I Love You, Oom!

I Love You, Oom!
Bagian-03


__ADS_3

*****************


Happy reading


******************


.


.


.


Luna terbangun dengan rasa sakit yang teramat di kepalanya. Gadis itu menatap liar ke seliling dan mendapati ruangan bercat hitam yang tampak begitu asing di matanya, “Dimana aku?!” lirihnya pelan.


Tak ada siapun selain dirinya di sini.


Kakinya baru saja akan turun ketika pintu bercat coklat tersebut dibuka dari arah luar, “Kamu sudah bangun, honey.” sapa suara itu membuat Luna berdecih.


“Hei. Apa kau begitu merindukan ku?!” tanya suara itu lagi dengan percaya diri sembari berjalan mendekat kearah Luna.


“Oom, kenapa menculikku?! Aku tak akan laku jika kamu menjualku!” pekik Luna dengan pelototan mata kesal.


Sementara lelaki itu terkekeh renyah. Ia menyentuh wajah Luna lembut, “Kalau begitu, biar aku saja yang membelimu.”


“Gila!” umpat Luna reflek.


Andrew terkekeh lagi, ia pun mendorong tubuh Luna kuat sehingga gadis itu kembali tertidur di ranjang. Dengan gerak cepat penuh perhitungan, Andrew pun melepas pakaian atasnya dan menindih tubuh Luna di bawahnya.


Mata Luna seketika melotot, “Heh! Apa yang kau lakukan!? Menjauh dariku!!! ” pekiknya dengan mendorong bahu Andrew yang semakin mendekat.


Andrew tersenyum miring dengan kepala yang telah berada di antara cerukan leher Luna. “Diamlah sayang. Memberontak seperti ini malah membuatku semakin bergairah.” bisiknya sembari mengecup cuping Luna pelan.


Luna berpaling dengan bibir bawah yang digigit kuat. Ia tak lagi mendorong bahu Andrew di atasnya karna tenaga lelaki itu lebih kuat darinya. “Aku bukan p*lacur! Tolong jangan lakukan ini, Oom.” setetes cairan bening dari sudut mata Luna jatuh secara bebas mengenai punggung tangan Andrew.


Namun lelaki itu tak bergeming sama sekali. Ia meresa tak ada yang salah dengan tindakannya saat ini, “Sssstttt. Aku akan bersikap sangat lembut, jadi kau tak perlu takut. Aku juga tidak akan memintamu bangun untuk melayaniku, biar aku yang memberikan pelayanan untukmu.” senyum Andrew dengan satu kerlingan.


Ia pun membelai rambut Luna lembut lalu menyesap aroma Vanilla dari rambut gadis itu dalam dalam.


Luna merinding. Ia menatap mata hitam pekat milik Andrew sekali lagi, “Menjauh dariku atau kau akan ku buat mati secara mengenaskan!” teriak Luna penuh ancaman.


Ia memang bertekad untuk menyewa beberapa pembunuh bayaran jika Andrew berani menyentuhnya.


Andrew terkekeh lucu, “Sebelum kau membuatku mati secara mengenaskan, biarkan aku membuatmu merasakan kenikmatan yang mematikan terlebih dahulu sayang.” ucap Pria itu penuh tekad sembari menjilati bibir bawahnya sendiri dengan gerakan menggoda.

__ADS_1


“Gila! Berhenti. Aku akan memotong lidahmu jika — ahhhh”


“Memotong lidahku?! Kalau begitu banyak kenikmatan yang tak bisa kau rasakan nantinya. Biarkan aku membuatmu merasakan nikmat dunia malam ini. Oh ya, jangan berani untuk melupakan itu!” tegas Andrew lagi.


Setelahnya Pria itu benar-benar membuktikan perkataannya tadi.


.


.


.


“Dasar b*rengsek! ” maki Luna keras, “dia memp*rkosaku!” lanjutnya lagi dengan tangan terkepal setelah melihat ke dalam selimut dan mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


Tangisnya pecah. Tak terbayang jika hal yang di jaganya selama ini di renggut paksa oleh seseorang yang tidak ia kenal sama sekali. Dengan tangan yang semakin mengepal kuat, Luna memungut ceceran pakaian miliknya yang masih berada di atas ranjang lalu memakainya dengan cepat. Gadis itu tertatih saat akan menuruni ranjang, ia bertekad akan membunuh Andrew detik ini juga. Namun Luna kembali terduduk di ranjang empuk tersebut dengan ringisan perih akibat rasa sakit yang berasal dari pangkal pahanya.


Sial.


Umpatnya sembari memukul udara. “Apa salahku?” tanya nya pada ruang kosong yang penuh akan barang mewah tersebut.


Mengatur pernafasannya berulang kali, Luna pun kembali mencoba untuk berjalan meskipun dengan langkah yang di seret.


“Selamat pagi, nona.” sapa beberapa maid ketika Luna membuka pintu.


“Di mana lelaki tua itu!?”


