran kembali memperhatikan kebun Pak Somad dari jauh. Pak Imran mendengar seperti ada sesuatu di belakangnya. Dia menoleh, namun sayang. Seseorang memukulnya dari belakang dan membuatnya tak sadar diri.


Abu dan Dandi baru saja tiba di kebun Pak Somad. Namun mereka tak melihat keberadaan Pak Imran.


“Eh! Dan, Pak Imran dimana ya?”


“Aku nggak lihat, Bu. Jujur aku jadi merinding,”ungkap Dandi.

__ADS_1


“Jangan gitu dong, Dan. Aku jadi takut kalua seperti ini,” ujar Abu.


Abu dan Dandi melihat kearah kebun. Mereka berdua terperanjat saat melihat sosok makhluk mengerikan sedang memperhatikan mereka berdua.


__ADS_2