illusion of love?

illusion of love?
Menangis


__ADS_3

"Maaf mengganggu," Vino sedikit menjauh menjaga jarak dari bibir kasurku. Memberi ruang Faraz untuk mengecek suhu tubuhku. Hati kecilku tidak ingin Faraz salah faham atas kejadian tadi, tapi aku tidak bisa berkata apa–apa, lidahku kalut dalam kebingungan.


"Bisa kita bicara?, tunggu saya di luar." Ucapnya tenang. Vino mengangguk ia mengambil tas gemblok dan pamit padaku, hingga akhirnya punggungnya menjauh tak terlihat lagi.


Apa yang akan di katakan Faraz? Mudah – mudahan bukan sesuatu hal yang bisa menimbulkan keributan.


"Semakin banyak makan, kondisimu akan semakin membaik." Ujarnya merapikan piring bekas buburku. Aku ingin sekali menjelaskan kejadian tadi, tapi apa itu penting untuknya? "Mas tadi_"


"Tidak apa–apa, mungkin nafsu makanmu bertambah jika teman dekat yang menyuapimu."


Ya Allah setidaknya dengarkan dulu penjelasanku. Bukan seperti itu Maz. Kenapa susah sekali mengucapkan itu. Selesai merapikan piring dan menaruhnya di atas meja kecil. Ia kembali menyelimutiku dengan kain putih yang 3 hari ini menemaniku.


Kenapa ia tak mengusap kepalaku seperti biasa ketika akan pergi? Dia selalu bilang "Cuma sebentar" tapi ini tidak, Apa ia marah? Aku tidak bisa melihat emosi di wajahnya. Wajah itu seolah memang di ciptakan untuk selalu tenang. Setidaknya ucapkan dua kata bahwa kamu cemburu Mas, jangan membuatku berteka teki seperti ini.


"Mas?"


Panggilanku menghentikan langkahnya, aku menghela nafas sebentar, mengatur emosi dengan jawaban Faraz atas pertanyaanku. "Kenapa kamu begitu baik padaku?." Seperkian detik Faraz membalikan tubuhnya, ia tersenyum tanpa cela. "Selama kamu di Jakarta kamu adalah tanggung jawabku, itu janjiku pada ibumu."


Author POV


"Belum puas ngracunin Zea?." Sarkas Faraz, walaupun terlihat santai tapi tenggorokannya yang kaku tidak bisa ia sembunyikan. Faraz hanya berupaya sedikit agar kemarahannya tidak meluap.


Laki – laki di depannya hanya menatapnya nanar, tatapan kosong tanpa arti.


"Lo pantes nyalahin gue, emang gue yang salah."


"Kenapa? Karena kamu tidak tahu Zea punya alergi akut? kamu sadar tidak. Zea hampir mati demi makan apa yang kamu sodorin ke dia."


Vino hanya bisa diam, apa yang di katakan Faraz memang benar, Vino tidak pernah tahu riwayat kesehatan Zea selama 4 tahun ini. Gadis itu sulit di tebak, persis seperti dirinya yang selalu berperan semua baik–baik saja.


"Jauhin Zea! saya nggak tahu persis kedekatan kalian. Tapi saya tidak mau dia terluka lagi." Ujar Faraz santai.

__ADS_1


"Biarin Zea yang mutusin, dia mau berteman sama pecundang kaya gue atau sama pengecut kaya lo."


Faraz mulai hilang kendali, Ia mengangkat kerah Vino dengan tangan kerasnya. "Apa kamu bilang?, pengecut?!." Faraz tidak terima. Atas dasar apa dia mengucapkan itu bahkan mereka tidak saling kenal.


Vino melepas tangan Faraz paksa dan membenarkan bajunya, "Kalo lo nggak hadir di antara kita, hubungan gue sama Zea mungkin lebih dekat sekarang Far." Ucap Vino santai.


Faraz nyaris tidak percaya dengan ucapan itu. Vino yang menurut Zea cowok angkuh yang tidak peka, tidak pernah perduli terhadap perasaannya. Dan Vino yang memberi harapan untuk semua wanita. Sekarang laki – laki itu dengan gamblang mengucapkan kalimat itu di depannya.


Faraz tertawa kecil, tersenyum sinis. "Jadi pangeran yang dulu di idamkan Zea ini, menyesal?."


Pria berkulit putih itu menghembus nafas panjang, dan duduk di kursi tepat di sebelahnya. Bertanya dalam hati. Apa benar ia menyesal menyiakan perasaan Zea? Bukankah itu sudah menjadi pilihannya, bahkan jauh sebelum Zea menaruh hati padanya.


"Gue.." kalimat itu menggantung. Menyisakan sebuah arti yang mendalam. "Gue emang nggak bisa se-leluasa lo nglindungin dia Far. Yang bisa gue lakuin cuma diem, diem di atas semua perasaan gue."


