
Suasana di UGD lumayan ramai, banyak pasien antri di kursi panjang sana. Tanpa basa-basi aku langsung masuk kedalam.
"hai Zea, bagaimana kabar hari ini?" sapa dokter Jo yang sedang menuliskan resep di mejanya.
Aku tersenyum kikuk dan menghampirinya. Beberapa pasang mata suster disana menatap kearahku, sulit di artikan. Tatapan ramah atau sinis aku tidak bisa membedakannya, tapi kujawab seanggun mungkin.
"Dok, ada lihat Faraz?"
Dokter Jo tersenyum kecil. Ia menjawab dengan mimik wajahnya. Alisnya menukik keatas dan matanya mengarah ke sudut korden paling pojok. Aku mengikuti arah matanya. Korden biru langit itu tertutup rapat hanya ada sepasang kaki terlihat dari bawah. Aku berjalan mendekat, suara Faraz terdengar jelas di dalam.
"Maafkan kaka yah, kaka lalai jaga kamu."
"Nggak papa ka, akunya aja yang kurang hati-hati"
"Cepat sembuh nanti kaka temani kamu lagi ke mall"
"Oke"
Mas Faraz punya adik? bukannya dia hanya punya adik angkat? dan bukannya dia dikampung? aku tidak mau berasumsi lagi jadi kuputuskan masuk kedalam. "Permisi" ucapku pelan. Tidak sengaja sorot mataku langsung kearah tangan Faraz yang menggenggam tangan gadis di depannya. Anak itu terbujur lemas diatas brangkar. bagian pelipisnya terbungkus kapas putih bukan hanya pelipis, bagian sikut juga. Seperti korban kecelakaan.
Ku tepis lamunanku. "Ma_maaf mas, aku mau ambil obat." Faraz langsung menarik tangannya darisana. "Iya sebentar," Faraz merogoh jas putih miliknya. Seperti jas dokter pada umumnya. Tapi ah sudahlah mungkin itu jas milik dokter Marcel.
"Ini obatnya, kamu pulang naik taxi aja yah. Aku-."
"Tidak apa-apa mas, aku bisa sendiri."
"Ehem"
Faraz melihat kearah gadis itu, "Oh iya Zea kenalin ini Colin, Colin kenalin ini teman kak Faraz namanya Ka Zea."
Teman? hanya sebatas itu? ohh sakitnya hati ini Tuhan. Aku hanya tersenyum sebisaku, dan kami berjabat tangan. "Zea ini Colin anak Bu Salma, hari ini harusnya aku jemput dia pulang sekolah, tapi karena ada sesuatu yang urgent akhirnya dia pulang sendiri, dan jadi korban tabrak lari." tutur Mas Faraz.
"Astagfirulloh hal'adzim, terus gimana mas? tersangkanya udah ditangkap?" Mas Faraz menggelengkan kepala. Gadis berbalut jilbab hitam ini sangat manis. daritadi ia hanya menyimak pembicaraan kami. "Kak Zea juga pasien disini?," ucapnya.
"Iya, tapi hari ini kak Zea sudah boleh pulang." Colin menatapku dari bawah hingga atas. Aku tahu dia pasti heran dengan kostum piyama doraemonku, apalagi rambut panjangku saat ini hanya ku cepol ke atas asal-asalan. Belum lagi sendal bulu yg kupakai hari ini. Kemarin Arni membawa semua baju kerja dan tasku ia hanya meninggalkan baju piyama di dekat meja.
"Assalamu a'laikum"
__ADS_1
"Walaikumsalam" ucap kami serentak saat seorang ibu paru baya masuk kedalam. Faraz mencium tangannya, tidak lama ibu itu mencium puncak jilbab Colin.
"Kenalin bu ini Zea, Zea ini bu Salma"
Oh jadi bu Salma yg sering Mas Faraz sebut ini orangnya. Seorang ibu yang sederhana tapi terlihat elegan dengan hijabnya. Baju dan benda lain yang ia pakai adalah barang branded. Aku tahu karena dulu aku lama di retail sedikit banyak aku tahu barang-barang mahal di mall.
