
Aku duduk di pinggir lapangan setelah menyelesaikan hukuman kami, sambil menggunakan tangan sebagai kipas, sungguh napas ku seperti akan tercekat. Sepertinya aku memang butuh minum, es lemon adalah yang paling tepat untuk saat ini.
Aku memperhatikan Daren dan Kristen yang hukumannya masih belum selesai, aku rasa dia sudah mulai kehabisan napas juga. Indira masih belum kembali, dia berpamitan pada ku tadi untuk membeli minuman di luar, karena kantin sudah tutup.
Sekolah juga sudah mulai sepi, anak ekstra kurikuler lainnya juga sudah pulang. Hanya terlihat beberapa orang saja, Pintu ruangan musik terbuka, dan aku melihat anak musik sudah keluar.
Aku sedikit terkejut ketika aku melihat Raka di sana, Rambutnya sudah mulai tumbuh lagi. Juga, aku baru tahu jika dia ikut musik juga. Karena pernah sekali aku melihat dia bersama dengan tim sepak bola sekolah..
Berbicara tentang Raka, aku rasa sejak terakhir ibadah bersama di tamba baca perpustakaan, kami sudah tidak pernah mengobrol lagi. Aku pikir, tindakan aku yang terus melihatnya membuat Raka menyadari keberadaan ku.
Didepan ruang musik juga ada Anna, gadis itu masih terus menatap ke lapangan dimana Daren dan Kris berada. Aku rasa Anna ingin berteman dengan mereka, tetapi dia tidak punya keberanian untuk mengajak keduanya mengobrol.
Jika tidak, mana mungkin Anna ingin mengatakan sesuatu padaku. Dan juga tindakan dia yang tidak resmi menatap Daren memperlihatkan bahwa memang Anna tidak punya keberanian untuk berteman.
“Duar... Apa yang kau lihat?” Aku tersentak kaget ketika Indira menyentuh pundakku.
“huh, kau membuat aku terkejut saja. Mana minumanku?” Aku bertanya padanya dan dia langsung memberikan sebotol Fresh Tea padaku.
“Hanya tinggal itu saja, mas penjual jus sudah tutup lebih cepat.” Indira duduk di sampingku.
“Tak apa, yang penting aku bisa minum, ” Aku baru saja akan membuka botol minumnya ketika seseorang merebut minumanku dariku.
Daren membuka botol minuman itu lalu meminumnya tepat di depan ku, Aku menatap dia dengan kesal. Hei, ayolah aku bahkan belum minum tapi dia sudah meminum minumanku hampir setengahnya!
Ini membuat aku mengingat kejadian berminggu+minggu lalu. Setelah itu, dia menatap aku lalu tersenyum lebar seperti tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun.
“Maaf, aku benar-benar haus. Kakak kelas itu benar-benar menyebalkan,” Daren mengembalikan minumanku, kemudian barulah setelah itu aku akhirnya bisa minum juga.
Daren tidak menyentuh permukaan botol jadi aku minum seperti biasa. “Padahal kau bisa ambil yang di plastik, Dira sudah membelikannya untuk kalian juga.”
“Maaf, sebenarnya Kak Leon yang membelikan kita, dia merasa bersalah karena sudah menghukum kita.”
“Bagus, aku yang lebih dulu meminumnya” Aku melirik pada Daren setelah dia selesai bicara.
__ADS_1
Dan dia lagi-lagi hanya tersenyum padaku.
Aku tidak ingin banyak memikirkan sesuatu sehingga aku tidak bertanya padanya. Setelah hampir pukul 17.00 sore, kami akhirnya bisa pulang. Daren mengambil angkot di dekat sekolah, sementara Kami bertiga berjalan bersama ke dekat rumah sakit.
Aku mengambil jalur kedua karena pasti angkot di depan Gereja sudah tidak ada lagi, Jadi aku harus mengambil jalan yang cukup jauh untuk bisa pulang.
“Baiklah, kita berpisah disini.” Indira melambai pada kami ketika dia sudah mendapatkan angkotnya.
“Sampai jumpa hari senin,” ucap ku.
Aku dan Kris menunggu agak lama, karena mobil yang lewat dominan penuh semua. Hanya muat untuk satu orang saja, padahal aku sudah berkata bahwa Kris bisa pulang duluan tetapi dia menolak dan berkata akan mencari yang mobil yang tidak banyak penumpang.
