I Love You, Oom!

I Love You, Oom!
Bagian-05


__ADS_3

******************


Happy reading


******************


.


.


.


“Dasar bodoh! Jadi kau menandatangani kesepakatannya?!”


Luna mengangguk lesu dengan kepala yang di taruh di atas meja. Ia baru saja menceritakan tentang Andrew beserta kesepakatan yang telah mereka buat kepada sahabatnya. Minus Andrew yang memp*rkosanya tentu saja.


Hei. Luna menceritakan tentang penculikkannya saja, Maharani — sahabatnya ini sudah seperti Ibu-ibu kebakaran jenggot. Bagaimana jika nanti Luna menceritakan perihal itu?! Rani pasti sudah memutilasi Andrew detik ini juga mengingat betapa ahlinya gadis itu memegang pisau.


“Jika aku tidak menandatangani kesepakatan itu sekarang aku tak akan berada di depanmu Rani.” ceplos Luna.


Rani terkekeh, ia ikut menaruh kepala di sebelah Luna. “Jadi, inti dari kesempatan kalian adalah ‘kau yang tak akan menghindarinya ketika kalian bertemu?! ” tanya Rani membuat Luna meniup poninya kasar.


Tadinya hanya itu yang ia baca di atas kertas yang telah di bubuhi tanda tangan Andrew tersebut, tetapi setelah ia menandatangani kesepakatan itu, kepala pelayan kepercayaan Andrew masuk dengan menenteng setumpuk salinan lainnya. Luna meradang! Ia benar-benar merasa di tipu oleh lelaki tua itu.


“Bukan hanya itu Rani. Aku dilarang berhubungan dengan lelaki manapun kecuali Ayah. Aku juga dilarang berbohong ketika ia bertanya. Juga, aku tidak boleh mengambil pekerjaan di hari libur! Dan masih banyak lagi. Coba kau bayangkan nasipku jika di kekang seperti demikian!” frustasi Luna berapi-api sembari menggebrak meja membuat Rani mendengus keras karna telinganya berdengung.


“A-ha. Maaf, aku terlalu bersemangat.” cengir Luna memelas setelah melihat tatapan tajam milik sang sahabat.


“Kenapa tak kau langgar saja kesepakatan itu?! Bukankah aturan di buat untuk di langgar?!” senyum Rani membuat bahu Luna luruh. Ia memajukan bibir bawahnya dan kembali menaruh kepala di atas meja.


“Konsekuensi sangat merugikanku. Bagaimana bisa aku berniat melanggar.”


“Hei~ kau tak akan kekurangan uang jika itu yang kau takutkan.” bujuk Rani dengan memegang bahu Luna lembut.


Namun Luna malah menggeleng, “itu bukan tentang uang, Maharani. Ku rasa dia sangat kaya, itu terlihat dari betapa megahnya mansionnya kemarin. Juga banyaknya para maid dan bodyguard yang di milikinya.” jelas Luna membuat Rani mengernyit.


“Jadi, apa ruginya jika itu bukan tentang ua—”

__ADS_1


“Hamil! Dia memintaku untuk hamil anaknya.” potong Luna sebelum Rani menyelesaikan perkataannya.


Mata gadis berambut pendek itu melebar. Ia melotot ngeri dengan tangan yang memeluk dirinya sendiri, “Damn! He is crazy!!!” umpat Rani keras membuat Luna refleks membekab mulut gadis itu. Rani meronta membuat Luna kembali meringis.


“ssssttttt. Kita masih di rumah sakit sekarang, kecilkan suaramu.” bisik gadis itu menatap sekeliling, takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.


Setelah melihat Rani yang mengangguk, Luna pun melepas bekapannya di bibir gadis itu.


“Kau harus memaksanya kerumah sakit jiwa. Ku rasa ia benar-benar gila! ” sungut Rani misuh-misuh.


Luna kembali mendesah lelah, “Tetapi... dia sangat mirip dengan Sag —”


“Heh, Alluna Viviane! Kau masih memikirkan si ******* itu?! Cih. Setelah perlakuannya padamu dan kau masih menginginkannya!? Kau gila.”


“Aku tak memikirkannya dengan sengaja, sayang. Hanya kebersamaan kami selama 3 tahun itu tak begitu mudah untuk dilupakan. Bagaimana pun juga dia pernah membuat hariku bermakna. Dia pernah menjadi alasan tawa konyolku berkumandang.” terawang Luna. Ia benar-benar memikirkan tahun tahun lalunya bersama mantan kekasihnya itu.


Kali ini Rani menghela nafas berat, “Ya, kau benar. Kebersamaan 3 tahun kalian tak akan mudah hilang dalam satu minggu. Aku mengerti.” kata Rani, ia memandang Luna dengan binar mata sedih dan kesal sekaligus. Lalu bangkit untuk memeluk tubuh ringkih sang sahabat.


“Apapun itu, ku harap kau tak terluka lagi Una.” ucap Rani tulus.


Luna bisa merasakan hal tersebut. Terlebih gadis mungil itu memanggil dengan nama kecilnya.


***


Luna baru akan menaiki tangga seketika menoleh malas pada Lea yang tadi memanggil namanya. Gadis itu berdiri dengan kedua tangan di lipat di dada, tampak begitu angkuh dengan lipstik merah darah menyala.


