HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Siulan teman sekelas


__ADS_3

Sebenarnya aku memang tidak bisa memahami arah pembicaraan mereka, tidak lebih tepatnya kalimat yang baru saja dikatakan oleh Indira. Mencari alasan untuk menggangguku? Aku pikir itu tidak masuk akal, buat apa coba?


Selama kurang lebih tiga bulan ini, aku sama sekali tidak merasa bahwa Daren mengganggu. Dia pemuda yang baik, dan aku senang mengobrol dengannya. Dia orang yang asik, bahkan dia suka membuat aku tertawa.


Ya, aku rasa kami sudah menjadi sahabat. Ini menyenangkan, dan tentu saja aku bisa bilang selain Mikael teman masa kecilku, dan Ares teman duduk ku di Sekolah Dasar, Daren adalah teman laki-laki yang ketiga.


Kris menempati posisi yang ke-4 tentunya, intinya Aku serta Indira senang bisa mengobrol dengan mereka, atau mungkin hanya aku yang berpikir seperti itu? Berhubung sesekali, Indira pasti akan mengomeli mereka berdua.


Aku rasa Indira tidak terlalu menyukai mereka sejak pada saat pertama kali memindahkan tempat duduk didepan meja kami. padahal sebelum itu, Indira berkata bahwa dia tidak suka duduk di kursi paling depan, apa lagi yang langsung berhadapan dengan Guru.


"Aku tidak pernah menggangu Rafael, Iyakan?" Daren bertanya sambil pandangannya mengarahkan padaku.


Uhuk! Aku merasa sedikit tidak nyaman ketika dia memanggil aku Rafael. Nama itu cantik orang tuaku memberikan nama sesuai dengan nama salah satu malaikat agung. Tapi kadang aku merasa, nama itu jauh lebih cocok dengan anak laki-laki.


Atau mungkin karena aku tidak terbiasa, biasanya orang lain memanggil aku Ella. Sekarang seseorang mengubah panggilannya padaku, aku masih harus menyesuaikan diri lagi.


Aku menggeleng, "Sama sekali tidak."


"Kau dengarkan? Rafael saja tidak keberatan, tuh.." bangga Daren, Indira hanya menggelengkan kepalanya tidak peduli.


"Jangan terlalu percaya padanya, Ella. Dia penuh tipu muslihat. " Aku merasa Ella sudah benar-benar kesal pada Daren dan Kris.


"Hei, kau seharusnya tidak berbicara seperti itu tentang teman kelas mu," Kris menambal perkataan Indira.


"Aku berbicara sesuai apa yang aku lihat, Teman mu sedikit tidak bisa di percaya. " tampak matanya melotot pada Kris.


"Kau!!!" Nada suara yang di gunakan Kris agak tinggi sehingga membuat guru mulai memperhatikan keduanya.


"Kris, Indira... Maju dan kerjakan nomor satu dan dua, kalian sudah selesaikan?" Suara guru kemudian membuat keduanya diam seribu kata.


Setelah dua detik, aku mendengar Daren terkekeh, tertawa kecil. Wajahnya tampak lebih bersinar ketika dia ceria, aku juga ikut terkekeh menahan tawa ku karena aku juga merasakan tatapan guru sudah mengarah pada kami berdua.

__ADS_1


Kemudian guru berkata lagi "Rafaella dan Daren, kalian berdua maju ke depan dan kerjakan nomor tiga dan empat."


Aku dan Daren kemudian membatu: "..."


Kami berdua pun akhirnya maju untuk ikut mengerjakan soal di papan, aku merasakan Kris dan beberapa teman sekelas sudah bergumam dan menahan tawa mereka. Indira dan Kris sudah hampir selesai sementara kami berdua baru akan mulai mengerjakan pertanyaan di papan tulis.


"Hei, kalikan dulu bagian pembilang dan penyebut, baru setelah itu tambahkan dan sederhanakan hasilnya, " suara Daren lembut dan pelan, dia berbisik padaku.


