HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU

HATI YANG MASIH TERJEBAK DI MASA LALU
Salah mengerti


__ADS_3

Setiap tahun daerah tempat tinggal ku akan selalu mengadakan perlombaan antara sekolah sederajat. Hampir semua bidang, seperti olahraga, musik, seni rupa, dan masih banyak lagi.


Aku tidak tahu mengapa guru kesenian kami juga masih tetap memasukkan kami dalam list calon peserta lomba lukis, maksudku tiga hari lalu saat Guru meminta kami untuk tinggal, aku sudah mengatakan bahwa aku mungkin saja bisa jika menggambar tapi bukan melukis.


Aku memang suka menggambar, aku menyukai seni gambar, tapi aku tidak memiliki keahlian dalam bidang melukis. Bukannya  aku tidak bisa melakukannya, hanya saja tanganku saat menggunakan kuas itu tidak estetik.


Aku sudah mencoba untuk beberapa kali melukis, tapi hasilnya tidak semirip aslinya. Mungkin memang cara ku mengaplikasikan waran yang salah dan tidak tepat.


Guru bahkan berkata pada kami, “Tidak Masalah, jika kalian pandai menggambar kalian hanya butuh latihan untuk bisa melukis.”


Baginya mungkin memang tidak masalah, tapi bagi kami itu adalah masalah besar. Kami bukan anak jenius yang akan lebih cepat mahir, apa lagi jika itu hanya di lakukan selama satu bulan sebelum hari lomba.


Apakah memang dari tiga tingkatan dan banyaknya kelas, guru seni sama sekali tidak menemukan seseorang yang bisa dalam bidang lukis ini? Aku harap seseorang datang dan menggantikan posisi ku.


Aku bukannya tidak mau ikut, hanya saja karena terlalu sering menghabiskan banyak waktu di sekolah dengan alat lukis, aku jadi tidak bisa mengikuti kegiatan ekskul ku, dan aku juga merasa agak kesepian karena waktu ku lebih banyak terbuang di lukis dari pada berkumpul dengan teman ku.


Aku dan Amber meskipun kami adalah teman sekilas, kami tidak banyak mengobrol, Amber memiliki lingkungannya sendiri dan aku pun sama, tentu hal ini terjadi karena aku dekat dengan Kris dan juga Daren.


“Bisakah seseorang mengganti posisiku?” aku memainkan kuas dan palet milikku.


“Aku juga malas, tapi bisakah kita menolak perintah guru?”


“Tidak bisa,” kami berucap bersama, lalu menghela napas. Aku merasa guru memang terlalu memaksakan diri kami, atau lebih tepatnya menjadikan kami sebagai cadangan, hingga dia menemukan anak didik yang lebih ahli di bidang ini.


Lokasi kami berada dekat dengan ruang guru, ada meja tenis yang bisa kami gunakan dan kursi yang memang sudah ada sejak dulu di sana. Guru seni memang sedang tidak mengawasi kami, sehingga ada kesempatan untuk saling mengeluh.


Amber juga tampak lelah dan aku rasa kami berdua membutuhkan istirahat. Guru terlalu banyak berharap, tanpa memberikan kami sebuah penyemangat atau setidaknya makanan untuk mengisi kekosongan perut kami.

__ADS_1


Trak!


Aku mengangkat kepalaku dan melihat kak Leon tersenyum, lalu mengubah arah pandang ku pada dua kotak susu  coklat dan roti, aku mendengar kak Leon berkata dengan suara khasnya, “Kalian pasti lapar, guru memang sering keterlaluan. Tapi dibandingkan dengan guru seni, guru olahraga jauh lebih keterlaluan, Beliau bukannya memberikan air mineral dingin tapi justru memberikan susu jahe panas.”


Aku dan Amber tertawa pelan, Kak Leon memang sering menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan badminton. Dan tahun ini adalah terakhir kalinya, kak Leon akan berpartisipasi di lomba.


“Kami yang olahragawan, lebih membutuhkan es lemon dari pada susu Coklat. Ambillah, ini gratis tidak perlu membayar balik.”


