illusion of love?

illusion of love?
Rumah sakit


__ADS_3

Author Pov


Di perjalanan pulang Faraz tersadar sesuatu tertinggal di belakang. Ia berhenti di tepi jalan. Ternyata diary kecil milik Zea, jujur Faraz penasaran dengan isinya. Tapi dia tahu batasan. Dibanting setir mobil memutar arah balik. Untungnya tidak macet, jadi dengan mulus ia cepat sampai di tempat tadi.


Tangan kanannya melambai ke arah Zea, ingin memanggilnya tapi diurungkan karena sepertinya Zea mau bertemu seseorang.


Faraz tahu pria itu, dia adalah teman Zea dalam empat tahun ini, terjalin seperti teman biasa namun siapapun pasti bisa melihat ada makna besar di dalamnya. Sulit dipercaya ternyata mereka masih begitu dekat. Faraz menarik nafas panjang dan membanting pintu mobil kasar.


Ia kembali menghidupkan mesin, dan berbalik arah. Tidak di pungkiri selama perjalanan Faraz memikirkan mereka, apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana kedekatan mereka saat ini. Selama ini Faraz tidak ambil pusing perihal Zea mau berteman dengan siapapun. Tapi mendengar Zea menyebut nama ber-inisial Victor itu, membuat darahnya mendidih. Cemburu? Entah Faraz tidak mengerti.


"Ah sial!" umpatnya kemudian berbalik arah lagi ke restaurant, ia tidak bisa membiarkan otaknya terus penasaran.


Setelah merapikan mobilnya di parkiran, pria gagah itu berjalan ke arah restaurant. Hatinya merasa ada hal buruk yang terjadi, Benar saja restaurant itu di kerumuni banyak orang. Ia mendesak masuk ke dalam.


"Ze bangun Ze!," Vino mengguncang pipi Zea berkali – kali, tapi tidak ada respon.


"Zea?" Faraz panik melihat Zea tergeletak lemas di lengan Vino. Ia bergegas membuka jaket dan menutupi roknya. Gadis itu kesulitan bernafas, dengan cepat Faraz mengambil alih tubuhnya dan membaringkannya di lantai.


"Makan apa dia tadi?!." Gertaknya pada Vino yang terlihat panik dan bingung.


"Makan apa!." Ucapnya lebih keras.


"Su- Sushi udang." Vino tergagap.


"Oh syit!."


Faraz kembali mengecek nadinya, mencoba mendengar deru nafasnya, tanda – tanda vital menurun, irama jantungnya berdetak lebih kencang dan pendek. Zea adalah penderita anafilaksis sejak kecil, tubuhnya tidak bisa menerima dzat yang terkandung pada binatang laut. Syok anafilaksis harus di tangani di tempat, waktunya tidak akan cukup di larikan ke rumah sakit. Jika tidak segera di tangani, penderita anafilaksis akan mengalami gagal ginjal juga kerusakan otak bahkan kematian.


"Anggap saja suntikan ini adalah aku, agar kamu ingat dimanapun kamu berada, ada aku yang melindungimu,"


Ingatan itu muncul secara tiba – tiba, kalimat itu adalah bujukan agar Zea mau membawa cairan itu turut bersamanya setiap hari. Mudah–mudahan Zea masih mau menyimpannya di dalam tas. Faraz membalik tas itu sampai isinya berserakan. Benar saja obat itu terjatuh dari tas. Ia membuka sedikit rok Zea yang di selimuti jaketnya.


"Maafkan aku Zea."


Di suntikannya cairan itu melalui paha. Kenapa paha? karena adrenalin itu harus di suntikan langsung ke pembuluh vena, tidak ada waktu membuka blazer yang membungkus lengannya. Laki – laki itu menekan dada Zea sedalam 5 cm, lalu mendongakan dagunya, tidak ada alat CPR, ia memberi pernafasan melalui mulut, belum ada tanda kesadaran, ia kembali menekan dadanya.


Suara ambulan terdengar keras memekik, beberapa tenaga medis turun bergegas menggotong tubuh Zea, sesaat sebelum di pindahkan ke brankar jari telunjuk Kanannya bergerak, Faraz sedikit lega karena nafasnya sudah kembali walaupun masih lemah. Mereka memasangkan oksigen ke mulutnya.


Faraz menatap tajam manik Vino. "Urusan kita belum selesai!."


"Zea bangun Ze!," Faraz mencoba menyadarkan gadis itu setibanya di rumah sakit, tapi hasilnya nihil.


"Panggilkan dokter Jo. Cepat!" perawat UGD itu langsung berlari mencari dokter itu.


"Cek tanda vitalnya, lakukan pemeriksaan darah dan elektrokardiogram. Cepat!," Bentaknya pada perawat.


