illusion of love?

illusion of love?
Jatuh pingsan


__ADS_3

"Mas Faraz habis belanja?." tanya Arni.


Aku hanya berdehem, sedikit memberi kode pada Arni untuk kalem. Tapi Arni malah menjulurkan lidahnya. Ingin sekali ku tarik lidah itu dan ku potong potong sebagai toping sandwichku.


"Bukan punyaku Ar, punya- ,"


Aku sudah menduganya, Faraz tidak mungkin terus terang, aku akui semenjak dekat dengannya, ada banyak hal yang ia tutupi, kecuali perihal Ibu dan Bapaknya. Sedikit banyak aku tahu dari ceritanya.


Arni seolah menunggu lanjutan ucapan Faraz, sedangkan aku lebih baik mengalihkan mataku pada gedung – gedung tinggi di luar sana. Sesekali ku lihat spion depan. Sepertinya Faraz tahu ucapannya yang menggantung tadi membuat moodku buruk.


"Mas Faraz darimana?" pertanyaanku adalah sedikit usaha menghilangkan kecanggungan di dalam mobil.


"Habis ngantar teman, kebetulan waktu sedang senggang."


"Temannya cewek yah?,"


Ya Alllah bodohnya aku, apa urusannya denganku, bukannya itu haknya, hubungan tanpa ikatan bukannya sama sama tidak punya hak? Aku meremas ujung rok ku. Merutuki ucapanku sendiri.


"Ciye cemburu," ledek Arni sambil tertawa.


"Eng – enggak, maksudnya kalo cewekan berarti pulang harus di jemput. Ndaak baik pulang sendirian," alibiku.


"Ah ela Ze, jaman udah modern kali ! Tinggal klik, mobil udah depan mata."


Faraz menatap kami dari spion dan tertawa kecil, "Benar kata Zea, Ar. Ndak baik cewek pulang sendiri. Kalo grabcarnya penculik gimana,"


"Jadi Mas Faraz nanti mau jemput dia lagi?," Oh syukurlah Arni tahu harus menjawab apa, jadi aku tidak harus malu malu bertanya langsung.


"Maybe," ucapnya datar.


Seperti ada aliran listrik kecil di dadaku. Tapi sekeras mungkin aku bersikap biasa, ini bukan pertama kalinya Faraz mengantar dan menjemput seseorang, pernah suatu kali ia membatalkan janji denganku karena mengantar seseorang ke Bandung. Bu Salma, nama itu yang sering ia sebut. Dia bilang Bu Salma ini adalah tetangganya.


Pernah juga secara tiba – tiba ia pergi tergesa, padahal baru hitungan detik sampai teras kosanku. Itu berlangsung beberapa kali. Tapi kenapa rasa ngilu di dada tetap saja sama. Kenapa aku belum terbiasa dengan hal itu.


Aku kembali menatap ke arah kaca, sesekali pandangan kami bertemu di kaca spion.


Dering hp terdengar, rasanya bukan miliku. Aku melirik ke arah Arni. Ia tertidur pulas disana. Dasar kebo.


"Walaikumsalam,"


Oh ternyata hp Faraz, pandanganku kembali menyapu jalanan. Beberapa kali ku dengar suara deheman Faraz,


"Ehem....Ya Dok, saya segera kesana."


"Dari rumah sakit?." Tanyaku pada Faraz.


"Iya, dokter Macel menyuruhku kembali kerumah sakit." Ia membanting setir ke arah kanan.


Dokter yang di sebutkan Faraz adalah dokter spesialis bedah. Dan Faraz adalah supir pribadinya, aku tidak tahu awal perkenalan mereka, hubungan mereka sudah terjalin cukup lama sebelum kami saling kenal. Tapi Faraz pernah sedikit cerita, bahwa dokter Marcell sering berbagi ilmu kedokterannya. Dari dulu Faraz memang sangat ingin mendalami bidang tersebut tapi keadaan ekonominya tidak mendukung.


"Yaudah, turunin kami disini." Pintaku.

__ADS_1


"Aku antar kalian dulu," jawabnya.


Tidak lama kami sampai di kantor, Arni mengucek matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran.


"Udah sampe bae Ze," ucapnya sambil mengulet, merenggangkan tangannya ke atas. "Iyalah lu kebo!" jawabku.


Baru saja aku membuka knop pintu mobil, suara Faraz menghentikanku. "Nanti pulang jam berapa?." Aku berfikir sejenak. "Mungkin jam 10 malam, bab pertama masih banyak revisi soalnya jadi kukerjakan di kantor."


Ia menengokan kepalanya, senyuman manis menghias di bibir "Aku tunggu di tempat biasa." Ku anggukan kepala tanda mengiyakan. Saking senangnya aku tersenyum sendiri saat membuka pintu mobil. Aku kira Faraz lupa kebiasaannya menjemputku jika pulang malam. Pasalnya minggu ini ia terlalu sibuk.


Mobil Faraz perlahan menjauh menghilang perlahan.


Kruk kruk


Arni memicingkan mata ke arah pusarku. Segundukan majalah dan berkasku ku berikan padanya. "Hehe aku makan dulu yah,"


Arni memutar matanya malas, "Oke!." ia berjalan pergi masuk ke kantor.


