
***************
Happy reading
****************
.
.
.
Luna sengaja mengabaikan panggilan Dokter Han ketika gadis itu berlari kencang melewati koridor rumah sakit. Masih ada operasi darurat yang harus di tanganinya setelah meminta izin untuk menemani sang kakak fitting baju pengantin.
Ah, rasanya masih terdengar menyebalkan! Rutuk Luna.
Ngomong ngomong masalah tadi, Luna jadi teringat hal tersial lainnya. Ia terpeleset dan hampir tenggelam. Beruntung ada lelaki berpenampilan necis yang menyelamatkannya. Namun, rasa terimakasihnya menguap ketika mengetahui jika lelaki itu adalah stalker.
Bagaimana tidak?!
Lelaki itu mengetahui nama Luna, di mana gadis itu tinggal, apa pekerjaannya. Dan yang lebih penting - lelaki itu bahkan mengetahui ukuran dadanya. Holly shit!
Luna memilih pergi, namun lelaki yang Luna ketahui bernama Andrew Kilburn itu berteriak jika mereka akan segera bertemu lagi. Luna hanya membalas dengan acungan jari tengah kemudian menyetop taksi. Entahlah, meskipun telah di selamatkan oleh Pria yang tampak seksi dengan rambut basah itu, Luna tak merasa harus berterima kasih.
"Selamat pagi Dokter cantik." sapa seorang pasien berumur 10 tahun ketika Luna memasuki ruangan khusus operasi dengan menenteng sebuah map di tangannya. Ia pun di ikuti seorang suster muda yang membantu membawa perlengkapan Dokternya dari belakang.
Luna tersenyum manis membalas sapaan hangat dari Ilyas. Tangannya pun telulur untuk membelai pipi putih milik anak kecil tersebut. Pembawaannya yang tenang dan hangat membuat orang-orang di sekelilingnya merasa sangat nyaman. Menjadi Dokter termuda di usia 22 tahun membuat Luna sering di pandang sebelah mata. Namun gadis kelahiran oktober itu mampu membuktikan jika ia layak dengan sebidang prestasi.
"Selamat pagi juga, tampan. Kamu terlihat ceria sekali hari ini."
Ilyas tersenyum tiga jari memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Harus ceria dong Dok, kan aku mau sembuh." ucapnya menangkap tangan nakal Luna di pipinya.
Melihat senyum Ilyas membuat sudut mata Luna memanas. Ia sangat bertekat untuk menyembuhkan penyakit Ilyas. Seharusnya di usianya yang begitu belia, Ilyas bisa bermain dan berlari seperti teman sebayanya yang lain. Namun karna penyakitnya tersebut hal itu hanya menjadi sebuah mimpi indah bagi seorang Ilyas.
"Benar!" senyum Luna, ia pun menoleh kearah suster yang sedari tadi setia berada di sisinya. "Sus, tolong suntikkan anastesi ke infus Ilyas ya." ucap Luna lembut namun sangat tegas.
Suster itu mengangguk sekilas, "Baik dok." balasnya langsung melaksanakan perintah dari Luna tadi.
Luna tersenyum lagi kearah Ilyas yang sekarang terlihat sedikit tegang. Ia pun menggenggam jemari mungil Ilyas pelan sembari berucap lirih di dekat telinga anak itu. "Kita akan segera bertemu lagi dan pada saat itu terjadi, kamu sudah harus sembuh!" kata Luna sambil memandang kedua mata Ilyas yang perlahan mulai tertutup akibat pengaruh anastesi.
__ADS_1
.
.
.
Akhirnya operasi transplantasi paru-paru dari donor hidup pertama di Indonesia akan segera berlangsung. Tim operasi dibagi menjadi dua. Dokter Syamsul bersama dan Dr. Robert bertanggung jawab atas operasi Ilyas, sedangkan Luna dan asistennya Dr. Ahn menangani pendonor.
Dokter Syamsul menginstruksikan dr. Robert untuk mengangkat paru-paru sebelah kiri sementara ia akan mengangkat yang sebelah kanan. Setelah semua siap, operasi pun dimulai. Kedua tim harus menyelaraskan waktu operasi agar transplantasi bisa dilaksanakan tepat pada waktunya.
Dr. Syamsul yang sedang mengoperasi sambil sesekali mengajarkan sesuatu pada Robert, tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh pada warna dinding arteri milik Ilyas. Ternyata disana ada pembekuan darah, padahal dari hasil CT Scan tidak ada masalah apapun.
Arteri Pulmonalis nya retak-retak dan Dr. Syamsul memutuskan agar operasi segera dihentikan. Ia meminta agar Luna segera di beritahu.
Kedua tim pun menjadi panik. Setelah mendapat kabar dari Dr. Syamsul tersebut, Luna pun menghentikan sementara operasi dan segera bergegas ke ruangan sebelah. Disana ia melihat Dr. Syamsul yang juga terlihat panik.
