HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Belajar bersama


__ADS_3

Mendekati awal bulan November adalah jadwal ujian tengah semester kami, mendekati hari ujian semester guru sering kali tidak masuk karena harus mempersiapkan soal ujian. Juga kami diminta untuk belajar mandiri, membentuk sebuah kelompok belajar kecil dikelas.


Itu adalah hari rabu ketika aku dan kelompok belajar kami memutuskan untuk belajar dengan mengerjakan. soal dalam buku lembar kerja siswa kami, mata pelajaran kewarganegaraan. Soal itu berbentuk pilihan ganda, sebanyak 50 soal dan ditambah dengan 10 pertanyaan esai dan 5 pertanyaan tambahan lainnya.


Kelompok belajar di tentukan oleh kami sendiri, total jumlah siswa dalam kelas adalah 40 orang. sehingga masing-masing kelompok mendapatkan 5 anggota. Kelompok kami jelas masih kekurangan satu orang lagi, aku tidak pernah berpikir bahwa hari itu Anna dengan berani datang pada meja kami dan menjadi anggota kelima dalam kelompok belajar kami.


Aku menyetujuinya tetapi aku rasa Indira sedikit tidak suka, juga Kris dan Daren memilih untuk diam saja. Anna menarik kursinya lalu meletakkannya diantar meja aku dan meja Daren yang sudah menjadi satu.


“Baik, kita akan mengerjakan pilihan ganda dulu. Masing-masing orang mengerjakan 10 nomor dan saling bantu untuk memberitahu jawabannya” Indira mulai menjelaskannya pada kami.


“Padahal aku rasa empat orang sudah cukup untuk mengerjakannya.” Aku menatap Daren, setelah mendengar berbicara kemudian aku melirik Anna yang menunduk.


“Jika aku tidak diterima, maka aku akan mengerjakannya sendiri.” Suara Anna tampak menyedihkan, aku jadi tidak enak padanya.


“Tidak, kau tetap di kelompok kami. lagi pula semua sudah mendapatkan kelompok, kau tidak akan selesai dengan cepat jika melakukannya sendiri.”


“Tapi, aku rasa mereka... ”


“Sudah, ayo kita kerjakan. Waktu terus berjalan loh.” Setelah aku mengatakan itu, aku langsung melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.


Mengerjakan pilihan ganda itu tidak terlalu sulit, sebenarnya pada bagian itu kami banyak bekerja sama dengan kelompok lain untuk saling bertukar jawaban. Setelah Pilihan ganda selesai, kami berpindah pada 15 soal esai lainnya.


Jadi setiap orang memperoleh tiga soal, tugas di kumpulkan pada saat jam sekolah selesai. Pada saat jam istirahat, kelas menjadi hening seperti biasa, anak laki-laki meninggalkan ruang kelas dan pergi jajan.


Aku sendiri melakukan hal seperti biasa, perpustakaan. Hanya itu tempat tujuan aku dan Indira saat malas dikelas, kami akan membaca di sana sampai bunyi bel pelajaran berikutnya terdengar.


Kami membaca sebuah bacaan di taman baca perpustakaan tempat biasa kami belajar agama dan juga ibadah. Pagi. Taman baca sangat sepi, tidak ada yang datang selain kami, mereka biasanya meminjam buku hanya untuk mengisi catatan peminjaman mereka saja.

__ADS_1


“Ella, aku pagi tadi mendengar sebuah cerita dari anak-anak dikelas setelah ibadah pagi kami selesai.”


Aku melirik indira, dan menunggu apa yang akan dia sampaikan, “Ini tentang buku merah,” katanya


“Buku merah, apa itu? Aku baru dengar,” kataku yang sudah sedikit penasaran.


“IIt buku Urban legend disekolah kita, katanya buku itu di simpan di perpustakaan.”


Aku tidak pernah mendengar tentang buku merah, tapi beberapa kisah legend tentang sekolahku sudah sering beredar, seperti pohon dibelakang laboratorium itu dulunya adalah sebuah sumur.


