
Satu Minggu kemudian, kami menuju ke lokasi lomba. Jarak antara sekolah kami ke lokasi cukup dekat, karena di laksanakan di salah satu gedung olahraga.
Gedung olahraga berbentuk melingkar, dan agak luas. Dikelilingi oleh kursi penonton. Tepat di tengah-tengah sudah ada beberapa kanvas yang disusun sesuai jumlah sekolah.
Lapangannya agak luas sehingga kami dapat membangun stand kami di pinggir lapangan, sehingga jika waktu istirahat terjadi para bisa memiliki tempat untuk beristirahat sejenak.
Lomba ini diawasi langsung oleh pemerintah setempat, Yang aku dengar baru-baru ini pemerintah ingin menyeleksi generasi muda untuk nantinya dikirim mewakili kabupaten di tingkat provinsi.
Kami duduk cukup lama sembari menunggu, lomba lukis ada tiga sesi, yang mana memiliki tema yang berbeda. Sesi pertama akan dilakukan oleh Dian dan sesi kedua akan dilakukan oleh Raka, pada sesi ketiga keduanya akan di gabung untuk kerja sama kelompok.
Pada akhirnya, guru memutuskan untuk mengirim Dian dan Raka sebagai perwakilan sekolah. Amber tidak jadi ikut karena kebetulan terhalang oleh urusan keluarga, sehingga ia harus izin selama tiga hari kedepan.
Aku dan Raka duduk berdua di stand, guru pergi berkumpul bersama dengan guru lainnya di dekat podium. Sementara Dian sudah duduk di tempatnya, bersiap untuk melakukan sesi pertama.
Kemudian aku mendengar Raka berkata: “Hei, Ella... Nanti jika giliran ku sudah tiba, kau harus duduk di sampingku,” Ucapnya.
Aku diam sejenak, lalu bertanya padanya; “Mengapa aku harus?”
“Salah satu dari pengawas lomba adalah keluargaku, Dia berkata bahwa durasi lomba akan jauh lebih singkat dari sesi pertama dan juga tema gambarnya akan diundi dari list yang sudah ada. ”
“Tapi apa yang bisa aku lakukan?” aku bertanya padanya.
Raka menjawab dengan senyum secerah matahari pagi, “Sederhana, beri aku senyum dan juga tetaplah disisi ku sepanjang hari ini.”
Tapi aku rasa ini tidak ada hubungannya sama sekali. Aku menatapnya sejenak lalu pada akhirnya aku menganggukkan kepalaku menyetujui permintaannya itu.
Biarlah, karena setelah hari ini tidak akan ada lagi pertemuan di hari esok dan dia tidak akan menyusahkan aku lagi dengan segala kelakuannya.
“Oh, kau meminta aku untuk membantumu mencampur warna kan? ” simpul ku.
“Kau bisa menganggapnya begitu,” Raka tersenyum padaku sehingga aku mengangguk saja menandakan bahwa aku mengerti dan akan membantunya nanti.
__ADS_1
Dian membutuhkan kurang lebih tiga jam untuk menyelesaikannya, tema lukisan ada sesi pertama adalah alam Toraja, lebih tepatnya mereka mencoba untuk melukis salah satu destinasi di daerah kami.
Kemudian para pembawa acara mengumumkan waktu istirahat selama 1 jam kedepan, untuk makan siang dan nantinya akan dilanjutkan lagi pada pukul 2 siang hingga 4 sore. Sesi ketiga dimulai pada pukul 6 sore hingga acara selesai.
Aku kemudian berpikir bahwa sebelum malam tiba aku sudah harus pamit untuk pulang, Keluargaku menetapkan jam bebas ku paling tidak hingga pukul tiga sore dan paling lambat pukul lima sore.
“Tapi aku hanya bisa sampai jam 4 sore nanti, aku harus tiba di rumah sebelum pukul 5 sore."
"Itu sudah cukup.”
Sesi kedua ini para peserta diminta untuk memadupadankan ukiran khas daerah dan hasil lukis pada sesi pertama tadi, Aku berpikir bahwa sesi kedua ibu memang sulit.