Ia kembali beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Faraz, "Kita nggak saling kenal, but i know you. Mendingan lo jujur daripada Zea lebih terluka lagi dari sekarang. Gue udah kenal Zea lama. Yang gue tahu nggak ada kata maaf untuk sebuah kebohongan." Bisiknya dan berlalang pergi.


Jleb


Zea POV


Kenapa air mataku menetes? Apa hatiku berdarah, kenapa begitu sakit. Perih. Seolah air mata asin ini yang menyiram luka nanar di jantungku. Seharusnya dari dulu aku sadar dan tak menggantungkan tali harapan di perahunya.


Aku terisak di dalam ruangan yang luasnya 5 meter itu. Mungkin Tuhan cemburu karena lagi lagi aku berharap pada manusia. Dan bukan padaNYA. Bukankah Aku gadis scorpio? Gadis kuat dan tangguh, Kenapa aku terisak begini. Aku bahkan sudah merasa dibutakan oleh cinta, cinta yang sama sekali belum aku sentuh.


**


Pagi ini Terik matahari menyusup ke dalam kamar, aku menggeliat. Semenjak sore kemarin aku belum melihat Faraz lagi. Ada apa dengannya. Apa setiap laki–laki selalu kejam seperti ini? Membuat kita melayang ke langit lalu dengan pelan menghempaskan ke bumi.


Mataku menangkap sesuatu di atas meja, Bubur wortel? Tunggu dulu. Ada secarik kertas disana. "Dimakan yah, sebelum pulang nanti temui aku di UGD." Aku menghembuskan nafas pelan. Jangan sampai karena secarik tulisan ini. Aku sampai lupa posisiku, dan terbawa suasana lagi. Bukankah kemarin sudah jelas. Apapun yang di lakukannya adalah bentuk janjinya pada ibuku.


Sudahlah tak baik juga membiarkan hati terus bersedih. Gadis scorpio selalu kuat dan tangguh. Oke Fighting!

__ADS_1


Enak sekali bubur ini, mangkuk ini bersih tanpa sisa. Ini aku yang lapar atau memang karena enak.


"Selamat pagi kak,"


Aku menjengit kaget, hampir saja mangkuk di tanganku jatuh.


"Ngagetin aja sus,"


Sr. Luna tersenyum, "Saya tadi sudah ngetuk pintu. Tapi Kaka lagi asyik muter–muter mangkuk."


"Oh, maaf sus. Soalnya tumben saya ngabisin sarapan. Ini buburnya yang enak atau saya yang lapar." Ujarku.


Sr. Luna terkekeh kecil sambil mencabut pelan infusku, merapikan selang–selang itu di atas nampan kecil miliknya. "Itu bubur bukan dari rumah sakit kak, tadi Faraz yang membawakannya dari rumah." Sr. Luna menjelaskan.


Huh benar laki – laki itu lagi, Oh Tuhan tidak bisakah sehari saja tanpa kebaikannya.


"Makasih ya sus,"


Sr. Luna pamit undur diri. Sebelum pergi ia menjelaskan semua urusan administrasi sudah selesai. Aku hampir saja lupa tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi Jakarta. Kota maenstream dengan julukan ibu tiri.


"Siapa yang membayar bill saya sus?."


"Maaf kak, saya hanya menyampaikan itu saja. Yang lainnya di luar wewenang saya."


"Lalu obat saya?"


"Nanti Kaka bisa tanyakan ke Faraz."


Aku mendengus kesal. Apa orang itu Mas Faraz? Aku berjalan pelan ke UGD, sesuai permintaannya, sebenarnya aku bertanya-tanya kenapa ia memintaku ke UGD, apa ia menjadi sukarelawan disitu?, atau dokter Marcell sedang di sana?, enaknya menjadi Faraz, ia tidak perlu membuang banyak uang untuk belajar sepertiku. Cukup menjadi orang kepercayaan ia bisa belajar banyak ilmu, dan mempraktekannya sendiri. Kenapa aku ini, apa aku iri?


Harusnya aku bangga. Aku adalah gadis scorpio yang bisa memiliki dan mencapai apapun dengan usahaku sendiri. Sungguh tidak pantas mengeluh untuk gadis langka sepertiku. Jika kalian gadis scorpio sepertiku, aku hanya ingin bilang. "You can do anything!", punya banyak hobi dan mimpi. Itu hal yang wajar. Pemikiran panjang, mandiri juga kalian miliki. Gunakan itu untuk mencapai segala tujuan. Karena keahlian gadis scorpio bukan hanya menjerat lawan jenis hanya dengan sorot mata. Kalian di takdirkan untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Jangan lupakan itu.

__ADS_1


Secuil khotbahku siang ini di lorong rumah sakit, mungkin orang akan melihatku seperti orang gila, no probelm ini adalah salah satu caraku menghibur diri.


__ADS_2