
*************
Happy reading
*****************
.
.
.
Sudah dua hari berlalu sejak hari dimana Sagi memaksa Luna untuk menikah dengannya. Sekarang gadis cantik itu telah kembali ke Jakarta setelah di paksa oleh Andrew seharian penuh. Lelaki itu tak ingin mengambil resiko dengan meninggalkan Luna sendirian di Painan. Padahal Alluna sendiri merasa tak masalah karna seluruh tim nya masih berada di sana. Pun juga Sagi yang sudah di rawat di Rs.
Lelaki itu ternyata mengidap penyakit Skizofrenia, sejenis penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Itu juga yang menyebabkan Sagi selalu tak terkendali karena susah membedakan khayalan dengan kenyataan (penyakit ini juga sering di sebut oleh masyarakat dengan ‘gila’ 😂). Namun sekarang Sagi telah menjalani proses terapi, memang tak akan bisa sembuh total. Tapi setidaknya, lelaki berwajah tampan itu lebih bisa mengonemosi.
Kaki panjang berbalut sneaker milik Luna terus melangkah pasti memasuki gedung rumah sakit tempat ia bekerja tersebut. Senyum manis terpatri di wajah cantiknya ketika beberapa orang yang mengenal gadis itu menyapa.
Namun langkah Luna tiba-tiba terhenti ketika matanya menangkap sesuatu — Ah! Seseorang lebih tepatnya.
Dengan kening berkerut penasaran, Luna pun mengikuti bayangan orang tersebut hingga berhenti di sebuah ruangan yang di atasnya tertulis psikiater room.
***
“Tuan Lukman! ”.
Lukman yang baru saja keluar dari ruangannya, langsung terkejut ketika melihat keberadaan Luna di samping pintu. Tengah bersandar dengan wajah datar namun langsung tersenyum lebar ketika melihat kedatangannya.
“Kau mengagetiku! ” . Umpat Lukman membuat senyum Luna semakin lebar.
Iris coklatnya memindai penampilan Lukman dari atas kebawah dengan tangan di masukkan ke dalam saku jaket yang di pakainya. Melihat tatapan menilai Luna tersebut, membuat Lukman merapat kearah dinding dengan kedua tangan menyilang di depan dada secara otomatis.
“K-kenapa?! Kau membuatku takut Dokter Al.” gagap Lukman.
Luna terbahak dengan sudut mata berair. Gadis cantik itupun memukul bahu Lukman, tak terlalu kuat. “Aku tak menyangka jika kau juga seorang Dokter, Tuan Lukman.” ungkap Luna setelah berhasil mengontrol tawanya, Lukman pun perlahan menurunkan tangan.
Lelaki bermarga Oriental itu memasang senyum tipis dengan tangan yang ikut di simpan di dalam saku jubah putihnya. “Ya. Aku juga tak menyangka.” tawa Lukman sumbang.
Awalnya, ia tak berniat untuk kembali ke dunia kedokteran, namun kejadian di Painan tempo hari membuat Lukman bertemu rekan lama seprofesi yang menyarankan agar ia kembali saja. Setelah berpikir cukup lama, di tambah alasan mengapa ia berhenti menjadi Dokter, akhirnya Lukman memutuskan untuk kembali.
Dahi Luna mengernyit, ia memiringkan sedikit kepalanya kearah Lukman, bingung. Namun lelaki itu hanya terkekeh dengan tangan yang terangkat untuk mengacak rambut coklat milik Luna.
“Ya! Kita tak seakrab itu, eoh.” kesal gadis itu.
Lukman pun di buat terkekeh dengan bahu terangkat acuh, “Ya sepertinya sekarang kita bisa menjadi akrab Dokter, Al.”
Alluna mendengus dengan bibir mengerucut lucu, ia jadi merasa sedikit menyesal karna telah penasaran dengan Lukman yang tadi tak sengaja di lihatnya tadi.
“Hei. Ada apa dengan wajah jelek itu?! Apa kau sedang merasa menyesal dan mengutukku dalam hati?! ”.
Menatap Lukaman horor yang di balas kekehan tampan ala lelaki itu. Luna berpikir, ‘Apa mungkin Pria itu adalah seorang cenayang?!’
“Aku bukan seorang cenayang. Hanya saja, semua yang kau pikirkan sudah tertulis jelas di sini.” tunjuk Lukman kearah dahi Luna.
“Aku tidak! ”. Ringis gadis itu seketika melotot.
“Baiklah. Anggap saja kau tidak nona. Jadi — apa yang membuatmu berdiri menungguku disini?! Ini bukan sebuah kebetulan bukan?! ”. Tanya Lukman yang di balas cengiran kuda oleh Luna.
