I Love You, Oom!

I Love You, Oom!
Extra


__ADS_3

Warning!!!


************


Happy reading.


****************


.


.


.


“Alluna Viviane... Aku bersumpah akan setia mencintaimu, meninggalkan yang lain. Berjanji untuk mencintai, percaya, dan menghormatimu sebagai istriku. Menghibur di saat kau butuh dan selalu menjagamu dalam setiap keadaan. Semua yang ku miliki sekarang adalah milikmu. Ku serahkan tangan dan juga hatiku... Seumur hidup kita.”


“Andrew Kilburn... Aku bersumpah untuk menjadi rekan setiamu dalam sakit dan sehat. Aku berjanji untuk selalu mencintaimu tanpa syarat. Menghormati dan menghargaimu sebagai suamiku. Berjanji menghiburmu dalam masa susah. Aku berjanji untuk melakukan itu selama kita hidup. ” .


“Saya nyatakan, kalian telah resmi sebagai suami-istri. Silahkan cium sang pengantin wanita.”


***


Alluna begitu gugup ketika membayangkan jika sekarang adalah malam pengantinnya dengan Andrew. Padahal jika di pikir pikir lagi, ini bukanlah kali pertama mereka melakukannya. Tetapi tetap saja perasaan itu datang ketika ia tengah duduk sendirian di atas ranjang sementara Andrew berada di dalam kamar mandi.


Mata caramelnya menatap lekat handel pintu bercat putih tersebut dengan dentuman jantung yang berisik sembari menggigit bibir bawahnya pelan.


“Bagaimana ini?! ”. Gumam Luna gusar dalam duduk, bertepatan dengan terbukanya pintu kamar mandi.


Cklek.


Ia menahan nafas sepersekian detik ketika melihat pemandangan didepan matanya saat ini. Andrew, Pria yang berstatus sebagai suaminya itu hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang hingga panggulnya saja. Sementara dada dan rambutnya tampak segar dan basah. Membuat Alluna diam-diam menelan salivanya berat.


Damn! He is hot.


“Wajahmu memerah, sayang. Apa kau kelelahan?! ”. Tanya Andrew berjalan perlahan kearah Alluna yang belum juga lepas memandang perut bagian bawah lelaki itu.


Tersentak, Alluna pun lantas menggeleng gelagapan, “A-ah. Ya! Maksudku tidak juga.” ucapnya mengundang kekeh geli dari sang suami.


“Benarkah?! Tapi wajahmu sangat memerah seperti kepiting rebus. Jika bukan kelelahan, apa itu sayang?! ”. Andrew sengaja menggoda Luna dengan membelai lembut pipi wanita itu ketika tak ada lagi jarak di antara mereka. “Apa kau sedang memikirkan, betapa kerasnya itu sekarang?!”. Bisik Andrew di telinga Luna.


Memejamkan mata kuat dengan bibir saling menghimpit, Alluna benar-benar sukses tergoda oleh Andrew. Sekarang ia malah membayangkan, seberapa lama milik Pria itu bisa menghujamnya jika mereka melakukan itu sekarang juga.


Kau gila, Alluna Viviane!!! Geleng Luna menepis segala pemikiran kotornya barusan. Tangan mulusnya bergetar ketika terangkat untuk menepis jemari Andrew agar Pria itu segera menjauh, namun yang ada Andrew malah menarik pinggangnya kuat sehingga posisi mereka malah semakin mendekat. Sekarang wajah Andrew bahkan telah mengendus ke sekitar leher putihnya.


“Jika iya, aku bisa menunjukkannya padamu.” goda Andrew lagi berbisik.


“K-kau menggodaku! ” cicit Luna mendorong dada Andrew, ia menarik nafas panjang sebelumnya agar suara desahan yang susah payah di tahannya tadi tidak terlepas.


Andrew menarik sudut bibirnya serempak. Lalu mengunci tatap ke mata caramel Alluna — istri cantiknya itu. Ah, Andrew benar-benar menyukai panggilan baru itu sekarang.


“Kau tak menyukainya?! ” lirih Andrew dengan tatapan sendu. Tapi percayalah jika sebenarnya ia hanya ingin menggoda Luna saja. “baiklah. Aku bisa pergi sekarang.” sambungnya, namun tak kunjung menjauh dari Luna.

__ADS_1


Ia menarik Luna kedalam pelukannya. Mengecup dahi wanita itu cukup lama. Lalu ciumannya pun turun ke kedua mata Luna yang reflek tertutup ketika Andrew melabuhkan kecupan disana.


Gerak lembut dan teratur dari Andrew membuat badan Luna panas dingin. Ia menggeliat resah. Namun karna jarak keduanya terlalu dekat, ia pun tak sengaja menyentuh milik Andrew yang sudah mengeras dan tegang. Membuat Pria tampan itu seketika mengerang dengan gigi mengatup rapat. Niatnya yang tak ingin melakukannya malam ini karena tahu Luna pasti kelelahan setelah resepsi panjang mereka tadi, terpaksa harus runtuh saat sorotan sama tersiksa dari mata Luna terlihat.


