I Love You, Oom!

I Love You, Oom!
Epilog


__ADS_3

***************


***Happy reading**.


****************


.


.


.


💞Dimanapun kau berada aku akan bersamamu.


Kemanapun kau pergi aku akan pergi bersamamu.


Tersenyum setiap hari hanya untukmu dan berdoa untukmu.


Dengan memikirkanmu aku tertidur, aku membuka mata ketika kau memanggilku.


Kau melindungiku di sampingmu, kau memelukku disampingmu.


Kau adalah surgaku


Kau adalah satu untukku.


Hanya untukmu aku bersyukur, karna ada disampingmu.


Kau satu-satunya sayang.


Aku bahagia dalam dunia yang melelahkan ini hanya dicintai olehmu, saja.💞


Ailee-Heaven**.


.


.


.


6 bulan kemudian...


Luna terbangun ketika hidungnya mencium sesuatu berbau harum. Membuka mata malas, pandangnya jatuh kearah samping ranjang yang telah kosong.


“Kemana dia?! ”. Gumam Luna mengernyitkan dahi.


Ia melirik jam dinding sekilas, sebelum mendudukkan diri, membuat selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya melorot turun hingga batas perut. Dinginnya Ac langsung menyapa kulit Luna, membuat gadis itu tersadar jika ia tak memakai apapun lagi di balik selimut tebal itu.


“Aisht! ”. Umpatnya bergegas melilit kembali selimut tadi ke tubuhnya.


Bau masakan yang semakin menusuk hidung mancungnya, membawa langkah kaki Luna menuju dapur. Sesampai di dapur, ia pun tersenyum manis ketika mendapati punggung kekasihnya yang tengah sibuk dengan apron biru laut menggantung di leher.


“Sayang.” panggil Luna serak.


Andrew yang baru saja selesai menuang cream pasta ke dalam piring itu pun seketika menoleh dengan senyum merekah lebar. Namun, ketika matanya melihat penampilan aneh Luna di bibir pintu, alisnya malah menukik tinggi. Bagaimana tidak?! Seluruh tubuh gadisnya itu berbalut selimut serupa kepompong. 


“Apa temamu pagi ini, sayang?! Kau sudah seperti kepompong saja.” celetuk Andrew terkekeh membuat Luna cemberut. Gadis itu memalingkan wajah ketika Andrew menyuruhnya mendekat dengan isyarat tangan.


“Aku tak melihat pakaianku ketika bangun tadi. Kau mencampakkannya terlalu jauh.” cibir Luna yang di balas tawa renyah oleh Andrew.


Pria itu pun mengingat kembali adengan panas mereka semalam. “Aku tahu.. Aku bersalah, maafkan aku yaa?!” Andrew memasang wajah puppy andalannya yang selalu saja mampu membuat Luna lemah iman.


Melihat wajah merona kekasih nya itu membuat Andrew berada di atas awan. Ia pun berjalan cepat kearah Luna, lalu merengkuh pinggang gadis itu dari belakang. Tak lupa juga, Andrew mencuri kecupan kilat di pipi sang gadis. “Ayo sarapan. Aku sudah membuatkan banyak porsi untuk kita berdua. Pasta tak masalahkan?!” kerling Andrew menggoda Luna, “Kau harus mengisi kembali tenagamu yang hilang karna semal—”


“Oom!”. Pekik Luna memotong cepat perkataan Andrew dengan wajah merona panas yang telah menjalar dengan cepat ke cuping serta leher putihnya.

__ADS_1


Luna jadi teringat betapa liarnya ia semalam karna baru saja bertemu Andrew lagi. Kekasihnya itu sudah pergi selama sebulan karna masalah pekerjaan yang memang tak bisa di tinggal. Tadinya Andrew juga mengajaknya untuk ikut. Namun ide cemerlang kekasihnya itu tertelan bulat bulat ketika Lea menyampaikan petuahnya.


Kakak kekasihnya itu memang sudah seperti emak-emak saja, dan sialnya Andrew baru mengetahui itu setelah kepura-puraan mereka berakhir 6 bulan yang lalu.


“Apa sekarang kau sedang malu, sayang?! Oh ayolah. Kau tahu aku juga menyukainya.” goda Andrew lagi dengan menjilat bibir bawahnya pelan.


“Sudahlah. Jangan menggodaku terus. Aku lapar! ”. Ketus Luna berjalan cepat menuju meja makan, meninggalkan Andrew sendirian di belakang karna masih terus mentertawakannya. “Cepatlah kemari. Nanti kita terlambat datang ke acara. Mas tahu bukan, jika aku tidak mau —”.


Perkataan Luna terputus karna Andrew yang menarik lembut kepala gadis itu agar mendongak keatas untuk di ciumnya. “Jika semalam kau tak menarikku ke atas ranjang. Mungkin aku lah orang yang akan menarikmu ke atas ranjang, Alluna Viviane.” kata Andrew lembut setelah ciuman mereka terlepas.


