illusion of love?

illusion of love?
Gopro


__ADS_3

Raz itu go pro kan?" tanyaku pada pria yang ku dekap di atas byson merah saat ini. Sepertinya semua orang suka dengan go pro dari komunitas motor bebek sampai anak komunity moge menggunakannya. Yah mengabadikan setiap moment perjalanan, why not?


Tapi tidak dengan pria yang sedang bersamaku saat ini dia lebih senang dengan tongsis, ini mungkin lebih dari sekedar alay, tapi itulah faktanya, dia memang hoby dengan sesuatu yang ekstrim.


"Iya itu go pro, tapi ada yang lebih bagus lagi dari itu." jawabnya. Ku jawab dengan antusias "Oya! Apa itu?"


"Ada lebih mahal lagi." Katanya


Aku semakin penasaran "Iya apa namanya?" Rasanya aku mulai tidak sabar lagi.


"Namanya blog" ucapnya.


"Blog?" berulang kali aku mikir, rasanya baru kali ini aku mendengar kalimat asing itu.


"Iya Zea, kalo itukan namanya go pro. Nah, kalo ini namanya goooooooo" suaranya memanjang.


"Go blog donk." Kesal karena merasa terbodohi, tapi aku tidak bisa menahan tawa yang menggelitik di perutku. Namanya Faraz. Ada di dekatnya membuatku tidak mau memikirkan yang lain.


Hari ini aku dan Faraz menyempatkan waktu liburan bersama ke Bandung. Sekalian bertemu dengan client yang akan membeli salah satu property yang kujual.


Sesampainya di rumah aku melihat seorang pria dewasa menggendong anak kecil di ruang teras depan. Maklum kosanku agak sedikit ribet. Kaum adam tidak boleh masuk sama sekali sekalipun itu saudara. Hanya di sediakan dua sofa panjang dan satu meja di depan. Tapi itu lebih baik daripada jongkok di pinggir jalan.


Aku dan faraz mengucapkan salam serentak. "Assalamu a'laikum." seorang pria dewasa yang membelakangi kami berbalik badan. "Walaikumsalam." aku kaget bukan main, jantungku berdetak dengan sangat cepat, sepertinya kakiku tidak mampu lagi menopang badan. Kejutan apa lagi ini Tuhan.


"Kamu?" ucapku spontan, Faraz tersenyum dan menjabat tangannya. Anak kecil itu memanggil – manggil namaku, ia merenggangkan kedua tangannya. "A ea endong." rengeknya, aku hanya bisa diam dan masuk tanpa sepatah kata, ku cantolkan tasku di rak. Ting Tong dering hpku berbunyi.


Zea, keluar nak nanti kaka belikan susu : Faraz


Pesan itu membuatku tertawa, mengusir beribu pertanyaan yang betebaran di otaku. Faraz memang selalu bisa membuat hatiku membaik. Alhamdulillah.


Ku selipkan bola mataku di balik tirai jendela. Faraz sedang asyik menggendong anak kecil itu. Dia memang gemar dengan anak kecil. Tapi kalau Faraz tahu tentang hubunganku dengan pria itu. Mungkin anak itu sudah di cincang olehnya sekarang.


Ku beranikan diri melangkah ke depan menghampirinya. Ingin rasanya ku lempar wajahnya dengan teh hangat yang ku bawa saat ini. Tapi Mama tidak pernah mengajariku se sembrono itu, sekalipun berhadapan dengan orang yang kita benci. "Aku gendong Marsya dulu ya sebentar, ke halaman rumah." Faraz membuka obrolan, aku mengangguk.

__ADS_1


Terlihat jelas pria ini ingin menyampaikan sesuatu padaku. "Kamu apa kabar Ze.?" "Baik." satu bulan ini aku ngechat kamu nggak pernah balas, makanya aku kesini" "Aku sibuk." jawabku sambil memainkan hp, aku tidak berani memandang wajahnya. Wajah itu penuh dengan kerinduan sama dengan kerinduan yang kupendam sampai sekarang. Aku takut semakin aku menatapnya luka lamaku tergores kembali.


"Ze maafkan aku." "Mendingan kamu pulang, saya ingin istirahat" ucapku keukeh memandangi ponsel, walaupun tidak ada satu notifikasipun disana.


Faraz melihatku dari jauh dia memahami mimik wajah yang ku pasang saat ini.


"Baiklah besok lusa aku kesini lagi." "Ada salam dari mama." Lanjutnya.


"Walaikumsalam."


Wira mendekati Faraz dan mengambil Marsya dari gendongannya. "Sabar yah, nanti saya akan coba bicara dengan Zea." Wira hanya tersenyum, mungkin ia berharap penuh pada Faraz.


"Zea kamu kenapa.?" Faraz bertanya padaku, melihat wajahku yang asam tidak kunjung surut. Aku hanya menggelengkan kepala, Faraz mengusap rambutku, menyandarkan kepalaku di bahunya. Tidak terasa buih air mata jatuh di pelupuk mata.


"Faraz aku takut." "Takut kenapa?" aku tidak kuasa membendung air mataku. Ku tumpahkan semuanya di dekapan hangat ini. Hubungan kami baru mau menginjak satu tahun, baru saja ingin memulai impian dari nol tapi Wira muncul lagi di hidupku.


-


Alarm di nakas berbunyi, ku biarkan ia berdering sesuka hati, sudah dua hari ini aku kecolongan sholat subuh. Mungkin efek insomku yang mulai kambuh lagi. Nanti malam harus ku perbaiki. Aku tidak mau harus menstock obat tidur lagi. Itu menyedihkan.


