
🍁Kau tak pernah tau, apa yang bisa di lakukan seorang lelaki kasmaran demi Cinta.🍁
**************
Happy reading
***************
.
.
.
Andrew melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mata tajamnya tanpak fokus memperhatikan jalanan, namun iris hitamnya tetap melirik gadis yang sekarang tengah meringkuk seperti bayi. Sudut bibirnya tertarik secara bersamaan dengan tangan yang terangkat mengelus paha Luna — yang masih tampak tak terganggu dengan tangan nakal milik Andrew. Luna merasa begitu lelah setelah menghabiskan seluruh tenaganya di Taman bermain.
“Kau sangat cantik, sayang.” senyum Andrew. Ia tak pernah merasa menyesal karna telah membawa Alluna ke dalam kehidupannya kembali.
Cerita di mulai saat 3 tahun yang lalu. Waktu itu Andrew sengaja membuat Luna menjadi Dokter relawan di Afrika dengan bantuan beberapa temannya. Tujuannya, tentu saja untuk menjauhkan gadis itu dari keponakannya — Emanuel Sagi Pratu.
Uang dan kuasa memudahkan segala rencananya.
Terdengar kejam untuk dua sejoli yang tanpak saling mencintai. Namun Andrew mempunyai alasan kenapa ia melakukan semua hal tersebut. Mengingat alasan itu membuat sebelah tangan Andrew yang bebas mencengkram stir dengan kuat. Mata tajamnya berkilat marah dan penuh dendam. Ia bersumpah tak akan berhenti sebelum semua kembali ke tempat semula.
“eunghh... ” lenguhan dari Luna membuat Andrew buru-buru menarik tangannya cepat. Ia tak mau membuat Luna berpikir buruk tentangnya — meski kenyataan mengatakan jika gadis itu memang telah berpikir buruk tentang dirinya sedari awal.
Mengerjapkan mata, Luna memandang sekeliling dan mengumpat pelan setelahnya. Bagaimana bisa ia tertidur saat sedang bersama Andrew?! Lelaki tua nan sangat mesum itu.
“Apa yang kau lakukan?! ” Luna bertanya serak dengan satu alis terangkat. Badannya telah dimiringkan sempurna menghadap Andrew, sementara kedua tangannya yang bebas dilipatnya di depan dada. Ia ingin terlihat mengintimidasi di mata Pria itu.
Namun bukannya takut, Andrew malah terkekeh renyah dengan tatapan mata geli memandang Luna. Lelaki Kilburn itu kembali fokus menatap jalanan dengan sisa tawa di wajah tampannya.
Sial. Umpat Luna dalam hati. Entah mengapa ia merasa sedikit terpesona dengan tawa Andrew barusan.
“Mengemudi, tentu saja.” jawab Andrew membuat Luna mendengus dengan bola mata memutar. Namun ia memilih diam ketimbang kembali berdebat dengan Andrew.
“Aku tampan bukan?! ” celetuk Andrew tiba-tiba ketika mendapati Luna yang tengah memandangnya intens.
Andai jika mereka sedang tak berada di mobil sekarang. Andrew yakin ia sudah menyerang Alluna, membuat gadis itu tak bisa berjalan selama seminggu penuh.
Dahi Luna bergelombang. Ia memberi tatapan jijik yang ketara, “Selain tua — kau juga sangat narsis ya, Oom!” Andrew terkekeh lagi, ia memiringkan sedikit kepala kearah Luna untuk memberikan kerlingan maut pada gadis cantik di sebelahnya.
“I Love You too.” jawab Andrew melenceng.
.
.
__ADS_1
.
“Terima kasih atas tumpanganmu, Oom. Sebaiknya kau segera pulang sekarang!” usir Luna tak sopan dengan tangan melambai.
Ia baru sampai di depan gedung apartemen miliknya. Malam ini Luna memilih menginap di apart miliknya saja ketimbang pulang ke rumah orang tuanya.
