
“Aaaaaa!”
Teriakan itu menggelegar memenuhi ruangan, kepala sekolah yang kebetulan ada di
sekitaran tempat itu pun bergegas mendekat, “Tuan Dante, tolong lepaskan dia...” pintanya dengan mengantupkan kedua tangan di depan wajah, menatap iba penuh belas kasih.
Krek!
Guru pria itu sampai terkencing-kencing akibat sakit yang di deritanya.
“Anak haram? Siapa yang mengajarimu untuk mengatakan hal seperti itu?” suara itu
bertanya dengan nada ringan, satu tangan Dante di gunakan untuk mengelus kepala
El, “Menghinanya itu sama saja dengan menghinaku!”
Bruk!
“Arrrrgggghhh!!!” pekik guru tersebut saat di tendang hingga jatuh.
“Ellard Hansel Barrack! Camkan nama itu baik-baik!” tatapan mata tajam Dante membuat semua orang itu menunduk takut, pria itu sangat mendominasi yang lemah, menjadikannya lebih submisif, “Sebelum orang tua dari anak itu berlutut di kakiku ... aku akan menyegel sekolahan ini!” tegas Dante, keputusan yang belum
mencapai final telah membuat kepala sekolah berlutut di hadapannya.
Apakah sekolahan ini akan hancur oleh tangan penguasa? Sekolah yang ku dirikan,
sekolah impianku...
Kepala sekolah itu hanya terdiam saat mendengar derap langkah Dante dan putranya melangkah
pergi meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
Di dalam mobil Dante memakaikan sabuk pengamannya kepada El, “El, dengarkan Daddy baik-baik, sayang...” ucap Dante seraya mengusap wajah putranya.
El mengangguk.
“Apa yang terjadi hari ini, Mommy tidak perlu mengetahuinya. El, percayakan semuanya
kepada Daddy. Kau mengerti?”
“Baik, Dad... El mengerti,” El diam sejenak seraya mengusap-usap kedua matanya, “Daddy, El mau makan hot dog.”
“Kau akan mendapatkannya.”
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan sekolahan XX menuju restauran elit di kota Inggris ini, sepanjang perjalanan El bernaynyi ria.
“Daddy, nanti kita belikan satu hot dog untuk Mommy, ya?”
“Mommy suka makan hot dog?”
“Iya, Momy juga suka makan sup kimchi yang ada di dekat rumah Nenek...”
“Mommy dan El pernah rebutan hot dog,” dengan cerianya El menceritakan itu semua.
“Siapa yang menang?”
“El!” bangga, “El kuat,” pamer otot lalu dengan berani dia membuka lengan baju Dante,
“Woah....” El sangat terpukau, “El mau otot seperti Daddy, Dad?”
“Kau akan mendapatannya setelah tumbuh dewasa nanti.”
Tak seberapa lamapun mereka sampai juga di restauran yang di tuju.
Dante turun terlebih dahulu dan membantu El untuk segera turun.
__ADS_1
“Daddy, ini restaurannya? Besar sekali...”
“El pernah ketempat ini?”
El menggeleng, “Tidak pernah, Mommy tidak punya cukup uang, jadi kadang Mommy beli
hot dog di pinggir jalan saja.”
Lagi-lagi perasaan bersalah itu muncul di dalam hati Dante, dia menggendong putranya
dengan penuh kasih sayang.
Daddy tidak akan membiarkan kalian hidup menderita lagi, sayang...
Dante masuk ke dalam restauran setelah pintu otomatis itu terbuka, membuat El takjub.
Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat keajaiban tekhnologi itu.
Mereka duduk di sudut ruangan, sedikit berbaur dengan rakyat jelata juga tidak ada salahnya.
Lagi pula tak ada satu rakyatpun yang mengetahui wajah seorang pangeran
William.
Kehidupan mereka jauh dari gosip media, hanya mengetahui kabar beredar jika pangeran William
itu memiliki wajah yang tampan, tubuh atletis dengan sejuta pesonanya.
Pesanan hot dog nya pun tiba, seorang pelayan membawakannya dengan nampan yang berisikan
hot dog, dan dua minuman milk shake vanila oreo.
Selagi menikmati makanan itu, ternyata Vanessa muncul dari luar, tak sengaja wanita mendapati
__ADS_1
keduanya yang tengah duduk di sudut ruangan.
William? Siapa anak lelaki yang sedang makan bersamanya itu?