
"Assalamu a'laikum Ze"
"Walaikumsalam mas, jadi kesini? bantu aku cari sumber data untuk skripsiku."
"Maaf Ze, kayanya aku belum bisa tepati janjiku. Dokter Marcel masih butuh bantuanku disini."
"Oh, yasudah"
"Maaf yah"
"Iya."
TeT
Sambungan telpon terputus, tidak ada lagi yang perlu aku bahas. lagi dan lagi dokter Marcel menjadi alasan. Sebelumnya aku tidak pernah sesensitif ini. Ini berlangsung setelah aku tahu dokter Marcel adalah seorang perempuan.
Kapan tahunya? gimana perawakannya. Kemarin pada saat kontrol tidak sengaja aku melihat Mas Faraz dan dokter itu jalan berdua, dan seorang suster memanggil perempuan itu dengan sebutan dokter Marcel. Parasnya? jangan ditanya. Biasa aja cantikan aku setengah inci. Hanya saja balutan hijab di kepalanya membuatnya lebih cantik dan berwibawa.
Ku ketik nama Ida di layar handphone
"Centong, besok aku jadi ikut kepuncak. Aku lagi prepare."
"Nah gitu donk," balas Ida.
Aku sudah terbiasa tanpa siapapun selama ini. Masa iya sekedar ke perpustakaan untuk bahanku sendiri aku begini. Jadi kuputuskan untuk tetap jalan tanpa Faraz, dengan hodie kuning dan celana putih yang senada dengan sepatuku aku berjalan keluar. Motor Schoopy-ku seolah sudah berteriak. Jalan ! Jalan!
**
"Spss Spss, mana sih?"
"Ah bodohnya aku, inikan tempat novel," gerutuku.
"Hei Ze,"
"Eh Mirna apa kabar Mir?"
Ini Mirna teman kampusku, dia pintar dan berbakat lain jurusan denganku, dia seorang ahli kimiawan, yang aku dengar dia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang meneliti tentang kimia anorganik. Dia juga pernah meraih penghargaan Nobel dan berkesempatan belajar keluar negeri selama seminggu. Kami tidak terlalu dekat, just say hello. tapi hari ini sepertinya aku tertarik mengobrol singkat dengannya.
"Baik, bagaimana skripsimu?"
Aku hanya menyunggingkan senyuman kecut kearahnya, dia tertawa. "hahahaha, belum lolos uji pasti," aku mengangguk dan duduk diantara bangku yang bersejajar searah dengan rak, dia juga ikut duduk didepanku.
"Ze, kamu pernah suka sama orang?,"
"Pernah, kenapa? kamu lagi suka sama cowok yah?" godaku. Mirna tersenyum pipinya merona. "Iya Ze, tapi aku bingung"
"Loh kenapa?" tanyaku mengintrogasi.
__ADS_1
"Dia sudah seperti kaka bagiku, aku takut."
"Takut ditolak?,"
Mirna mengangguk halus. Reflek tawaku mengglegar sampai Mirna membungkam mulutku. "Iya maaf maaf, lagian mana ada cowok yang bisa nolak kamu Mir, ada-ada aja"
"Aku orangnya tertutup Ze, baru kali ini juga aku curhat masalah cowok ke teman. Kerjaanku susah untuk bisa disambi chat atau apa, fokusku full ke hal-hal yang aku teliti."
Aku berfikir sejenak, memang susah si jadi kimiawan, sekali meleng, laboratorium bisa kebakaran. Tapikan nggak semua cowok minta kabar tiap saat. Ya kecuali cowok aneh jaman old. hiks hiks.
"ih malah cengengesan, aku serius." cletuk Mirna membangunkan lamunanku.
"Kamu kenal dia?"
"Kenalah, kalo nggak gimana aku bisa suka."
"Bukan begitu, maksudku kamu tahu sifatnya kaya gimana?."
"Tahu sedikit,"
"Kamu yakinin dulu bener nggak kamu suka sama dia, sekalian kamu cari tahu orangnya kaya gimana, jangan sampai kamu salah milih orang. Tahu-tahu dia psikopat gimana coba?"
