
**************
Happy reading
*****************
.
.
.
Sorry for typo and enjoy!
.
.
.
Flashback 3 tahun yang lalu...
“Gi!”
Sagi terbahak keras ketika melihat raut wajah Alluna— kekasihnya yang cemberut. Gadis itu tengah sibuk mengerjakan sesuatu ketika Sagi datang dan melepas ikatan rambut panjangnya begitu saja.
Luna masih memasang wajah tak bersahabat ketika Sagi melingkarkan lengan berototnya diperut Luna. Pun ketika lelaki tampan tersebut mulai menelusuri leher putihnya.
“Maafkan aku, sayang” Bisik Sagi rendah membuat Luna menggigit bibir bawahnya kuat. “aku tak suka ketika kau mengabaikanku, karena pekerjaan.” lanjut Sagi lagi.
Luna menghela nafas pendek, ia melepas lengan Sagi yang masih melingkar di perut ratanya lalu berbalik menatap mata coklat gelap milik lelaki itu, “Listen! Pekerjaan dan kau itu berbeda, sayang. Pekerjaan adalah kewajibanku sementara kau adalah kekasihku. Maaf aku tak bisa membagi waktu dengan baik sehingga sering mengabaikanmu.” ucap Luna tulus. Ia sedikit merasa bersalah karena Sagi menganggapnya seperti demikian. Jujur saja Luna juga tidak tahu mengapa ia bersikap seperti itu terhadap sang kekasih.
Sudut bibir Sagi tertarik tinggi, ia memegang pipi Luna sebelum mendaratkan kecupan putus-putus di sana. “Tak apa. Asal kau tetap ada seperti ini disampingku, aku sudah merasa sangat bahagia.” ucap Sagi sembari membawa kepala Luna ke dada bidangnya.
Luna pun menutup matanya secara perlahan, merasakan debaran jantung Sagi yang menggila karnanya.
“Jadi, pekerjaan mendesak apa yang kau kerjakan sehingga harus di bawa pulang seperti ini, honey?!”
Pertanyaan Sagi membuat Luna menggigit pipi dalamnya kuat. Ia kembali menatap Sagi dengan perasaan bersalah, “Aku terpilih—” jawabnya ambigu dengan kedua mata menutup. Ia meringis, sementara Sagi di depannya masih setia menunggu kelanjutan jawaban gadisnya.
“— menjadi relawan di Afrika.”
Satu detik.
Dua detik.
Sampai di hitungan ketiga, Luna masih menutup kedua matanya erat. Ia tak tahu bagaimana ekspresi dari Sagi sekarang. Dan ketika ia ingin mengintip ekspresi dari lelaki itu, tawa Sagi pecah membuat Luna nyaris terjungkang kebelakang.
Luna menatap Sagi bingung. Bagian mana dari perkataannya yang terasa lucu?!
__ADS_1
“Gi—”
“Kau pasti bercandakan?!” tebak Sagi memotong sembari menyeka sudut matanya yang berair karena kebanyakan tertawa, “mana mungkin kau meninggalkanku. Ayolah honey~ aku kan sudah mengatakan maaf tadi. Mengapa kau masih ingin mengerjaiku, eoh**?! ” Sagi memasang wajah geli, namun melihat sorot mata Luna yang tampak tak berbohong bahunya pun meluruh.
“Kau tidak bercanda?! ”
Alluna menggeleng dengan kepala tertunduk. Dan detik itu juga Sagi merasa dunianya runtuh. “Kenapa?!” lirihnya dengan mata menyayu.
Luna masih diam. Ia tidak tahu pembelaan seperti apa yang akan membuat Sagi merasa lebih baik.
“Kenapa kau ingin meninggalkan ku?! ”
Luna refleks menggeleng dengan cepat, gadis itupun langsung beringsut semakin mendekat ke arah Sagi. “Aku tak meninggalkanmu, Gi. Ini hanya 3 tahun, aku janji! Aku juga tak tahu mengapa harus aku yang terpilih dari sekian banyaknya Dokter kompeten di rumah sakit. Tapi— ku mohon izinkan aku pergi, ini sebuah kesempatan langka. Dan ku harap kau mau menungguku pulang, hm?!” pinta Luna.
“Hanya 3 tahun. Kita masih bisa mengirim kabar bukan?! Aku akan selalu menelponmu jika ada kesempatan.” tambah Luna lagi.
Sagi menghela nafas berat. Mengapa hal ini terjadi di saat ia baru saja berhasil mendapatkan Luna?! Setelah semua perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan nya?!
“Kau sangat ingin pergi, bukan?! ”
Luna mengangguk cepat, terlebih setelah melihat senyum Sagi, ia pun langsung menghambur memeluk pria itu erat. “Aaa~ makasih, sayang! Kau memang sangat mengerti aku.” ujar Luna mengecup pipi kanan dan kiri Sagi berkali-kali.
“Itu karna aku terlalu mencintaimu, honey.” bisik Sagi dengan mempererat pelukan mereka. “aku akan menunggumu, meski itu 4 atau 10 tahun kemudian. Aku akan tetap menunggu karna hanya kau satu-satunya wanita yang inginku nikahi kelak.” sambung Sagi lagi, membuat Luna tersenyum lembut.
.
.
.
Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi, dan ia masih berada di depan apartemen Sagi sekarang. Sementara lelaki itu baru saja terbangun dengan wajah buruk. Maksudnya bukan karna wajah tampan milik Sagi tiba-tiba menjadi buruk rupa. Hanya sekarang, ada lingkaran hitam di bawah mata lelaki itu.
Sagi meringis, ia maju selangkah untuk memeluk tubuh langsing Luna. “I'm sorry babe. Aku takut tak bisa melepas kepergianmu jika ikut mengantar.” lirih Sagi. Belum di tinggal Luna saja, ia sudah merasa begitu buruk.
Luna menghela nafas pelan. Tangan putihnya terangkat untuk membelai rambut lembut milik sang kekasih, “Aku mengerti. Aku pergi dulu kalau begitu. Kau tahukan harus mencariku dimana jika nanti berubah pikiran?”
Sagi mengangguk cepat. Ia mengecup kening Luna lama, “Aku mencintaimu. Benar-benar sangat mencintaimu.” dan Luna hanya membalasnya dengan anggukan kecil di sertai senyuman manis.
“Aku tahu.”
Nyatanya setelah kepergian Luna ke bandara, Sagi semakin uring-uringan. Ia melirik jam dinding sekilas lalu berlari cepat mengambil jaket beserta kunci mobil. Masih ada waktu 01.30 menit lagi sebelum pesawat Luna lepas landas. Maka dari itu Sagi seketika memacu mobilnya dengan kecepatan menggila.
“Aku harus menemuimu, sekarang.” bisik Sagi mencengkram kemudinya kuat. Namun ia hilang kendali saat melihat sebuah sedan yang melaju kencang kearahnya. Sagi banting stir sehingga ia tak sengaja menabrak sebuah pohon besar.
.
.
.
__ADS_1
Flashback off
***
“Ah. Ini enak sekali!” desah Luna dengan menutup mata ketika lelehan ice cream memasuki kerongkongannya. Luna mendecakkan lidah dan kembali menjilat ice creamnya dengan gerakan naik turun.
Di sebelahnya, Andrew meneguk ludah berkali-kali. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan gairah mana kala mata tajamnya menangkap pergerakan Luna barusan. Andrew jadi membayangkan jika yang dijilati Luna sekarang adalah jun*ornya yang telah memegang sempurna.
Ah, sial! Salahkan hormon yang tak bisa tertahan jika itu berhubungan dengan Luna.
Mereka berada di Taman bermain sekarang. Tadi setelah Andrew membawa Luna pergi dari pesta pertunangan Lea dan juga Sagi, gadis itu mengajaknya ke Taman bermain. Mereka menaiki banyak wahana yang membuat Andrew kembali merasa muda.
“Oom, kenapa kau menatapku seperti itu?! ” Luna bertanya acuh membuat Andrew gelagapan sendiri. Ia tak mungkin menjawab pikiran kotor apa yang sedang terbayang tentang gadis itu, bukan?!
“A-aku ti—”
“Ice cream mu mencair!!!” potong Luna terpekik panik .
Andrew terkekeh lucu menatap lelehan ice cream yang sekarang telah memenuhi tangannya. Tadinya ia sempat merasa panik melihat raut wajah khawatir Luna. Namun ternyata gadis itu hanya mengkhawatirkan ice creamnya.
Tangan Andrew terangkat hendak mengambil sebuah tisu di dalam saku kemejanya, namun wajah Luna tiba-tiba mendekat membuat mata Andrew mengerjap beberapa kali. Luna tersenyum segaris dan Andrew reflek menatap sekeliling. Mereka sedang berada di Taman bermain yang notabenenya adalah tempat anak-anak. Bagaimana jika nanti ada anak kecil yang tak sengaja melihat mereka?!
Ah. Andrew benar-benar dilema sekarang.
“Sa-sayang.” panggilnya menggugup. Entah terbuang kemana sikap arogannya jika sedang bersama Luna.
Alluna terkekeh, lalu dengan cepat menjilat tangan Andrew membuat mata lelaki itu melebar. Sensasi dinginnya ice cream bercampur dengan hangatnya lidah milik Luna membuat Andrew meremang. Ia bahkan hampir org*sme jika Luna dapat mengulang itu sekali lagi.
Memalukan! Padahal ia mengira jika Luna akan menciumnya.
“Ada apa dengan wajahmu, Oom?!” kikik Luna kembali menikmati ice cream miliknya. Ia benar-benar merasa puas dengan ekspresi tersiksa Andrew.
“Ayolah, itu hanya ice cream! Apa kau tak tahu cara menikmati ice cream dengan cara lain?!”
Andrew benar-benar menahan geramannya agar tak langsung menyerang Luna detik ini juga ketika melihat wajah penuh cemooh gadis itu. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memberikan sebuah senyum misterius kearah gadis itu. “Bukan begitu cara orang dewasa menikmati ice cream, sayang.” ucap Andrew membuat dahi mulus Luna bergelombang, ia memiringkan sedikit kepalanya menghadap Andrew, lalu—
Cupp..
Satu kecuapan kilat dari Pria itu membuat mata Luna melotot lebar. Andrew juga menahan tengkuk Luna agar gadis itu tak dapat melepas ciumannya dan mulai melahap lapar bibir cerry rasa stowberry itu.
“Heh!!!” pekik Luna ketika ciuman mereka terlepas. Gadis itu menatap Andrew garang sementara yang di tatap hanya tersenyum tampan dengan memberi kecupan di bibir Luna sekali lagi.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1