HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Hukuman


__ADS_3

Ekskul dimulai pukul 15.20 sore, kami semua berkumpul di lapangan. Tampaknya anak basket juga sudah mulai, aku melihat kelompok Feline sudah melakukan peregangan.  Sebenarnya aku berpikir bahwa mengikuti ekskul itu hanya seperti bermain-main saja.


Ekskul kami tidak ada yang istimewa, yang dikirim untuk mengikuti lomba saja adalah mereka yang memang sudah bisa di katakan bermain baik, sementara bagi kami yang hanya anggota biasa itu hanya sebuah kegiatan untuk mengisi kekosongan jam harian saja.


Contohnya seperti aku, yang hidup dengan banyak aturan  keluarga pulang jam berapa, kalau sekolah selesai langsung pulang jangan singgah di tempat lain, kalau ada yang mendesak beri kabar pada keluarga.


Ketika aku pulang terlambat, aku menjadi pusat wawancara keluarga mulai dari kakek sampai sadik-adikku. Jadi mengikuti ekskul bisa menjadi salah satu alasan untuk waktu bebas ku, walaupun ketika aku pulang terlambat kakek dan nenek ku akan selalu protes tentang jam sekolah yang ekskul nya bahkan bisa sampai pukul 18.00 sore.


Jarak dari rumah ku memang jauh, biasanya jika sudah memasuki pukul enam sore, angkot didepan gereja sudah tidak ada ada lagi, dan itu membuatku harus mengambil jalan memutar.


Tidak jarang aku satu mobil dengan Kris, yang membedakan hanyalah dia laki-laki, aku tahu penyebab kekhawatiran keluarga ku, dan memang itu tidak terlalu membuat naku protes karena aku sudah terbiasa sejak sekolah dasar.


Hal yang paling aku ingat saat kerja kelompok untuk membuat hidangan sebagai nilai praktek seni kami di kelas VI, ibuku sangat menentang ketika kelompok kami memutuskan untuk menginap di rumah salah satunya teman kami, itu membuat aku hanya berkontribusi lebih dalam biaya yang digunakan.


“Ayo kita mulai,” Aku tersadar setelah mendengar suara Indira.


“Oh, baiklah. apakah ini dua lawan dua?” tanyaku.


“Tidak ini masing-masing, yang datang hari ini terlalu banyak, Kak Leon bilang kita bergantian saja.”


“Tapi aku rasa bagian Ini muat untuk dua tim, jadi mari kita bermain, ” Kris memberi saran.


Kami kemudian mulai bermain, Aku bersama dengan Indra dan Daren bersama Kris. Pada awal permainan, itu masih berjalan dengan baik hingga akhirnya kedua pemuda itu mulai bermain dengan serius.


Sial, mereka membuat kami kelelahan karena harus konsentrasi dengan bola bulutangkis. Kami duduk di tanah, dan melihat keduanya sedang tertawa diseberang kami.


“Aku berhenti,” Indira bangkit lalu berjalan ke  teras ruang kelas kami.


“Dira  tunggu aku... ” Aku juga beranjak dan menuju teras ruang kelas.


“Ella, kau masih punya minum?” Tiba-tiba Daren juga sudah ikut duduk di sampingku.


Akun menggeleng, “Sudah habis siang tadi,”


“Bagaimana jika kita makan bakwan didepan sekolah?” Aku menatapnya dengan heran, Daren baru saja tanya aku harus atau aku sedang lapar?

__ADS_1


“Tidak mau? ” Dia tersenyum dan alisnya mengernyit.


“Indira apa kau mau makan Bakwan?” Aku coba bertanya pada Indira, kami selalu bersama jadi harus mengambil keputusan bersama.


“Boleh saja, ayo pergi sebelum Kak Leon tatang mencari kita. ”


Jadi begitulah kami meninggalkan ekskul sebentar untuk mencari makanan. Kak Leon sedang sibuk mengajari anak kelas satu untuk bermain bulutangkis, jadi dia tidak akan memperhatikan kami.


Kami menuju ke tempat langganan kami, dan memesan gorengan bakwan beserta jus. Bakwan buatannya sananya enak dan tebal juga empuk  berbeda dengan bakwan kebanyakan yang. Tipis juga keras.


“Baiklah, selamat makan semua,” sebagai anak baik kami tidak lupa untuk berdoa sebelum makan.


“ Selamat makan.”


