
"Ze gimana lo udah dapet ungkapan cinta belum dari pangeran lo itu?." kemalnya Eitin mulai beraksi.
Aku tidak menjawabnya dan masih tekun dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Tiba - tiba TET. Eitin mematikan komputerku.
"Ih Etin apaan si lo! gue masih harus lihat datanya." "Lo jawab dulu pertanyaan gue." tatapan matanya serius. Tapi melihat mata dan bibirnya membuatku tidak jadi marah malah tertawa.
"Belom, kemarin gue cuma ketemu Client doang di Bandung." ucapku datar dan menyalakan komputerku lagi.
"Elo nggak curiga apa?! hampir setahun kalian kenal. Tapi dia sama sekali nggak pernah ungkapin perasaannya ke elo. Boro - boro kenalin lo ke orangtuanya." kalimat itu tidak asing lagi kudengar. Eitin ratusan kali mengucapkan itu.
"Itu sama aja kaya apa yang lo jalanin sama Vino donk?." ku cubit tangannya, suara Eitin bisa jadi pusat perhatian yang lain, kalau Vino sadar dengan celotehannya. Bisa - bisa dia terbang ke langit tujuh.
"Beda Tin mereka gak sama, kan gue yang rasin."
"Atau jangan - jangan dia punya istri di kampung Ze, bisa jadikan? ya buktinya aja pagi - pagi waktu lo telpon, tahu - tahu sudah di Bogor padahal jadwalnya udah paten sama elo, tiap kali lo minta penjelasan, dia selalu mengalihkan obrolan, terus kalo lo minta main kerumahnya. Dia juga belum siap katanya. Coba deh lo mikir pake otak. Jangan pake jantung." omongan Eitin kadang ada benarnya juga. Tapi aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak mau ambil pusing lagi masalah itu. Kalo memikirkannya rasanya ubun - ubunku hampir meledak. Sengaja aku sodorkan coklat bekas semalam miliku padanya, agar tidak banyak bicara. "Nih buat lo." "Ko bekas si?" ucapnya protes.
"Lo juga suka barang bekas kan? itu si hendrik juga barang bekas. Lo mau aja!"
"Bedalah Ze, hendrik kan bekas gue sendiri jelas gue mau." jawabnya tidak mau kalah.
"Lagian baru di cuil satu kubik, kalo nggak mau yauda gue Kasih tante rempong." segera ia merebutnya dari tanganku. "Ih jangan sini, kalo udah di Kasih jangan di ambil lagi dosa hehe".
Untunglah dia diam sesuai prediksiku. Sial mendengar kembali ucapan Eitin membuatku kembali berfikir keras lagi, tentang hubungan Faraz dengan orang - orang di luar sana.
**
"Ze kemarin Wira kesini?" Tanya Arni. "Iya" aku yang serius membaca Novel berbalik menatap mereka, percuma Novel apapun yang ku baca di depan mereka. Tidak akan masuk ke pencernaan otaku, jadi ku lempit dan meletakannya di atas meja rias. "Terus gimana jadinya?" Sahut Ida yang mendadak merapat ke arahku, sama dengan Arni dia juga teman kosku. Kami kos bersama dari awal menetap di kota ini. Aku bangga memiliki mereka. Masing - masing mempunyai keunikan tersendiri.
__ADS_1
Dalam percintaan Arni kurang beruntung, karena pria yang dekat dengannya selalu saja kena sial. "Kenapa ya Ze tiap kali aku deket cowok, pasti kena sial kemarin Angga dompetnya ilang, terus ka Fiyan waktu jemput ke kampus helmnya ilang di parkiran, helm baru lagi, paling parah ka Riski mobil fasilitas kantornya nabrak tiang listrik di Bogor."
"Mungkin emang lagi apes." Jawabku.
"Hati- hati jomblo seumur hidup Ar!," sahut Ida "Sue ! janganlah amit – amit."
Arni jomblowati yang super pemilih. "Tapi cara jalannya begitu Ze." "Tapi gemuk Da." "Tapi pengkor Ze." "Tapi non muslim Da." Memangnya dia punya hak istimewa apa, sampai mengambil alih tugas Tuhan. Membanding bandingkan manusia. Hadewhhh. Anehnya hampir setiap kebaikan seorang laki – laki selalu ia terima. Persis dengan Ida.
Ida memang tidak begitu pilah - pilih. Tidak punya selera dan pasrah. Monoton terhadap hidupnya. Dia kuliah karena doronganku. Menjadi karyawan tetap memang enak, tapi apa salahnya ganti profesi selain menjadi Security.
"Emangnya kamu mau terus - terusan kerja 12 jam? Wajahmu itu pantasnya di front office atau jadi HRD yang kelihatan, galak, judes, cuek tapi ternyata baik hati." ucapku. Setahun kemudian dia mendaftar di salah satu Universitas swasta di Jakarta.
Masalah cowok dia selalu beruntung. Pulang dengan barang mewah setiap saat. "Da kemarin Michael kors sama segudang baju. Ini apa lagi?," "Hehe charles and keith koleksi terbaru." Aku dan Arni menganga. Bukan masalah brandednya. Tapi Ida jalan dengan pria yang cocok jadi omnya. Umurnya hampir memasuki 45 tahun berbanding kebalik dengan umur Ida yang masih 23 tahun. Uang dan royalitas seseorang sudah cukup katanya. Padahal dengan wajah cantik dan tubuh yang ideal itu, dia bisa mendapatkan laki- laki mana saja.