Dikatakan ada seorang guru yang hamil yang tidak sengaja jatuh ke dalam sumur dan meninggal bersama dengan bayinya, untuk membuat arwahnya tenang beberapa tahun sekali seolah akan meletakkan kepala hewan di bawah pohon tersebut.


Ada juga kisah tentang pohon besar di depan Laboratorium, yang mana di bagian puncak pohon tersebut ada sebuah kursi merah. Tidak ada yang mengetahui siapa yang meletakkan kursi itu di sama.


Dan kisah yang paling terkenal lainnya adalah kisah tentang anak kelas seni tari yang baru pulang dari lomba dan Tertabrak mobil di tepat di depan gerbang sekolah, konon katanya siswi tersebut merangkak masuk kedalam sekolah dan memeluk tiang bendera sebelum kematiannya.


Tapi aku tidak tahu apakah semua itu benar terjadi, atau tidak indira sendiri menamatkan bahwa buku tersebut berisi rangkaian kejadian yang pernah terjadi di sekolah. Rumornya, kejadian itu. Akan langsung tertulis dalam buku tersebut.


“Aduh, membayangkan urban legend itu membuat aku merinding,” kataku, mengingat ketika aku melewati Tempat-tempat tersebut aku pasti akan selalu pusing dan juga merinding.


“Ayo cari buku itu, Ella” Indira sepertinya sudah gila, dia orang yang suka misteri dan melakukan ini pasti akan berefek buruk.


“Tidak, jangan coba-coba Dira, Buku itu pasti disimpan dengan aman oleh sekolah.” Aku jelas akan menolak ajakannya, aku tidak mau mengganggu penunggu sekolah.


“Ella, kau benar-benar tidak asik.” Indira membuang mukanya dariku.


Indira pasti ngambek padaku, tapi itu lebih baik dari pada mencari masalah. Sudah jelas Sekolah pasti tidak akan mengizinkan muridnya membaca buku merah itu untuk keamanan semua orang.

__ADS_1


Waktu Istirahat kami hanya 15 menit, setelah bel berbunyi kami mengembalikan buku ke perpustakaan lalu segera menuju ke ruang kelas kami.


Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Kris dan Daren di pintu perpustakaan, mereka sepertinya baru selesai makan siang.


“Ayo kita pergi ke kelas bersama,” ajak Daren.


“Bagaimana kalian tahu, kami disini dan untuk apa menunggu kami?” Indira bertanya balik, kemudian dia menarik tanganku untuk ikut bersamanya.


“Hei, kita adalah teman kan? Apa salahnya menunggu teman sendiri, dan lagi perpustakaan adalah wilayah kalian berdua,” yang bicara adalah Kris.


“itu tidak salah, hanya kan kalian bisa duluan ke kelas, kenapa harus menunggu kami?” tanyaku


“Kami hanya ingin pergi bersama kalian, dan ngomong-ngomong kalian tadi sedang membahas apa?” Daren bertanya, itu membuat aku heran.


“Apakah kalian menguping kami? Kenapa tadi tidak gabung saja?” Aku bertanya balik padanya.


“Kami ingin, tapi langsung diusir oleh guru, karena membawa makanan  ke perpustakaan.”


Mendengar itu Aku langsung mengangguk, memang benar kita harus membiasakan disiplin seperti aturan dadar itu, tidak boleh ada yang membawa makanan dan minuman ke perpustakaan.


Tiba di kelas masih tidak ada guru, jadi kami melanjutkan pekerjaan kami yang tadi, sampai pada jam pulang berbunyi kami mengumpulkan lembar jawaban kami di meja agar nantinya ketua kelas kami dapat membawanya ke ruang guru.


“Apakah akan langsung pulang? Bagaimana jika kalian ke rumah aku dulu? Ini akhir pekan, tidak sibukkan?” Feline bertanya pada kami, sebelumnya kami menolak jadi tidak enak jika kali ini juga sama.


“Boleh saja, tapi aku sudah harus pulang sebelum pukul empat sore, bagaimana denganmu Indira?” tanyaku pada Indira.


“Aku juga ikut,”

__ADS_1


__ADS_2