“Lakukan sekarang.” bisik Andrew lirih namun menjadi sebuah perintah mutlak untuk Alluna. Karna sekarang ia telah menggenggam tepian handuk Andrew erat dan menyentaknya kuat lalu membuang sepotong kain itu kesembarang arah.


Mereka melakukannya. Penyatuan panas itu terus berulang hingga pagi menjelang.


.


.


.


Seumur hidup Andrew, ia tak pernah terbangun dengan senyum lebar merekah seperti ini sebelumnya. Kecuali saat Alluna yang mengingatnya kembali beberapa bulan yang lalu. Tapi pagi ini, Andrew benar-benar tersenyum lebar dengan perasaan bahagia yang meletup letup. Ia bahkan ingin berlari mengitari lapangan sambil berteriak sangking bahagianya.


Alasannya ketika ia membuka mata baru ini, wajah cantik Alluna langsung memenuhi retinanya. Wanita itu masih tertidur lelap dalam pelukan Andrew tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Tetapi bukan itu saja yang membuat senyum Andrew melebar. Ia juga pernah terbangun dan menatap wajah polos Luna di pagi hari ketika mereka masih berkencan dulu. Namun saat ini, membayangkan jika sekarang Alluna adalah miliknya, istrinya, Andrew pun merasa bahagia.


Terlebih fakta jika mereka telah menghabiskan sepanjang malam dengan kegiatan panas.


“Kau cantik sekali,” bisik Andrew terpukau sembari menyelipkan anak nakal rambut Luna kebelakang telinga.


Luna menggeliat ketika merasa hembusan teratur nafas Andrew menerpa wajahnya lembut. Ia pun mengerjap, menyesuaikan intensitas cahaya yang baru saja di terima oleh matanya. Lalu — cupp.


“Morning kiss, sayang.” cengir Andrew setelah berhasil mencuri satu kecupan kilat.


Alluna menyipit. Lalu tangannya terangkat untuk memukul dada telanjang Andrew, tak terlalu kuat. “Berhenti me-mesumiku, Oom! Ini masih terlalu pagi.” serak Alluna yang entah mengapa terdengar begitu menggoda di telinga Andrew.


Pria itu pun lantas memeluk pinggang Luna cepat ketika wanita itu berbalik memunggung. Begitu erat sehingga membuat bokong padat Luna mengenai milik Andrew yang sudah kembali tegang.


Yang di balas cengiran tak berdosa oleh Andrew, “Kau tahu bahwa segala yang ada di dirimu adalah control untukku.” ucap Andrew dengan kerlingan mata.


Sialnya, Luna selalu saja tersipu oleh itu. Namun mau bagaimana lagi, keinginan suami tetap harus di penuhi jika Luna ingin masuk surga, bukan?!


“Lakukan dengan cepat.” ucap Luna setengah hati. Ia masih merasa lelah akan semalam, tetapi Andrew justru terlihat sangat bersemangat.


Tersenyum lebar, Andrew pun mulai memiringkan kepalanya hati hati. Ia mencari bibir merona milik Luna yang sejak dulu sudah menjadi candunya itu. Tanpa melepas tautan bibir mereka, Andrew menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka secara perlahan. Pun ketika badan berototnya merangkak naik mengangkangi Luna.


Ciuman lembut itu perlahan mulai memanas karna tangan Andrew yang tak lagi diam di sisi wajah Luna. Tangan itu mulai merambat turun kearah perut rata milik Luna. Membelai dengan gerakan lembut dan kembali naik untuk menyapa puncak p*yudara Luna yang sudah mengeras.


“Kau cantik.” bisik Andrew sungguh-sungguh ketika jeda yang di berikannya untuk Luna menarik nafas. “dan kau adalah milikku. Aku mencintaimu.” senyumnya sebelum kembali melanjutkan ciuman mereka yang sempat terputus tadi, seolah tak memberi kesempatan untuk Luna membalas kata cintanya dengan ucapan.


Aku juga mencintaimu, Oom. Batin Luna tersenyum di sela sela ciuman mereka. Ia pun mulai membalas ciuman Andrew dengan tak kalah panas. Luna pun bahkan sengaja memainkan dada berotot Andrew agar lelaki itu melakukan hal yang sama pada dadanya.


Andrew mengerang nikmat dengan mata penuh kabut gairah. Melepaskan ciuman, ia pun menekan bibirnya ke sepanjang rahang Luna hingga ke belakang telinga wanita itu. Menjilat daun telinga Luna sebelum menggigitnya lembut.