Perawat di UGD terpogoh-pogoh menjalankan intruksi Faraz. Semua orang disitu heran, dan bertanya-tanya ada apa gerangan, karena situasi Nampak begitu tegang.


"Siapa Far?," tanya dokter Jo yang berjalan terburu menemuinya.


"Zea Jo, tolongin dia, praduga diagnosa anafilaksis." Sorot mata Faraz cemas, penuh harap pada dokter di depannya.


"Lo duduk dulu. Atur nafas. Kalo lo tiba – tiba struk gue juga yang repot," jenaka Dokter Jo sambil menepuk pundak Faraz. Dan berlari kecil ke brankar Zea.


-


Dokter Jo selesai melakukan pemeriksaan, Faraz bergegas mendekatinya.


"Gimana jo keadaannya?."

__ADS_1


"Ruam di mulut udah terlihat, gue harap gak sampe tenggorokan, nadinya masih lemah. Untungnya pertolongan pertama lo gak telat. Kalo telat semenit aja. Gue gak yakin dia-." Dokter Jo menghela nafas sebentar, "Tapi tenang aja dia udah nglewatin masa kritis. Kalo keadaan membaik kita bisa pindahin ke kamar perawatan."


"Makasih Jo,"


"Sama – sama."


Faraz kembali memastikan keadaan Zea, ia mengusap rambutnya pelan. Melihat Zea terbujur kaku seperti ini hatinya hancur. Ada banyak hal yang ingin Faraz ceritakan pada gadis itu, walaupun ia sendiri ragu bisa mengakuinya atau tidak.


"Jangan membuatku takut Ze," ucapnya lirih, menyeka sudut matanya yang berair.


Faraz pernah berjanji tidak akan membiarkan Zea merasakan kondisi seperti ini lagi. Tapi hari ini ia sadar, ia gagal menjaga janjinya.


Zea Pov


Mataku mengerjap beberapa kali, hanya ada kabut putih di depanku perlahan kabut itu pergi dan aku menemukan setitik cahaya di sana, seperti bangun dari tidur yang lama. Itu yang ku rasakan. "Dimana aku," ruangan ini kosong. Di depanku hanya ada tembok bercat putih. Di ujungnya ada pintu yang warnanya senada dengan tembok.


Sesaat kemudian aku tersadar, seseorang duduk dalam keadaan tidur di sampingku. Itu Faraz, pasti dia kelelahan karena menjagaku semalaman. Kupandang lekat wajahnya, apa benar aku sungguh jatuh hati padanya, Wajah tenang itu yang selalu aku rindukan, tidak bisakah setiap pagi ku lihat ketenangan ini?.


Walaupun belum sepenuhnya tenagaku pulih, aku mencoba menggerakan tangan kiriku. Kalau di biarkan terlalu lama kasian tubuhnya tidak bisa istirahat dengan benar.


"Mas,"


Ia bangun, mengerjapkan mata berkali – kali, punggung tangannya menyentuh dahiku, "Syukurlah, keadaanmu membaik." Aku tersenyum mengedipkan mata.


"Bagaimana, apanya yang sakit?."


"Leherku," ucapku lirih.


Faraz tersenyum "Tidak apa apa, nanti akan membaik,"


Faraz mengusap pipiku, kehangatan tangannya menjalar ke seluruh tubuh. Pasti sekarang ini, keadaanku sangat buruk. Pucat dan menyedihkan. Kenapa Faraz harus bertemu denganku di situasi seperti ini untuk kedua kalinya. Sesalku.


Pandangan sejuknya membelah ke dasar hati. "Always beautiful," ucapnya.


"Hiburan?."


Faraz tertawa kecil. "Kamu masih sakit, jangan banyak bicara dulu."


Aku tersenyum mengangguk, meskipun mungkin senyumanku tidak terbaca karena ketinggian bibirku bertambah 3 kali lipat.


"Selamat pagi," sapa seorang dokter yang tiba – tiba masuk ke ruangan.


"Sebentar yah, saya periksa dulu."


Faraz menggeser posisinya. Membiarkan dokter menempelkan alat yang menjalar ke telinganya, di dadaku. Dokter Jo juga melihat ruam–ruam yang sudah bertebaran di tubuhku, terutama bagian wajah.


"Bagaimana?,"


Dokter yang memakai name tag Johanes itu menatap mata Faras lega, "Syukurlah keadaannya membaik, sementara waktu untuk makan dan semua obat hanya bisa melalui infus, karena adanya ruam di tenggorokan."


Apa yang lebih menyedihkan daripada ini? Jangankan makan. Menelan ludah saja terasa sakit.


"Terimakasih dok,"


Dokter itu menangkup daun telinganya dan mendekatkan ke Faraz. Aku tidak tahu apa maksudnya. Kemudian ia tertawa. "haaha sama–sama,"


Baru saja dokter Jo pergi, ada seseorang yang mengetuk pintu. Ternyata Eitin dan Arni yang datang.


