Ini Kah Luka?

Ini Kah Luka?
3


__ADS_3

Udara pagi yang menyejukan masuk ke dalam kamar, seketika ku buka pintu balkon kamar yang sering aku tempati jika menginap di rumah Ibu. Pandanganku dimanjakan dengan hijaunya sawah yang terhampar luas sejauh mata memandang. Aku menarik kursi malas di depanku dan menyeruput kopi hangat yang ku pegang. Hari ini, aku ingin bertemu dengan Oky, yang katanya sanggarnya tidak jauh dari rumah Ibu.


Rumah ini, menyimpan banyak cerita. Hampir setiap weekend aku selalu menikmati suasana ini. Rumah besar yang hanya di tempati oleh dua orang penghuni saja, memang terasa sangat sepi. Terlebih kata Ibu kemarin sudah hampir satu bulan Oky tidak pernah menginap disini, paling hanya berganti baju dan lekas pergi kembali.


Rumah ini, memiliki lima kamar di lantai bawah, dan dua kamar di lantai atas, salah satunya ini yang aku tempati. Semua kamar memiliki fasilitas layaknya hotel bintang lima, dengan TV LCD 32 inci tergantung di setiap dinding kamar, kamar mandi dengan bathub juga shower, dan tempat tidur ekstra besar. Rapi dan sangat nyaman


Sedang asyik menikmati apa yang ada di depanku, pintu kamari diketuk dari luar.


"Laras..!" Panggil Ibu.


Aku membuka pintu, dan melihat ibu sudah berdiri di sana, dengan beberapa potong roti ditangannya. Ibu masuk sambil tersenyum, dan mengikutiku duduk di balkon kamar.


"Laras, ini Ibu buatkan roti selai coklat kesukaan kamu!" Ucapnya.


"Makasih Bu," jawabku sambil mengambil potongan roti dari tangan Ibu.


"Laras, kamu rencana sidang skripsi kapan?"


"Doain aja Bu, bulan Mei Laras sudah sidang."


"Berarti kurang lebih lima bulan lagi ya?"


"Iyaa bu, kan bulan depan Laras baru sidang proposal."


"Laras, kalo misalkan habis kamu sidang skripsi Ibu dan Oky melamar kamu, apa kamu mau?" Ibu berbicara sungguh sangat hati-hati.


Aku hanya menganga mendengar pertanyaan Ibu, antara senang, sedih, dan juga bingung.


"Yaa, maksud Ibu kamu sama Oky tunangan aja dulu. Masalah ke depannya nanti kita bicarain lagi." Jelas Ibu yang melihat ekspresi kaget ku.


Aku tersenyum dan mengangguk. Ibu memeluku.


"Ibu itu sudah sayang sama kamu Laras, semenjak kehadiran kamu Ibu merasa ada teman."


"Makasih Bu." Jawabku yang kehilangan kata-kata mendengar permintaan Ibu.


"Yauda, sekarang kamu mandi yaa, nanti kita cari cincin buat pertunangan kamu sama Oky."


"Hari ini juga bu?" Tanyaku kaget.


"Iya hari ini, ahh Ibu rasanya sudah tidak sabar Laras. Rasanya Ibu ingin kalian langsung menikah saja."


"Ibu,, itu terlalu cepat dong. Laras pengen kerja dulu. Ngerasain kerja itu seperti apa."


"Alah kamu itu ga usah kerja. Ini semua yang ada nanti juga buat kamu sma Oky."


"Ahh Ibu, kan Laras uda sekolah cape-cape masa gaada hasilnya."


"Iya deh iya. Ke depannya kita bicarain lagi nanti. Sekarang kamu mandi dan siap-siap."


"Tapi bu, sebelum pergi Laras pengen ketemu Oky dulu. Boleh kan bu?" Pintaku.


"Iyaa nanti kit mampir ke tempat Oky. Tapi kamu rahasiin dulu ya tentang beli cincin itu."


"Ok siap bu!" Jawabku mengacungkan jempol kananku.

__ADS_1


***


Mobil Ibu berhenti di depan sebuah rumah bernuansa abu-abu berpagar hitam.


"Sana kamu turun duluan, Ibu parkir dulu soalnya disini jalnan sempit!"


Aku menuruti perkataan Ibu, gerbang yang tak dikunci memudahkanku untuk masuk. Begitu masuk pekarangan rumah, ku lihat pintu nya terbuka. Aku langsung masuk tanpa permisi, karena merasa aku juga punya hak atas Oky.


"Oky...!" Teriakku.


Tak ada sahutan dari dalam. Aku pun masuk menyusuri setiap ruangan. Ku dengar bunyi air di kamar mandi, aku berpikir mungkin Oky sedang mandi. Aku memutuskan untuk menunggu dan duduk di ruang tengah.


Tak lama, oky keluar dengan hanya memakai handuk dan bertelanjang dada. Aku berhambur memeluknya.


"Oky.....!" Seruku, sambil memeluknya.


"Laras? Kamu ke sini sama siapa?" Tanyanya dengan raut muka terkejut.


"Aku ke sini tuh smaa Ibu, tapi Ibu katanya mau parkir dulu." Jawabku.


"Yauda tunggu di sini aku pake baju dulu."


"Ok.. oh iya kamu uda maka? Aku bawain kamu sarapan loh!" Jawabku.


"Iya tunggu yaa!" Ucapnya sambil berlalu dari pandanganku.