“Aku melihatmu memasuki ruang psikiater. Jadi — kau adalah seorang Dokter psikiater, dulu?!”
“Yap!”.
Dahi Luna kembali bergelombang akan jawaban singkat Lukman, “Lantas mengapa kau berhenti?! Bukankah itu adalah sebuah pekerjaan menjanjikan di banding, maaf —bengkel?! ”. Tanya nya tak mengerti jalan pikiran Lukman.
Lelaki itu terkekeh dengan pandangan kosong. Lalu menatap Luna lekat. “Aku melanggar sumpah seorang Dokter dengan memisahkan dua orang yang saling mencintai.”
Deg.
“Karna merasa bersalah, aku pum memutuskan untuk berhenti. Kemuadian aku sadar, jika aku terus berlari dan bersembunyi, orang-orang yang tak sengaja ku sakiti di masalalu akan tetap berjalan di tempat. Sementara aku akan selalu merasa di hantui oleh rasa bersalah. Jadi — aku memutuskan menebus dosa di masalalu itu, sekarang. Apa aku terlihat sangat kejam?!”.
Mendapat pertanyaan dadakan dari Lukman, Luna ingin sekali berteriak dan menghajar lelaki itu karna telah mengotori sumpah seorang Dokter. Namun setelah mengenal Pria itu selama beberapa hari, Luna pun sadar jika Lukman adalah seorang ayah yang hebat. Lukman adalah sosok ayah yang tak mungkin salah langkah jika ia tak mempunyai sebuah alasan.
“Aku yakin kau mempunyai alasan untuk terlihat jahat, Tuan. Hanya apapun alasanmu itu, aku berharap kau tak menukar sesuatu dan merasa menyesal dengan pilihanmu.” senyum Luna tulus.
__ADS_1
Mata Lukman berembun. Ia menatap senyum Luna yang begitu menggetarkan gumpalan bernyawa dalam rongga dadanya. Ya, meskipun merasa bersalah terhadap gadis itu dan juga Andrew, tapi Lukman tak merasa menyesal karna Bryta selamat. Putri, hidup, sekaligus satu satunya peninggalan seseorang yang di cintainya itu selamat. Hidup dan sehat.
“Ah. Maaf — aku menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini.” sela Lukman ketika air matanya terjatuh bebas.
Alluna tersenyum maklum. Lalu tangannya kembali terangkat untuk memukul bahu Lukman pelan.
“Tak masalah.” senyum Luna, “jadi sekarang kau bekerja di rumah sakit ini juga Tuan?! ”.
“Ya. Kau bisa memanggilku Brain.” angguk Lukman.
Tersenyum misterius, “Berarti aku adalah seniormu disini.” bangga Luna membuat Lukman tersenyum tipis. “karna sekarang kau sedang berhadapan dengan senior yang baik hati, jadi aku tak akan membully di hari pertamamu ini, asal—”. Luna sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia ingin membuat Lukman penasaran, namun lelaki tampan itu malah berekspresi sebaliknya.
Membuat Luna mengerucutkan bibirnya lucu. Namun —
“Apa kau ingin agar aku membuatmu rileks?!” cetus Lukman tiba-tiba membuat senyum Luna kembali terkembang.
Ia mengangguk tiga kali, sebelum menggeret Lukman memasuki ruangan pria itu sendiri. Sementara Lukman yang berada di sebelah Luna pun, mulai menaikan sudut bibirnya tinggi.
Sekarang waktunya!
.
.
.
“Kau akan terjatuh dalam tidur yang nyenyak.” ucap Lukman sembari menyentuh lembut jemari Luna yang sekarang telah berbaring di ranjang berwarna putih gading.
“Dan ketika mendengar perintah ‘bangun’ dariku — maka kau harus bangun, mengerti?! ”.
Alluna mengangguk samar dengan mata yang telah tertutup sempurna karna gadis itu telah masuk dalam keadaan trance (setengah sadar). Sekarang ia benar-benar hanya bisa mendengar suara Lukman saja.
Pria itu menarik nafas panjang, seketika ingatan tentang kejadian yang sama dengan yang saat ini di alaminya berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Dan rasa bersalah itu kembali datang.
“Baiklah. Bagaimana perasaanmu akhir-akhir ini? ”. Tanya Lukman sebagai awal ketika melihat Alluna yang sudah mulai rileks.
Ia mencoba memodulasi suaranya sendiri sehingga dapat membantu Luna agar lebih rileks lagi.
Dalam keadaan posthypnotic amnesia seperti ini dapat membuat seseorang lupa dengan apa yang terjadi sebelum dan saat di hipnotis. Itu yang memudahkan Lukman untuk mengetahui seluruh cerita Luna tentang Andrew, tentu setelah persetujuan dari gadis itu sendiri.