Di sana pasti masih ramai dan sesak.
Sudut bibir Andrew tertarik, “Kau tak menawariku untuk masuk?! ” tanyanya tak percaya, namun Luna hanya terkekeh sambil mengangguk.
“Aku takut kau akan memakanku. Pulanglah sekarang!” usirnya lagi membuat tawa Andrew pecah berderai.
“Kau ini benar-benar. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.” kerling Andrew, “aku akan segera datang jika kau membutuhkan kehangatan di ranjang.” tambahnya lagi sembari menjilat bibir bawahnya dengan gerakan sensual.
Luna mendengus, ia ingin segera menarik Andrew keluar dari mobil dan menjambak rambut lelaki itu kuat. Kenapa pikirannya selalu berisi s*langkangan?!
“In your dream, sir!” ketus Luna dengan kedua tangan di lipat di dada.
Andrew terkekeh lagi, namun sekarang lelaki itu telah kembali memasang seat beltnya bersiap akan pergi. Setelah selesai dengan kegiatannya tersebut, Andrew menatap Luna sekali lagi. Jenis tatapan yang membuat tangan Alluna Viviane terkulai lemas seketika dengan pandang mata kosong. Bibirnya bahkan sedikit terbuka.
“Mimpikan aku, sayang.” ucap Andrew lembut yang langsung di angguki patuh oleh Luna.
Entah kemana sikap ketus dan sombongnya tadi. 🙄🙄🙄
Setelah memastikan kepulangan Andrew, tangan Luna terangkat untuk menyentuh dadanya yang berdebar kencang. “Ada apa denganku?!” bisiknya dengan langkah pelan.
Gelap.
Adalah gambaran pertama saat tangannya mendorong hendel pintu tersebut. Namun mata caramel berbulu lentik itu masih bisa menangkap keberadaan sesuatu di atas meja samping tempat tidurnya karena bias cahaya bulan dari luar.
Langkah ringan kaki Luna membawanya ke depan meja tersebut. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman manis, lalu tangannya terangkat untuk menyentuh kelopak bunga mawar dalam vas kaca yang sudah lama melayu itu.
Namun meski telah layu, Luna tak berniat membuangnya sama sekali. Bagi Luna bunga mawar yang dulunya berwarna merah ini memiliki kenangan yang terasa begitu romantis. Bahkan sampai sekarang pun Luna masih bisa merasakan getaran kebahagiaan dari mawar tersebut meski ia tak tahu dari mana bunga mawar merah itu berasal.
“Aku bingung dengan hatiku.” curhat Alluna memandang lekat mawar tersebut. Hal yang biasa ia lakukan jika berada di apartemen mewah miliknya. “apa menurutmu aku adalah wanita yang sangat gampang jatuh Cinta?!” tak ada yang menjawab membuat Alluna terkekeh sendiri.
“Kenapa rasanya — aku move on begitu cepat?! Apa aku benar-benar boleh seperti itu?! ” terawang Luna memandang langit kamarnya yang di penuhi oleh star glow in the dark.
“Ah, tidak tahu lah! Lebih baik aku mandi dan lekas beristirahat saja.” monolognya.
***
Tiga hari berlalu begitu cepat, tak terasa sekarang adalah hari pernikahan Syailea bersama Sagi. Alluna sudah terbangun sejak pagi, ia pun memilih bersiap lebih awal dari jadwal acara yang akan diadakan nanti malam.
Baru saja kaki jenjangnya melangkah keluar kamar, ia langsung bersitatap dengan sang Ayah yang juga baru saja keluar dari kamar Lea. Luna tersenyum canggung sambil mengumpat pelan dalam hati.
“Mau kemana?!” tanya Ayahnya itu datar.
__ADS_1
Luna meringis, meski sedikit kecewa dengan sikap sang Ayah saat ini tetapi ia tetap tak bisa memungkiri jika membenci sang Ayah adalah sesuatu yang sangat sulit. Mengingat jika dulu sang Ayah selalu bersikap baik padanya.