"Ada apa?! "
Dr. Syamsul melirik Luna sekilas kemudian menjelaskan bagaimana kondisi Ilyas saat ini. "Kondisi arteri sangat tipis dan mudah sekali retak. Jika kita tetap memaksa agar transplantasi terus dilanjutkan maka bisa terjadi perpecahan."
Luna menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap fokus ke layar tempat di mana kondisi arteri milik Ilyas berada.
"Apa yang kau pikirkan Dokter!? Aku tahu bagaimana pentingnya operasi ini untukmu, tetapi ini masalah nyawa! Kau tidak bisa bertindak sesukamu saja! " desis Syamsul dengan tatapan tajam.
Luna memutar bola mata jengah, "Aku tidak bertindak sesuka ku Dr. Syamsul yang terhormat! Aku juga memikirkan keselamatan mereka. Maka dari itu aku mengatakan operasi ini tetap bisa dilakukan."
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Alluna!" geleng Syamsul sambil melihat ke arah tubuh kaku Ilyas di atas bangkar. "Kau lihat?! Terjadi pendarahan dari internal paru-paru nya. Kita tidak bisa melanjutkan operasi!" pekik Syamsul keras membuat beberapa orang di sana menjadi panik. Termasuk pula Dokter Han dan asisten Direktur.
Syamsul menatap Luna menilai. Ia pun pernah mendengar desas desus tentang kesuksesan Luna selama ini dan mungkin itu pula yang membuat gadis itu merasa sombong.
Ditatap sedemikian rupa oleh Syamsul membuat Luna mendadak kesal. Namun ia tetap berusaha berpikir secara logis. "Jika operasi ini dihentikan, tak ada jaminan Ilyas akan tetap selamat. Jadi kenapa kita tak mencoba beberapa persen kemungkinan ini bisa berhasil?!" jelasnya.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu selama operasi?!" keukeuh Syamsul yang tetap pada pendiriannya.
"Aku yang akan bertanggung jawab. Penuh!" tekan Luna tegas dan yakin.
Robert menatap Luna kesal. Ia tak ingin terjadi apa apa pada gadis itu, "Dokter Han, bisakah kau meminta Luna untuk tak menjalankan operasi?! " mohon Pria yang berselisih dua tahun dari Luna itu.
"Percuma saja, dia tidak akan mendengarkan ku jadi percayakan saja semua pada kemampuan Dr. Alluna." balas Dr. Han lagi.
__ADS_1
Akhirnya operasi tetap dilanjutkan dengan Syamsul dan Luna yang bertukar tempat. Semua berjalan lancar selama Luna mengoperesi Ilyas sebelum darah keluar dari selang mulut anak itu. Ilyas mengalami fiblirtasi arteri dan kerusakannya sampai ke jantung. Mendengar hal tersebut Syamsul malah mengatakan jika itu terjadi karna Luna yang tak mendengar perkataannya.
"Ku mohon sayang, bertahanlah untukku." bisik Luna di telinga Ilyas sambil terus memacu jantung anak itu menggunakan sebuah alat. Ia pun terus menaikkan tekanannya.
"Ku mohon."
Detak irama jantung Ilyas pun kembali muncul, semua di buat lega tapi mereka masih terlalu shock. Selang lima jam kemudian, akhirnya mereka semua berhasil. Tinggal menunggu reaksi tubuh Ilyas dengan paru-paru barunya saja.
Berita suksesnya operasi tersebut pun mengundang banyak mata dari publik. Apalagi semenjak Ilyas membuka mata, banyak sekali pujian yang di dapat oleh Luna.
.
.
.
Luna sedang merenggangkan otot-otot di tubuhnya ketika seseorang memanggil namanya keras dari arah belakang. Merotasi tubuh, matanya sedikit melebar ketika melihat Syamsul tengah berdiri canggung. Lelaki itu pun menggaruk tengkuknya yang Luna tebak tak gatal sama sekali, "Hm... maaf dan selamat!" Ucapnya cepat membuat Luna terkekeh.
Cantik. Batin Syamsul dengan mata mengerjap.
"Tidak masalah" balas Luna santai lengkap dengan kerlingan nakal. Melihat itu Syamsul pun tersenyum manis, "Mau ku traktir sekaleng minuman?!" tanyanya penuh harap.
Luna menggeleng pelan, "lain kali saja, saya masih ada pekerjaan." lambai gadis itu meninggalkan Syamsul yang masih berdiri ditempatnya.
***
Luna baru saja akan pulang ketika seseorang membekap mulutnya dari belakang menggunakan sapu tangan yang telah di beri obat bius. Ia berusaha meronta, namun tenaga orang tersebut begitu kuat sehingga tubuh langsingnya melemas dan langsung di masukkan ke dalam mobil.
Sebelum kesadarannya menghilang, ia bisa melihat lelaki tua tadi pagi tersenyum miring kearahnya.
"Kau tak bisa lari dari ku, Al." ungkapnya membuat Luna bergidik ngeri seketika.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1