Kami adalah triple Jomblowati. Kecuali aku yang masih mengambang. Setahun jalan dengan pria yang belum pernah katakan i love you membuatku bingung masuk kategori yang mana.
"Gue penasaran, Wira itu kaya apa si Ze?." Ida menilap bantal gulingnya di leher. "Emmm...dia nggak ganteng, banyak hutang, gegabah dan temperamental." Belum beberapa detik, wajah Ida di serang semprulan snack dari mulut Arni. "Sory Da, sory." Ida memasang wajahnya datar. Arni gelagapan mengambil beberapa lembar tissue di dekatnya. Dan membersihkan wajah Ida.
"Lo mungkin kaget, tapi satu hal yang bikin dia berbeda. He always be himself. Ya setidaknya itu yang membuat kami bertahan dulu."
"Emang itu cukup Ze,? Kata Arni.
"Enggak si makanya gue putusin."
"Mutusin apa di tinggal nikah." sahut Ida yang berhasil mengunci bibirku. Ida tidak salah. Aku memang di tinggal nikah, tepatnya ia menghilang secara tiba – tiba dan mengirimiku sms ijin menikah. Bagaimana rasanya? Jangan di tanyakan lagi. Kalian tahu rasanya pas lagi sayang – sayangnya tiba – tiba di tinggal begitu saja, tanpa ada alasan yang pasti?.
Kami dulu sempat LDR selama 3 bulan, karena tuntuan kerja yang mengharuskan pergi ke luar kota. Semua baik – baik saja sampai aku pulang ke Jakarta, aku di kenalkan dengan keluarga besarnya. Mereka menyambutku dengan tangan terbuka. Apa lagi Ibu dan adik perempuannya sangat akrab denganku. Sebelum pertemuan itu aku memang sudah biasa komunikasi dengan mereka lewat telpon. Sampai satu tahun di Jakarta aku tidak merasakan keganjilan.
__ADS_1
Semua hilang secara tiba – tiba, Wira hilang tanpa kabar sebulan. Aku sudah berusaha mencarinya kerumah. Tapi tidak ada. Ibunya juga tidak tahu keberadaannya. Di tempat kerja ia juga tidak ada. Teman – temannya bilang Wira sudah resaign 5 bulan yang lalu.
Aku menyerah dan pasrah, dalam setiap sujudku aku berdo'a. "Jika ia memang jodohku maka kembalikanlah, tapi jika ia bukan jodohku maka jatuhkan aku sejatuh jatuhnya."
Allah mendengar do'aku satu bulan kemudian Wira memberiku kabar, ia meminta ijin untuk menikah. Tidak lama temanku mengirim foto undangan melalui BBM "Aku kira nikahnya sama kamu Ze," katanya.
Baju besi yang ku buat sekokoh mungkin untuk jantungku, retak begitu saja, Diary book cintaku yang kedua ku hempaskan ke lemari. Suatu waktu aku tersadar, bahwa hidup bukan hanya tentang cinta, masih banyak hal di depan sana yang bisa kita kerjakan. Langit begitu luas lalu untuk apa berpikiran sempit?. Untuk mengisi kekosonganku aku melanjutkan niat yang sudah tertunda sejak lama. Yaitu kuliah. Awalnya Mama menolak, beliau mengijinkanku kuliah di kampung. Tapi aku bersikeras pada pendirianku.
Semester awal masih berat, kadang bayangannya masih saja muncul di benaku, tapi semester dua aku di sibukan dengan tugas – tugas, teman baru dan urusan kerja. Aku mulai terbiasa dan itu berjalan lancar sampai 3 tahun. Di tahun ketiga Wira muncul meminta bantuanku, saat itu aku pikir tak apa toh karena memang ada. Jadi ku pinjamkan sejumlah uang padanya, kami berteman dan aku mulai bisa bersahabat dengan masa laluku. Lama – lama Wira mulai bercerita tentang kehidupan rumah tangganya, dia mengeluh.
"Aku tidak tahan Ze, dia selalu merendahkanku."
"Dia istrimu, tugasmu adalah membimbingnya. Tidak ada tulang rusuk yang lurus Wira, adanya suami adalah pelengkap istri." Secuil nasehat ku berikan padanya.
"Apa kamu kenal seseorang yang bisa-, jujur aku dendam."
"Astagfirulloh hal'adzim, eling Wir. Untuk apa kamu punya Tuhan kalau kamu mau main dukun? Dimana imanmu!."
Sepertinya Wira kesal karena jawabanku, ia tidak lagi membalas. Beberapa kali Wira mengajaku meet-up, tapi aku selalu menolaknya, entahlah aku tidak tahu. Bagiku berteman dengan masa lalu alangkah lebih baiknya tidak bertatap muka secara langsung. Semakin lama tingkah Wira semakin kelewatan. Ia bilang akan menceraikan istrinya dan ingin kembali padaku. Memangnya aku perempuan macam apa, seenak jidat dia pergi dan kembali memintaku sesuka hati. Dia itu mirip vampire, yang tidak ada puasnya mengisap darahku.. Terlebih sekarang sudah ada sosok baru yang mulai mengisi hatiku. Jadi dengan tegas aku menolak dan memblock kontaknya.
"Ze! Zea!." Tangan Ida menggoncang bahuku.
"Ah iya."
"Ko ngalamun si,"
"Enggak ko, Yaudah ya aku mau balik ke kamar, tidur." Sebelum pintu kamar Ida terbuka aku membalikan badan. "Ar, jangan lupa besok !"
__ADS_1
"Siap komandan!."