illusion of love?

illusion of love?
Pucuk dicinta ulampun tiba


__ADS_3

Waktu sehari serasa satu menit, dari pagi Arni dan Ida secara bergantian menggedor-gedor pintu kamarku. Ah aku menyesal memutuskan ikut kepuncak bersama mereka.


and then sekarang kami berkumpul dilapangan sepak bola dekat kosanku.


Ida dengan barang brandednya yang memenuhi badan dan tangannya.


"Kamu kepuncak apa shoot brand ambasador?" ia hanya memicingkan kacamatanya ala orang kaya, geli geli jijay aku dibuatnya.Sedangkan Arni, hari ini temanya dengan warna kesukaannya, biru muda. Lengkap dengan kaos kaki, tangan, kupluk dan jacketnya.


Aku? seperti biasa karena my favorite color is white so aku pakai tema putih hari ini.


"Masih ada yang kurang nggak nih personilnya?" teriak Budi teman sekantorku, aku melirik ke sekeliling. Nothing. Semuanya lengkap, disana ada Eitin yang sepertinya sedang debat dengan hendrik pacarnya. Tapi dimana Vino? dari 20 karyawan hanya Vino yang tidak kelihatan. pikirku.


Author POV


Seorang laki-laki langsung bangun dari kamarnya ketika menyadari sudah pukul 08:00 pagi. Harusnya dia bangun lebih awal, "Oh syitttt ketinggalan Bus gue." beberapa kali Vino menghubungi Budi tapi tidak diangkat. Begitu juga dengan yang lain, Eitin, Lia, Bagas, semuanya zong. Dengan sangat terpaksa ia harus berangkat sendiri dengan motornya. Semua ini gara-gara adik iparnya yang gaber itu, tidak pulang dan membiarkan adiknya mengurus dua anak sendirian. Ia langsung bergegas mandi dan menyiapkan beberapa baju di tas rangaselnya.


Tok Tok Tok


"Ya sebentar" teriak Vino sambil mengikat tali sepatunya.


"Lis ! tolong bukain pintu abang lagi ngiket sepatu,"


"Ya bang, sebentar Lisa lagi nyuci piring." teriak Lisa dari dapur dan langsung berlari ke knop pintu.


"Asalamu alaikum"


"Walaikumsalam, ka Zea bukan?" tanya Lisa memastikan. Lisa sedikit tahu tentang gadis didepannya itu dari foto yang kadang lupa kepajang di kamar abangnya.


"Iya, kamu Lisa yah. Vinonya ada?"


"Ada-ada masuk dulu," Zea mengikuti arahan Lisa untuk duduk disofa.

__ADS_1


"Loh Zea, lo tau dari mana rumah gue?."


"Dari Maps. Lo kebluk banget si, anak-anak udah pada berangkat sejam yang lalu."


"Iya sory, gue kesiangan. Lis buatin ka Zea teh yah."


"Asyiap!" teriak Lisa.


"Eh nggak usah lis, ini udah mau berangkat ko,"


"Lo kesiangan juga? atau lo sengaja ngajak gue berangkat bareng yak, biar so sweet?" canda Vino.


"Garing lo, PD banget jadi orang."


Lisa yang datang dengan nampan berisi teh terkikik.


"Abang Vin emang begitu ka, PDnya selangit. Udah bawa'an dari bayi." tutur Lisa.


Vino hanya menukikan alisnya. "Kenapa?"


"Calon mpok ipar nih?" ledek Lisa berkedip.


"Doa'in ajah."


Zea yang sedang menyruput tehnya tiba-tiba menyembur.


BURRRR


"Emang adek kaka pe'a lo pada. Gue jadi nyembur gini saking syocknya." gerutu Zea yang jadi bahan candaan keduanya.


"Gue nebeng lo yak, lo kan paham gue nggak bisa naik bus."

__ADS_1


"Siap neng,"


Zea tersenyum puas, tidak sia-sia dia datang kerumah Vino. karena jika ia memaksakan naik bus, sudah pasti akan ada penderitaan disepanjang perjalanan. Dari kecil Zea pobia dengan angkutan umum. Bukan hanya angkutan umum, semua kendaraan yang jumlah rodanya lebih dari 3 akan membuatnya pusing dan mual. Kecuali mobil pribadi keluarganya. Entah Zea sendiri tidak tahu.


Seperti ada kepuasan tersendiri bagi Vino. Pucuk dicinta ulampun tiba, satu detik untuk satu menit, satu menit untuk satu jam, dan satu jam untuk satu hari. Satu hari untuk memulai lagi PDKT dengan Zea. Yes!


"kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?" Zea membuyarkan lamunannya.


"Ah enggak, yukk berangkat." baru saja Zea bangun dari kursi dan hendak melangkah keluar. Vino mencegahnya.


"Ikut gue yuk sebentar." Zea mengangguk, kini mereka berjalan ke taman, Zea tidak mengerti akan dibawa kemana pasalnya. Vino hanya diam. Di taman kecil dekat rumahnya Vino menemui sosok ibu paruh baya yang duduk diatas kursi roda. Ia mencium tangannya haru. Setelah memperkenalkan Ibunya pada Zea, Zea ikut mencium tangan Ibunya takzim.


"Bu, ini Zea teman Vino. Vino mau berangkat dulu, Ibu bilang ke Lisa yah kalo mau apa-apa. Nanti malam Vino nggak bisa nyanyiin lagu pengantar tidur, tapi cuma semalam ko, besok Vino pulang." Vino memberikan penjelasan sambil berjongkok didepan ibunya. Ibunya membelai rambut Vino yang sedikit gondrong, tersenyum haru.


Tidak terasa buih air mata Zea mencelos. Ia sudah tahu dari lama Ibu Vino lumpuh tapi ia tidak pernah tahu tentang kebiasaan Vino yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk beliau. Pemandangan ini sungguh menyesakan dada. Melihat Vino yang begitu ulet merawat ibunya membuat gadis itu merasa bersalah karena seringkali berkata tinggi pada ibunya yang selalu mengingatkan untuk bangun lebih pagi.


"Do'akan kami ya bu," imbuh Zea.


"Kalian hati-hati. Nak Zea Anak laki-laki ibu cuma satu. Ibu titip yah."


"Jangan begitu bu nggak enak kalo abang Dwi dengar, lagian Vinokan laki. Malu atuh di titipin ke cewek. Apalagi model ceweknya kurus begini. Gimana mau jagain Vino."


Zea memutar bola matanya malas mendengar ocehan bak burung hantu itu.


Tapi Zea senang bisa melihat Ibu Titik menyunggingkan sudut bibirnya. Tidak ada yang tega melihat orang yang dicintainya terbujur sakit seperti ini, namun jika Allah sudah berkehendak kita sebagai umat bisa apa, selain menerima dan menjalani takdir yang sudah ditetapkan. Semoga menjadi ladang pahala bagi anak-anak yang merawatnya.


Kling Kling


Pesan singkat dari Faraz.


"Assalamu alaikum Ze, jadi kepuncak?"

__ADS_1


Zea sedikit ragu membalasnya, sebelum ditanya lebih lanjut oleh Vino, ia memasukan kembali ponselny kedalam saku.


__ADS_2