Aku tidak tahu apa yang bisa aku bantu, sepanjang perlombaan aku hanya duduk di samping Raka, menunggu pemuda itu mengintruksikan padaku untuk mencampurkan warna yang dia inginkan.
Kami melakukannya dengan fokus dan pada akhirnya aku sadar bahwa tangan dan wajahku Sudah belepotan dengan cat, disusul oleh perasaan dingin dari segala sisi di tubuhku.
Uhuk, ada apa lagi ini? kondisinya sama seperti saat kak Leon datang memberikan aku makanan dan minuman saat awal-awal persiapan perlombaan. Tidak salah lagi, tapi kenapa aku merasa tatapan tersebut berasal dari arah mana saja?
“Raka, aku bertanya dengan serius. Apakah kau merasakan sesuatu? ” tanyaku lagi.
“Ya...aku rasa jantungku berdetak tidak karuan di dekatmu.”
Aku sedang tidak bertanya tentang itu sekarang.
Aku memilih mengabaikannya saja dengan menoleh ke arah lain, sementara Raka melanjutkan pekerjaannya. Posisi kami ada di deretan ke tiga, ketika aku menoleh aku sedikit terkejut dengan apa yang aku lihat.
Wajah familiar namun sedikit berbeda, tentu saja setelah dua tahun akan banyak perubahan yang terjadi pada kami semua. Kepalaku sedikit sakit tiba-tiba, benar satu pandangan sepertinya berasal darinya.
Dia anak nakal yang duduk di belakangku saat sekolah dasar!
Tidaklah hal ini sudah keterlaluan? Pertama, aku tidak membuat masalah dengannya. kedua aku tidak pernah bicara dengannya, jadi apa yang sudah aku lakukan sehingga membuatnya di rugikan?
__ADS_1
Pluk!
Sebuah jari menyentuh pipi kanan ku, aku lantas menoleh dan melihat Raka cekikikan seperti anak ayam tersenyum dengan gembira, kemudian berkata: “Apa yang sedang kau pikirkan?”
Aku cemberut menatap kesal padanya, “Astaga, kau mengotori wajahku tahu.”
“Tidak masalah, kau tetap terlihat imut, ” Dia menjawab pertanyaan ku dengan gaya sok keren.
Raka selesai tepat para pukul 4 sore, aku menatap kagum dengan mata berbinar-binar ada hasil lukisan yang dibuat oleh Raka, sangat indah. lukisan peserta lain juga tidak kalah indahnya.
Kami kembali ke stand, duduk sebenar lalu aku sadar bahwa aku harus segera pulang, namun sebelum itu aku harus membersihkan wajahku dulu. Aku pamit pada mereka, kemudian keluar dari gedung tersebut.
Aku berjalan menuju sisi kanan gedung olahraga tepat dimana ada keren air untuk aku gunakan. Setelah aku selesai, aku menuju ke gerbang gedung.
Sebelum benar-benar keluar tanganku ditahan oleh seseorang, aku melihat tangannya, kulitnya berwarna sawo matang. Perlahan aku mengangkat kepalaku lalu membatu.
“Kau...” suaraku menggantung.
“Ini aku, bagaimana kabarmu?” Dia bertanya, lalu melanjutkan kalimatnya “Sudah lama sekali yah. ”
Uhuk!
“Aku baik, kau sendiri?”
“Seperti yang kau lihat,” empat kata sebagai jawabannya. Aku hanya mengangguk, kemudian kami duduk sebentar dan mengobrol beberapa hal.
Ketika kami di sekolah Dasar aku ingat orang ini jarang berekspresi, setiap kali kami tidak sengaja berhadapan dia pasti akan melototi aku dengan mata elangnya.
Setelah mengobrol sejenak, kami akhirnya berpisah. Aku memperhatikan jam yang ada di ponsel nokia hitam ku, sudah lewat 45 menit, aku terlambat pulang.
Orang tua dan keluargaku yang lain pasti akan melakukan sesuatu wawancara nanti. Masing-masing dari mereka akan memberikan aku paling tidak tiga pertanyaan sama.
__ADS_1