
Hari ini aku sangat exited, karena hari ini ada client super kaya yang menungguku. Dari pertanyaannya saja kemarin di telp sudah buatku menganga.
"Berapa harga apart yang paling mahal?."
OMG! Aku seperti orang gila loncat - loncat begini di depan cermin.
"Hei kucing besar. Hari ini aku akan berbaik hati padamu, memberimu makan sampai kenyang Ok!."
"Lihat tuh orang gila, celengan di ajakin ngobrol." Bisik Arni yang menyikut tangan Ida.
"Hei orang malas cepat bangun. Kamu tidak lupakan agenda ketemu si Mister?."
"Zea. Ini masih jam 8. Ketemu juga jam 10. Rajin banget si lo!,"
Aku membuang nafas melalui mulut. Berdiri tegap dan menyeret Arni dari kasur. "Tolong Ida. Tolong!" rengeknya memeluk Ida.
"Cepet ih!" sarkasku.
"Iya iya ! Lo bikin sandwich dulu. Baru gue siap siap."
Mataku mendelik ke arah Arni. Betapa ajaib ia langsung bangun dan masuk kamar mandi.
Aku kembali merapikan blouse biru dongker yang melekat di badanku. Berbalik badan dan mengecek bagian belakang.
"Ah masih tepos."
Padahal aku memakai short 2 lapis tapi masih begini kurusnya. Sebenarnya nasi yang ku makan pergi kemana sih.
"Jangan cengengesan." Aku mendelik pada Ida. Dia malah tertawa.
Daripada berdiam diri di depan cermin, aku memilih jalan ke dapur. Berlama disana juga tidak akan membuat pantatku menjadi bahenol.
Aku mengacak – acak isi kulkas, mataku berbinar melihat sebungkus sosis berjajar di dalam sana, daun sledri dan tomat juga kelihatan segar. Tanpa berpikir panjang ku comot mereka, ku letakan di dekat wastafle. Tapi tidak dengan sosis, aku langsung membelahnya menjadi beberapa irisan.
Ku tuangkan mentega satu sendok di atas teplon panas. Setelah mencair ku tuangkan sosis yang ku tumis secara memanjang itu. Sembari menunggu kusiapkan 2 tomat dan bawang bombay, Ku tumis sesuai dengan bentuknya membulat.
Ah senangnya 4 Roti dengan selai mayonise sudah siap. Sosis juga sudah matang. Daun sledri juga sudah bersih sempurna.
Roti tawar itu ku lapisi daun sledri, di atas daun sledri masing masing 2 irisan tomat dan bawang bombay. Tidak lupa sosis masing masing 4 irisan. Setelah benar rapi ku tuangkan saus secara bergantian baru ku tutup dengan daun sledri dan roti.
Ini bagian yang paling menggetarkan. Seringkali irisanku tidak rapi. Ku tekan keras roti berisi sayuran itu. Dan ku potong dengan hati hati. Alhamdulillah selesai. Hasilku menjadi 4 potong.
Aku tidak pandai memasak. Menu yang sering ku masak hanya nasi goreng dan kangkung. Sandwich cuma selingan saja kalo kalo sedang rajin. Seperti hari ini.
"Hemmm harummn." Hidung Ida mendengus.
"Yuk makan. Arni mana?."
"Masih dandan dia,"
"Kamu nggak kerja Da?." Ucapku sambil memakan rakus hasil karyaku.
"Masuk kok, aku ijin telat hari ini. Ada beberapa hal yang mau ku urus."
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti. Ida duduk mendaratkan bokongnya. Dengan 2 cangkir minum di tangannya.
"Makasih. Hehe."
Tepat pukul 9:00 pagi. Tapi Arni juga belum nongol.
"Arni cepet udah siang!." Teriaku.
"Iya ini udah!." Teriaknya sambil berlari mencomot sandwich dan jalan melenggang keluar bersamaku.
"Ida kami jalan dulu. Assalamu alaikum"
"Walaikumsalam."
-
Untunglah kami tidak telat. Aku membuang nafas yang memburu. Arni duduk di sebelahku. Kenapa aku mengajaknya? Karena aku tidak terbiasa menghadapi client sendirian. Walaupun perannya hanya jadi patung pajangan . Its Ok. Gak masalah.
"Emmm mana si Mister?." Cletuk Arni.
"Mungkin sedikit telat."
"Sebagai dispensasi waktuku yang terbuang sia – sia, sudah mestinya bukan aku pesan makan." Mata liciknya menatap ke arahku.
"Ya Allah Arni tadikan udah makan,"
Benar – benar anak itu.
Aku memutar mataku malas. "Yaudah pesan. Jangan aji mumpung lo yak. Pancake aja udah sama jus."
Sebelum aku melepasnya, kupandang dulu sebentar. Rasanya berat sekali.
Tiba – tiba Arni merebut dompetku. "Ah lama!." Secepat kilat dia meluncur ke arah kasir. Dia tahu jus kesukaanku. Jadi tidak perlu memastikannya lagi.
Seseorang datang ke arahku. Awalnya dia ragu – ragu untuk duduk. Dia memastikan lagi wajahku. "Mister Joudi?". Tanyaku.