Andrew bertekad meninggalkan tanda yang banyak di tubuh Luna.


“Apa kau keberatan jika aku bermain sedikit kasar?! ” bisik Andrew di telinga Luna.


Membuat wanita itu menahan nafas akibat lonjakan gairah yang semakin membesar. Alluna terengah dengan nafas memburu, “Tidak...” lirihnya ikut berbisik.

__ADS_1


Ia pun mengangkat sedikit tubuhnya untuk mengecup pipi Andrew. “Lakukanlah.” senyum Luna yang berhasil membuat Andrew menggila.


Karna setelahnya, lelaki itu menggeram tertahan dan melabuhkan ciuman kasar dan panas di bibir Luna. Bukannya merintih sakit, wanita itu justru sangat menikmati permainan Andrew di bibir juga tubuhnya tersebut.


.


.


.


Andrew melipat bibir dengan kening menempel di atas meja makan, memperhatikan gerakkan cepat Luna yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Sudah 30 menit berlalu seperti ini, membuat bibir Andrew semakin mengerut lucu.


“Aku ingin bersamamu saja seharian ini, sayang.” ucap Andrew entah untuk yang keberapa kali. Pria tampan itu sedang berusaha membujuk istri cantiknya. “Tidak bisakah aku tidak pergi malam ini?!”. Lanjut Andrew lagi.


Membuat Luna mendengus keras dengan tangan menggebrak meja kuat. Ia menatap Andrew tajam, sementara yang di tatap telah duduk tegap lengkap dengan cengiran aneh di wajah tampannya.


“Eyyy— aku hanya bercanda saja sayang. Tak perlu menatapku seperti itu.” gagap Andrew.


Menghela nafas lelah, Luna mulai melepas apron biru langit dan meletakkannya di dekat meja kompor. Ia menarik sebuah kursi di depan Andrew setelah meletakkan sup ayam panas sebelumnya.


“Aku tahu mas hanya tak ingin bertemu dengan Sagi, saja. Tapi, bagaimana pun mas menghindar, kalian tetap keluarga. Fakta itu tak akan berubah.”


Sekarang gantian Andrew yang menghela. Ia menatap Luna dalam, sebelum menarik sebelah tangan wanita itu untuk di genggam. Menepuk pelan, Andrew mulai memandang kosong ke depan. “Aku tahu. Hanya seberapa kuat pun usahaku untuk tak membencinya, aku tetap memiliki perasaan itu.”


“Dia — dia memisahkanmu dariku. Rasanya -” Andrew tak dapat melanjutkan perkataannya karna mata lelaki itu telah basah. “itu sungguh sebuah mimpi buruk, Al.” tambah Andrew lagi.


“Aku tahu.” ucap Luna menyeka air mata di pipi Andrew. “semua sudah berlalu. Dan kita baik baik saja sekarang mas.” senyum Luna tulus.


“Hanya — tak akan ada yang berubah jika kau terus menghindar. Kau, aku, ataupun dia akan tetap berjalan di tempat. Kau dengan perasaan dendam. Aku dengan perasaan sedih, dan dia dengan perasaan menyesal. Kenapa kita tak mencoba memaafkannya saja?! Setiap manusia pasti punya kekhilafan kan? Tuhan saja maha pemberi ampunan, bukankah terlalu sombong jika kita yang hanya seorang umat tak memberi maaf?! Dia juga sudah meminta maaf dan merasa menyesal”


“Aku—”


“Aku tahu itu berat. Aku pun juga begitu. Perasaan marah karna telah di bohongi. Dan perasaan benci ketika aku di permainkan. Tapi kita bisa mencobanya bersama bukan?! Memaafkan?!”


“Baiklah. Biar aku mencobanya dulu.” ujar Andrew akhirnya.


Alluna tersenyum lebar, “Kau sungguh yang terbaik!!!” girangnya dengan mengangkat kedua jempolnya tinggi.


Andrew tersenyum bangga. Ia pun menarik tangan wanita itu lagi untuk mengecup singkat punggung tangannya. “Aku mencintaimu, Alluna Viviane Kilburn. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, hm?! ”


“Aku juga mencintaimu, mas. Dan selain maut — aku tak cukup gila untuk meninggalkanmu.” kekeh Luna yang ikut menular kepada Andrew.


.


.


.


***The end.


Gak pernah bosan bilang makasihhhh sama kaliaaaaannnn.. 😍😘

__ADS_1


maaf jika ada salah kata, penulisan nama tokoh ataupun yang lain. Sejujurnya (nama tokoh) itu adalah sebuah kebiasaanku. Jika kalian bertemu dengan Myungsoo atau Suzy di dalam cerita ini, mereka adalah sebuah visual yang aku bayangkan untuk Andrew dan juga Alluna.


Terimakasih karna telah hadir dan membaca tulisan ini sampai selesai. 😍***


__ADS_2