Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 8


__ADS_3

Abu dan Dandi akhirnya bisa membawa Pak Imran keluar dari kebun dengan selamat. Mereka langsung membawa Pak Imran pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Pak Imran. Mereka berdua membantu Pak Imran masuk dan membaringkan Pak Imran di kasur.


"Bapak, apa yang terjadi sama Bapak?" Bu Imran bertanya kepada Abu dan Dandi. Dia sangat khawatir mengetahui suaminya dalam keadaan lemah.


"Pak Imran tadi pingsan, Bu," jawab Abu.


"Pingsan? Pingsan dimana?" Bu Imran kembali bertanya.


"Di anu, Bu," sahut Dandi ragu.


"Di anu mana, Dan? Bu Imran mendesak agar mereka berdua mau menceritakan kepadanya.


"Di sana, Bu," tunjuk Abu keluar rumah.


" Di sana mana? Apa Bapak pingsan di kebun Sawit Pak Somad?" Bu Imran bertanya sambil menerka.


"Iya, Bu," jawab Abu ragu. Dia takut Bu Imran marah.


"Ya Allah, Pak. Sudahlah, Pak, tidak usah lagi mencampuri urusan Pak Somad," kata Bu Imran.


"Bapak, tidak apa-apa, Bu," kata Pak Imran dengan suara yang masih lemah.


"Tidak apa-apa gimana, Pak. Lihat keadaan Bapak sekarang."


"Alhamdulillah Bapak tidak kenapa-kenapa, Bu. Bapak hanya sedikit pusing. Yang penting Bapak selamat, Ibu nggak usah khawatir," kata Pak Imran meyakinkan istrinya.


"Bapak memang selamat, tapi Ibu takut bapak diganggu sama hantu penunggu kebun Pak Somad itu. Ibu nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama Bapak," ungkap Bu Imran cemas.


Bu Imran mengambil segelas air putih. Lalu membantu Pak Imran duduk untuk meminumkan air putih yang dibawanya.


"Terus Doni mana? Kenapa nggak sama kalian?" Tanya Bu Imran.


"Doni masih di kebun, Bu. Dia meminta kami berdua membawa Pak Imran pulang," jelas Dandi.


"Astagfirullah, kenapa bisa seperti ini. Apa tidak bahaya Doni sendirian di sana. Malam-malam seperti ini, bahaya," kata Bu Imran cemas.


"Doni bilang jangan pikirkan dia, Bu. Yang penting kami sudah berhasil membawa Bapak pulang dengan selamat. Urusan Doni biar kami yang ke sana mencarinya," jelas Abu.


Mendengar Abu berkata seperti itu. Dandi langsung melotot menatap Abu.


"Ya Allah, Pak. Hentikan saja semua ini. Ibu nggak mau Bapak dan yang lain kenapa-kenapa. Tidak ada untungnya kita mencampuri urusan Pak Somad," kata Bu Imran mengingatkan.


"Jangan berlebihan, Bu. Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu tidak tahu kenyataan yang terjadi selama ini," kata Pak Imran.


"Berlebihan gimana, Pak? Wajarkan kalau ibu khawatir," ucap Bu Imran.


Pak Imran mencoba berdiri. Namun, kepalanya masih terasa berat akibat pukulan yang mengenai leher belakangnya itu.


"Bapak mau kemana?" Tanya Bu Imran.


"Aku mau mencari Doni," jawab Pak Imran.


"Sebaiknya Bapak istirahat dulu," kata Abu.

__ADS_1


"Benar kata Abu, Pak. Bapak istirahat dulu," pinta Bu Imran.


"Kalau begitu, kami berdua akan kembali ke kebun untuk mencari Doni," kata Abu.


Baru saja Abu dan Dandi pamit. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Siapa malam-malam seperti ini mengetuk pintu?" Tanya Bu Imran heran.


"Doni," tebak Dandi.


"Mungkin itu Doni. Ayo kita lihat," ajak Abu.


"Hati-hati, kalian intip dulu di jendela. Kalau benar Doni baru buka pintu," kata Bu Imran waspada.


Ketukan pintu terdengar sangat jelas. Abu dan Dandi berjalan sambil berjinjit. Lalu membuka tirai dan mengintip ke luar.


"Aku tidak melihat ada orang di luar," kata Dandi.


"Iya, Dan. Aku juga tidak melihatnya," sambung Abu.


"Terus siapa yang mengetuk pintu?" Tanya Bu Imran heran.


Mereka bertiga saling berpandangan. Rasa takut kembali menjalar di pikiran Abu dan Dandi. Sambil menelan ludah Abu kembali mengintip di balik tirai. Dia menatap ke segala sudut yang bisa terlihat. Namun, hasilnya tetap sama. Dia tidak melihat siapa-siapa selain pohon mangga dan beberaa tanaman bunga yang menghiasi pekarangan rumah Pak Imran.


"Gimana?" Tanya Dandi.


Abu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Dandi.


Suara ketukan terdengar kembali. Suara itu tersengar sangat jelas. Namun, kali ini ketukan itu bukan di pintu. Melainkan di jendela samping rumah.