Luna terdiam dengan wajah merona merah, membuat Andrew mengecup leher putihnya karna merasa terlalu gemas. Dan setelahnya mereka pun tertawa bahagia sembari menghabiskan sarapan pagi bersama.


***


Gerutuan kesal pengantin wanita bergaun putih itu, membuat beberapa tamu mengerutkan dahi bingung. Sementara mempelai pria di sebelahnya, sibuk merangkul hangat bahu wanita yang beberapa menit tadi telah resmi menjadi istrinya itu.


“Sudahlah sayang. Mungkin saja mereka memang terjebak macet.” ucap pria dengan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya, mencoba meyakinkan sang istri dengan alasan yang tadi sempat mereka terima.


Mendengus keras, “Aku tidak akan mempercayai alasan klise seperti itu, Roy! Aku tahu bagaimana si tua Andrew jika menyangkut tentang adikku.” cibir wanita itu yang adalah Lea.


Benar juga. Aku Roy dalam hati sembari mengangguk anggukkan kepalanya pelan. Namun lelaki itu memilih bungkam ketimbang semakin membuat istri cantiknya merajuk.


Hari ini adalah pesta pernikahan kali ke dua bagi Lea dengan mempelai pria yang berbeda. Setelah menunggu hampir 4 tahun, akhirnya ia bisa menikah juga dengan pujaan hatinya itu.


Penantian panjang yang berbuah manis.


“Bagaimana jika kita mulai saja acara pelemparan bunganya tanpa me—”.


“Kau gila, Roynald?! Apa kau ingin kita segera bercerai?!” potong Lea dengan pekikan keras.


Ia menatap sang suami tajam, yang langsung membuat Roy menggeleng kelabakan. “Tidak sayang. Aku bersalah, jangan mengatakan itu! Ku mohon”. Lirih Roy menggenggam cepat jemari lentik milik Lea. Selanjutnya lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu pun mulai memukul pelan bibirnya sendiri.


Lea menipiskan bibir melihat tingkah Roy saat ini. Ia mungkin kesal karna perkataan Suho barusan, namun juga tak bisa memusuhi leleki itu terlalu lama. “Aku ingin Luna lah yang menerima buket bunga pengantin kita. Mereka harus segera menikah, sebelum Adik cantikku itu lebih dulu punya anak padahal aku lah yang duluan menikah.” sambung Lea tak lagi ketus.


Lebih baik begini dari pada kata cerai. Itu sungguh sebuah— mimpi buruk.


.


.


.


“Maafkan aku mbak. Tapi kami benar-benar terjebak macet.” ringis Luna ketika baru saja tiba dan langsung mendapati tatapan tajam dari sang kakak.


gadis yang lebih tua dua tahun dari luna itu pun mendengus keras, “Aku terpaksa menunda acara pelemparan bungaku karna kalian. Waktu ku terbuang! Dan semua tamu menunggu begitu lama. Belum lagi —”.


“Aku akan meminjamkan jet pribadi ke maldives untuk honeymoon kalian nanti.” potong Andrew membuat sebelah alis Lea menukik tinggi.


Penawaran menarik.


“Juga hotel dengan fasilitas mewah. Di tambah semua biaya hidup kalian selama di sana — penuh!” tambah Pria itu lagi membuat Lea tersenyum lebar. Wanita itu melirik kearah Roy yang juga ikut tersenyum tak kalah lebar darinya.


“Apa itu cukup?! ”.


Pasutri itu pun mengangguk serempak dengan binar kelewat bahagia. Sementara Luna di samping Andrew masih menganga lebar. Apa Pria itu baru saja menyogok kakaknya saat ini?! Dan sejak kapan kakaknya itu menjadi begitu mudah menerima sogokan.


Heol.


Luna sungguh tak percaya. Ia pun seketika melirik Andrew tajam. Sementara Andrew yang ditatap hanya terkekeh sembari mengerling penuh goda. Sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung sejak 6 bulan lalu selain kata I love you setiap hari. Pria itu mengatakan menyesal karena tak begitu sering mengucapkan kata sakral itu dahulu.


“I love you, Al.” senyum tampan Andrew membuat wajah Luna merona merah bak kepiting rebus. Ia pun dengan cepat menyikut perut Andrew membuat Pria dewasa itu seketika mengaduh dramatis.


Ia terlalu malu jika Andrew sedang dalam mode menggemaskan seperti ini. “Jangan menggodaku lagi, mas! ”. Luna berbisik pelan.


Andrew merangkul bahu Luna sembari tersenyum tampan, “Aku sedang tak menggodamu, sayang.” katanya membela diri.

__ADS_1


.


.


.


Luna berdiri malas di samping Andrew yang memasang ekspresi sama dengan kekasihnya itu. Tadinya, mereka tengah menikmati kudapan manis, sebelum Lea datang dan langsung menyeret keduanya untuk ikut serta dalam pelemparan bunga.


