
Semakin mendekatinya hari lomba, kami tampak sangat sibuk. Sebenarnya meskipun aku sudah tidak menjadi kandidat lagi, Guru masih terus mencari ku untuk mengawasi ketiganya.
Guru akan datang ke ruang kelas kami, memanggil aku dan Amber atau langsung mengumumkan dari kantor melakui pengeras suara. Jadi biasanya kami hanya menghabiskan dua mata pelajaran awal, lalu sisanya digunakan untuk melukis.
Tentu aku lagi-lagi mejadi korban mereka, aku diminta untuk berpose sambil memegang sebuah buket bunga mawar merah. Tersenyum hingga gigi-gigi ku mengering, itu adalah tujuan mereka, dan guru memberi dukungan yang besar.
"Bagus, tutup matamu seperti itu," Raka bertepuk tangan dengan senang ambil memberikan jempolnya padaku.
"Tidak mau!" aku jawab dengan kesal. Kenapa sih harus aku yang ada di posisi ini?
"Hei, Ayolah. Lakukan saja, ini hanya sebentar," kata Raka lagi.
"Tiga sampai empat jam kecapean apakah menurutmu itu sebentar?"
Dia tidak menjawab, sebenarnya jika saja aku bisa bertahan dengan menutup mata, pasti akan aku lakukan. Tapi masalahnya, aku adalah tipe orang yang mudah tidur dimana saja, asalkan aku merasa nyaman.
Aku orang yang mudah mengantuk jika tidak melajukan apapun, dan sekarang mereka memaksaku berada di posisi itu sekarang. Apakah tidak ada yang bisa membatu aku keluar dari masalah ini sekarang?
“Ayo, lakukan saja. Mungkin kau bisa mencari posisi terbaik yang bisa membuatmu nyaman, selama kami melukis.”
"Apa kau yakin?" aku bertanya 0ada Raka, kulihat dia menatap aku dan menunggu. Ku menghela napas ku, lalu mengambil posisi yang menurut Ku nyaman.
Kedua tangan aku lipat di atas meja lalu aku merebahkan kepalaku pada tumpuan kedua tangan yang sudah aku lipat tadi sebagai alasnya.
"Bangunkan aku jika kalian sudah selesai," Setelah berkata demikian aku mengabaikan apa yang mereka katakan.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur di dekat ruang guru, aku tidak mendengar suara obrolan disekitar ku, kemudian aku merasakan sebuah sentuhan di pipiku.
Seseorang sedang mencubit pipiku!
Aku sontak membuka mataku, dan sedikit terkejut karena ketiga orang yang tadi berada bersama ku sudah tidak ada, alat lukis masih ada di atas meja. Hei, kemana mereka pergi?
Belum lagi orang yang ada di depanku saat ini adalah Daren, dengan raket miliknya tentu saja, Oh jadi hari ini adalah hari Jumat begitu?
Aku bertanya, “Kemana mereka pergi?”
“Mereka pergi untuk makan siang.”
__ADS_1
Mereka pergi dan tidak membangunkan aku? Dasar tidak setia kawan, aku sudah menolong mereka dengan menjadi patung tidur, tapi mereka mempermalukan aku seperti ini?
Lihat saja, aku pasti akan mengundurkan diri.
“Ada apa?” Daren bertanya padaku, aku melihatnya sebentar sebelum menjawab.
“Kau tahu, aku belum makan karena mereka dan mereka meninggalkan aku sendiri disini.”
Aku melihat dia tersenyum dan menatap aku, terkekeh lalu dia berkata, “Kau tidak sendiri...”
Apa?
“Aku disini bersamamu.”
Uhuk! Aku seketika batuk dibuatnya. Apa yang baru saja Daren katakan? Dia disini bersama ku? Maksudku, jangan bilang dia melihat aku tertidur sejak tadi?
Uhuk! Malunya. Aku merasakan udara mulai naik, hembusan angin ditelinga ku terasa hangat dan juga pada area wajah ku. Astaga aku tidak mungkin memerah seperti tomat merah kesukaanku kan?
Apa yang terjadi padaku!
“Ada apa? Wajahmu merah seperti tomat gembul.”
Astaga!