Dia hanya tersenyum dan duduk. Wajahnya mirip orang Arab tapi ke bulean. "Ehemm." Ucapku menghilangkan kecanggungan. Awalnya aku ingin menjabat tangannya. Tapi dia sudah terburu duduk.
-
Hampir 10 menit terlewati. Hening tidak ada pembicaraan. Zea dibuat klimpungan karena laki – laki besar di depannya, terus menatapnya. Ia mengecek ujung benik bluosenya. Aman tidak terbuka. Roknya pun tidak terlalu pendek. Apa rambutnya berantakan. Rasanya tidak.
"Mister bisa bicara indonesia?."
Zea melambaikan tangannya. "Do you can speaking english?."
"Mister."
"Hello."
Zea kehabisan kata – kata, apa benar dia Mr. Joudi? Dari percakapan Di WA Mr. Joudi tidak terlihat seperti orang bule. Zea menggaruk rambutnya dan meneguk Jus Alpukat. Sesekali matanya mencari – cari Arni. Tapi tidak ketemu. Makanan sudah datang ke meja tapi sang tuan malah ilang.
Zea menopang pipi kirinya dengan tangan. "Oke kita main tatap – tatapan saja." Cletuk Zea.
__ADS_1
"Ar kemana aja si." Tanya Zea pada Arni yang baru saja duduk. "Ke toilet bentar. Ini Mr. Joudi?." Bisik Arni.
Zea mengangkat bahunya. Tanda tidak tahu. "Lah lo gimana masa gak kenal suruh duduk." Senyum Arni pada bule itu. Takut dia mengerti bahasa indonesia.
"Dari tadi gue ajakin ngobrol, bahasa Indonesia , inggris udah gue coba tapi liat. Gak ada respon. Dari tadi kaya patung kek gitu." Jawab Zea snewen.
"Lo bisa bahasa arab?."
"Enggak," jawab Arni ketus. Sambil makan pancakenya sampai habis tidak tersisa.
"Kita coba aja." Zea menarik nafas. Jarinya membentuk piss pada Mr. "Mr. La la. Atau na'am na'am?" Ah tingkahnya sungguh konyol. Zea kembali menyikut tangan Arni. Arni tertawa terbahak. Zea jadi seperti orang gila karena clientnya sendiri.
"Gak usah ketawa. Sepet." Ujar Zea malas.
Pupus sudah harapan Zea jadi orang kaya. Belum apa apa sudah di buat frustasi clientnya. Zea menghabiskan jus alpukatnya. Putus asa? Jelas. Zea sedang putus asa hari ini.
Jeda beberapa detik. Suara bariton terdengar. "Kamu ada suami?."
Zea dan Arni mengangkat wajah mereka dan saling pandang. "Astagfirulloh, sabar." Zea mengelus dada.
"Siapa? Zea?." Jawab Arni yang menunjuk ke arah Zea. Bule itu hanya mengangguk.
"Belum." Cletuk Zea.
"Saya minta alamatmu, saya lamar kamu jadi istri saya, saya kasih tanah di kalimantan. Untuk kamu olah." Belum zea memotong laki laki itu melanjutkan kalimatnya. "Kamu cantik, tak perlu kerja pakai rok pendek lagi. Kamu bisa usaha dan pakai jilbab. Kamu muslim?."
Zea mengangguk kikuk. "Alhamdulillah." Sambung Mr. Joudi.
Karena jus sudah habis Zea terpaksa meneguk air liurnya. Arni yang duduk di sebelahnya hanya cengengesan.
"Mr. Sebenarnya cari apartmen atau istri ?." Tanya Zea yang mulai geram.
"Saya cari apartmen untuk investasi istri saya, kebetulan saya tertarik sama kamu. Jadi saya bisa dapat 2 sekaligus."
Zea melotot kearah Arni. Kelihatan sekali dia menahan tawanya.
"Saya sudah punya..." kata pacar tercekal di tenggorokannya. Pacar siapa dia sendiri masih bingung dengan statusnya.
"Saya sudah punya apartmen. Terimakasih. Yuk Ar balik kantor." Bisa-bisanya orang ini menganggapnya barang, buy 1 get 1 lagi. Rasanya ingin sekali Zea menggunduli kepalanya sampai botak.
"Heii tunggu!." Teriak Mr. Joudi. Sementara Zea dan Arni sudah berlari menuju lift.
"Ze, lo seriusan nggak mau sama dia, tua tapi kaya lho."
Zea yang menatap lift lurus, menyikut pinggang Arni sedikit keras. "Aw.. sakit pe'ak."
Sampai di lantai Ground mereka berdua jalan menuju loby, ada banyak pengunjung disana. Banyak promo bertebaran di atrium mall. Arni melirik – lirik ke kerumunan mereka, sambil menyamai langkah sahabatnya yang berjalan seperti kuda.
Zea melambaikan tangannya memanggil taxi, tiba – tiba mobil Jaguar hitam melaju cepat dan mendarat di depan mereka.
Kaca hitam mobil itu terbuka, "Hei yuk masuk." Sosok pria disana tersenyum ke arah mereka. Zea yang sedikit mematung kaget karena Arni menyeretnya masuk ke dalam mobil.
-
__ADS_1