"Saya penasaran, Bu. Suara itu terdengar lagi," ungkap Abu.


"Perasaanku tidak enak," ungkap Bu Imran.


Suara kaca yang diketuk terdengar lagi. Kali ini suaranya lebih keras. Suara itu terdengar jelas berasal dari jendela samping rumah Pak Imran.


Mereka bertiga saling bertatapan. Bu Imran memberikan kode kepada Abu dan Dandi untuk melihat ke jendela. Paham dengan kode yang diberikan Bu Imran. Abu dan Dandi langsung berjalan pelan menuju ke jendela yang di maksud Bu Imran.


Mereka berdua menempelkan telinga ke jendela. Dan berusaha mendengarkan ketukan itu. Dandi menatap Abu. Lalu menganggukkan kepala. Setelah itu, Abu mengintip ke jendela. Namun, sayang hanya gelap yang terlihat.


"Astagfirullah," teriak Bu Imran kaget.


Abu dan Dandi yang kaget langsung berlari ke arah Bu Imran.


"Ada apa, Bu. Ada apa?" Dandi bertanya kepada Bu Imran.


"Ibu kaget lihat Bapak berdiri," tunjuk Bu Imran ke kamar.


Abu dan Dandi langsung meilhat ke kamar. Terlihat Pak Imran berdiri di depan pntu kamar.


"Ya Allah, Bu. Segitunya lihat Bapak," kata Pak Imran dengan suara yang pelan.


"Bapak istirahat aja. Nggak usah berdiri dulu kalau masih pusing," kata Bu Imran.

__ADS_1


"Bapak sudah mendingan, Bu. Bapak nggak enak mendengar kalian bertiga ribut-ribut di ruang tengah."


"Ada yang mengetuk pintu, Pak. Tapi, kami intip nggak ada siapa-siapa di luar," jelas Dandi.


"Bapak juga dengar dari kamar. Makanya Bapak berusaha bangun," ungkap Pak Imran.


"Kami mengira suara ketukan itu adalah Doni, Pak," kata Dandi.


"Namun, Ibu melarang kami membuka pintu. Ibu khawatir kalau bukan Doni yang mengetuk," jelas Abu.


"Iya, Pak. Ibu melarang mereka membuka pintu. Ibu takut terjadi sesuatu. Sedangkan Bapak masih lemah," ungkap Bu Imran.


Suara ketukan itu berhenti.


"Pak, jangan di buka. Ibu takut," kata Bu Imran ketika melihat Pak Imran berjalan menuju pintu.


"Jangan khawatir, Bu. Bapak sudah mulai pulih," kata Pak Imran meyakinkan. Meskipun sebenarnya rasa sakit itu masih terasa.


"Biar saya yang buka, Pak," pinta Abu.


Meski, dilanda rasa takut. Abu memberanikan diri untuk membuka pintu. Perlahan Abu menarik ganggang pintu dan membukanya. Mereka berempat sontak langsung melihat ke luar rumah.


"Benar, tidak ada siapa-siapa," kata Pak Imran.


"Lalu suara apa itu tadi?" Bu Imran makin heran dengan kejadian yang baru dialaminya.


"Teror," terka Dandi.


"Iya, kita di teror hantu penunggu kebun Pak Somad," timpal Abu.


"Coba kita periksa samping rumah," ajak Pak Imran.


"Ayo, Dan," ajak Abu kepada Dandi.


Mereka berdua memeriksa samping rumah. Pak Imran mengawasi mereka berdua di depan.


"Bagaimana?" Tanya Pak Imran.


"Tidak ada siapa-siapa, Pak," jawab Abu.


"Mungkin benar apa yang Abu dan Dandi ucapkan, Pak. Kita di teror hantu itu," kata Bu Imran.


"Kalau tidak ada siapa-siapa. Berarti bagaimana keadaan Doni sekarang?" Tanya Pak Imran khawatir.


"Ya Allah, Pak. Jangan-jangan Doni dalam keadaan bahaya sekarang," kata Bu Imran.


"Waktu kami bertiga keluar dari kebun. Doni berusaha mengalihkan perhatian hantu itu. Doni berusaha lari. Namun, dia berlari masuk ke dalam kebun. Supaya hantu itu tidak mengejar kami, makanya kami bertiga selamat sampai sini, Bu," terang Abu kepada Bu Imran.


"Ya Allah, kasihan Doni sndirian di kebun. Itu sangat bahaya, semoga tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Doni," ucap Bu Imran.


"Kita tidak bisa apa-apa sekarang. Kita doakan saja semoga Doni selamat," ajak Dandi.


"Bapak yakin Doni akan selamat," kata Pak Imran mantap.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dinihari. Namun, Doni tak kunjung datang ke rumah Pak Imran. Rencana yang sudah di susun rapi itu ternyata gagal. Jangankan mengungkap misteri di balik hantu penunggu kebun Pak Somad. Malah mereka bertiga terjebak ke dalam masalah yang lain.


__ADS_2