
Warning!!!
******************
Happy reading
*****************
“Ugh!”
Luna mengerang ketika Andrew mempermainkan bagian tubuh atasnya dengan gerak teratur penuh perhitungan. Matanya terpejam dengan jemari meremas seprai dibawahnya kuat. Andrew yang melihat itu pun tersenyum tipis seraya menaikkan tubuh untuk sekedar mengecup kening Luna serta menghapus peluh di wajah serta leher putih yang telah penuh oleh tanda cinta darinya tersebut.
“Kau menyukainya?!” bisik Pria itu di telinga Luna. Gadis itu seketika mengangguk malu-malu yang terlihat begitu menggemaskan dimata Andrew, “Sebut namaku jika begitu.” bisik Andrew lagi, suaranya terdengar parau dengan mata menggelap karna gemeletup gairah yang begitu besar.
"Andr ahk... Andrewh ahk.. - ahk...ahk..ahk..mmph"
"Yaa~ terus panggil aku seperti itu, sayang**." senyum Andrew sembari menyembunyikan kepala di ceruk indah milik Luna. Ia pun semakin mempercepat tempo penyatuan mereka yang membuat ranjang berukuran besar itu berderit heboh menambah panas suasana.
“And ahkk..” mohon Luna yang tak di dengar oleh Andrew. Lelaki yang lebih tua darinya itu terus menghantam habis-habisan spot ternikmat Luna dengan gerakan cepat.
"Ahk..ahk..Omh.. ahk.. AKH!!! ".
"AKH!!! ".
Luna terbangun dengan tubuh menggelinjang hebat. Sementara badannya penuh dengan keringat. Ia memijit pangkal hidungnya pelan, "Sial! Bagaimana bisa aku bermimpi bercinta dengan lelaki tua itu!?” umpat Luna tak habis pikir.
Namun wajahnya tiba-tiba memanas ketika membayangkan ciuman hangat serta jari-jari lincah milik Andrew yang berada di dalam tubuhnya. Tangannya secara reflek terangkat untuk memegang bibir cerry nya yang terasa membengkak.
"Tapi ciumannya terasa sangat berbeda dengan malam dimana ia memperkosaku. Ini lebih lembut dan menggairah - Ah. “Alluna! Apa yang kau pikirkan!?” teriaknya dengan memukul kepalanya kuat.
"Aku pasti sudah gila!" teriak Luna lagi dengan memukul pelan bibir sexynya.
***
Paginya, Luna berangkat kerumah sakit dengan wajah memerah. Ia masih terbayang akan adegan panasnya bersama Andrew semalam. Padahal itu hanya berada di dalam mimpi tetapi tetap saja bisa membuat seorang Alluna Viviane merasa malu.
“Selamat pagi Dokter.”
Luna menghentikan langkah kakinya ketika melihat Syamsul yang sekarang tengah tersenyum tampan kearahnya. Lelaki itu tampak segar dengan seragam Dokter yang telah melekat pas di badan atletis miliknya. Jangan tanyakan mengapa Luna bisa tahu badan Syamsul tampak atletis, itu karna kemeja Pria itu selalu tampak mengetat sehingga Luna dapat menebak otot-otot di dalam sana.
“Selamat pagi juga Dokter.” senyum Luna.
Setelah itu mereka pun berjalan beriringan dalam diam. Luna yang masih terpikirkan mimpinya semalam sementara Syamsul memikirkan bagaimana cara mengajak Luna berbicara secara natural.
__ADS_1
“Hm, apa pekerjaanmu sangat banyak hari ini Dr. Luna?! ”
Luna menoleh. Ia menatap Syamsul beberapa detik sebelum mengangguk. “Ya. Aku ada operasi besar.” ujarnya memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tanggannya, “sekitar satu jam dari sekarang.” tambah Luna membuat Syamsul menganggukkan kepala.
“Aku tak ada operasi hari ini.” jelas Syamsul tanpa di minta.
Luna hanya membalasnya dengan kekehan ringan. Ia baru saja ingin membalas perkataan Syamsul ketika ponsel di sakunya bergetar. Setelah mengisyaratkan jika ia akan menerima telepon sebentar kepada Pria itu, Luna pun dengan segera menggeser tombol hijau di layarnya.
“Hallo.”
📞“Sayang. Kau dimana sekarang?! ”
Dahi Luna mengernyit, namun ia tetap menjawab pertanyaan dari Andrew. “Aku berada di rumah sakit. Kenapa Oom bertanya?!”
📞“Aku melihatmu. Berjalan sambil tertawa bersama pria lain. Apa kau ingin menerima hukuman dariku?!”
Oh Tuhan! Luna memutar bola matanya jengah.
“Kau mengikutiku!? ”
Andrew terkekeh renyah di seberang sana membuat Luna menggertakkan giginya, 📞“Aku hanya tak ingin mengulang kesalahan yang sama, sayang. Menjauhlah dari lelaki itu, ku lihat dia menyukaimu.”
Dan setelah memberikannya sebuah peringatan, Andrew pun memutuskan panggilan mereka membuat tangan Luna mengepal. Kesalahan yang sama?! Apa maksudnya?!
“Ada apa denganmu, Al?! Wajahmu sangat merah. Apa kau demam?!” tanya Rani dengan tangan kanan memegang kening Luna. Sedangkan tangan kirinya memegang gelas kertas berisi coffee panas.
Rani sedikit memiringkan kepalanya ketika mendapati suhu tubuh Luna, “Kau tak demam.” ujarnya sembari mengambil duduk di samping Luna.
