
Tidak butuh waktu lama bagi Regas untuk datang ke Taman Sunteo, di sini banyak warung dan pedagang asongan. Ditambah sedang hari libur kemerdekaan, tempat ini menjadi sangat ramai.
Hanya saja pemancingnya tidak banyak, setelah bertanya ternyata ada yang menangkap dua ikan aligator berturut-turut kemarin. Lalu, tidak ada bekas ikan aligator setelahnya, sehingga semua orang merasa ikan aligator sudah dibersihkan.
Regas mengerutkan keningnya, dia merasa kehilangan semangat juga.
Namun, dia harus melakukan pemindaian untuk memastikan apakah masih ada atau tidak.
“Danau buatan terdeteksi, mulai memindai ….”
“Pemindaian selesai, tidak ditemukan spesies invasif ikan aligator.”
Ternyata memang tidak ada lagi.
Regas berkata dengan kecewa, “Ayo pergi. Tempat ini sepertinya sudah bersih dari ikan aligator. Kita lihat di Taman Senopati saja.”
“Aduh, sudah seharusnya kita pergi ke tempat itu. Kamu begitu tampan, sayang kalau tidak dipamerkan di depan wanita cantik.”
“Aku berteman denganmu karena kejujuranmu.”
Setelah sampai di Taman Senopati, mereka baru sadar ternyata jalanannya macet.
“Parkir di luar saja, nanti kita jalan masuk,” saran Andy.
Satu-satunya jalan menuju taman hanya sepanjang sekitar 300 meter, tetapi penuh dengan mobil. Pejalan kaki hanya bisa berjalan di rerumputan di sebelahnya. Dibutuhkan setidaknya dua jam untuk mengemudikan mobil. Lalu lintas sangat macet dan mobil-mobil hampir tidak bisa bergerak.
Dengan kondisi ini, walaupun mereka bisa masuk dengan mobil, mereka juga harus menunggu lama agar bisa keluar. Regas tentu saja tidak akan bersikap bodoh.
Mereka akhirnya pergi makan siang dulu. Setelah istirahat sebentar, mereka pun segera kembali.
Setelah memarkir mobil di luar, mereka membawa alat pancing dan berjalan masuk.
Setelah berjalan lebih dari sepuluh menit, mereka sampai di sisi danau kecil.
Hari ini suhu di luar telah mencapai lebih dari 28 derajat.
__ADS_1
Di tepi danau, banyak gadis bermain air dengan pakaian renang, dan beberapa gadis bermain jet ski di tengah danau dengan mengenakan jaket pelampung dan memperlihatkan kaki putih ramping mereka.
Setelah mengagumi beberapa pasang kaki putih panjang, Regas kemudian menggunakan fungsi pemindaian untuk terakhir kalinya hari ini.
“Danau buatan terdeteksi, mulai memindai ….”
“Pemindaian selesai, ada tujuh ekor ikan aligator di danau buatan. Ukuran yang terbesar adalah 5,63 kilogram. Silakan Tuan memancingnya dan memusnahkannya untuk melindungi ekologi danau buatan.”
“Besar sekali. Aku tidak tahu apakah pancing lure bisa menahannya.”
Regas mengernyit, secara teori alat pancingnya bisa menangkap ikan aligator dengan berat mencapai 5,5 kilogram. Namun, kalau sampai patah, dia akan menghabiskan uang lagi.
Regas melihat kembali posisi ikan aligator ini dan menemukan bahwa mereka tidak semuanya berkumpul bersama seperti Taman Rawagun, melainkan semuanya tersebar.
Tempat permainan air sangat ramai dengan orang, beberapa tempat yang sepi juga dipenuhi oleh para pemancing.
Tiga ikan aligator berada di jangkauan para pemancing itu. Sepertinya sebentar lagi akan tertangkap. Salah satu yang terbesar juga berada di wilayah sana.
Empat ekor lainnya berada di tempat lain. Walaupun agak tersebar, tidak ada yang memancing di sana.
“Andy, aku akan pergi memancing di tempat itu. Kamu?”
“Aku sedang melihat … bukan, aku main sebentar. Aku akan pergi mencarimu setelah ini.”
“Baik.” Regas juga tidak ingin mengganggunya.
Regas pun membawa alat pancing dan berjalan jauh sendirian. Taman Senopati jauh lebih besar, kali ini dia harus berjalan kaki sekitar 20 menit sebelum sampai di titik memancing pertama.
Ketika Regas akan mengeluarkan umpan pancingnya untuk memancing, terdengar suara musik gitar yang familier.
"Tidak mungkin begitu kebetulan, kan?"
Regas yang terkejut kembali meletakkan alat pancing di punggung, lalu mulai mencari dengan penasaran.
Melewati hutan bambu, Regas melihat tiga orang yang familier di depan taman bunga.
__ADS_1
Karena lokasinya yang relatif jauh dan pengambilan video yang baru saja dimulai, tidak ada penonton di sekitar mereka. Jadi, Regas yang muncul tiba-tiba menjadi sangat mencolok.
Merysa yang sedang menari langsung menyadari Regas. Ketika melihat Regas mendekat, dia pun berhenti karena merasa malu.
Setelah Merysa berhenti, Yanti yang sedang bermain gitar juga ikut berhenti dan Hanna yang juga sedang merekam.
Setelah melihat tatapan Merysa, dia juga menyadari kehadiran Regas.
…
Para wanita itu berhenti dan memandangnya serempak, tetapi Regas tidak merasa malu sama sekali. Namun, dia malah melambaikan tangannya untuk menyuruh mereka lanjut.
"Jangan berhenti, teruskan, aku hanya melihat-lihat saja."
“Lihat apa?” Merysa yang merasa malu langsung memelototinya.
“Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, lanjutkan merekam videonya,” kata Regas.
Ketika melihat Regas berjalan pergi, Merysa buru-buru bertanya, “Halo, apakah kamu orang lokal?”
“Ya, kenapa?”
"Kalau begitu, bisakah kamu menjadi pemandu kami? Besok kami ingin pergi ke gunung untuk berwisata, tapi kami tidak tahu tempat mana yang menyenangkan. Kami akan mentraktirmu makan malam."
Menjadi pemandu?
Regas tidak terlalu tertarik, setelah memancing ikan aligator hari ini, dia harus menangkap ikan mas bahkan menggali cacing laut besok.
Dia harus mendapatkan banyak uang untuk meningkatkan peralatannya lebih awal. Dia bahkan ingin membeli perahu kecil untuk memancing di laut.
Sebagai warga lokal, Regas sudah bosan bermain di Gunung Salak, jadi dia tidak ingin pergi lagi.
“Sepertinya tidak bisa. Besok aku ada urusan lain, jadi tidak bisa pergi.”
“Gunung di samping itu tidak terlalu menarik dan sangat ramai. Kalau kalian ingin berwisata, aku sarankan kalian pergi ke dua gunung selanjutnya.”
__ADS_1
“Oke, terima kasih!” ucap Merysa dengan kecewa setelah Regas menolak untuk menjadi pemandu. Namun, dia tetap mengucapkan terima kasih dengan sopan. Bagaimanapun, saran Regas sangat berguna bagi mereka.