IN ANOTHER WORLD WITHOUT MY EQUIPMENT

IN ANOTHER WORLD WITHOUT MY EQUIPMENT
Reinkarnasi


__ADS_3

Siang hari yang cukup cerah, banyaknya awan di langit membuatnya terasa nyaman untuk dilihat. Sekarang adalah musim semi, para penduduk desa Kukuh saat ini sedang memanen gandum dari ladang-ladang mereka.


Terlihat seorang anak laki-laki yang sekarang berusia dua belas tahun. Anak laki-laki itu bernama Fido Nicholas. Dia berjalan kaki sendirian di tepian jalan, jalan itu memiliki lebar sekitar dua meter, ada banyak rumput yang tumbuh di tepian jalan, juga batu-batuan kecil akan terlihat setiap kali anak laki-laki itu melangkahkan kakinya.


Terdapat perkebunan sayuran di kedua sisi jalan tersebut, namun tidak ada orang di sana karena kebanyakan dari mereka sedang berada di ladang.


Fido membawa keranjang di tangan kanannya. Keranjang itu berisi makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di ladang. Dia selalu melakukan ini setiap hari saat musim panen. Itu adalah pekerjaan yang sangat mudah, dia belum pernah menemui masalah saat melakukannya.


Namun, hari ini sesuatu yang aneh terjadi padanya.


“Ahk Aaaghhh!!” teriaknya sambil menyentuh dahinya.


Sakit. Rasa sakit itu muncul secara tiba-tiba di kepalanya. Benar-benar sakit. Rasanya seperti dipukul oleh palu yang sangat besar dan kau tidak tahu darimana asal pukulannya.


Kenapa... ini?


Fido mulai merasakan pusing, tubuhnya sempoyongan dan akhirnya dia pun terjatuh. Dia masih sadar, namun pandanganya kini memudar dan kesadarannya juga perlahan menghilang. Awan yang ia lihat di langit mulai terlihat buram kemudian semuanya berubah menjadi gelap.


Ini sakit, ini juga aneh, seharusnya aku sedang dalam kondisi yang sangat sehat saat ini, kurasa aku juga tidak mempunyai riwayat penyakit apapun? Tapi, kenapa? Darimana perasaan menyakitkan ini?


Apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Fido bertanya-tanya sebelum akhirnya dia pingsan.


&


Beberapa saat kemudian dia kembali terbangun, namun dia segera merasakan rasa sakit yang sama di kepalanya.


“Adu-du-du-duh ... SAKIIITT!! AAAGH!!” Dia bangun kemudian memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Kali ini dia tidak pingsan, rasa sakitnya justru mulai berkurang kemudian secara perlahan menghilang entah kemana. Akan tetapi dia masih merasakan pusing sedikit. Dia sekarang baik-baik saja. Mungkin.


Fido memijat dan meraba-raba setiap bagian kepalanya. Dia menyadari rasa sakit itu bukan berasal dari serangan fisik, akan tetapi itu muncul dari dalam kepalanya sendiri. Sekarang dia merasa otaknya sedikit bergeser, tapi itu hanya perasaanya saja.


“Apa-apaan itu sebenarnya, sialan. Eehh ..., ini dimana, yah?” Sembari memijat kepalannya ia juga menatap sekelilingnya. “Oh iya, Aku sedang melewati gerbang ke dunia lain dan ... ” Dia kemudian melihat sebuah keranjang yang tergeletak di dekatnya.


Apa ini?


“Oh benar, aku harus segera mengantar makanan ini ke Ayah.” Dengan khawatir Fido memeriksa isi keranjang tersebut.


Sepertinya makanan didalamnya masih dalam kondisi yang baik, jadi Fido kembali merasa tenang, dia pun berdiri dan mengangkat keranjang tersebut. Dia berniat melanjutkan perjalanannya, namun ketika ia hendak melangkah, dia berhenti. Dia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.


“Ayah? Eh? Suaraku? ” Dia menutup mulutnya, “tunggu-tunggu. Hah?” wajahnya mulai kebingungan.


Fido meletakkan keranjangnya kembali di tanah.


Tunggu sebentar, dimana aku sekarang? Aaah.... tidak, apa yang sedang aku bicarakan? eh, ini? mungkinkah?


Keringat dingin mulai bermunculan di wajahnya, pikirannya kacau. Seakan-akan dia mengerti namun juga tidak mengerti. Dia menelan ludah kemudian mengusap setiap keringatnya. Dia kemudian melihat kedua telapak tangannya, meraba-raba wajahnya, lalu mencubit pipinya sendiri.