“Itu bagus. Sebagai sepasang kekasih, jatuh cinta setiap saat seperti itu akan semakin menguatkan rasa kalian. Perasaan itu juga yang tak akan membuat kalian jenuh suatu hari nanti.” timpal Lukman membuat senyum Luna terkembang.
Cantik.
“Apakah aneh jika aku bermimpi melupakan Andrew — kekasihku?! ”. Lirih Luna pilu.
Mereka telah sampai pada tahap akhir. Menipiskan bibir, Lukman kembali menggenggam tangan Luna sebagai bentuk dorongan semangat. “Tidak. Itu biasa terjadi.” tegasnya lembut.
“Benarkah?!”.
Meski Lukman yakin jika Alluna tak dapat melihat anggukannya, tetapi lelaki itu tetap mengangguk mantap. “Apa sekarang kau dapat melihat sebuah pintu bercat cokelat?! ”.
Alluna mengangguk, “Ya. Ada satu pintu bercat cokelat yang sangat besar.” jawabnya membuat Lukman mengangguk kembali.
“Jika kau melihat pintu itu, masuklah. Di sana ada seseorang yang telah menunggumu. Kau harus merasa ikhlas saat semua kembali seperti semula. Jangan lagi menaruh benci atau dendam untuk semua masalalu. Kau akan kembali mengingat semua tentang hari bahagiamu bersama Andrew. Tapi kau juga tak akan lupa tentang mimpimu yang melupakan Andrew. Anggap saja itu sebuah hadiah dariku--”
“--Aku akan berhitung sampai lima. Dan pada hitunganku selesai, kau bisa keluar dari tidur nyenyakmu. Apa kau siap?! ”.
Alluna mengangguk. Dan Lukman pun mulai menghitung secara lambat.
***
Flashback malam sebelum Andrew bertemu Luna di penginapan — Painan.
.
.
.
“Dokter Brain?! ”.
Lukman yang tengah bermain bersama Bryta itupun langsung menoleh ketika seseorang menyebut namanya dari belakang.
__ADS_1
“Ya?! ”. Senyum aneh muncul di wajah tampan Pria itu.
Terlebih ketika irisnya melihat seorang lelaki tampan dengan wajah tampa ekspresi yang di kelilingi oleh bodyguard berbaju hitam di belakang lelaki itu.
“Aku Andrew Kilburn.” ucap lelaki tadi membuat mata Lukman melebar, “kau mengenalku bukan?! ”. Lanjut Andrew lagi.
Lukman meneguk salivanya kasar, tangan besarnya perlahan menggapai jemari Bryta yang berada tepat di sebelahnya membuat gadis berumur 10 tahun itu memandang Lukman bingung dengan dahi mengerut.
“Ya. Aku mengenalmu — mungkin.” jawab nya membuat sudut bibir Andrew terangkat sebelah.
Lukman terus menatap Andrew, pun ketika lelaki berwajah datar itu menarik sebuah kursi kayu di depan Lukman dan mendudukkan diri. Itu tak lepas dari pandang Lukman.
“Ini anakmu?! Tak ku sangka dia begitu cantik. Persis seperti Ibu nya.” kerling Andrew kearah Bryta, lalu mata tajamnya kembali melihat kearah Lukman yang sekarang sudah mengeraskan rahangnya.
“Mari bicara di tempat lain.” ajak Andrew datar.
Lukman melirik ke arah Bryta sebentar, ia mengecup dahi sang Putri lama dan berujar, “Ayah akan kembali. Tunggu sebentar, ya?! ”. Yang langsung di angguki Bryta dengan patuh.
.
.
.
Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan beberapa daun mangga tak membuat kedua lelaki yang sedari tadi berdiam itu, angkat bicara. Mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Satu di antara dua lelaki itu menghela nafas berat dengan mata tertutup. Seolah tengah memupuk keberanian untuk mulai bicara.
“Kami bertemu saat acara amal di rumah sakit. Waktu itu dia masih menjadi Dokter coas di sana.” cerita Andrew sembari menerawang, ia membayangkan masa pertemuan pertamanya dengan Alluna. Sementara Lukman di sebelahnya cukup terkejut dengan suara lirih Pria tampan nan kaya itu, “lalu sebuah insiden membuat kami bertemu, saling berkenalan dan jatuh cinta. Terdengar sangat klise, namun itu adalah sebuah fase manis yang tak terlupakan oleh ku. Bahkan sampai sekarang itu masih menjadi mimpi indah untukku kenang.” mata Andrew berkaca-kaca, namun ia tetap tersenyum saat Lukman memandangnya dengan pandangan yang, entahlah.