“Uhuk! aku sedikit lapar.”
“Begitu? Uhm, Ayo ke kantin bersama,” Daren mengajakku, aku melihatnya sebentar lalu beralih melihat ke lapangan.
“Tapi, kalian mungkin akan segera berkumpul.”
“Masih ada waktu, Ayo.”
Daren menarik tanganku, aku seketika menjadi oleng sedikit, tangannya dingin, tapi rasanya agak nyaman. Kemudian aku me dengar suara siulan dari depan. Ada apa dengan mereka sih? Hingga bersiul tidak jelas seperti seekor burung minta kawin.
“Kawal sampai resmi,” itu kalimat salah satu orang yang aku dengar. Aku melirik kembali Daren, dan tanpa sadar aku melepas genggaman tangannya dari tanganku.
“Ada apa?” suara lembut miliknya terdengar di telingaku.
__ADS_1
“Apa kau dengar yang baru saja dikatakan oleh mereka?” aku bertanya.
“Sudah, jangan dipikirkan. Ayo, kantin akan segera tutup jika kita tidak bergegas.”
Kenapa dia mengalihkan pembicaraan?
Aku menggelengkan kepala ku lalu mengikutinya, kami memilih kantin dekat perpustakaan, yang agak luas. Ketika kami masuk, mereka yang meninggalkan aku sendiri di sana sedang menikmati semangkuk mie instan dengan lahap.
“Apa tidurmu nyenyak Ella?” Raka bertanya padaku, aku membuang muka darinya, malas meladeni dia.
“Hei, maaf. Tidurmu sangat nyenyak tadi, jadi kami tidak tega membangunkan mu, dan juga aku berencana membelikanmu makanan setelah ini.”
Aku melotot padanya, masih merasa kesal. Apa sesusah itu membangunkan seorang gadis? Sebenarnya aku sedikit marah padanya karena meninggalkan aku dengan Daren berdua di sana.
Aku takut saking lelapnya, aku tidak sadar bahwa saliva ku sudah berada di sudut bibirku. Jangan berpikir bahwa aku tipe orang yang ileran, sama sekali tidak tapi jika aku sangat lelap itu tidak menutup kemungkinan akan terjadi.
Posisi dudukku ada di seberang Daren, dan di samping Indira yang disusul oleh Amber dan Dian. Sementara di seberang kami adalah Daren, Raka dan Kris.
Aku tidak tau berapa lama aku larut dalam cerita, tapi tiba-tiba saja bunyi.tek dan aroma khas mie rebus tercium oleh hidung ku. Aku melirik tangan tersebut dan melihat bahwa orang itu Daren, sejak kapan dia memesan?
“Ada apa? Cepat makan, mienya nanti kembung jika kau diamkan saja.”
Aku sedikit terkejut, melihat dia sekilas dan tersenyum menanggung sebagai jawaban. Aku makan dengan lahap, tidak peduli dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Ella, kau tidak pakai sambal botol?” Kris kemudian bertanya padaku, aku mengangkat kepalaku dan menatapnya sejenak.
Indira kemudian mewakili aku untuk menjawab, “Orang tuanya melarang, katanya sambal botol yang ada di botol hijau tidak baik.”
“Sayang sekali, padahal mie akan sangat enak jika di campur dengan sambal dan perasan jeruk nipis,” ucap Kriss.
Kemudian aku berkata padanya, “Aku hanya menjaga kesehatanku saja. Lebih baik berjaga-jaga dari pada menyesal di akhir.”
“Iya-iya, yang maha hati-hati,” Kris menggelengkan kepalanya seperti berkata kau akan menyesal jika tidak mencobanya.
Hei, apa-apaan kalimatnya itu? Ibuku melarang aku menggunakan sambal di botol karena dia mendengar bahwa sambal tersebut sudah di campur dengan zat lain, yang tentu saja berbahaya untuk kesehatan.
Ibuku hanya khawatir sehingga membatasi beberapa hal untuk kami konsumsi. Contoh lainnya adalah aturan hanya sekali sebulan boleh makan mie, ada pula yang lain jika makan mie jangan dicampur dengan nasi agar tidak kelebihan karbohidrat.
__ADS_1