"Assalamu a'laikum bu Salma, saya Zea" aku menjulurkan tanganku, berharap bisa berjabat tangan tapi sepertinya bu Salma enggan dan kembali mengelus puncak anak gadisnya. Oke fix ini cukup memalukan, aku kembali menarik tanganku. Dan keluar dari ruangan itu.
"Sebentar ya bu," Mas Faraz mengikutiku hingga depan pintu UGD.
"Maaf yah bu Salma mungkin masih syock." ujar Mas Faraz.
"Nggak papa Mas, obatku mana?."
"Oh iya ini, diminum teratur yah. Seperti biasa injeksinya jangan sampai lepas dari tas."
"Kalo aku nggak bawa tas?
"Kantongin."
"Kalo nggak ada kantong?" tanyaku balik.
Dikejauhan 50 meter Vino melambaikan tangan, aku mengangguk dan Mas Faraz mengikuti arah mataku. Sesuai dugaan Mas Faraz tidak akan suka hal ini "Kamu pulang sama Vino?" aku mengangguk kecil.
"Kenapa nggak bilang?"
"Apa penting?" sebelumnya aku tidak pernah menjawab asal begini. Aku hanya ingin mempertegas diriku sendiri untuk tidak terlalu berharap. Lagian bukannya baru saja ia mengatakan aku adalah teman biasa di depan Colin?
"Yasudah. Saya masuk dulu, kamu hati-hati"
Sungguh ingin sekali kuteriak, setidaknya jawab dulu pertanyaanku. Main nyelonong aja. Ah mungkin aku benar-benar bukan orang yang penting baginya. Aku mendengus kesal.
"Hai Ze, udah lama nunggu?"
"Belom"
"Tu muka kenapa dilipet begitu, jelek amat"
__ADS_1
"Nggak papa yuk jalan sekarang, aku udah kangen banget sama kamar emonku."
"Dasar"
Takk Vino menjitak kecil jidatku.
"Aw.. sakit pinterrr"
**
Sesampainya di depan kosan Vino langsung pamit. Hari ini ia hanya ingin mengantarku pulang dan kembali lagi ke kantor.
Tok Tok Tok
Tidak ada suara kehidupan di dalam, harusnya ida ada dirumah, karena sejauh yang kuingat ia sedang santai menghabiskan jatah cutinya. sekali lagi kuketuk pintu dengan keras Tok Tok Tok Ida!! teriaku.
Tara!!!!
Aku terkejut Ida sembunyi di belakang boneka beruangku, kemudian ia mengambil kue dengan lilin yang sudah menyala. Aku bahkan lupa hari ini adalah hari lahirku. "Ya ampun, makasih centong aku terharu." Ida tertawa dan memeluku. "Eiitss make a wish dulu. aku duduk dan berdoa dalam hati lalu kuteriakan sekencang mungkin. "Ya Allah, Kelarkan skripsiku, dan dekatkan jodohku!!!!"
buhhhh.... cahaya lilin redup prok prok prok
"Maafin aku ya Ze nggak sempat jenguk kamu."
"Nggak papa centong, aku tahu kamu sibukan sama om-ommu itu, hahahah" godaku.
"Enak aja nggaklah, cuma sibuk shoping aja. wleeee"
"Lusa kita kepuncak Ze, ikut yah."
"Puncak? acara apa? terus siapa aja?"
"Acara ultahmulah, pokoknya aku dah siapin apa aja yang mau dibawa. Yang rencana ikut selain kita ada Vino dan kawan kawan."
"Tapi da_"
"Huss nggakda tapi-tapi" katanya menyodorkan potongan pertama kueku.
__ADS_1
Kenapa harus ada Vino. Kalau Mas Faraz tahu bagaimana ini. Kalau tiba-tiba Mas Faraz ikut juga gimana? Ya Tuhan. Semoga tak serumit yang kubayangkan.