HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Pelajaran Olahraga


__ADS_3

Jadwal belajar pagi hari kami pada jam 10 pagi di hari jumat adalah Olahraga.  Setelah guru pada pelajaran  pertama meninggalkan kelas kami, anak perempuan  segera mengusir anak laki-laki keluar ruangan agar kami bisa mengganti pakaian kami.


Hal ini sudah menjadi kebiasaan untuk kelas kami, juga kelas yang lainnya. Anak perempuan akan menjadi penguasa kelas karena jumlah kami yang memang banyak dari ada anak laki-laki.


Rata-rata dari kami membawa pakaian olahraga dan baru menggantinya saat kelas sudah kosong dan pintu serta jendela sudah di tutup. Tetapi itu berbeda denganku, setiap jumat aku akan selalu menggunakan pakaian doble sehingga aku hanya tinggal melepas pakaian seragamku.


“Sial, pantas saja kau terlihat lebih gemuk setiap hari jumat. Kau sudah memakainya dari awal?” Feline, teman dekat Amber tampak terkejut melihat ku.


“Kau baru sadar? kami memang selalu begitu dari kelas satu dulu,”  Indira menimpali Feline, lalu ikut membuka pakaian seragamnya.


“Wah, aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.”


“Jangan lakukan, kau akan sangat gemuk nanti” Amber berkata padanya, yang langsung di hadiahi mata bulat dari Feline.


Tubuh Feline memang agak berisi, dia juga tinggi besar sementara Amber dia masuk kategori kurus tidak berisi sama sepertiku. Indira juga sama seperti Feline, tapi dia tidak tinggi sama seperti aku dan Amber.


Trak!


Trak!


“Hoii! Apa kalian sudah selesai? Cepatlah Guru sudah meniup peluitnya!” Teman kelas lalu


Laki-laki mulai ribut di luar kelas.


Trak!


“Berganti saja di toilet laki-laki kau pikir jadi perempuan itu mudah apa!” Aku cukup terkejut ketika mendengar Okta berteriak setelah menendang pintu kelas kami dengan keras.


“Kalian memang merepotkan! Tapi kau lebih merepotkan dari pada yang lain, dasar cewek kasar!”


Trak!


“Tunggu saja setelah ini, aku akan menghajar mu Iksan!” Sepertinya kali ini Iksan tidak akan selamat dari Okta.


Okta itu gadis yang baik meskipun  tindakannya sering kali kasar, dia juga pasti akan selalu membela teman kelas perempuannya jika ada anak laki-laki yang dia rasa sedang mengganggu.

__ADS_1


Setelah kami selesai, pintu kelas dibuka dan bersamaan dengan itu, bunyi peluit Guru Olahraga kembali terdengar untuk yang ke tiga kalinya. Kami semua berbaris tepat di depan tiang bendera.


“Silahkan regangkan tubuh kalian dulu, setelah itu setiap baris berurutan untuk berlari ke luar sekolah, kita akan berkeliling melewati SD katolik, SMP Katolik, melewati SMANSARA, dan terakhir kembali ke sekolah.”


Setelah selesai meregangkan tubuh kami mulai berlari sesuai dengan urutan, aku berada di barusan ke tiga, setiap baris terdiri dari lima orang anggota. Aku, indira, Amber  Feline dan juga Anna.


Setiap sekolah berada dalam satu lingkungan yang sama, dan setiap sekolah hanya dipisahkan oleh tembok sebagai pembatas. SMP ku bersebelahan dengan SMA, kemudian SMA itu bersebelahan dengan SMP Katolik yang memang masih satu lingkungan dengan SD.


Tidak, aku hampir lupa dengan taman kanak-kanak tempat sekolah adik kecilku dulu, itu berada di samping SD tempat aku dulu. Di gerbang sekolah itu masih ada pedagang kaki lima yang suka menjual mainan dan kertas binder.


Ada pula pedagang siomay dan batagor keliling, langganan ku dulu. Kami berhenti sebentar untuk membeli Camilan tersebut untuk kami makan dijalan. Tampaknya sebentar lagi sudah akan jam istirahat.


