
Regas pertama-tama pergi ke air untuk mencuci sepatu bot dan sekopnya. Dia kemudian mengeluarkan cacing pantai dari ember dan dimasukkan ke dalam kantong. Setelah semua orang sudah selesai menjual, Regas baru pergi menjualnya.
“Berapa harga belinya?”
Ketika penjual melihat bahwa cacing laut di embernya semuanya berukuran sama, dia sedikit terkejut. Namun, dia tidak berbicara apa apa dan tampak bahagia.
“Ukurannya cukup besar. Aku akan membelinya dengan harga seratus empat puluh ribu per kilogram.”
Apakah orang ini ingin membodohinya?
Harga seperti itu masih masuk akal di musim kemarau karena harga pasar sekitar seratus delapan puluh ribu sampai dua ratus ribu per kilogram. Namun, harga sekarang sudah sangat tinggi. Regas sudah mencari tahu bahwa harga pasaran sekarang sekitar dua ratus empat puluh ribu per kilogram. Bagaimanapun, seharusnya Regas bisa menjual dengan harga seratus delapan puluh ribu per kilogram.
“Lupakan saja, barangku terlalu sedikit. Aku tidak ingin menjualnya lagi.”
Setelah berpikir sebentar, Regas tahu dia tidak akan datang menggali cacing laut dalam jangka panjang. Jadi, dia akan menjualnya sendiri saja.
Mungkin saja penjual mie mau menerimanya. Kalau tidak, Regas juga bisa menjualnya ke pasar atau dermaga.
“Hei, hei, kita bisa bicarakan lagi harganya. Aku beli dengan harga seratus enam puluh ribu per kilogram, harganya lebih tinggi dari yang lain.”
“Tidak, tidak, aku ingin makan sendiri.”
Regas dengan sopan melambaikan tangannya untuk menolak. Dia lalu membawa ember dan peralatannya kembali.
Regas pergi ke restoran mie. Hari ini dia datang lebih larut, tapi bisnisnya tampaknya masih bagus karena semua meja penuh.
Regas langsung masuk ke dapur belakang dengan ember dan timbangan elektronik. Penjual mie dan istrinya terkejut ketika melihatnya.”
__ADS_1
“Bos, belilah cacing laut ini. Aku menggalinya sendiri tadi siang.”
Penjual mie itu menyerahkan hasil masakan mie kepada istrinya, lalu berjongkok dan mengulurkan tangan untuk mengambil cacing laut yang ada di dalam ember. Semua ukuran cacing laut sama besar, kualitas seperti ini sulit ditemukan di pasaran.
Pada dasarnya ada beberapa yang kecil bercampur di pasaran, tetapi harganya juga mahal.
“Berapa harganya?”
“Aku juga menggalinya untuk uang saku tambahan. Hitung saja dua ratus dua puluh ribu per kilogram.”
Sebelum penjual mi menjawab, istrinya langsung berkata, “dua ratus dua puluh ribu per kilogram terlalu mahal. Kami akan menerimanya dengan harga dua ratus ribu per kilogram.”
“Aku tidak ingin menjual dengan harga dua ratus ribu per kilogram. Belakangan ini aku akan pergi menggalinya. Kalau kalian mau, aku akan mengantarnya lagi besok. Kalau tidak, aku akan menjualnya di pasar atau dermaga. Harga pasaran sekarang sudah mencapai dua ratus empat puluh ribu per kilogram. Paling-paling aku harus menghabiskan waktu saja.”
Sementara ini, level setiap jenis ikan terlalu rendah. Regas ingin segera menaikkan levelnya, dia tidak ingin menghabiskan waktu. Kalau tidak, dia tidak mungkin menjualnya lebih murah.
Penjual mie juga tahu dia sudah untung. Biasanya, dia juga mendapatkan harga yang sama dengan pasar dari pedagang ikan.
Lagi pula, orang lain juga ingin menghasilkan uang, jadi bagaimana mereka bisa memberinya harga murah. Paling-paling, penjual mie hanya bisa memilah beberapa barang yang lebih bagus saja.
Regas sudah menjualnya dengan harga lebih rendah dari pasar, hanya orang bodoh yang akan menolaknya.
Mereka sama-sama memiliki timbangan elektronik. Setelah menimbangnya, total beratnya sama, yaitu 1,63 kilogram dan senilai Rp358.600,-
Setelah sibuk sepanjang sore hari, Regas hanya mendapat kurang dari empat ratus ribu. Penghasilannya lebih rendah dari memancing ikan mas dan bahkan lebih cepat. Namun, Regas tidak masalah.
Bagaimanapun, level cacing laut meningkat dengan cepat. Sekarang, Regas memang hanya menghasilkan sedikit uang daripada ikan mas, tetapi tidak ada yang tahu beberapa hari lagi.
__ADS_1
Lalu, Regas juga sudah merencanakannya. Dia akan menggali cacing laut di pagi hari dan memancing ikan mas di malam hari.
Setelah kembali ke rumah, Regas sengaja datang ke halaman depan untuk melihat kucing itu. Dia menemukan kucing itu sedang tidur di pojokan. Di samping sumur masih terdapat bangkai tikus. Hanya tersisa dua kaki yang patah dan bola bulat kecil berwarna merah muda.
Sepertinya kucing itu sudah makan malam ini, jadi Regas tidak perlu memedulikannya.
Kucing itu tidak kabur saat melihatnya sekarang, tapi Regas tidak maju untuk menyentuhnya dengan gegabah, lagipula itu kucing liar, jadi lebih baik terus membangun hubungan yang baik.
Setelah melihat kucing itu tergeletak sendiri di sudut bawah atap, Regas pun berpikir sejenak. Dia lalu mencari kardus di dalam rumah, kemudian membuat lubang di sampingnya dengan gunting.
Regas lalu mencari selimut tipis untuk diletakkan di dalam kardus. Rumah sederhana untuk kucing pun selesai.
Setelah itu, dia datang ke halaman depan, lalu berjalan perlahan menuju kucing itu.
Kucing itu menyadari kehadiran Regas. Pada akhirnya, dia pun berdiri dengan waspada, tapi tidak menjauh.
“Aku membuat rumah untukmu. Mulai sekarang, kamu bisa istirahat di dalam sini.”
Regas meletakkan kotak kardus itu di sampingnya sambil tersenyum, kemudian berjalan mundur.
Kucing itu menatapnya sebentar, lalu menyentuh sarang kecil itu dengan penasaran.
Ketika ia menemukan sebuah lubang kecil, pertama-tama kucing itu menjulurkan kepalanya untuk mengamati lubang tersebut. Setelah merasa aman, ia lalu menjulurkan kepalanya ke dalam untuk mengamati sekelilingnya. Pada akhirnya, dia akhirnya berjalan masuk dengan tenang.
Kucing itu sepertinya menyukai sarang kecil itu, dan tidak butuh waktu lama untuk berbaring dan beristirahat.
Melihat hal tersebut, Regas tersenyum penuh arti. Dia lalu meninggalkan halaman depan dan pergi ke waduk untuk memancing di malam hari.
__ADS_1