__ADS_1


Aw sakit, bukan mimpi yah?


Saat itu juga dia menyadari bahwa dia sedang tidak berada di tubuhnya sendiri. Apa maksudnya ini? Dia sendiri juga tidak mengerti.


Saat ini ingatan-ingatan baru mulai bermunculan di kepalanya. Saat ingatan dari dua orang yang berbeda itu mulai menyatu, Itu membuat kepalanya kembali merasakan sakit, tapi tidak sesakit sebelumnya.


“Ugh ... Kenapa bisa begini!?” Ucapnya dengan panik.


S-serius? Hah? Seharusnya gak begini, kan? Tubuh asliku, apa ketinggalan? Pedangku? Roh elemen ku? Perisai ku? Zirah ku? Semua perlengkapan ku, DIMANA SEMUA ITU!?


Kepalanya mulai linglung dihujani oleh pertanyaan semacam itu. Detak jantungnya semakin kencang begitu pula dengan nafasnya yang mulai tidak beraturan.


“Tenang saja kawan, tenang~ Kau akan baik-baik saja okeh? Benar, kan?” Meski begitu suaranya terdengar gemetaran.


Tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan.


Fido mulai mengatur nafasnya agar kembali tenang. Tubuhnya merosot kebawah seperti lilin yang meleleh, dia kembali duduk.


Dia merenung sejenak sambil mengawasi sekelilingnya, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Setelah beberapa menit merenung dia akhirnya merasakan sedikit ketenangan.


“Begitu, ya.... haha... Jadi seperti itu? Aku mengerti.” Fido mengangguk dengan penuh keraguan kepada dirinya sendiri.


Dia masih manatap sekelilingnya, dia menatap rumput disekitarnya, kemudian menatap awan yang jauh di atas kepalanya. Angin sepoi-sepoi mulai berhembus di sekitarnya, menggoyangkan rambutnya yang sekarang berwarna hitam.


Saat Fido menatap langit, wajahnya memperlihatkan senyuman masam.


“Ini... bukankah ini buruk?” Ucapnya kepada dirinya sendiri.


Sepertinya, aku telah mati kemudian aku bereinkarnasi ke dalam tubuh anak ini. Pikirnya. Jadi aku sudah mati, yah? Apa aku mati? Benarkah?


Dia sama sekali tidak percaya akan hal itu, namun tentu saja, apa yang sedang dia alami sekarang membuatnya harus berpikir seperti itu.


Yang dia tahu sekarang adalah dia berada didalam tubuh anak ini dan semuanya telah menyatu. Menyatu! pikirannya menyatu menjadi satu. Awalnya terasa aneh tapi kemudian ia merasa itu akan baik-baik saja. Sepertinya kedua pikiran itu telah berdamai.


Fido kembali megawasi sekelilingnya, kemudian dia menemukan keranjangnya lagi.


“Huft ... Untuk sekarang aku harus mengantar makanan ini, atau ayah akan memarahiku.” Dia mengambil keranjangnya kemudian berdiri untuk melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Dia memutuskan untuk memikirkan masalahnya sambil berjalan.


Untungnya sekarang dia sedang sendirian. Andai kata ada orang lain di sekitarnya itu mungkin akan membuatnya menjadi lebih panik dan menciptakan masalah yang merepotkan. Untung juga hari ini adiknya memutuskan untuk tidak membantunya, jika dia ada disini dia pasti berpikir kalau kakaknya sudah gila.


“Yah itu pasti.”


Saat Fido memikirkan masa lalunya dia menemukan keanehan. Dia tidak bisa mengingat namanya sendiri atau nama orang lain. Dia telah mencoba menggali ingatannya dengan paksa, namun itu membuat kepalanya sakit, jadi dia berhenti. Ingatan-ingatan baru yang muncul juga sangatlah acak dan kadang tidak jelas atau bahkan tidak nyambung dengan otaknya, itu membuatnya semakin frustasi dan pusing. Tapi yang paling aneh adalah dia tidak ingat namanya sendiri, bukankah itu bodoh? Ya, sangat bodoh.


“Mungkin aku harus menunggu, suatu saat pasti akan muncul dengan sendirinya, bukan? Aku hanya perlu membiarkan ingatan-ingatan ini mengalir di otakku. Itu saja.” Gumamnya sambil terus berjalan.


“Tapi apa itu akan baik-baik saja? Otakku tidak akan meledak, kan yah?”

__ADS_1


Kurasa aku harus menyusunnya sedikit demi sedikit. Pikirnya.


