
" tapi bagaimana kalau yuna sampai tahu, dia bisa saja salah paham mas " ucap laras
...----------------...
" kalau kamu merahasia kan nya, maka dia tidak akan tahu. Karena yang tahu ini hanya lah kita berdua, aku juga sudah meminta pihak mereka untuk tidak mengatakan apa-apa pada yuna " Jawab bagas.
Laras pun mengangguk pelan. Sekarang dia sadar kalau apa yang di lakukan oleh suami nya tidak sepenuh nya salah. Kalau pun nanti putri nya di terima bekerja di perusahaan itu, pasti lah karena kemampuan yang di miliki oleh putri nya sendri
Malam pukul 19:00. Setelah makan malam bagas dan laras bersantai duduk di tepi kolam renang yang berada di rumah bagian belakang.
" Mah Pah " Teriak yuna yang nampak berlari ke arah mereka
" Ada apa sayang " tanya laras
Setelah menduduk kan badan nya di sofa yuna pun memberitahu kan maksud ke datangan nya " aku di panggil untuk wawancara " ucap nya dengan senyuman yang merekah di sudut bibir nya
Walau pun mereka sudah dapat menebak, namun tetap saja kala melihat raut wajah bahagia yang terpancar di wajah putri mereka membuat bagas dan laras ikut bahagia
" Papah sudah membantu kamu, sekarang tinggal bukti kan kemampuan kamu " ucap bagas tanpa sadar dia sudah membuat pernyataan yang ambigu
Laras pun langsung mencubit lengan sang suami, karena bisa saja rahasia mereka terbongkar atas perkataan suami nya itu, padahal suami nya sendiri yang menyuruh nya untuk merahasia kan itu tapi malah diri nya lah yang hampir saja membuat rahasia mereka terbongkar
" Maksud papah? " Tanya yuna atas pernyataan ambigu dari papah nya
karena selama dia berencana untuk bekerja di tempat itu, jangan kan membantu nya untuk mendapat kan izin pun yuna sangat ke susahan untuk mendapat kan nya dari sang papah. Jadi wajar jika dia merasa heran dengan perkataan dari papah nya.
" Aaahhh... Itu maksud papah kamu dia mau membantu kamu untuk berlatih wawancara. Jadi besok kamu lakukan seperti apa yang sudah kamu pelajari, begitu kan mas maksud kamu?! " ucap laras sambil tersenyum gemas ke arah sang suami
__ADS_1
Bagas pun menelan saliva nya melihat senyuman mengerikan dari sang istri, ia lebih memilih untuk bekerja lembur di bandingkan harus melihat senyuman yang sangat mengeri kan itu
" i...iya begitu maksud papah " Sahut bagas sambil menggaruk tengkuk nya.
yuna terlihat menatap ke dua orang tua nya itu secara bergantian, membuat bagas dan laras merasa tegang dengan tatapan mengintimidasi dari putri mereka
" Oh begitu. Kalau papah nggak ke beratan buat ajarin yuna, yuna seneng banget " Ucap yuna dengan senyuman manis nya
Mendengar itu bagas dan laras pun akhir nya bisa bernafas dengan lega, karena putri mereka tidak curiga.
Kemudian bagas pun mulai mengajari dan memberitahu kan point-point penting yang harus yuna ingat untuk wawancara nya besok. Sedang kan yuna menyimak dengan begitu serius apa saja yang papah nya itu ajar kan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ke esok kan hari nya.
namun ke sempatan itu tidak dia sia-sia kan, dia terus mengingat apa saja yang sudah papah nya ajar kan tadi malam kepada nya, dan dia yakin kalau dia bisa menerap kan seperti apa yang papah nya ajar kan, maka tidak ada alasan untuk dia tidak di terima di perusahaan ini.
" Selanjut nya nomer urut 53 atas nama Yunaira mahendra silah kan mengikuti saya " Ucap seorang perempuan
Mendengar nama nya di panggil yuna pun segera bangkit dari duduk nya, lalu dia berjalan mengikuti kemana perempuan itu membawa nya, seperti yang perempuan itu minta
yuna pun hanya bisa heran tanpa berani bertanya, karena dia tidak seperti pelamar yang lain yang ketika nama nya di panggil mereka akan masuk ke ruangan yang memang di siap kan khusus untuk proses wawancara
namun berbeda dengan diri nya yang malah di minta untuk mengikuti perempuan di depan nya itu yang entah kemana akan membawa nya. Di tambah tempat yang mereka tuju sangat jauh dari lokasi wawancara tadi, bahkan dia harus naik lift dan naik ke lantai paling puncak yang ada di perusahaan itu
Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, kini akhir nya perempuan yang membawa yuna itu berhenti di depan sebuah ruangan yang terlihat sangat privasi
__ADS_1
" Silah kan anda masuk. Direktur sudah menunggu anda di dalam " Ucap perempuan itu dengan sopan. Setelah mengatakan itu ia pun pergi meninggal kan yuna yang masih nampak heran
sepeninggal perempuan itu yuna masih melamun sambil menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu. " Biasa nya papah tidak pernah turun tangan untuk mengurusi orang yang melamar bekerja, masa iya aku di wawancara sama direktur " gumam yuna. Seketika debaran jantung semakin kencang kala ia membayang kan kalau dia akan di wawancara oleh direktur yang adalah orang nomer 1 di perusahaan ini
Di tengah-tengah lamunan nya. Yuna tidak sadar kalau pintu di depan nya itu terbuka, lalu berdiri lah wili di situ
wili pun yakin kalau perempuan di depan nya yang nampak melamun itu adalah yuna, yaitu perempuan yang di minta oleh tuan nya untuk dia segera membawa perempuan itu ke hadapan tuan nya
Dan ternyata perempuan itu sudah ada di depan, yang membuat nya tidak perlu capek-capek untuk menjemput nya dari tempat wawancara berlangsung.
" Apa benar anda adalah yuna " Tanya wili
Mendengar seperti ada suara seseorang, yuna pun tersadar dari lamunan nya, dan benar saja ada seorang laki-laki yang berdiri di depan nya.
"Aahh... Maaf saya melamun, apa yang tadi anda katakan " Ucap yuna
Wili pun tersenyum " Apa benar anda adalah yuna " ucap wili mengulangi pertanyaan nya
" Iya benar saya yuna " Jawab nya
" Kalau begitu silah kan masuk. Pak direktur sudah menunggu anda " Ucap wili lalu membuka kan pintu dengan lebar sambil mempersilah kan yuna untuk masuk
Dengan langkah kaki yang terasa berat yuna pun mulai masuk ke dalam ruangan direktur itu. Setelah dia masuk dia langsung di suguh kan oleh pemandangan seorang laki-laki muda nan tampan yang nampak tengah sibuk dengan pekerjaan nya
apa benar dia direktur nya. aku pikir dia akan seusia papah, tapi ternyata dia masih sangat muda.
" Tuan. orang yang anda panggil sudah datang " ucap wili dengan sopan.
__ADS_1