Ponselku bergetar "Walaikumsalam Ya Ma, kenapa?." Mama sepertinya nampak kesal "Kamu baru bangun? sudah jam berapa ini pasti semalam kamu begadang lagi!" ku hembuskan nafas melalui mulut. Mama ini kadang seperti dukun selalu tahu apa yang aku lakukan.


"Hemmm" "Kalo begini terus nanti kamu Mama titipin lagi ke rumah tante." mataku terbelalak. "Jangan Ma aku nggak mau, Mama tahukan gimana rasanya tidur dirumah saudara, kesana sungkan kesini sungkan lama - lama bisa mati aku." jawabku memohon.


"Yaudah, makanya dengerin Mama jangan begadang lagi, satu lagi minum yang banyak." baru mau kujawab Mama melanjutkan kalimatnya. "Coba minum dulu mama pengen denger!" OMG!


"Iya Ma, nanti Zea minum." Jawabku di balik selimut tebal yang membungkus semua badanku. Mama keukeh. "Nggak mau ! kamu minum dulu baru mama matikan telponnya."


Aku beranjak dari ranjang dengan malas dan mengambil segelas air putih. Sengaja ku keraskan tegukanku agar Mama diam.


"Sudah."


"Yaudah, Mama tutup ya telponnya kamu jangan telat ke kantor. Assalamu alaikum." "Walaikumsalam."

__ADS_1


Begitulah Mamaku. Kadang terlalu over, seribu kali telpon seribu kali juga beliau mengucapkan kalimat yang sama. "Jangan lupa minum yang banyak." Itu karena dulu waktu SD aku terpaksa harus di rawat di rumah sakit dan menghabiskan 17 infus dalam 3 hari. Entah aku kurang suka air anta itu. Aku lebih suka air – air yang berwarna dan mempunyai rasa.


Ini mending. Dulu waktu ada berita viral di TV tentang orang meninggal karena makan kangkung. Mama langsung telpon hari itu juga dan melarang keras memakan sayur favoriteku. Sampai sekarang aku masih mematuhinya.


Mama saking sibuknya memperhatikan aku dan anak yang lain sampai lupa berat badannya sudah tidak ideal lagi. Ya Mamaku bulat. Sangat bulat dengan tingginya yang minim. Berbanding kebalik dengan Bapak yang tinggi dan kurus. Berulang kali kusuruh Mama olah raga tapi ucapanku tidak di dengar.


Ku dongakan kepala ternyata sudah pukul 08:00 WIB, pantas saja Mama marah – marah. Aku berjalan keluar kamar mengambil handuk di cantolan dan berjalan ke arah kamar mandi. Sebelum mandi ku gedor pintu kamar Arni tapi hening, begitu pula dengan kamar Ida, mungkin dua manusia itu sudah berangkat kerja tadi pagi. Ah sudahlah


**


"Selamat pagi Zea." ucap kak Evi salah satu teman kantorku.


"Pagi juga Tan." tante adalah sebutan akrabku untuknya.


"Yah ketemu Zea lagi pasti waktu berasa lama, harusnya sudah masuk tahun baru ini." ucapnya melanjutkan.


Aku hanya tersenyum, masih pagi aku sedang tidak ingin bercanda.


Tante Evi adalah ibu beranak satu yang super duper rempong, selalu mengikuti trend dan heboh. Dia adalah senior yang selalu membuly anak baru ataupun anak lama yang terlihat lemah dan diam di matanya.


Contohnya aku yang selalu menjadi bahan buly'an olehnya. "Teman- teman hari ini Zea fresh lho, kepalanya nggak tengleng kaya maniqueen." Tante Evi masih berkoar di kursinya dengan tawanya yang gemuruh. Membuat gendang kupingku membengkak.


Aku tahu dia tidak sekejamitu. Mungkin bisa di bilang hanya bagian dari lelucon, tapi kenapa selalu aku yang di jadikan bahan olok - olokan.


Seseorang menepuk pundaku dan menolehkan kepalanya. "Pagi manis." ini Vino tinggi dan manis, dulu kami sempat dekat lama menjalani sebuah hubungan. Entah bisa di sebut hubungan pacar atau tidak. Karena tidak ada ikatan, hanya main baper - baperan. Kami sering sharing tentang hal kecil dan besar. Dan itu membuat kami seperti terlibat dalam hubungan yang biasa orang sebut friendzone.


"Pagi juga." Ucapku, sedikit menyunggingkan sudut bibirku.


"Ciye mister, pagi - pagi gombalin Zea" celoteh tante Evi. Di ujung sana.


Aku masih menggeluti komputer di hadapanku. Mengecek sudah berapa property yang berhasil aku jual di tahun ini. Tiba - tiba datang seseorang di depanku.


"Pagi Zea." melihat wajah itu, tawaku reflek menggelegar mengganggu karyawan lain. "Terus aja terus!," ucap Eitin yang kini duduk di sebelahku dengan wajah sebal.

__ADS_1


"Wajahmu itu kenapa?" tanyaku sambil menahan tawa. "Eyliner yang gue pake expired. Makanya jadi bengkak begini, gue nggak tahu masakan ibu kos semalam ada cuminya. Alhasil bibir gue yang sexy and hot ini jadi monyong." ucapnya sambil memegang kaca andalannya.


Ada saja kejutan pagi hari. Sedikit hiburan untuk moodku yang kurang Bagus karena kedatangan Wira kemarin.


__ADS_2