
Dante mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa bersamaan helaan nafasnya yang panjang.
Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan gusar, bayangan wajahnya di atas meja kaca itu pun seolah sedang mengejeknya.
"Cih!"
Brak!
Setengah tenaga di kaki ia gunakan untuk mendorong meja, membuat benda itu bergeser dari tempatnya semula.
Lalu menyandarkan kepalanya di sofa sembari menatap langit-langit ruangan kerjanya, "Alka... seandainya waktu bisa ku putar ke masa malam pertama kita, aku memilih untuk tidak menodai mu dalam keadaan seperti itu."
"Jika malam itu tak pernah terjadi, apakah kau masih akan tetap menjadi istriku? Mengapa takdir mempertemukan kita dengan begitu kejam, Alka?"
Raut wajahnya menunjukan rasa kecewa, sakit hati, dan amarah, namun semua sudah terlanjur. Apa mau di kata?
Dante meninggalkan hp nya di kamar, di atas nakas tepatnya. Dia pun beranjak kembali menapaki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Alka sudah tidur, dia pun mendekat dan membaringkan tubuhnya, posisi Alka sedang membelakangi Dante.
__ADS_1
Kedua telinga Dante menangkap jelas segukan Alka, dia pun memeluknya dengan erat. Melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Kau menangis?" lirik Dante seraya mencium punggung Alka, menggesekkan wajahnya agar wanita itu merasa hangat.
"Alka?" seru Dante menarik tubuh Alka untuk bersihadap dengannya, di angkatnya dagu indah itu.
Kedua mata Alka terpejam dengan linangan air mata, Dante menarik tangannya agar melingkari di pinggang Dante.
Memeluknya dengan begitu hangat, lalu mencium kening Alka, "Kau menangis ... kenapa?" mengusap-usap kepala Alka dan memainkannya.
"Maafkan aku Dante ... " Alka sesegukan, "Maafkan aku ... a- aku -"
Alka perlahan mulai tenang dengan perlakuan suaminya, gerakan tangan Dante membuatnya nyaman, meremas kekenyalannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam di istana, Penasihat Jian mengumpulkan semua prajurit, "Aku mengumpulkan kalian di tempat ini untuk meminta kalian semua lebih ketat menjaga istana."
Kepala penjaga maju satu langkah, dia membungkukkan tubuhnya memberikan hormat, "Saya akan mengerahkan penjaga untuk menjaga keamanan istana."
__ADS_1
"Baiklah, aku anggap kalian semua mengerti... kembali lah untuk istirahat, tetapi jangan sampai lengah."
"Baik, tuan," mereka menjawab dengan serentak.
Jian pun segera kembali masuk ke dalam gedung istana untuk menemui Ratu Maryam, "Selamat malam Yang Mulia..." Jian mengangguk hormat padanya.
"Kau sudah menemukan siapa wanita yang menjadi ibu dari cucuku?"
"Mata-mata yang saya kirimkan masih belum mengirimkan kabar, Yang Mulia..."
"Cari wanita itu sampai dapat! Tak peduli seperti apa kondisinya, sepadan atau tidak, bawa dia ke hadapanku ... dia harus hidup dengan layak di Istana ini, dia yang akan menjadi ratu masa depan kerajaan ini. Jika wanita itu bisa kita dapatkan maka tak ada alasan lagi bagi William untuk tidak kembali ke Istana ini."
"Saya mengerti Yang Mulia."
Ratu Maryam, ibu kandung tuan muda Dante alias pangeran William.
Kehadiran Vanessa di istana bukan berarti membuat Ratu bisa melupakan dan memaafkan kesalahan yang dulu wanita itu perbuat, karenanya la William memilih pergi dari Istana.
Membuat kekosongan di kursi tahta kerajaan, Ratu sangat ingin bertemu dengan Alka, wanita yang mampu membuat William melupakan masa lalunya.
__ADS_1