“Apa?! ”


Lea berjalan dengan anggun kearah Luna dengan senyum penuh, “Aku hanya ingin mengingatkanmu. Pesta pernikahanku akan di gelar seminggu lagi.” jawab gadis itu yang kini telah berdiri di depan Luna.


Seminggu lagi ya?!


Menghela nafas sejenak, “Aku mengerti. Aku akan datang ke pernikahan kalian.” senyum Luna, namun Lea tampak tak puas. Ia berjalan selangkah semakin mendekat kearah Luna, “Kau tak berniat menghancurkan pernikahan ku kan?! ” selidiknya berbisik. Senyum sinis tanda mengejek pun terpatri di wajah cantiknya.


Dahi Luna bergelombang, ia menatap Lea geli lalu tawanya pun pecah bertepatan dengan sang Ayah dan Bundanya yang baru saja datang. Sang Ayah seketika mengernyit tak suka melihat tawa Luna yang penuh dengan cemooh itu.


“Apa yang sedang kau lakukan!” bentak sang Ayah memisahkan jarak antara Luna dan Lea. Sementara di belakang sang Ayah ada Bundanya yang malah mengernyit bingung menatap kearah Luna yang tampak sedikit mengurus. Ia sudah tak melihat gadis itu selama 3 hari.

__ADS_1


Tawa Luna terhenti, ia menatap sang Ayah, Bunda, serta kakaknya secara bergantian. “Aku melakukan apa?” tanyanya dengan kembali terkekeh. “aku tidak melakukan apapun. Benarkan Kak?! ” kerling Luna membuat tangan Lea mengepal.


“Sagi adalah milikku!” tegas Lea dengan tatapan tajam, “Kau harus melepaskannya sekarang, karna pernikahan kami sudah tingg—”


“Ya. Aku sudah melepaskannya. Semoga kalian bisa berbahagia.” potong Luna membuat Lea sedikit terkaget.


Luna baru akan kembali menaiki tangga ketika Lea menyentak lengannya kuat. “Kau apa!? Kau sudah melepasnya?! Jangan membuatku tertawa wahai adikku yang manis!” sinis Lea membuat dahi Luna bergelombang. Ia pun lekas menyentak tangan Lea di lengannya, membuat gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.


Tatapan sang Ayah seketika menggelap marah. Ia baru saja akan mencengkeram pergelangan tangan Luna ketika sang istri menahannya dengan gelengan lemah.


“Kenapa? Kakak tak percaya padaku?! Aku bukan seseorang seperti kalian yang bisa berbuat seenaknya tentang hati!” sinis Luna menunjuk semua yang ada di sana dengan tatapan menajam. Mendapat tatapan setajam itu membuat Lea menelan salivanya susah payah. Ia tak pernah melihat Luna yang seperti ini sebelumnya. “Aku sudah cukup memperjuangkan cintaku. Dan sekarang aku berhenti bukan karna menyerah! Aku hanya sudah mengikhlaskan hubungan kalian. Jadi berbahagialah.” lanjut Luna lagi dengan langsung membalikkan badan dan menaiki tangga cepat.


“Aku mencintai, Sagi!” pekik Lea ketika Luna sudah berada di atas, langkah kakinya terhenti. Ia memejamkan mata sejenak untuk sekedar menikmati rasa pedih di hatinya.


Sejak kapan?!


“Kalau kau masih mengganggunya lagi — aku tak akan segan-segan untuk menjadi kakak yang kejam!” tambah Lea membuat Luna tersenyum segaris.


“Tidak akan, Kakak tenang saja.” senyum Luna tulus.


“Sagi adalah milikku! Kalian sudah tak akan mungkin bersama. Sekarang Sagi hanya mencintaiku.”


Luna menarik nafas panjang. Lalu ia menatap Lea yang berada di bawah, “Kenapa kau terus saja mengulang kalimat itu!? Kalau saja kau cukup percaya diri, kenapa harus merasa takut?! Atau jangan-jangan kau takut suatu saat nanti Sagi akan kembali mengingatku?! Bukan sebagai adik ipar tapi sebagai kekasih?! Orang yang paling di cintainya?!” kekeh Luna membuat tangan Lea mengepal.


“ALLUNA VIVIANE!!! ” pekik marah sang Ayah yang menggelegar. Ia menatap Luna tajam dengan buku tangan memutih karna di genggam terlalu kuat. “Aku tak membesarkan mu untuk menjadi j*lang yang merayu calon suami kakakmu sendiri! Kau ku anggap sebagai anak selama ini dan inikah balasanmu?!” lanjutnya dengan suara penuh cemooh.


Luna tersenyum miris. Ia memang bukan anak kandung dari sang Ayah dan Bundanya yang sekarang. Luna hanyalah anak angkat, kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dan menitipkannya kepada Burhan Abdullah adik dari Hermansyah Abdullah — Ayah Luna.


“Ya, Ayah benar. Aku tak di besarkan untuk menjadi j*lang yang merayu kekasih ku sendiri.” Luna menjeda sesaat. Ia menatap sang Ayah yang dulu begitu di kaguminya itu, “Maka dari itu aku mengikhlaskannya untuk menjadi calon suami Kak Lea.” tambah Luna dengan senyum miring menatap ke arah Lea berada.


“B*ngsat! ” pekik Lea bertepatan dengan punggung Luna yang sudah menghilang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2