
Rumah Feline ditempuh dengan menggunakan angkutan umum, lokasinya berada di dekat pasar kerbau terbesar yang ada di dunia. Pasar tersebut memiliki luas ± 4 hektar, ada banyak jenis kerbau di sana dengan harga yang bisa di bilang selangit.
Ini pertama kalinya Aku pergi jauh. Paling tidak tempat lain yang Aku kunjungi selain sekolah, dan pasar tradisional. Selebihnya aku menghabiskan waktu di rumah saja.
Keluarga Feline menyambut kedatangan kami, orang tua dan neneknya cukup ramah, kami bahkan fi tawari untuk makan siang bersama. Setelah itu kami menghabiskan waktu di kamar Feline, sambil belajar bersama menjelang ujian tengah semester.
Hei, apa yang kalian lakukan?” Aku bertanya setelah beberapa menit disibukkan dengan buku pelajaran.
“Ayo berhenti sejenak dan ayo kita nonton film horor, kalian pernah menonton film zombie tidak?” Feline menawari kami beberapa koleksi filmnya.
“Putar saja semau kalian kami ikut saja,” Jawab Indira mewakili aku dan Amber.
“Lanjut ke seri kedua saja, aku sudah nonton yang pertama.”
Kemudian film pun di putar, tidak lupa untuk menambah suasana yang mencekam Feline menutup jendela kamarnya dan mematikan lampu kamarnya. Udara di dalam ruangan juga menjadi dingin, karena efek dari kipas angin.
Sejujurnya aku adalah orang yang penakut, tapi karena takut diejek aku memilih diam dan tidak memperhatikan layar laptop selama film di putar. Fokus ku ke arah depan ketika layar menunjukkan siang hari dan ketika makan hari, Aku akan beralih pada ponsel nokia hitamku.
[Aku takut,]
[ada apa?]
[Feline mengajak kami nonton Zombie]
[wow, kau pasti tidak akan bisa tidur nanti malam]
[Tidak, Aku harus bisa tidur. Ibuku akan mengomel jika Aku teramat bangun besok]
[kalau begitu jangan nonton, mengobrol saja denganku]
[Baiklah, Aku juga tidak suka nonton horor]
[... ]
[... ]
Aku menghabiskan waktu ku dengan saling berbalas pesan dengan Daren. Yah paling tidak itu lebih baik dari pada menonton mayat Hidup di layar laptop Feline.
Tidak lama setelah itu, dering ponselku kemudian terdengar. Di layar ponsel itu terpampang jelas nama Ibuku, Aku Izin untuk menerima panggilan telpon tersebut kemudian setelah selesai melakukan panggilan, aku kembali pada teman-temanku.
__ADS_1
“Maaf aku harus pulang dulu, Ibuku sudah menelpon.”
“
Oh, benarkah? Kalian sudah mau pulang?” Feline meletakkan sepiring camilan di atas meja belajarnya.
“Iya, aku juga sudah harus pulang. Rumah kami jatuh soalnya, ” Ucap Indira sambil ikut merapikan alat tulisnya.
Feline melirik Amber lalu bertanya padanya, “Kau juga?”
“Iya, sekali-kali aku pulang ada temannya, hehehe...”
“Yah, kau kan bisa pulang nanti saja. ini juga masih pukul 15.00 sore, ” ucapnya.
“Tidak, lain kali aku akan kesini lagi untuk mengcopy beberapa film mu ”
“Huh, dasar kau yah, kalau begitu baiklah.”
Setelah berpamitan dengan keluarga Feline, kami pun kembali. Aku turun di depan gereja yang mana di sana masih ada beberapa angkot yang menuju ke rumahku.
Pada hari esoknya itu adalah kamis, pelajaran kedua kami adalah Agama. Seperti biasa kami menuju ke taman baca tempat biasa kami belajar, Guru menjelaskan seperti biasa lalu di akhiri dengan mengerjakan tugas yang ada di buku agama.
“Hei, semua. besok adalah giliran kita untuk memimpin Doa Rosario, siapa yang akan ambil bagian?” Diknas membuka obrolan di sela-sela mengerjakan tugas kami.
“Agak aneh jika tidak ada anak perempuan,” Nathan mencoba melakukan penawaran.
“Itu salah kalian, mengapa kabur dan tidak bertanggungjawab pada hari tugas?” Agnes bertanya pada mereka.
“Hei, ayolah jangan seperti itu. Ella kau mau kan paling tidak kau memimpin lagu,” Kali ini Erlang mencoba melakukan penawaran padaku.