"Ah kamu Ze, bikin takut aja. Abis itu gimana?"
"Ungkapin, jaman sekarang nggak harus ko cowok yang ngomong dulu. Cewek juga boleh. Yang penting cuma satu Mir. Cari cowok yang menerima dan mengerti hoby juga pekerjaan kita, banyak orang mau menerima tapi tidak mau mengerti Mir."
"Oh yah? terus terus?" tanya Mirna
"Entahlah aku juga bingung, kadang nyaman di perhatiin, kadang kaya sampah di anggap nggak penting. Banyak hal yang aku belum tahu tentang dia."
"Terus kamu masih mau nunggu dia?"
"Gila aja kali, enggaklah. Sembari nyelam minum air aja. hehe. Sembari nunggu, buka hati juga buat yang lain. Kali aja cucunya direktur gudang garam nglamar akukan? mana bisa aku nolak." candaku.
"Hadehh, lama Ze kayanya nunggu bintang berubah bentuk dulu."
"hahaha"
Perbincangan kami semakin seru sore ini, Mirna ternyata tidak sependiam yang terlintas dikepalaku. Dia lugu dan lucu. Kami bertukar nomor ponsel, dan hari ini kesalku karena Faraz terbayar oleh Mirna yang menemaniku.
Kling
Bunyi handphoneku berbunyi, ada pesan dari Mas Faraz "Masih di perpus?"
"Masih, ini mau pulang."
"Tunggu 10 menit lagi aku sampai,"
__ADS_1
Dia bela-belain ninggalin kerja cuma buat jemput? ah masa iya. Pikirku.
Tidak lama ponselku berbunyi, aku pamit pada Mirna. Dan bergegas lari ke halaman depan. Faraz sudah bertengger diatas motornya. "Sudah lama nunggu?" tanyaku.
"Belum, nih buat kamu?" Faraz menyodorkan ice cream rasa coklat. Ternyata dia masih ingat kesukaanku. "Suap untuk janji yang Mas cancel?" Faraz tertawa.
"Yuk pulang," baru saja ingin kuambil helm dari motor, tangan Faraz mendahuluiku. Ia memakaikan helm ke kepalaku, Ya Tuhan jantungku..
dug dug dug!
"Ze, jantungmu berdetak, kenapa aku ganteng yah?"
"Kalo nggak berdetak mati donk,"
"Jangan mati dulu Ze, aku belum siap."
"Belum siap apa?"
"Belum siap bawa mayat kamu, kan pake motor."
"Bodo amat" kataku.
"Jadi pulang nggak nih?" tanyaku, pasalnya Faraz malah bersandar di motornya. Ia menatapku intens sambil tersenyum sendiri. Aku malu, malu kalo sampai ngeces karena senyumannya. Bisa turun harga diriku.
" Yaudah kalo nggak jadi, aku masuk lagi ajah." jawabku hampir membelokan kaki.
"Yaudah ayok ayok." bujuknya.
Diperjalanan pulang suasana hening, Faraz tidak seperti biasanya, biasanya ia selalu berkicau dan mengomentari hal-hal di sekelilingnya. Mungkin dia sedang lelah.
"Ze, besok ada waktu?"
"emmm, besok aku kepuncak sama Ida sama Arni."
"Cuma bertiga?"
"Enggak, kami berangkat sama teman-teman kantor."
"Kok aku nggak diajak,"
"Mang kalo diajak mau?." tanyaku.
"Enggak sih,"
"Kenapa?"
"Karena dipuncak dingin, dan akukan belum bisa meluk kamu,"
__ADS_1
Belum bisa untuk sekarang, tapi apa bisa untuk waktu yang akan datang Mas? bisakah kita menjadi mukhrim dan berpelukan sepanjang waktu yang aku mau? bisakah aku berharap bahwa jodoh yang Tuhan siapkan itu kamu. Bisakah kamu tahu ku selipkan namamu di setiap do'a do'aku?