Ada banyak restaurant di depan kantor kami. Mataku tertuju pada restaurant jepang, seorang pria melambaikan tangan di sebrang sana.


Aku berlari ke arahnya, pria itu tersenyum kemudian menggiringku masuk ke dalam.


"Disini aja," ucapku.


"Mbak boleh lihat menunya?!" teriaknya pada salah satu waitres.


"Mau pesan apa kak?,"


"Gimana tadi lancar?,"


Aku lebih memilih mengukur meja dengan kepalaku. Malas sekali membahas hal memalukan tadi.


"Sepertinya kabarnya kurang bagus, okelah berhubung lo nggak jadi kaya, jadi hari ini biar gue yang traktir!,"


"Sombong bener lo!"


Vino kembali tertawa kecil, tidak lama makanan kami datang. Satu kebiasaan kecil yang ku lihat dari pria ini. Ia mengambil 2 potong tisu. Melipatnya menjadi bentuk persegi kecil. Di letakannya di dekat piring.


Ah sudahlah, bukannya aku sudah mengenalnya lama kenapa masih terheran – heran.


"Lo gimana, dapat client positif gak hari ini?."


Vino yang tekun dengan sendoknya menggelengkan kepala, sekarang giliranku tertawa. "Hahaha" Vino menatap mataku intens, aku tertegun.


"Yang penting gue udah kaya," ucapnya, tiba- tiba memutar matanya juling.


"Gue tahu, 3 kali berturut – turut achive goals itu memang luar biasa!." Ku tekan kata akhir.


"Novel lo gimana?,


"Belum kelar, skripsi gue juga masih berantakan. Kenapa berjuang hidup harus seberat ini ya," keluhku.

__ADS_1


Vino merampungkan makanannya, bibirnya yang tidak blepotan di lap dengan tisue tadi. Tangannya mendekat ke arahku,


Tak!


"Aw! sakit pinter!" teriaku. Aku kira dia mau mengelus rambutku, malah memberi jitakan kerikil di kepala.


"Hidup lo banyak di nantikan orang di luar sana!,"


Aku berpikir sesaat, benar kata Vino. Kita harus melihat kebawah dan tidak terus mendongakan kepala ke atas. Banyak di luar sana yang ingin kuliah tapi tidak ada dana atau banyak uang tapi tidak punya waktu di sela – sela kesibukannya. Contohnya Pria sombong di depanku ini. Ia menghabiskan seluruh tabungannya untuk merawat ibunya yang sudah lama duduk di kursi roda. Aku dan eitin pernah mengunjunginya dirumah. Di rumah ia jadi sosok yang begitu hangat. Tapi di tempat kerja ia jadi sosok yang menyebalkan juga menggemaskan kadang - kadang.


"Ze, lo bengong?."


"Ah enggak."


"Lo udah move on kan dari Wira? Kata Arni beberapa waktu lalu dia dateng ke rumah lo."


Arni!!! Awas kau! Apa untungnya cerita hal ini pada Vino benar – benar anak itu!


"Nggak perlu di sebut juga namanya kali ! gue baik – baik aja Vin."


Pertama kali kenal lo dulu, gue udah nggak pernah mikirin dia.


Andai aku bebas berekspresi, ku pasti mengatakan itu. Sayangnya kata itu tercekat di tenggorokan.


"Haruslah, move on dari mantan itu mungkin gampang,"


Kalimat Vino menggantung. "Memangnya move on apa yang susah?." Tanyaku.


"Move on, dari seseorang yang belum pernah lo miliki."


Suara denting jam seperti berhenti. Tidak ada suara kecuali suara debar di dadaku. Bagaimana tidak. Tatapan kami bertemu cukup lama. Aku tersedak Hampir saja tidak bisa bernafas. Vino menyodorkanku air minum.


"Makasih." Balasku.


"Tunggu di sini ya, gue bayar dulu." Vino berdiri menuju kasir.


Pandanganku menembus kaca yang menjadi dinding tembok restaurant ini. Aku seperti melihat mobil Faraz berlalu. Ah mungkin halusinasiku saja. Bukannya Faraz sudah pergi 40 menit yang lalu.


"Nih simpen, tanda kalo gue pernah murah hati sama lo!." Katanya menyempilkan bill di tanganku.


"Najong!" umpatku.


Vino masih menunggu di depan pintu. Ketika berdiri tiba – tiba kepalaku terasa pening. Hampir saja aku kehilangan keseimbangan, untung ada meja di depanku. Aku memegangnya erat.


"Yukk," ucapku, mencoba menahan sakit yang tiba – tiba mendera.


"Lo nggak papa?."


Aku hanya menggeleng, "Paling darah rendahku kambuh."


Baru lima langkah dari restaurant, badanku ambruk, pandangan yang jelas berubah meremang. Tidak ada yang ku rasakan, selain mendengar teriakan minta tolong. Seseorang meraih tubuhku, aku bisa merasakan itu. Aku tidak bisa melihat wajah tegasnya, karena pandanganku semakin meremang. Nafasku semakin sesak, Atau apakah aku bermimpi. Karena sekarang semuanya terasa gelap gulita.

__ADS_1


__ADS_2