“Maaf nona. Master berpesan agar nona tinggal dengan tenang saja disini. Beliau akan menjenguk nona nanti.”


Sialan!


“Aku ingin bertemu dengannya. Jika tidak, biarkan aku pergi!”


Setelah mengatakan kalimat panjang tersebut, beberapa Pria berbadan tegap pun menghadang langkah Luna yang ingin keluar. Gadis itu menelan salivanya berat.


“Mi-minggir!”


“Silahkan kembali ke kamar nona, sekarang.” ucap salah satu dari bodyguard itu.


Meski merasa sedikit takut, Luna tetap mengangkat kepalanya tinggi. “Aku ingin kelu—ar!!! Lepas. Turunkan aku!!! ” ronta Luna ketika badannya telah terangkat tinggi. Bodyguard itu memanggulnya dan langsung menguncinya di dalam kamar.


Luna terus menggedor pintu itu kuat namun tidak ada respon dari orang luar, seolah memang tak ada orang di sana. “Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini?!!” jeritnya terus menggendor pintu dengan kuat.


“Nona, sebaiknya anda berhenti memberontak. Itu hanya akan menyakiti diri anda sendiri.” peringat suara maid melirih. Ia tak ingin Luna terluka karna hal tersebut nantinya akan menyulut kemarahan sang Tuan.

__ADS_1


Luna mendengus, ia baru saja ingin kembali menggedor pintu ketika irisnya menangkap sebuah barang yang ia kenal. “Tas ku! ” bisiknya pelan lalu berjalan tergesa-gesa kearah meja di samping ranjang. Ia ingin mencari ponselnya untuk meminta pertolongan.


“Ah. Batrainya hampir habis!” lenguh Luna, namun tangan lentiknya dengan segera mengetikkan sebuah nomor secara lihai yang sudah di hapalnya di luar kepala.


“Ku mohon, angkatlah!” Luna menggigiti kuku-kukunya pelan ketika mendengar nada sambung tapi tidak kunjung di angkat.


📞“Hallo! Siapa ini?!”


“Ini aku — Alluna.” ucap Luna tergesa. Sesekali netra beningnya menatap takut ke arah pintu. Di seberang sana terasa hening. Membuat dahi cantik Luna mengernyit lalu menatap layar ponsel yang masih tersambung.


📞“Ah, adik ipar. Bukankah sudah ku katakan jangan menelpon secara pribadi? Aku tidak mau membuat Lea salah paham!” ketus Sagi membuat bahu Luna luruh.


“Gi. —”


📞“Panggilan itu terdengar sangat tak pantas. Lagi pula kau adalah adik iparku!” potong Sagi masih dengan nada seketus tadi.


Menghela nafas panjang, Luna pun mengangguk. “Ya— maaf. Tapi bisakah kau menolongku untuk saat ini?! Aku tak tahu berada di mana sekarang. Kemarin aku di culik oleh seorang Oom-oom berumur 35 tahun. Tolong selamatkan aku, mereka mengancam akan membunuhku.”


Di seberang sana tawa Sagi langsung pecah seketika. Ia bahkan mengusap sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening cukup banyak. 📞“Ck. Kalau kamu benar di culik dan di ancam untuk di bunuh, maka saat itu, aku akan dengan tulus menerima jasadmu.” ungkap Sagi sinis, “Sebagai saudara iparmu, tentu saja.” tambahnya lagi.


Luna merasa sakit hati hingga tidak berasa lagi saat mendengar Sagi yang tidak akan datang untuk menyelamatkannya, entah mengapa membuat harapannya untuk hidup pun sirna seketika. Ia kira, asal memohon dengan sungguh-sungguh Sagi akan datang meskipun secara terpaksa. Ternyata Luna terlalu naif.


“Kau masih tak mengingatku?! ” tanyanya dengan suara bergetar karna menahan tangis.


Di seberang sana Sagi pun menjambak rambutnya frustasi. 📞“Alluna Viviane! Apa kau tak merasa begitu murahan, hah?! Apa mengganggu kakak iparmu seperti sekarang terasa begitu menarik bagimu!? Kau tak merasa kau begitu membosankan ya?!”


“Gi. Aku sudah berusaha dan usahaku hanya sampai di sini saja. Kalau suatu hari nanti ingatanmu tentangku kembali. Tolong— kunjungi makamku untuk sekedar menyapa.” tangis Luna mengakhiri panggilan.


Ia terisak hebat sembari menepuk dadanya kuat tanpa menyadari jika seseorang telah berdiri di balik pintu dengan menahan marah.


“Kali ini, tak akan ku biarkan lelaki manapun memilikimu lagi. Kau hanya milikku, Al.”


Sementara Sagi ditempatnya langsung terdiam. Ada sesuatu yang membuat jantungnya serasa di remas. Dan sialnya, entah mengapa ia ingin sekali menangis.


.


.


.


Bersambung...


Percakapan terakhir, terinspirasi dari sebuah mangatoon. Budayakan membaca sampai selesai ^^ 🤗

__ADS_1


__ADS_2