
WARNING!!!
👇👇👇👇
Jika kalian menemukan kejanggalan di cerita ini, harap segera beritahu aku.
Dan, buat kalian yang ngerasa cerita ini mirip dengan Manga atau Webtoon, coba teliti lagi. Budayakan membaca sampai selesai. Dan jangan setengah-setengah.
Karna, cerita ini berbeda.
Sekian.
Budayakan vote sebelum membaca! 😉
....
Don’t copas and enjoy!!!
.
.
.
“Al. Menurutmu mana yang lebih bagus?! Hitam atau putih?! ”
Luna berusaha menahan air mata yang berdesakan ingin keluar ketika Sagi datang membawa dua jaz pengantin kearahnya. Lelaki itu tersenyum bahagia seolah ia memang tak mengenal Luna sama sekali.
“Haruskah aku menjawabnya?!” ketus gadis itu agak sinis.
Sagi mengerutkan dahi, ia tak berniat jahat sama sekali. Hanya saja sekarang Syailea — calon istrinya, sedang tak disini. Gadis itu masih berada di fitting room. ‘Apa pertanyaanku, salah?!’ Batin Sagi tak mengerti.
“Tentu Al. Kau adalah calon adik iparku, seleramu pasti lah sama dengan kakakmu.” Ujar Sagi dengan senyum lembut. Senyum yang membuat tawa Luna pecah seketika.
Ya. Tentu selera kami sama. Buktinya, dia merebutmu dariku! Teriak Luna dalam hati. Hanya dalam hati, karna ia sudah merasa lelah meyakinkan seorang Emanuel Sagi Pratu, tersebut.
“Kenapa kau tertawa adik ipar—”
“Berhenti memanggilku adik ipar, Emanuel Sagi Pratu! Cukup panggil namaku tanpa embel-embel adik ipar, bisakah?!” tanya Alluna melirih.
Sagi tertegun melihat pancaran kesedihan di mata caramel Luna tersebut. Rasanya ia ingin sekali merengkuh tubuh ramping milik gadis itu. Menyalurkan segala perasaan yang membuat hatinya goyah. Namun Sagi sadar jika itu tak benar. Alluna hanya sebatas adik ipar dari wanita yang di cintainya.
__ADS_1
“Gi, apa yang terjadi?! Mengapa kau tak mengingatku?! Apa ini sebuah sandiwara karna aku tetap pergi waktu itu?!” tanya Luna lagi, matanya sudah berkaca-kaca saat ini. Ia menyentuh lengan Sagi pelan.
Seandainya saja Alluna tak pergi ke Afrika untuk menjadi Dokter relawan, apa sekarang Sagi tak akan melupakannya?! Apa sekarang mereka masih bisa menatap dengan penuh kasih?!
Sagi yang sempat terenyuh tadi memutar bola mata malas ketika mendengar Luna yang kembali mengatakan omong kosong. Ia tak mengerti mengapa adik iparnya ini terus mengatakan jika mereka saling mencintai.
“Berhenti menggangguku, Alluna Viviane! Aku ini calon iparmu. Seharusnya kau bersikap sebagai adik ipar yang baik. Bukannya menggodaku!” sentak Sagi membuat Luna terhuyung.
Alluna Viviane?! Seasing itukah kita saat ini, Gi?!
“Dan satu lagi. Meskipun aku tak mengerti dengan perkataanmu, tapi— aku tak melupakanmu. Kau tetap adik dari Syailea Iskand, wanita yang ku cintai. Jadi ku harap kau tidak terus membual di hadapanku.” ucap Sagi lagi penuh penekanan.
Luna menundukkan kepala dalam sembari menangis. Melihat itu membuat Sagi kembali merasa aneh pada dirinya. Ia benci melihat gadis itu menangis. Rasanya ada ribuan raksasa yang tengah meremas jantungnya kuat.
Tangan Sagi telulur hendak memegang bahu Luna sebelum seseorang memanggil namanya.
“Sayang, bagaimana dengan gaunnya?! Apa terlihat cocok untukku?!”
Itu suara Lea yang sekarang tengah bergelayut manja di lengan Sagi. Pria itu tak merasa keberatan sama sekali. Sagi justru menyibak rambut panjang Lea dari belakang, dan mengecup pundak gadis itu lembut. “Kau terlihat sangat mempesona, sayang.” bisik Sagi membuat wajah Lea kontan merona.
Itu semua di lihat oleh Luna dengan tangan terkepal.
“Kau membuatku malu, sayang.” kata Lea dengan tangan memukul dada bidang Sagi pelan. Gadis itu bertingkah malu-malu. Dan ketika matanya menangkap keberadaan Alluna, senyum tipis pun diberikannya. “Oh, Luna! Kakak kira kamu tidak akan datang. Kamu tak menjawab telponku beberapa waktu lalu, jadi aku begitu mencemaskanmu.” ucap Lea yang sekarang telah berdiri dihadapan Luna. Wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu kini menggenggam tangan Luna erat.