Aku datang ke dunia ini melalui gerbang dunia yang dibuat oleh sahabatku, itulah satu-satunya yang masih ku ingat dengan jelas. Gerbang yang ku gunakan adalah gerbang kedua yang sahabatku buat. Gerbang yang pertama benar-benar sukses dan tanpa masalah. Aku pernah atau bahkan sering menggunakannya untuk pergi ke dunia lain. Itu sebabnya aku berpikir gerbang ini juga akan sukses dan aman.


Tapi, gerbang yang satu ini…. sepertinya juga sukses, hanya saja, hanya jiwaku yang berhasil melewatinya. Aku tidak tahu dimana dan apa yang terjadi dengan tubuh asliku. Itu benar-benar masalah. Ini semua karena gerbang itu, sialan. Aku rasa terlalu mempercayai sahabat itu tidak baik, kenapa benda ciptaannya ini tidak sesuai dengan apa yang dia katakan?


Fido menghela nafas berat.


Tidak, itu bukan salahnya. Setelah kuingat ingat lagi, bukankah gerbang itu belum sempurna? Mungkin ini adalah salah satu risiko dari gerbang yang belum sempurna? Ini semua salahku aku hanya sedang tidak beruntung, atau mungkin aku sebenarnya beruntung? karena aku telah bereinkarnasi meskipun aku sudah mati. Mungkin? Tidak, aku mati? Serius? Itu ... tetap saja masih sulit untuk dipercaya, semudah itukah aku mati? Hanya karena gerbang itu? Ah tapi ... sudahlah ini sudah terjadi, itu faktanya.


Yah, kematian benar-benar tidak ada dalam pemikiran ku sebelumnya. Dia kembali menghela nafas.


Fido terus berjalan sambil memikirkannya, sampai dia tiba di dekat ladang, dia pun akhirnya berhenti. Dia bisa melihat ayahnya dari tempatnya berdiri. Sepertinya dia sedang menunggunya.


Okeh, aku harus bersikap seperti biasanya, bukan?


Seorang pria dengan wajah yang sepertinya berusia 35 tahunan menghampiri Fido. Pria itu bernama Fredrick Nicolas.


“Tidak biasanya sampai selama ini, apa terjadi sesuatu?”


“Maaf, aku hanya menikmati pemandangan sebentar.” Jawab Fido dengan senyum, dia kemudian menyerahkan keranjangnya.


“Ya sudahlah kalau begitu, kau terlihat baik-baik saja, ayo.”


Fredrick mengambil keranjangnya dan mengajak Fido untuk ikut, tapi saat ia hendak berbalik Fido memanggilnya.


“Anu, ayah? Aku ingin pergi bermain sebentar. Lagi pula aku juga sudah makan di rumah, ”


Saat ini aku membutuhkan tempat sendirian untuk memikirkan masalah reinkarnasi ini. Gumamnya dalam hati.


“Begitu? Memangnya kau mau kemana?”


“Yaa...., sebenarnya ada tempat yang ingin aku tuju—”


“Jangan pergi ke hutan, aku tidak akan mengizinkanmu.” Ucap Frederick dengan curiga.


“Enggak, aku tidak berniat pergi ke sana, sumpah.”


Meskipun Fredrick tahu Fido tidak akan berani pergi ke hutan dia tetap mengatakan itu. Belakangan ini ada banyak monster kuat yang mulai berkeliaran di sekitar hutan, mungkin itulah yang membuatnya semakin khawatir.


Fido sebenarnya berpikir bahwa hutan mungkin akan menjadi tempat yang cocok baginya untuk melanjutkan memikirkan masalahnya. Di sana jarang ada orang, jadi dia tidak perlu khawatir akan ada yang melihatnya. Dia tahu ayahnya akan mengatakan itu karena kekhawatirannya, jadi dia berusaha bersandiwara sebaik mungkin agar bisa menipunya.


“Baiklah kalau begitu, hati-hati, dan juga jangan pulang terlalu sore oke?.” Setelah mengatakan itu Fredrick berbalik meninggalkan Fido.


“Terima kasih, kalau begitu sampai jumpa, ayah,” ucap Fido sembari melambaikan tangannya. Kau adalah orang yang sangat baik, ayah. Aku jadi merasa bersalah setelah berbohong padamu.


“Yah!”

__ADS_1


Mendengar itu Fido memunggungi ayahnya, kemudian mulai berjalan meninggalkan ladang. Setelah mendapatkan jarak yang cukup jauh dari ladang, Fido mulai berlari menuju ke arah hutan.


*-*-*-"-*-*-*


__ADS_2