Ini Kah Luka?

Ini Kah Luka?
1


__ADS_3

"aku fokus sama pembuatan sanggar ku, dan kamu fokus pada proposal Tugas Akhir mu. Please percaya aku gaakan macam2"


Pesan singkat yang dia kirim lewat aplikasi chat yang pada saat itu sedang booming. Aku hanya tersenyum membacanya, ku letakan kembali handphone di atas kasur, dan kembali fokus pada layar laptopku.


Jadi mahasiswa tingkat akhir ituu, hmm hmm hmm rasanya nano-nano banget. Iya sih banyak rebahannya, tapi pikiran juga gabisa ikutan rebahan keleuus. Tetap harus fokus, fokus, dan fokus mencari bahan.


Baru mengetik beberapa kalimat saja, ponselku sudah berbunyi sangat nyaring.


"Dear" Tulisan yang tertera dilayar ponselku.


"iyaa...." jawabku.


"lagi apa? maaf baru ngabarin baru selesai bikin banner!"ucapnya.


"yaa, biasa aja lagi depan laptop. banner buat apaan sih? jadi sanggarmu itu uda berapa persen ?"

__ADS_1


"yaa buat dekorasi ntar di sanggar, hmm 80% laah!"


"okk.. semoga cepet kelar deh dan aku ga terus-terusan dibiarin mandiri kaya gini. Bosen tau, kebiasaan tiap hari sama kamu sekarang kemana-mana aku sendiri. Dah macam jomblo aja!" cerocosku.


"haahhaa apan sih Ras?" dia malah tertawa.


"julid banget sih malah ketawa?"


"iyaa.. iyaa.. aku tuh kayak gini kan buat masa depan kita. Makanya kuliahnya cepet kelarin. Dan kamu tuh sudah saat nya belajar mandiri, ini juga buat kebaikan kamu ko."


"sabar deh sabar.. ntar kalo weekend aku nyuruh ibu deh buat ajak kamu jalan yaa, biar ga boring."


"yang aku butuhin tuu kamu,, Oky..!"


"iyaa, tapi kan aku nya lagi sibuk dulu Laras.. Please deh gausah ngajak berantem aku tuh lagi cape banget."

__ADS_1


"iyaa deh iyaa maaf. Yauda kamu baik-baik disitu yaa Ky. Jangan lupa makan."


"iyaa, lanjutin deh ngetiknya, aku juga lagi banyak kerjaan."


"yauda.. daaagh"


Sambungan terputus tanpa ucapan selamat tinggal. Aku masih berfikir positif, mungkin memang tadi ada beberapa perkataan ku yang membuat dia tersinggung, dengan keadaan dia sedang lelah. Ya sudah biarkan saja, besok lusa juga dia pasti baik lagi.


Oky Pradipta, laki-laki yang sudah menaniku sejak aku semester tiga. Banyak hal yang telah kami lalui, tangis, tawa, suka, duka, pokonya kita selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Oky baik ga ketulungan, apa yang aku mau pasti dia mengabulkannya. Tiga tahun lalu dia sudah lulus dan sekerang bekerja di salah satu sanggar terkenal di Kotanya. Tapi setiap hari dia masih menyempatkan diri untuk mengunjungiku, meski untuk sekedar menemani makan malam.


Anak yang lahir dari keluarga tajir melintir yang warisannya ga bakalan habis tujuh turunan. Ibunya penyuply beras ke supermarket-supermarket juga toko-toko kelontongan di Kotanya. Kakaknya, bekerja di perusahaan desain grafis. Aku cukup akrab dengan Ibu, terkadang kami jalan berdua. Nonton. Nyalon. Shopping. Atau sekedar hangout dan makan. Ibunya amat sangat baik, secara dia biasanya pergi sendiri kemana-mana, dan akhir-akhir ini punya ajudan cantik macam aku. Ibu-Ibu jaman now dengan gadget dan mobil keluaran terbaru, plus tas, sepatu, dan kacamata branded selalu menemani.


Tapi sayangnya, Oky anak korban broken home, ayahnya yang anggota dewan menikah lagi dengan seorang gadis muda belia saat kami berpacaran di tahun pertama. Tak heran bagiku, jika kelakuannya sungguh sangat berbeda daripada anak dengan situasi keluarga yang normal. Dan itu yang membuat aku bertahan bersamanya hingga di tahun ke tiga ini. Dia selalu ada buatku, tak pernah absen memberikan perhatian, dan aku merasa bak ratu yang selalu dimanjakan.


Tapi belakangan ini, mungkin sudah hampir sebulan dia sangat sibuk dengan urusan sanggar barunya. Dia hanya mengabariku lewat telepon atau pesan singkat. Hampa? sudah jelas tapi aku berusaha untuk selalu bersabar dan mengalah daripada ujungnya harus bertengkar dan keadaan tidak mengenakan.

__ADS_1


__ADS_2