“Oh, bagaimana ini?! Alluna terlihat tak sehat” kata Lea dengan nada cemas setelah kepergian sang adik.
“Jangan terlalu mengkhawatirkannya.” bisik Sagi lagi dengan memberi kecupan mesra di pipi putih Lea.
Lea tersenyum senang dalam hati. Ia pun menggandeng lengan Sagi erat. Lelaki ini, tak akan ku lepaskan! Tekadnya.
***
Luna tak benar-benar ke toilet. Nyatanya gadis itu malah pergi ke cafe tempat ia dan Sagi dulu sering menghabiskan waktu bersama. Ia memesan Japchae (makanan sejenis sohun yang dihidangkan dengan sayuran dan daging) dan hot coklat. Makanan favorit Sagi. Tak banyak yang tahu jika seorang seperti Emanuel Sagi Pratu menyukai Japchae, karna memang biasanya lelaki itu hanya akan memakannya saat bersama Luna saja.
Sepulang dari cafe, Luna pergi ke taman. Ia ingin memberi makan burung merpati. Sekarang pertengahan musim gugur, biasanya ia selalu datang berdua dengan Sagi. Mengingat semua kenangan bersama lelaki itu membuat mata Luna kembali memanas. Ia menangis tersedu-sedu. Dadanya teramat sesak sehingga Luna menepuk kuat dadanya sendiri.
“Nona, apa kau baik-baik saja?!” tanya seorang lansia sembari memegang bahu Luna pelan dari belakang.
Namun gadis itu terus menangis membuat lansia tadi pergi dengan kening berkerut.
“Kenapa kau melupakan ku?!” isak Luna pilu.
__ADS_1
Lelah menangis. Kini Alluna berjalan pelan menyusuri tepian danau hijau yang juga berada ditaman tadi. Ia melihat sekilas pantulan dirinya di dalam air. Mata bengkak dan hidung memerah. Buruk sekali! Jika saja Sagi melihat kondisinya sekarang, Pria itu pasti akan terbahak kencang.
“Kau sedang apa sekarang, Gi?! Apa sedang panik mencariku?!” lirih Luna menutup kelopak mata secara perlahan. Gadis itu membiarkan hembusan angin menampar wajah cantiknya.
Namun ketenangan Luna pun mendadak terhenti ketika ponsel yang berada di dalam tasnya berdering kuat. Ia pun dengan cepat mengecek siapa gerangan si penelpon. Dan terkejut setelahnya.
“Ya hallo Dokter Han?! ”
📞“Kau sedang di mana, Al! Banyak pasien yang harus di tangani! Cepat kesini!” pekik Dokter Han dari seberang.
Luna meringis, ia sedikit menggeser kakinya ke arah samping. Namun karna tak mampu menjaga keseimbangan, ia pun goyah dan tercebur.
📞“Hallo. Hallo. Alluna!? Kau kenapa?! Hei, jangan menakutiku! ” di seberang, Dokter Han mulai panik ketika mendengar suara ceburan.
“Dokter Han. To.. long, aku tidak bisa berenang.” pekik Luna, ia masih berusaha agar tak terlalu tenggelam.
Sepertinya aku akan mati seperti ini.
Sedih Luna mulai pasrah. Di detik detik terakhirnya, ia malah mengingat perkataan Sagi tiga tahun lalu. Lelaki itu mengatakan, jika di kehidupan ini, ia hanya ingin menikahi Luna saja. Tetapi sekarang Sagi bahkan melupakannya.
“Selamat tinggal, Gi. Aku mencintaimu.” lirih Luna menutup matanya dengan perlahan.
Cplasss!!!
Luna kembali membuka matanya ketika mendengar bunyi cipratan air. Ia melihat seorang Pria yang sekarang tengah berenang kearahnya. Gadis itu terpesona, terlebih saat ia melihat senyum pria itu ketika telah sampai di depannya.
“Aku menemukanmu.” bisiknya di telinga Luna membuat gadis itu meremang. Namun belum selesai keterkejutannya, lelaki itu malah menciumnya tepat di bibir.
Mata Luna melotot lebar. Ia ingin sekali mendorong Pria itu agar ciuman mereka terlepas, namun tubuhnya berkata lain. Matanya bahkan terpejam.
Sial. Aku menikmatinya!
.
.
.
Bersambung...
Loha halo!!!
__ADS_1
Chapter 1 — semoga syuka yaaaahhh...
jangan lupa tekan vote yaa! ^^