Aku berkeliling melihat-lihat sanggar yang sedang Oky garap. Perasaanku tidak enak, aku merasa ada sekelebat bayangan berlari di belakangku. Aku segera berbalik, namun bayangan itu sudah tidak ada. "Oky ..!" Teriakku.


"Iya sebentar, ini sudah selesai!" Jawab Oky sesikit berteriak. Aku hanya bingung menatap sekeliling.


"Laras? Kenapa?" Suara Ibu mengagetkanku.


"Oky mana?"


"Ada, batu selesai mandi."


"Ini kamu melupakan bekal yang kamu bawa untuk Oky?"


Aku tersenyum malu ke arah Ibu. Tak lama Oky datang dengan pakaian santainya.


"Wangi banget mau kemana?" Tanyaku.


"Kan ada kamu, jadi aku wangi." Celoteh Oky.


Ibu tertawa, melihat kelakuan kami berdua.


Kami membuka bekal yang di bawa dari rumah Ibu. Seandainya tidak ada Ibu di situ mungkin aku sudah bermanja di pelukan Oky. Tapi aku cukup tau diri untuk melakukan itu. Belum terbayar rasa kangen ini, aku memperhatikan setiap gerakan yang Oky lakukan. Sesekali sambil makan Oky hanya tersenyum ke arahku. Ada raut berbeda yang aku tangkap dari wajah Oky, tapi aku tak peduli itu apa, yang jelas aku merindukannya. Titik.


"Ky, cepet beresin sanggar nya ya!" Ucapku saat kita berdiri di depan pagar.


"Iya, kamu baik-baik di sana yaa. Semangat ngerjain Proposalnya. Biar cepet sidang." Lanjutnya sambil mengacak rambutku pelan.


"Aku butuh kamu Ky." Ucapku sambil menunduk.


"Iyaa aku ngerti, tapi kan ini semua demi kita"

__ADS_1


"Aku tau Ky, tapi aku ga terbiasa seperti ini."


"Esok Lusa kamu akan terbiasa mandiri. Percaya deh."


"Yauda.. iya."


Oky menggenggam tanganku erat. Kami memperhatikan mobil Ibu mendekat. "Aku pulang ya!" Pamitku.


"Iya. Baik-baik di sana ya.. maafin aku." Jawab Oky.


Aku pun berlalu dari hadapan Oky dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju perlahan meninggalkan kompleks tersebut, aku masih bisa melihat lewat spion kalo Oky masih berdiri di tempatnya. Ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Entahlah, mungkin terlalu lama aku tidak bertemu dengannya.


***


Ibu memarkirkan mobilnya di sebuah toko perhiasan terkenal, di dalam terlihat sesak saking banyaknya orang yang datang. Begitu Ibu masuk, seorang pelayan toko yang memang sudah mengenalnya buru-buru menghampiri.


"Selamat siang Bu! Ada yang bisa saya bantu, mari ibu ikut saya! " Sapanya ramah.


Ibu tersenyum dan mengikuti pelayan itu dibelakangnya. Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas, kami duduk di sebuah sofa yang disediakan. Ah mungkin ini khusus tamu VIP yang sudah menjadi langganan toko ini dan Ibu adalah salah satunya.


"Bagaimana Bu? Ada yang bisa kami carikan?" Tanya pelayan itu


"Begini saya mau mencari cincin tunangan untuk anak saya. Mas putih dengan aksen berlian."


"Baik Bu, sebentar kami carikan. Ibu silakan bersantai dulu di sini." Ucap pelayan itu dan meninggalkan kami ke luar ruangan.


"Ini tuh tempat langganan Ibu kalo beli perhiasan" ucap Ibu sepeninggalan pelayan itu.


"Pantesan Ibu dapat pelayanan khusus." Ucapku sambil tersenyum.


"Nanti kamu boleh pilih cincin mana yang kamu suka."


"Ahh, iya bu tapi jangan yang terlalu mahal juga ini kan cuma buat tunangan. Bukan buat pernikahan."


"Aduh Laras, jangan mikirin masalah harga. Semua sudah Ibu siapkan."


Aku hanya mengangguk, dan tak lama pelayan datang dengan membawa beberapa kotak perhiasan.


Semua perhiasan terlihat sangat bagus dan juga mewah, aku sampai bingung memilihnya. Berkali-kali aku mencoba dan menaruh kembali beberapa perhiasan itu. Ahh, ternyata hidup para sosialita seribet ini meskipun hanya untuk memilih sebuah perhiasan. Setelah hampir satu jam, aku baru menemukan pilihan yang cocok. Cincin dengan aksen berlian yang sederhana namum masih terkesan mewah. Aku juga tak mau mengecewakan Ibu di depan pelayan toko itu jika memandang seleraku rendah.


Ibu mengeluarkan kartu kreditnya, dan akhirnya sepasang cincin itu sudah berada ditanganku.


"Ibu, ini Ibu saja yang simpan!" Ucapku menyodorkan cincin itu saat kita sudah masuk di dalam mobil.


"Loh ko Ibu, kenapa ga kamu aja yang simpan?"


"Aku takut hilang Bu, kan kalo Ibu yang simpan lebih aman."


"Yauda sini Ibu simpan dulu. Nanti bulan Mei ini Jadi milik kamu." Jawab Ibu sambil tersenyum.


Aku mengangguk dan memberikan cincin itu ke tangan Ibu.


"Bu, ...."


"Hmmm..."

__ADS_1


"Makasih ya, Ibu uda sayang sama Laras!" Ucapku.


Ibu menoleh sebentar dan tersenyum ke arahku, lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya.


__ADS_2