“Meski aku mengakui perasaanku padanya, tapi kami baru benar-benar berkomitmen satu tahun setelahnya. Tepatnya saat kelulusan Luna.” cerita Andrew lagi, “kau tau bagaimana perasaanku saat itu?!” jeda Andrew melihat kearah Lukman.
Ia terus bercerita seolah mereka adalah teman lama yang sedang bernostalgia.
“Rasanya sangat menakjubkan! Aku bahkan terus tersenyum seperti orang bodoh sepanjang hari.” mata Lukman berkaca-kaca, ia tak menyangka jika perbuatannya di masalalu sangat jahat.
“Kami berpacaran. Padahal sebelumnya, aku tak pernah berniat untuk melewati fase menggelikan seperti itu. Terlebih dengan rentang usia kami yang begitu jauh. Dulu — pekerjaan adalah yang utama untukku. Namun semenjak Alluna hadir, aku hanya bisa memprioritaskannya menjadi yang utama karna aku mencintainya. Aku bahkan memperkenalkannya pada keluargaku, padahal kami baru berpacaran selama seminggu.” tak ada yang lucu, namun sudut bibir Andrew tertarik pelan, “memberi bunga di hari kelulusannya, mengajaknya menonton, bahkan bermain game tampa kenal waktu. Rasanya aku kembali menjadi remaja saja.” Andrew menarik nafas perlahan, “namun hari itu, aku terpaksa meninggalkan Luna karna mendapatkan kabar, jika salah satu perusahaan di Jepang mengalami penurunan, bahkan hampir bangkrut karna kelalaianku sendiri. Aku yang terlalu terlena dengan perasaan asing yang baru saja ku rasa.”
“hari itu — hari di mana Sagi membawa Luna untuk menemuiku?! ” tebak Lukman yang di angguki oleh Andrew.
“Dia merencanakan semuanya. Mulai dari kabar tentang kebangkrutan perusahaanku di Jepang, sampai tentang rekayasa kecelakaanku yang membuat Alluna, mau mengikuti nya untuk menemuimu.”
Lukman terdiam. Ia begitu tak menyangka bahwa Alluna mampu membuat Sagi bertindak gila untuk memilikinya.
“Kau tidak tahu apa yang bisa di lakukan seorang lelaki yang jatuh cinta.” kekeh Andrew seolah tahu jalan pikiran Lukman saat ini, “semua salahku. Andai aku tak membawa Alluna ke pertemuan keluarga. Ia tak akan bertemu Sagi, dan Sagi tetap akan menjadi keponakanku yang baik. Mungkin — ku rasa.”
Andrew kembali menatap Lukman, kali ini dengan pandangan yang siapapun tahu jika lelaki itu tersakiti dan tampak putus asa. “Bisakah kau membuat Luna kembali mengingatku?! Ku mohon”. Pinta Andrew dengan suara melirih. Air matanya bahkan terjatuh tanpa sadar, membuat Lukman benar-benar merasa buruk. Namun ia tak merasa terkejut sama sekali dengan permintaan Andrew barusan.
“Aku sudah lama mencarimu untuk memohon seperti ini.” tambah Pria itu yang tiba-tiba saja berlutut di bawah kaki Lukman.
Hilang sudah aura mematikan dan tatapan tajam milik Pria Kilburn itu. Sekarang yang tersisa hanya lah Andrew yang rapuh.
Itu membuat Suga, Boy, dan beberapa bodyguard lainnya yang berada tak jauh dari posisi mereka, terkejut. Tak menyangka jika seorang seperti Andrew juga manusia biasa jika menyangkut tentang cinta.
“Ku mohon.”
Lukman kelabakan. Ia berusaha mengangkat Andrew kembali, “Tolong jangan seperti ini Tuan Andrew. Aku bersalah. Seharusnya aku lah yang memohon ampunan seperti ini. Bukan kau atau Luna. Tolong berdirilah kembali.”
Andrew menggeleng pelan. Ia tetap bersikukuh bersimpuh di bawah kaki Lukman, “Aku akan tetap seperi ini —”.
“Aku akan menyembuhkan nona Alluna. Ku mohon berdirilah.” potong Lukman membuat Andrew mendongak dengan senyum lebar.
“Benarkah?! ”
“Hu'um. Sebenarnya, tampa permohonanmu atau cerita yang tadi kau ceritakan — aku tetap akan menyembuhkan Luna. Karna dia telah menyelamatkan anakku.” senyum Lukman yang membuat Andrew terharu.
.
.
End.
tunggu extranya ya! terimakasih sudah berkenan hadir.. 😘
__ADS_1