"Hah? Bukankah yang aku lakukan sudah benar? Hei, kau juga salah menghitung, 9×3 seharusnya 27, mengapa kau 25?" Aku balik berbisik padanya.


Daren lebih tinggi satu kepala dariku sehingga dia harus sedikit menundukkan kepalanya saat aku berbicara padanya. Dia berkata setelah itu, "Oh, benar aku sedikit tidak fokus."


Setelah selesai mengerjakan soal di papan, aku sedikit tersentak ketika menyadari bahwa sejak tadi kami berdua saling berdempetan, dengan pandangan teman sekelas dan guru yang sudah menatap kami berdua.


"Bagus kalian berempat, lain kali jika ingin pacaran jangan di kelas."


Blush!!


"Wajahmu merah hampir seperti tomat, manis" Daren berucap dengan suara rendah tapi aku yakin masih bisa didengar oleh mereka.


Teman sekelas kemudian bersorak: "Cieeeeee!!!"


Astaga, apa yang baru saja terjadi dengan ruang kelasku? Aku kemudian menatap Daren seolah-olah berkomunikasi dengannya, dan dia hanya merespon ku dengan tersenyum


"Sudah, sekarang kalian boleh kembali ke tempat duduk kalian." Perintah guru kami.


Kami kemudian mengangguk, lalu kembali ke tempat kami masing-masing. Kepalaku tiba-tiba menjadi lingkungan, karena memikirkan situasi apa yang baru saja terjadi?


Aku kemudian melirik ke Indira, "Apa maksudnya dengan pacaran?"


Daren; "... "

__ADS_1


Kris: "... "


Indira; "Saat kau tumbuh sedikit lagi, kau pasti akan mengerti, tidak usah buru-buru."


Mengapa aku tidak bisa tahu sekarang? Padahal diakhir bulan nanti aku sudah akan menginjak usia 13 tahun. Jadi apa bedanya, tahu sekarang atau tahu nanti?


Nanti itu juga kapan?


Bahkan jika berdasarkan fakta, aku masih jauh lebih tua dua bulan dari Indira, satu tahun lebih mudah dari Kris dan satu bulan lebih muda dari Daren, usia kami tidak terpaut jauh jadi mengapa aku merasa mereka menganggap aku seperti anak kecil?


"Maka, jangan menjawab jika tidak ingin menjawab. Lagi pula otakku tidak pernah di proses untuk memikirkan arti kata itu, " ucapku.


Kemudian aku mendapat pertanyaan dari Daren, "Kenapa?"


Aku membatu sejenak untuk berpikir, kemudian menjawab: "Uhm, mungkin karena orang tuaku sendiri tidak pernah menggunakan kata itu, jadi aku baru mendengarnya."


Aku lihat Daren mengangguk, lalu berkata: "Itu bagus, kalau begitu aku akan menjadi yang pertama."


Hah? Aku melirik Indira dan Kris dengan tujuan untuk bertanya lagi, apa maksudnya kali ini? Tapi aku lihat mereka sudah sibuk sendiri dengan pena dan buku tulis.


Kring!!!!


Bunyi bel menghentikan aktivitas kami, setelah guru keluar teman sekelas sudah Berbondong-bondong menuju kantin, beberapa dari kami ada yang memilih untuk tetap tinggal dan makan siang dengan bekal yang sudah disiapkan dari rumah.


"Hei, Ayo pergi. Kita harus mengembalikan buku yang kita pinjam tiga hari lalu, " Indira mengingatkan aku tentang jadwal pengembalian buku perpustakaan.


"Astaga, aku hampir lupa. Untung saja kau mengingatnya."


"Sudah, ayo cepat. Lihat waktu semakin berjalan maju."


Indira menarik aku setelah aku mengambil buku yang aku pinjam tempo hari, Kami menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku, hanya mengembalikan lalu kembali ke kelas karena bel sebentar lagi akan berbunyi.

__ADS_1


Ketika tiba di pintu perpustakaan, kami bertemu dengan Daren dan Kris. Bagaimana mereka sudah berada di sini? Jelas tadi mereka masih berada di kelas.


__ADS_2