“Akan ku hitung dari sekarang yaa.” girang Lea.


Ia melirik sekilas kearah Luna sembari mengerlingkan sebelah mata penuh misteri yang akhirnya membuat Luna mau tak mau tersenyum juga.


Ia mengetahui rencana Lea.


Hidup selama hampir setengah hidupnya membuat Luna dapat mengetahui jalan pikir Lea. Gadis itu ingin jika ia lah yang mendapatkan buket pengantin tersebut agar bisa segera menyusul ke pelaminan.


Lea begitu percaya pada mitos, menurutnya. Bahwa setiap wanita maupun pria yang menerima buket pengantin akan segera menyusul dalam waktu dekat. Padahal menurut Luna sendiri, jika memang sudah berjodoh, dengan atau tanpa mendapatkan buket pengantin itu, seseorang juga akan menikah pada waktunya.


Namun sekarang Luna malah berdiri bersama Andrew di barisan paling depan setelah mendapat ancaman dari Lea, seperti orang bodoh. Tetapi gadis itu cukup bersyukur karna Lea selalu menjalankan perannya sebagai kakak dengan baik. Gadis itu mengorbankan segalanya hanya untuk melindunginya dari orang jahat.


“Sepertinya kakakmu terlihat begitu antusias.” cibir Andrew berbisik di telinga Luna.


Gadis itu pun mengulas senyum segaris. Ia melihat bagaimana tawa bahagia sang kakak ketika Roy datang dan ikut memegang buket bunga pengantin mereka. “Eoh. Dia benar-benar tampak mencurigakan.” timpal Luna ikut berbisik di telinga Andrew.


“Menurutmu begitu?!”.


Luna lantas mengangguk antusias dengan senyum terkulum, membuat Andrew ikut memasuki permainan gadis itu sembari meletakkan jemarinya di bawah dagu, seolah tengah memikirkan sebuah rencana besar. “Bagaimana ini?! Apa kita kabur saja, diam-diam?!” timpal Pria itu membuat Luna terbahak heboh.


Jika mereka kabur sekarang, Luna yakin jika Lea tak akan pernah merestui dirinya bersama Andrew nantinya.


“Apa kau siap jika nanti mbak Lea tak merestui hubungan kita?! ”. Tanya Luna geli.


Andrew mendesah lelah. “Kau benar. Lebih baik menunggu sampai acaranya selesai dari pada kehilanganmu. Jujur aku sudah tak sanggup lagi, Al.” sendu Andrew lirih.


Tawa renyah Luna seketika terhenti. Ia ikut menatap sendu kekasih tampannya itu. “Aku juga tak bisa jika tak bersamamu, Oom.” bisiknya, membelai sebelah pipi Andrew, “Aku benar-benar mencintaimu!” lanjut Luna membuat Andrew tersenyum manis.


Dadanya terasa penuh sekarang. Ia merasa seperti ribuan kupu kupu di dalam perutnya tengah berdesakkan ingin keluar. Terbang bebas dan lepas.


Andrew mengunci pandang dengan Luna dan seketika itu pula suara ribut di sekeliling mereka menghilang begitu saja. Hanya ada suara degupan keras jantungnya yang dapat Andrew dengar sekarang. Perlahan wajahnya semakin mendekat kearah Luna. Kekasih cantiknya itu pun sudah menutup mata, menunggu belaian lembut bibir Andrew menyapa bibirnya. Namun —


“LUNA BUNGANYA!!! ”.


— pekikan Lea membuat keduanya terlonjak dan secara reflek meloncat untuk menangkap sesuatu yang kini tengah melaju cepat kearah keduanya.


“Apa kau baru saja menangkap bunga itu, sayang?! ” tanya Andrew linglung. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi sekarang.


Pupil Luna mengerjap beberapa kali sebelum menoleh kearah Andrew, lalu kembali menatap buket bunga di tangannya. “Eoh. Sepertinya begitu, mas.”


Mereka masih di landa kebingungan ketika beberapa orang di samping, mulai silih berganti menyalami keduanya. Pun ketika Lea datang dan langsung memeluk Luna erat. “Akhirnya aku bisa tenang sekarang — kalian akan segera menikah. Ashaaaa!!!” girang Lea melompat - lompat heboh.


Sementara Roy di sebelahnya hanya bisa meringis meminta maaf karna keaktifan istrinya itu. Namun lelaki tampan itu cukup bahagia karna semuanya telah berakhir sempurna.


Tuhan memang tak pernah ingkar janji. Jika sudah berjodoh, mau itu manusia atau iblis sekalipun, tak ada yang bisa memisahkan kekuatan cinta sejati.


***


The End.


(Aku bahagia, dalam dunia yang melelahkan ini, hanya di cintai olehmu saja.)


...


**Terima Kasih atas dukungan teman-teman semua untuk cerita ini. Aku sangat senang dan terharuuu! 😘


(btw, ini masih ada satu part terakhir yaa! Bonusss**..)

__ADS_1


__ADS_2