"Ya Allah Ze, gimana kabar lo?"

__ADS_1


"Lo pake nanya lagi, udah jelas buruk begini. Liat tu muka. Pucet banget." Sahut Arni.


Tatapan Eitin seperti sedang mengintrogasiku, jeda seperkian detik ia tertawa, "Bibir lo? Hahaha!"


Sial ia menyadarinya, dan lihat tawanya yang terbahak sungguh menjengkelkan.


"Ar. Ada bunga nih.. emm dari-." Arni seperti ingin menyembunyikan kalimat itu dari seseorang, tapi siapa?


"Dari anak–anak." Ida melengkapi.


Faraz menaikan alisnya ragu, Aku tidak tahu persis, tapi sepertinya Faraz membaca sesuatu di sela bunga itu. Dipencet bell ruangan dengan tangan kirinya. Beberapa detik seorang perawat muncul.


"Ada yang bisa di bantu dok?,"


"Berikan ini pada dokter Jo," ucapnya memindahkan bunga itu padanya.


"Baik dok,"


Aku cuma memandangnya aneh, padahal belum sempat aku memegangnya, sungguh tidak adil. Tidak hanya aku. Kedua sahabatku juga melontarkan tatapan yang sama ke arahnya.


"Loh kenapa?."


Arni dan Eitin menggelengkan kepala.


"Itu hanya ungkapan terimakasih untuk dokter Jo, salah?." Matanya menatap kami bertiga secara bergantian.


Karena dokter Jo atau ada sesuatu di bunga itu? Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Nanti akan ku tanyakan langsung pada Arni.


"Nggaklah siapa bilang salah, ya kan Ar?."


"Iya, orang cuma bunga kek gitu. Tapi ngomong – ngomong ko perawat itu manggil Mas Faraz dokter si?,"


Iya juga ya kenapa tidak terfikir olehku. Perawat itu dua kali memanggil Faraz dengan sebutan dok. Faraz menggaruk tengkuknya yang mungkin sedang gatal.


"Itu perawat baru, tidak bisa membedakan mana dokter mana pembantu dokter." Jelasnya. "Kalian bisa nggak temani Zea sebentar? saya ada urusan."


"Bisa donk, apapun untuk Zea kami akan lakukan!"


"Menjaga Mas Faraz juga mau!," cletuk Eitin.


Karena tidak bisa berdehem aku terpaksa mengangkat kaki kiriku. Agar mereka sadar ada aku disini.


"Becanda kali neng," goda Eitin.


Faraz tertawa kecil, "Yaudah saya keluar dulu," sebelum pergi Faraz mengusap kepalaku. "Cuma sebentar." Hal ini yang paling aku suka darinya, setiap kali Faraz mengusap rambutku seperti ada aliran listrik yang membuat jantungku berdentum kencang. Ah aku sungguh suka.


Arni mengantar Faraz keluar kamar, beberapa detik ia masuk mengendap- endap dan mengambil alih posisi di sebelah kiri. "Tadi bunga dari Vino Ze," bisiknya.


Dari awal aku sudah menduganya, Faraz tidak mungkin membuang barang yang seharusnya jadi miliku jika memang tidak ada sesuatu disana. Tapi kenapa, apa Faraz cemburu? Atau dia salah faham dan menyalahkan Vino atas kejadian ini? Semoga saja tidak.


"Dimana?" ucapku lirih.


Mereka saling adu pandang mengartikan kata yang ku ucapkan barusan, sudah 4 tahun kami berteman masa mengartikan hal sekecil ini saja mereka tidak bisa.


Eitin menggaruk rambutnya, "Maksud lo Vino?" aku mengedipkan mata.


"Dia masih di kantor, kayanya dia ngrasa bersalah banget sama keadaan lo Ze, kerjaannya cuma ngelamun. Tiap kali gue Tanya cuma jawab nggak papa."


"Iya, gue sedih banget ngliatnya, biang rusuh tiba-tiba diem kaya ayam ketulangan." Tambah Eitin.

__ADS_1


Biang rusuh yang di sebutkan Eitin tidak lain sikap Vino yang suka iseng, pintar acting, dan menirukan gaya orang, Tingkahnya yang konyol selalu bisa menghidupkan suasana kantor. Kami percaya kuburanpun akan jadi pasar jika ada dia. Sampai ada satu hal yang baru kusadari selihai apapun aku merangkai kata melalui pena, aku tetap tidak bisa menggambarkan sosoknya. Begitu juga dengan Faraz, Entah rasanya tidak ada kata yang bisa menggambar seburuk ataupun sebaik sosok mereka. Aku berharap Vino bisa datang menengoku, setidaknya aku bisa menjelaskan musibah ini bukanlah salahnya.


__ADS_2