“Kau adalah perempuan, aku harus menjagamu paling tidak sampai ketempat kau akan turun.” Kris menghentikan sebuah mobil yang tidak banyak penumpang.
“Kau masuk duluan,” Dia lalu menatapku dan memintaku masuk padahal kan aku yang lebih dulu turun nanti.
“Bagaimana kalau kau duluan? Aku lebih dulu turun dari mu.”
“Tidak, cepat masuk.”
Mobil kemudian melaju, aku hanya memandangi pemandangan dari balik kaca mobil, terlihat bahwa matahari sudah terbenam. Aku yakin, pasti akan di wawancara lagi oleh keluargaku seperti biasa.
Mereka terlalu khawatir padaku, aku memahami hal itu. Setengah perjalanan sebelum tempat aku turun, aku mendengar Kris berkata: “Bagaimana pendapatmu tentang Daren?”
Aku meliriknya dengan bingung, Kenapa Kris tiba-tiba bertanya pada ku tentang Daren? Kita semua selama ini berteman dengan baik, Kami mengobrol dan itu jelas cukup akrap.
“Maksudku, Bagaimana rasanya berteman dengan Daren? Dia menang pendiam tapi tampaknya dia sedikit berbeda denganmu.” Kris berkata lagi.
“Aku rasa itu karena kami bisa saling memahami, dia baik juga menyenangkan,” Hanya itu penilaianku ku tetang bagaimana Daren?
“Bukan itu yang aku maksud, bagaimana dengan perasan suka?” Akun diam setelah mendengar pertanyaan itu.
“Aku suka Daren, aku suka berteman dengan siapa saja.”
__ADS_1
Aku merasakan Kris menghela napas lalu dia berkata, “Sudahkah, kau memang tidak tahu apa-apa.”
Aku bingung dengannya, aku ingin bertanya tetapi tempat ku turun sudah dekat sehingga itu membatalkan keinginanku. Setelah aku turun, aku kemudian mencari ojek untuk pulang.
Jadi jika aku naik angkot yang berada di depan gereja, aku akan langsung sampai di depan rumah, tetapi karena angkot sudah tidak ada, aku mengambil jalan memutar dengan dua kali transportasi.
Tiba di rumah aku melihat kakek sedang minum kopi di dapur, sambil mengobrol dengan nenek. Sementara Ibuku, sedang memasak makan malam bersama dengan tanteku, adik dari ibuku.
“Rafael, sudah pulang? Kenapa lama sekali? Apa sekolah tidak tahu kalau rumahmu jauh?” ibu bertanya padaku.
“Ibumu benar, apakah sekolah mengatur jam pulang selarut ini?” Kemudian kakek juga ikut bertanya padaku.
“Ini hari jumat, Ibu kakek. Aku ada ekskul di sekolah dan tadi kami pulang sekitar jam lima sore hanya memang hari ini penumpang banyak sehingga sulit mendapatkan mobil.”
“Jadi kau pulang lewat mana?” Kakek bertanya lagi.
“Aku lewat jalur dua kakek. Aku bersama dengan teman sekelas ku, ” jawabku
“Kau pulang lewat jalur dua, itu bahaya apa kau tahu....” nenekku mulai mengoceh seperti biasa.
Jadi aku ikut duduk di dapur dan menundukkan kepala sambil mendengarkan beberapa kata cinta dari keluarga ku untuk waktu yang cukup lama, sebelum aku pergi untuk mengganti pakaianku.
Aku pergi menuju kamar dan mengganti pakaian, seharusnya sib orang mandi paling tidak dua kali sehari tetapi aturan keluarga kami tidak boleh mandi jika sudah jam 18.00 sore, supaya tidak masuk angin.
Aku melihat Adik pertamaku sedang menggambar di depan TV dan adik keduaku sedang mengerjakan PR-nya. Menyadari keberadaan ku, Michael adik pertamaku, bertanya: “Kak, aku sudah menunggumu dari tadi tahu, bantu aku menggambar Kerbau untuk tugas seni rupaku. Gabi bilang kakak membantunya kemarin dan dia mendapat nilai 87 untuk itu.”
“Tidak, kakak harus membantu aku mengerjakan tugas sekolah, aku tidak paham matematika ini”
“Kau bisa tanya pada Ibu, tugas ku akan di kumpul besok ahu.”
“Tugasku juga besok tahu, kakak kau seharusnya mengalah aku adikmu.”
“.... ”
__ADS_1
“.... ”
“Sudah, mari kita lakukan semuanya bersama.”