HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Tentang Anna


__ADS_3

Pandangan Anna padaku sedikit mengganggu, aku merasa ada sesuatu yang ingin dia katakan tetapi tidak berani. Aku ingat saat terakhir kali Anna mengajak aku untuk mengobrol, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sempat karena keributan di luar ruang kelas kami.


Belakangan ini Anna juga terkadang menghampiri mejaku lalu bertanya tentang beberapa soal atau meminjam catatanku. Tapi dia melakukan itu saat hanya ada aku dan Indira, dia tidak berani mendatangi aku jika Kris dan Daren ada di sana.


Mungkin karena malu pada anak laki-laki, atau memang karena dia tidak suka mengobrol dengan anak laki-laki. Jadi dia terlihat lebih menjaga jarak, juga dengan anak perempuan lainnya di kelas Anna sepertinya enggan.


Aku belum pernah melihat dia mengobrol dengan teman sekelas lainnya selain dengan Aku dan Indira. Katanya kami berdua terlihat lebih ramah dan bersahabat dibandingkan dengan yang lain.


Guru olahraga kemudian membunyikan peluitnya lagi, “Baiklah pelajaran cukup samai disini. kalian bebas ingin melakukan apa saja, juga minggu depan  kita akan mengambil nilai renang.”


Guru olahraga sekolah kami tampaknya tidak mengikuti kurikulum pelajaran, melainkan membuat materi sesuai dengan keinginannya saja. Lebih banyak melakukan praktek tetapi saat ujian nanti semuanya akan dalam bentuk materi.


“Sekarang kembali ke kelas kalian,” Guru pergi meninggalkan kami di lapangan.


Untuk hari jumat kami selalu pulang cepat karena hanya ada dua mata pelajaran saja. Kelas jumat berakhir pada pukul 11.30 jadi masih ada jeda kurang lebih tiga jam untuk kegiatan ekskul jumat kami.


Aku dan Indira tidak pulang, lagi pula rumah kami jauh sehingga pasti membutuhkan ongkos tambahan lagi, kami menghabiskan. Banyak waktu dikelas, kadang juga ke perpustakaan atau menghabiskan uang jajan kami di depan sekolah.


Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengisi waktu luang, juga ponsel pada masa itu masih nokia hitam tanpa kamera, yang isinya hanya game ular atau bounce ball.


“Kalian tidak pulang?” Feline beratnya pada kami, tampaknya dia sudah akan kembali.


“Tidak, kami ada kegiatan ekskul.” Indira menjawabnya.


“Bukankah itu pukul tiga nanti? Bagaimana jika kalian ikut kami saja?”Amber mengajak kami ikut bersama dengan mereka.


“Kemana? Apakah jauh?” Aku bertanya mengingat ini pertama kalinya kami akan pergi bersama.


“Tidak jauh, itu hanya ke rumahku. Kalian bisa pergi bersama Feline nanti, dia juga ada ekskul Basket.”


Feline mengikuti ekskul basket meskipun tidak berada dalam tim inti, Amber juga meskipun dengan sedikit paksaan dari Feline sahabatnya. Keduanya memang sudah saling mengenal karena  berasal dari sekolah dasar yang sama.


“Bagaimana?” Feline tersenyum pada kami dengan rasa semangat yang tinggi.


“/Aku rasa tidak usah, ini hanya sebentar kok. Waktu tidak akan terasa, iyakan  Ella?” Aku melirik Indira yang sudah berkedip-kedip kepadaku.


Aku hanya mengangguk, “Benar, lain kali saja. Kami masih ada urusan dengan perpustakaan.”


Amber melirik kami berdua sebelum dia mengangguk, “Baiklah, tapi lain kali kalian harus benar-benar ikut dengan kami.”

__ADS_1


“Iya, tentu saja. Lain kali kami pasti ikut, ” Setelah Indira berkata begitu Feline dan Amber pamit pada kami untuk pulang duluan.


Kelas kemudian menjadi sepi, hanya tinggal beberapa orang saja. Kami berdua memutuskan  untuk menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku dan membaca beberapa buku di sana untuk mengisi waktu kosong kami.


Tidak lupa kami membawa sebuah catatan pinjaman kami, sekolah selalu membagikan catatan setiap semester dengan tujuan agar kami bisa mengisi penuh catatan kosong tersebut untuk melihat keaktifan kami.


Dan seberapa sering kami meminjam buku.


Keaktifan kami di perpustakaan akan menjadi nilai tambah untuk mata pelajaran bahasa Indonesia kami. Guru yang piket masih belum pulang, kami mengembalikan buku yang kami pinjam.


“Apa kalian akan meminjam buku lagi?”