Kami melanjutkan jalan kami, tidak ada Guru yang mengawasi sehingga kami tidak memilih untuk berlari. Kami menikmati makanan kami dijalan,


“Aku lapor Guru nanti kelompok tiga jajan saat dalam perjalanan...” Itu Melvin yang menyebalkan, ternyata mereka berada di barisan ke lima.


“Mau makan tinggal beli saja, tidak akan ketahuan jika kita sama-sama tutup mulut, ”


“Aku anak baik, aku tidak akan berbohong.” Melvin menolak ajakan Feline.


Aku mendengar Melvin yang sudah putus asah karena terus di goda dengan siomay. Itu membuat kami tertawa karena ulahnya, kemudian pesanan kami selesai.


Ketika aku memakan siomay milikku, aku langsung tersedak dan batuk. Sepertinya aku salah memasukkan saos nya tadi, aku tidak bisa menahannya rongga mulut ku panas, juga pada tenggorokanku.


Aku kepedasan...


Aku menghirup udara agar mulut ku bisa sedikit lebih lega, sepertinya aku sudah menangis sekarang. Aku memang tidak bisa makan pedas yang ekstrim, biasanya sambal di rumah pasti selalu ada tomat di sana.


Bahkan ketika aku makan gorengan seperti tahu isi aku hanya menggigit ujung cabe lalu setelah itu Sedikit-sedikit, biasanya aku menghabiskan sampai empat gorengan untuk satu cabe.


“Ella, kau baik-baik saja?” Indira tampaknya sudah khawatir padaku.


“Benar, wajahmu merah... ”


“Aku butuh minum...”

__ADS_1


Aku tidak mendengarkan mereka lagi, aku langsung berlari melewati SMA di sana menuju ke sekolah. Guru masih tidak kelihatan sehingga aku langsung menuju ke ruang kelas tapi kau baru ingat saat seperti ini kelas akan dikunci.


“Hah...” Aku baru akan menuju ke kantin tapi sesuatu yang dingin menyentuh pipiku.


“Duduk dan minum pelan-pelan...” Daren duduk di teras kelas, lalu aku ikut duduk di sampingnya.


“Terima kasih, aku tergolong olehmu, ” ucapku dan langsung meminum air mineral itu


“Ya, kau tidak kuat dengan pedas tapi tetap dimakan.”


“Aku pikir tadi itu sambal botol ternyata itu botol cabe.”


“Lain kali, kau harus lebih memoerhatikan lagi. Jangan membagi dua objek ini andnagammu.”


“Eh, darimana kau tahu aku...”


“Aku ada di kelompok yang sama dengan Melvin, hanya saja aku  tadi mengikat tali sepatu sehingga tidak berada bersama dengan mereka.”


“Begitu rupanya...”


Kami mengobrol sedikit, seperti biasa Daren menceritakan beberapa lelucon lucu padaku yang pastinya berhasil membuat aku tertawa. Daren cukup menghiburku, terkadang juga kami mengobrol tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting.


Setelah bebeseapa saat kemudian, peluit Guru Olahraga terdengar lagi. Kami berdiri dan kembali masuk ke barisan, kali ini aku berada di bagian belakang bsriisanku tepatnya di belakang Indira, disamping Anna.


Aku menyentuh pundak Indira kemudian berbisik, “Kenapa kau tidak panggil aku, saat kau sudah sampai di sekolah? ”


“Akun ingin tapi aku melihat kau sedang mengobrol dengan Daren, aku tidak ingin memotong obrolan kalian.”


“Padahal kau bisa ikut mengobrol juga, ”


“Tak apa, ohiya... Bagaimana dengan perutmu? Kau makan pedas tadi,” Indira menanyakan kondisiku, dia memang sahabat yang perhatian.


“Karena Daren, aku tertolong dia memberi aku sebotol air mineral dingin.”


Karena aku merasa senang tidak sadar aku tersenyum lebar, aku jarang tersenyum di tempat umum seperti ini. Paling-paling hanya tersenyum tipis. Kemudian aku tanpa sengaja menoleh ke arah Anna yang ada di samping ku.

__ADS_1


Ada apa sih?


__ADS_2