illusion of love?

illusion of love?
Two boy


__ADS_3

"Pagi Ze," Ucap Faraz yang tiba – tiba ada di sampingku. Terbaring seperti ini lebih dari 3 hari pegal sekali rasanya. Kata dokter Jo keadaanku semakin membaik, ruam di tenggorokan juga sudah mulai menghilang. Lega rasanya ketika dokter bilang aku sudah bisa makan, ya walaupun hanya bubur, tidak apa–apa aku bisa bersabar hingga satu minggu untuk itu.


Faraz membuka kordeng dan membalikan arah tubuhnya menatapku tersenyum, cahaya matahari sangat silau membuat tanganku spontanitas menutup mata. "Aku bawakan bubur, di makan yah." Ucapnya sambil memutar alat fungsi brankar hingga posisiku sedikit terduduk.


"Makasih ya," jawabku.


Faraz mengangguk menyunggingkan ujung bibirnya, ia kembali berdiri dan mengecek infusku, menyuntikan cairan disana. Melihat dari arah samping begini rasanya sangat mengagumkan, dagu dan jambang tipis seolah menjadi perpaduan yang sangat serasi. Matanya yang bening membuatku tak ingin menoleh kearah lain. Pria itu hanya memakai sweater kalem yang di tarik hingga ujung siku, juga jeans warna hitam. Tapi di mataku dia seperti memakai mahkota yang bersinar terang. Bahkan tanpa sadar aku menelan air liurku sendiri.


"Aku tidak meracunimu Ze." Cletuknya.


Rupanya Faraz sadar aku memperhatikannya, ah sungguh malu. "Aku percaya, you can do the best."


"Dimakan dulu yah," katanya sambil menyiapkan bubur di depanku. Aku hanya mengangguk pasrah.


"Mau aku suapin?."


Ah mauu !! kata hatiku bersorak. Tapi tidak mungkin kukatakan. Walaupun hubungan kami cukup dekat tapi aku tidak bisa bersikap manja padanya, harga diriku melarang itu.


"Tidak usah, memangnya aku bocah."


Faraz tertawa, tidak lama seorang suster datang mencari Faraz, ia bilang Dokter Marcel memanggil urgent katanya. Faraz pamit pergi, "Cuma sebentar" ucapnya lalu melenggang keluar. Aku menarik nafas panjang, dan mulai berkutit dengan piringku.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit setelah Faraz pergi aku mendengar ketukan pintu dari luar. Pasti Faraz tidak betah lama–lama berjauhan denganku, aku terkikik sendiri. "Masuk," teriaku sambil menegapkan punggung.


"Assalamu alaikum."


"Walaikumsalam...."


"Vino?." aku memastikan, pandangan mata kami bertemu, aku menatapnya dengan rasa haru sedangkan dia menatapku canggung. Aku tahu sorot mata bersalahnya masih mengambang disana.


"Lo apa kabar?," tanyaku mengusir keheningan.


"Lo yang apa kabar? Absen mulu, Mr. Joudi nyariin tuh."


Aku tertawa kecil, Vino mengambil kursi dan duduk di sebelahku. Apa aku merindukannya, karena saat ini aku menatapnya intens. Aku yakin Vino menyadari itu. Entah. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan, sesuatu yang menggetarkan. Mungkin benar katanya minggu lalu. Lebih susah move on dari seseorang yang belum pernah kita miliki, dari pada dari seorang mantan. Apa itu berarti aku belum move on darinya? ah otaku ini benar-benar.


"Bunga yang dari gue emang nggak di kasihkan sama Eitin kemarin?"


Oh iya aku lupa, bunga itu. Bunga yang dari Vino sudah di berikan ke Dokter Jo kemarin.


"Kuranglah." Cletuku asal.


"Rakus lo ya, lo makan bubur benyek begitu? Kasian amat si lo."

__ADS_1


Ini yang kusuka dari pria ini, walaupun gayanya yang sedikit alay nyrempet nyrempet Korean stlye tapi dia alami. Ucapannya yang ceplas ceplos membuat orang tertawa.


Kalian perlu tahu ada beberapa porsi yang tidak bisa kita rubah dalam hidup, jika kita memaksa untuk merubahnya pasti tidak berujung baik. Seperti halnya hubunganku dengan Vino. Hubungan kami sangat dekat ketika menjadi teman, tidak ada batasan. Aku bisa dengan leluasa bercerita begitu juga dengannya. Tapi ketika kami memutuskan untuk lebih dekat malah terasa kaku. Sepertinya porsi kami hanya sebatas ini, sebatas teman tanpa saling memiliki. Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa menerima porsi ini? Oh Tuhan apa yang aku pikirkan.


"Jangan sakit Ze, sakit itu berat lo nggak akan kuat."


"Dilan kali ah,"


Dia tertawa akupun ikut tertawa, apa aku salah ketika berharap Vino mengkhawatirkanku? Ah bodohnya aku ini, Vino hanya menganggapku teman biasa, empatinya sekarang hanya karena rasa bersalahnya padaku. Tidak kurang juga tidak lebih.


"Ze, gue nggak bisa lama. Sory ya lo tahu sendiri fans gue bakal cemburu ngliat kita berduaan kaya gini."


Aku mendelik, alisku spontan beradu. "Sok ganteng banget sih lo."


"Tapi lo suka kan?."


Lagi – lagi pertanyaan itu membuatku mati kutu. Hatiku tersipu malu, aku yakin pipiku merah merona sekarang, "Pede banget lo, yang suka gue duluan siapa coba?"


Ia mengacungkan telunjuknya seolah berpikir, "Itu tahun kapan ya mbak?." Ia mencondongkan wajahnya mendekat, tatapan manis dan wajah penggoda itu membuatku mematung, jika terus seperti ini aku yakin diagnosa penyakitku menjadi diabetes akut. Tidak sengaja sendok yang ku pegang jatuh ke kasur, ketika aku ingin mengambilnya Vino juga berinisiatif mengambil benda itu. Kepala kami saling membentur.


"Ih sakit tau," pekiku sambil merebut sendok itu. Tapi di tahan Vino.

__ADS_1


"Assalmu al'aikum. Ehem"


Aku terbelalak melihat sosok Faraz di depan pintu, "Walaikum salam."


__ADS_2