“Tidak guru, ujian tengah semester sebentar lagi jadi kami akan lebih fokus untuk belajar dulu.”


“Ah, baiklah. Silahkan letakkan buku kalian sesuai dengan posisi awalnya.”


“Baik guru.”


Melihat jam di dinding itu baru menunjukkan pukul 12.15 siang, kami memutuskan untuk menuju kantin untuk makan semangkuk mie instan, masih ada banyak waktu sebelum ekskul dimulai.


Kami jarang masuk ke kantin yang berada tepat disamping perpustakaan, pas di belakang laboratorium. Biasanya kantin ini tempat nongkrong anak laki-laki. Setelah makan siang, kami memutuskan untuk kembali ke kelas.


Hanya 30 menit saja.


Pintu kelas kemudian kembali terbuka, Aku melihat Anna dengan pakaian santainya, kaos dan celana olahraga. Dia kemudian menghampiri kami dan duduk di kursi Daren.


“Kau tidak pulang, Anna?” aku mencoba bertanya padanya.


“Aku baru saja dari rumah. Apakah sejak tadi kalian disini?”


“Ya, kami menunggu jam ekskul kami, bagaimana denganmu ada ekskul juga?”


“Ya, ekskul musik berpindah hari jumat pada minggu ini karena guru sibuk rabu kemarin.”


“Begitu yah, hebat. Kau pasti sangat pandai dalam olah vokal, jika itu aku pasti akan memecahkan kaca sekolah.”


“Tidak juga, suaraku tidak sebaik artis toraja.”


“Kau terlalu merendahkan diri, ngomong-ngomong tentang pertanyaan ku tempo hari... ” Anna tampak ragu.

__ADS_1


Aku melihat dia dan menunggu apa yang ingin dia tanyakan padaku, kalau aku pikirkan lagi pertanyaan Anna mulai mengganggu pikiranku. Aku rasa ada sesuatu yang penting, tetapi Anna tidak bisa mengatakannya tidak tahu karena apa.


Juga sebelum hari itu, kami jarang bahkan tidak pernah mengobrol, Anna sangat pendiam. Jadi aneh jika tiba-tiba aku berasa dalam situasi seperti ini. Aku menghela napas lalu menatap serius pada Anna;


“Anna, katakan aku rasa pertanyaanmu itu sangat penting,” Aku tersenyum padanya dan masih menunggu.


“Itu, Apakah kau... ”


Brakk!!!


“Sudah aku duga, kalian disini. Aku sudah mencari kalian dari tadi,” Kris cukup mengejutkan aku dan bahkan membuat Indira bangun dari tidur siangnya.


Aku tidak mempedulikan kehadiran mereka, fokus ku tetap ada Anna, “Anna, apa yang ingin kau tanyakan?”


“Maaf, sepertinya aku jadi lupa karena terkejut, akan  aku tanyakan jika aku sudah ingat. aku pergi dulu, kami sudah harus berkumpul.”


Aku mengernyit menatap punggung Anna yang keluar dari kelas, ku lihat dia tampak menundukkan kepalanya ketika melewati Daren, aku menghela napas lagi lain kali aku pasti akan memaksa dia untuk bicara.


Tunggu dan lihat saja nanti.


Jam di dinding kelas baru menunjuk pukul 14.15 siang, masih banyak waktu jeda sebelum ekskul dimulai. Jadi kami hanya berada di kelas dan menunggu.


“Bagaimana kondisimu, Rafael?” Daren berada di posisi yang sama seperti biasa, dia duduk di depan ku dan mengajak aku mengobrol lagi.


“Oh, aku baik-baik saja sudah aku gosok tadi.”


“Syukurlah, ngomong-ngomong ada urusan apa kau dengan Anna?”


“Hmm, tidak ada. Dia seperti ingin bertanya padaku tapi selalu tidak bisa. ”


Daren mengangguk, “Begitu rupanya, aku rasa dia sedikit aneh.”


“Yah, aku setuju Anna memang sedikit aneh, dia hanya mengajak Ella mengobrol, tidak mengajakku” Indira mengutarakan  penilaiannya terhadap Anna, ternyata Anna sudah bangun sejak lama, dan mendengar Anna.


“Aku rasa dia tidak ingin berteman denganmu,” Kris menimpa perkataan Indira.


Indira menatap garang pada Kris; “Hei, jangan seperti itu!”


Melihat mereka aku hanya tertawa pelan, keduanya memiliki hubungan yang baik. Aku juga melihat Daren tersenyum padaku, aku rasa Moodnya hari ini baik karena sepanjang hari aku tidak lihat seperti merajuk.

__ADS_1


__ADS_2