“Bukannya aku tidak mau, tapi kita sudah punya jadwal sendiri dan aku sudah melakukannya dia minggu lalu,” Jawabku.
“Yah, apa kau tega dengan kami? Kau tidak mau membantu teman sekelas? Menyanyi itu tidak mungkin untuk anak laki-laki,” Diknas berkata padaku masih mencoba untuk melakukan penawaran.
“Jangan kira aku tidak pernah melihatmu menjadi Mazmur di Misa, ” Ucap Agnes.
Itu cukup membuat Diknas terdiam, “Sial, jangan buka rahasiaku.”
“Hei, itu hebat tahu. Aku saja tidak pernah mendapatkan bagian itu karena memang aku tidak pandai bermazmur.” Kali ini Tasya ikut memojokkan Diknas.
__ADS_1
“Kalian keterlaluan,” Pada akhirnya Diknas pasrah dan akhirnya mau mengambil bagian dalam Peribadatan besok.
Diknas ini anak yang nakal, tapi aku tidak sangka bahwa dia bisa Mazmur. Dia tipikal preman sekolah yang suka mencari masalah di kelas dan menjadi langganan guru BK.
Dua minggu lalu dia dan beberapa anak laki-laki yang seharusnya bertugas pada hari itu juga, kabur tidak tahu kemana karena tidak memiliki persiapan yang matang.
Alhasil, Aku, Tasya dan Agnes yang menggantikan mereka karena anak laki-laki yang lain sudah pernah mengambil bagian. Pembagian ini seharusnya meninggalkan satu anak perempuan di setiap jadwal sebagai pengiring ibadah.
Tapi karena tindakan mereka, itu membuat jadwal bergeser. Setelah Diknas kami masih harus memerlukan dua orang lagi, Kami menatap teman-teman yang lain untuk mencari siapa yang belum pernah ambil bagian dalam bulan ini.
“Jadi siapa yang belum pernah bertugas di bulan ini?” Agnes bertanya.
“Aku sudah melakukannya minggu lalu,” Daren menjawab.
“Aku berasa di jadwal yang sama dengan Daren, minggu lalu” Jawab Melvin.
“Aku juga,” Kris mengkonfirmasi.
“Masih ada lima orang lagi yang belum kan?” Tasya menatap lima orang siswa laki-laki yang belum mengkonfirmasi.
“Bagaimana jika tugas besok diserahkan kepada anak-anak yang kabur dari tugas? Jadwalku ada di minggu terakhir soalnya.” Vero memberikan saran pada rapat tiba-tiba kami.
Alex mengangguk setuju dengan saran Vero, “Itu benar biarkan Nathan dan Erlang yang melakukannya besok, jika mereka kabur lagi kita lapor pada Guru.”
“Hei!!!” Natan dan Erlang hendak protes dengan keputusan tersebut.
“Itu salah kalian, karena menghancurkan jadwal bulanan kita,”Ken berkata pada mereka.
Setelah pembahasan kami selesai, tidak lama kemudian kami mendengar suara tepukan tangan dari Guru. Ternyata sejak tadi Guru sudah berada di sana dan mendengarkan obrolan kami.
Guru kemudian tersenyum, dan mendekat duduk di antara kami, “Bagus, secara tidak langung kalian sudah belajar untuk berorganisasi dan bertanggung jawab. Guru bangga pada kalian,”
Kami berucap dengan serentak, “Terima kasih guru,”
“Baiklah, sekarang kumpul tugas kalian lalu kalian bisa kembali ke kelas, Dan guru hampir lupa, besok kita akan melakukan Rapat sepulang sekolah setelah Berdoa rosario, jadi tidak ada ibadah pagi seperti biasa. Jadi besok kita menggunakan lima sub-peristiwa.”
“Baik Guru, ” ucap kami lalu beranjak keluar dari taman vaca.
Aku mendengar anak laki-laki tertawa karena keputusan uang di keluarkan oleh Guru barusan. Jika biasanya kami berdoa hanya dengan 10 kali Doa salam Maria yang di ucapkan secara bersama-sama, di setiap sub teristimewa untuk mengejar waktu yang terbatas.
__ADS_1
Kali ini kami akan melakukannya secara bergiliran sampai 50 butir rosario. Jadi waktu doa diperkirakan akan mengambil waktu ± 1 jam untuk menyelesaikan lima peristiwa besok.
Nenang sih tidak ada yang lucu, apa yang membuat mereka tertawa mungkin karena tiga anak nakal itu akan menjadi anak alim dengan berdiri selama satu jam memimpin Doa rosario didepan banyak anak orang.