“Terima kasih,” aku berucap, lalu mengambil dua kotak susu coklat tersebut dan memberikannya satu pada Amber, beserta roti bantal yang sudah di pisah-pisah.


“Sekarang beri aku satu senyuman,” kak Leon tersenyum dengan lebar. Bukankah  tadi dia berkata bahwa makanan dan minuman gratis?


“Uh?” Aku merasa heran namun tidak lama aku dan Amber benar-benar tersenyum padanya, dan tidak tahu bagaimana bisa saat aku melakukannya, aku tiba-tiba merasakan punggungku sangat dingin, seperti ada angin yang berhembus di punggungku.


Atau mungkin lebih tepatnya, sebuah truk berisi es batu yang sepertinya akan menimpah aku, atau suasana lainnya aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi aku.


Aku bertanya, “Ada apa?”


Amber tidak menjawab melainkan balik bertanya, “Orang tadi, apakah dia sering melakukannya?”


Aku mengernyitkan kening, bingung dengan pertanyaan ya. Amber kembali menjelaskan, “Apakah kakak tadi, sering memberikanmu sesuatu? Dia tampak perhatian padamu.”


“Huh? Kak Leon memang seperti itu, setiap kali aku dan Indira istirahat setelah ekskul, Kak Leon akan datang dan memberikan kami minuman.”


“Bukan itu maksudku! Ah, sudahkah. Apa dia juga memberikan minuman pada anak lain?” Amber bertanya lagi, kali ini wajahnya tampak agak merah muda.


Aku berpikir sebentar, memang benar sejak di tahun pertama sekolah Kak Leon hanya membangun hubungan dengan aku dan Indira, Dia  contoh Kakak kelas yang sangat perhatian pada adik kelasnya.

__ADS_1


Aku menggeleng, lalu berkata "Tidak,” Amber terdiam untuk sejenak, Aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya, namun setelahnya aku kembali mendengar Amber bertanya lagi; “Apa kau tahu apa artinya itu?”


“Apa lagi? tentu saja, Kak Leon adalah sosok yang baik,” Setelah aku bicara, kepalaku langsung ci pukul dengan kuas lukisnya, sehingga aku pun menatapnya dengan bingung.


“Kenapa kau memukul kepalaku?” tanyaku dengan wajah mengkerut.


“Aku hanya ingin menjernihkan kepalamu. Apa kau tahu, aku rasa Kak Leon naksir padamu.”


Aku dibuat terkejut oleh Amber, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Naksir, maksudnya itu seperti saat kau menyukai seseorang kan? Sebuah perasaan yang menarik ulur dirimu, setidaknya begitu yang aku pikirkan sekarang.


“Tidak mungkin, itu semua karena Kak Leon adalah kakak kelas yang baik, tidak lebih tahu.”


“Kalau begitu, ayo bertaruh,” Dia tersenyum atau lebih tepatnya meremehkan padangan ku.


Aku tidak tahu apa yang di maksud oleh Amber, Kak Leon menyukai aku? Hal ini tidak mungkin. Aku dan dirinya hanyalah teman satu ekstra kurikuler, dibandingkan dengan pikiran Amber, aku jauh lebih yakin bahwa Indira lah yang sebenarnya kak Leon suka.


Leon adalah ketua ekskul Badminton kami, ketika dirinya sibuk Leon tidak akan mencari wakilnya atau anggota inti kepengurusan ekskul untuk membantunya, sejak awal aku dan Indira bergabung, Leon selalu datang pada Indira untuk meminta bantuannya.


Tentu saja paling sering karena kami berbuat kesalahan, Leon akan menghukum kami untuk mengerjakan tugas ekskul, mengurus semuanya mulai dari absensi harian hingga menyiapkan minuman dingin untuk semua anggota ekskul.


Aku lalu menggeleng ketika telah menyudahi pikiranku, aku berkata pada Amber: “Kak Leon tidak suka aku...”


Perempatan muncul di wajah Amber, “?!”


Aku tersenyum padanya, mengangguk dengan mata berbinar penuh keyakinan: “Dia menyukai Indira.”


Amber, “!!!”

__ADS_1


__ADS_2