“Aku ingin keluar untuk berbelanja sebentar. Lagi pula aku juga belum menemukan kado yang cocok untuk mbak Lea nanti. Jadi ku pikir — aku ingin mencarinya sekarang.” jelas Luna tak membuat raut wajah sang Ayah membaik.
Pria berumur 50 han itu masih memasang wajah permusuhan dengan Alluna.
“Jangan mencoba melakukan hal bodoh untuk mengacaukan pernikahan ini, Al. Ayah bersungguh-sungguh!” tekan Pria itu lagi membuat Alluna menghela nafas berat.
Ia maju selangkah untuk memeluk sang Ayah yang entah mengapa terasa menegang. Kepalanya ia sandarkan ke dada keras sang Ayah guna mencari kenyaman yang sudah lama tak di dapatnya. Dulu ketika ia memeluk sang Ayah, lelaki tua itu akan mengelus rambut panjangnya lembut dengan memberikan kecupan putus-putus di dahinya. Namun sekarang Luna bahkan tak merasa jika sang Ayah membalas pelukannya.
“Aku tidak akan berbuat bodoh, Yah. Aku percaya Tuhan tak akan pernah membiarkan umatnya menderita, mungkin memang kami yang tak berjodoh makanya Tuhan mengambilnya dari tanganku. Sekarang tanganku kosong —” Luna menjeda, ia mendongakkan kepala agar dapat menatap manik sang Ayah tepat di mata. “— dan mungkin Tuhan sedang bersiap memberikanku kebahagiaan yang lain.” sambung Luna dengan senyum tulus yang tak dibuat-buat. Tiba-tiba saja wajah penuh senyum Andrew semalam terlintas di benaknya.
Mata tajam sang Ayah bergetar, namun ia segera menepis pelukan Luna. “Kau membuang waktuku.” ucapnya ketus sebelum berjalan menjauh.
Melihat itu Luna hanya tersenyum segaris. Ia sudah merasa terbiasa sekarang.
.
.
.
The Shilla .
Salah satu Hotel milik keluarga Burhan Abdullah, tempat dimana pesta pernikahan Syailea Abdullah dan Emanuel Sagi Pratu di gelar. Terletak di kawasan pusat Jakarta Selatan, tahun ini The Shilla kembali di nominasikan sebagai Hotel bintang 5 Forbes tahun 2019. Tak heran jika Hotel ini banyak di lirik oleh para selebriti serta pengusaha untuk menggelar pesta pernikahan mereka.
Tak seperti hotel kebanyakan, the Shilla mengusung konsep antara Tradisional berpadu dengan jaman modern dengan fasilitas terlengkap.
Luna merapikan penampilannya sekali lagi sebelum melangkah keluar dari mobil merah keluaran terbaru itu. Blitz-blitz kamera langsung menyerangnya dengan brutal, namun gadis kelahiran Oktober itu tetap memasang senyum tenang seolah ia tak terganggu sama sekali.
Ia masih berjalan anggun ketika pinggangnya di peluk seseorang dari belakang. Luna kaget, tentu saja. Ia baru saja akan mengumpat ketika melihat Andrew tersenyum tampan lengkap dengan kerlingan nakal nan menggoda seperti biasa.
Oh my god!!! Dari mana lelaki ini berasal?!
Rutuk Luna. Namun ia tak bisa bersikap kesal karna banyak wartawan yang sedang melihat kearah mereka. Alhasil gadis itu hanya melengkungkan bibir membentuk sebuah senyuman manis dan menggandeng lengan Andrew mesra.
Dasar brengsek! Umpat Alluna.
Aku tahu ini akan berhasil. Kikik Andrew.
Tak sia-sia ia menunggu kehadiran Alluna hingga berjam-jam lamanya. Ia tahu jika hasil tak pernah mengecewakan usaha. 🤣
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...