Gadis kelahiran Oktober itu menghela nafas berat dengan tangan yang mengipas-ngipas sekitar wajah dan juga lehernya. Ia masih merasa aneh dengan perkataan Andrew tadi pagi. Di tambah mimpi sialan yang tak juga di lupakannya.
“Tidak tahu! Ku rasa aku sedikit gila sekarang.” dengus Luna membuat wajah cantik Rani mengernyit.
“Kenapa kau berkata seperti itu, Al?! Apa operasi Ny. Ahn tidak berjalan lancar?! ”
Luna menggeleng lesu, “Operasinya berjalan sangat lancar. Hanya saja akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan hati dan pikiranku.” jelas Luna membuat Rani mengangguk.
“Kau harus mencari tahu apa penyebabnya. Jika tidak itu akan membuatmu stres. Kau mau ku beri kontak Sean?! Dia adalah salah satu Dokter psikolog yang bagus.” tawar Rani.
Luna menggeleng lagi, “Aku tahu penyebabnya. Tetapi aku tak mengerti alasan apa yang membuat aku selalu merasa aneh. Awalnya ku kira aku membencinya. Namun setelah pertemuan kami yang berulang-ulang entah kenapa aku tak lagi merasa ada yang salah dengan itu. Aku merasa jika memang seharusnya begitu. Entahlah!” pekik Luna menjambak rambut coklatnya.
Rani terkekeh lembut, ia memegang bahu sang sahabat pelan. “Jika kau merasa aneh tentang seseorang, bisa jadi itu adalah sebuah ketertarikan. Kau mungkin sudah merasa nyaman dengan keberadaannya meskipun kau selalu berusaha menolak itu.” jelas Rani membuat Luna terdiam.
Benarkah?!
__ADS_1
***
Luna mengumpat pelan ketika melihat Sagi yang sedang berjalan kearahnya. Bukan apa-apa, lelaki yang pernah singgah di hatinya itu tengah menggandeng Syailea sang Kakak. Sekarang adalah pesta pertunangan mereka, sebelum pesta pernikahan mereka yang akan di adakan 3 hari lagi.
"Adik ipar." sapa Sagi dengan senyum aneh. Ia memperhatikan penampilan Luna dari atas ke bawah dan merasakan detak jantungnya yang menggila.
Ada apa dengan jantungku?! Batin Sagi diam-diam mengangkat tangan untuk memegang letak jantungnya yang berdetak kencang. Sementara Lea yang berada di sebelahnya mendengus samar sembari membuang pandang.
Melihat itu Luna pun meringis. Dengan sedikit membungkukkan badan, gadis itu pun memberi salam kepada sang Kakak. "Selamat. Aku turut bahagia atas pertunangan kalian." ujarnya tulus.
Namun tak begitu di mata Lea. Bagi Lea, Luna masihlah menjadi benalu di antara dirinya juga Sagi.
"Terimakasih." kata Sagi melirih.
Entahlah, ia tak merasa bahagia melihat senyum Luna ketika mengucapkan selamat kepadanya dan juga Lea. Padahal Lea adalah calon istrinya - gadis yang di cintainya.
Cinta?! Ya, begitulah perkataan semua orang ketika ia baru saja membuka mata setelah mengalami kecelakaan. Ia hampir meninggal saat itu, bersyukurlah masih ada keajaiban untuknya.
"Oh. Kalian di sini."
Luna menoleh cepat ketika mendengar suara yang terasa sangat familiar bagi telinganya akhir-akhir ini. Matanya melebar dengan mulut menganga tak percaya. Di depannya Andrew Kilburn - lelaki di dalam mimpi erotisnya kemarin tengah berdiri angkuh dengan tatapan mata yang tak lepas darinya sedikitpun.
Kenapa dia bisa di sini!? Pekik Luna dalam hati. "Kenapa kau di —"
"Paman!" potong Sagi membuat mata Luna terbelalak. Ia menatap Sagi juga Andrew dan secara bergantian, sedangkan Andrew yang di tatap hanya tersenyum tampan dengan mengedipkan sebelah mata.
"Kalian saling mengenal?!" Sagi menatap Luna penasaran, sementara Luna masih terdiam dengan mulut terbuka. Ia terlalu terkejut mengetahui jika Oom-Oom ini adalah orang yang sama dengan yang di ceritakan Sagi dulu.
Ya, meskipun Sagi menceritakannya secara terpaksa karna Luna yang memaksa.
"Ya. Dia kekasihku." jawab Andrew dengan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Luna. "benar begitukan, sayang?!" tambah Pria itu lagi menatap Luna dengan lembut.
Luna tercekat. Ia menatap Andrew tajam, namun kepalanya mengangguk ketika Andrew membalas tatapannya dengan tak kalah tajam.
Sial.
Andrew terkekeh. Pandangnya jatuh kepada Lea yang sekarang menatapnya penuh minat. "Selamat. Aku sangat bahagia melihat keponakanku yang akhirnya akan menikah." ucap Andrew dengan senyum yang tercetak miring di wajah tampannya.
Lea maju selangkah, ia menyelipkan anak rambut kebelakang telinga, "Terimakasih Paman. Aku juga senang bertemu denganmu." ucapnya dengan suara mendayu-dayu. Luna sampai mengernyit geli karnanya.
Andrew hanya mengangguk kecil tanpa senyum, mata tajamnya kembali menatap Luna lembut. "Ayo pergi." ajaknya dengan menggandeng tangan Luna erat.
"Aku tak tahu j*lang itu bisa menangkap ikan besar! " rutuk Lea pelan. Sayangnya itu terdengar jelas di telinga Sagi. Tetapi lelaki itu hanya diam, ia masih memandang lirih punggung Luna yang semakin mengecil.
__ADS_1
Kenapa hatiku terasa sakit?!
Bersambung...