Sebenarnya tidak sopan jika pada waktu makan kita bersuara tapi tampannya teman-temanku melupakan itu sehingga sambil mereka makan bakwan, mereka mengobrol tentang sesuatu yang ada di dunia anak laki-laki, yang tidak aku mengerti.


Mereka membahas tentang arena Balap Motor yang sedang tayang di TV, sementara aku dan indira hanya diam mendengarkan mereka sambil makan bakwan.


Ponselku kemudian berdering sehingga aku mengambilnya dari saku celana ku, aku langsung melotot ketika melihat nama siapa yang ada di layar ponselku bahkan aku sampai terserah oleh bakwan yang belum aku kunyah dengan Baik.


Uhuk!


Uhuk!


“Astaga, ada apa denganmu? Minum ini cepat... ”  Aku langsung meminum minuman tersebut, barulah setelah minuman itu jatuh ke tenggorokan ku aku rasakan rasa yang berbeda.


“Aku rasanya memesan jus strawberry  kenapa rasanya jadi jus jeruk?” Aku melirik pada Indira tapi dia hanya menganggukkan kepalanya kepada arah tanganku.


Aku langsung terkejut seketika, bagaimana mungkin, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh pada tanganku jelas aku melihat tanganku menggenggam tangan Daren yang sedang memegang jus jeruknya...


“Ini, aku... ” sungguh aku seketika jadi panik, aku pernah menonton sebuah film dimana seseorang tidak sengaja meminum minuman milik anak lain.


Aku merasakan kepalaku di sentuh lagi, itu langsung membuat aku menatapnya dia tersenyum lagi padaku, “Hei, tenanglah aku belum meminumnya.”


Aku merasa sedikit lega dengan itu, aku pernah mendengar kakak kelas dari SMA disamping sekolahku berkata bahwa hal seperti itu sudah dihitung sebagai ciuman tidak langsung.

__ADS_1


Aku tidak terlalu paham dengan bahasan mereka belum lagi mereka menggunakan bahasa yang asing ditelinga ku, apapun itu aku mengucap syukur karena tidak terjadi.


“Ada apa denganmu, Ella? Kau terlihat sangat panik.” Kris bertanya padaku setelah aku merasa sedikit tenang.


“Astaga! Aku lupa, ayo cepat bungkus bakwan kalian, kita pergi sekarang, ” ucapku sambil buru-buru menuju kasir lalu meminta kantung plastik.


“Ada apa sih? Kau terlihat sangat terburu-buru, ” Daren menahan tanganku.


Aku pun menatapnya, “Kak Leon mencari kita, astaga dia pasti akan  mengomel lagi.”


“...Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi.” Daren kemudian berjalan menuju meja kami lalu memasukkan Bakwan Kami ke dalam plastik.


Kemudian dia membayar lalu menoleh pada kami bertiga, “Apa yang kalinya tunggu, ayo pergi.”


“Hei tunggu aku!” Kris mengejar Daren, tidak tahu kenapa anak laki-laki jalannya sangat cepat.


Setibanya kami di dalam lingkungan sekolah, aku melihat Daren langsung memberikan bungkusan Bakwan kami tadi, dia berkata: “Kami membelikan itu untukmu kakak kelas... ”


“Dimana sopan santun mu?” Kak Leon nampaknya tidak menyukai Daren, entah karena apa. aku belum pernah melihat mereka mengobrol dengan baik.


“Tidak ada kesopanan untukmu, sekarang boleh kami pulang?” Ucapan Daren membuat aku melotot ini baru saja jam 16.45


“Tidak, sekarang kalian lari lapangan sebanyak sepuluh kali, sebagai hukuman! ” Suara kak Leon agak tegas, dia kemudian melirik aku dan Indira.


“Kalian berdua lari sebanyak tiga kali putaran,” Kak Leon duduk lalu mulai memakan Bakwan yang tadi diberikan oleh Daren.


Aku dan Indira kemudian mulai berlari, lapangan Basket sudah sepi tampaknya anak basket sudah pulang. Lapangan basket  dan lapangan untuk olahraga lainnya menjadi satu sehingga itu cukup membuat kami lelah berlari.


“Aku lelah, dia sangat tidak adil dan menu Balkan.” Kris berada di samping Indira.


“Semangat lah olahraga baik untuk menurunkan berat badanmu,” Ucap Indira.


“Hei, kau mengejekku?”


“Tidak, aku hanya berbicara fakta.” Indira kemudian berlari lebih cepat meninggalkan kami.

__ADS_1


“Sial  Dira tunggu aku!”


__ADS_2