
Ibu tersenyum melihatku di depan pintu. Aku berhambur memeluknya, sudah sebulan ini aku tidak bertemu dengan Ibu. Rasanya aku ingin menangis meluapkan semua rasa yang aku pendam terhadap anaknya.
"Kenapa ga bilang mau ke sini?" Tanya Ibu.
"Kan biar jadi kejutan buat Ibu. Makanya aku ke sini ga ngabarin Ibu."
"Ahh kamu ini, kalo Ibu ga ada di rumah gimana?"
"Yaa tinggal balik lagi aja. Gampang. Lagian aku tau ko jadwal Ibu pergi tuh kapan."
"Yang uda tau jadwal camernya!" Goda Ibu.
Kami tertawa berbarengan.
"Oh iya Bu, Oky suka pulang?"
"Itu anak sudah lama ga pulang, Ibu kesepian. Katanya sibuk dengan sanggar barunya!"
"Laras juga uda hampir satu bulan ga ketemu Oky. Makanya Laras ke sini, kali aja Oky pulang."
"Kadang Ibu juga bingung semenjak punya sanggar sendiri, dia jadi ga ada waktu buat Ibu."
"Ibu jangan sedih yaa.. kalo Ibu butuh teman Ibu bisa nlp Laras." Hiburku, padahal dalam hati sama tercabiknya perasaanku dengan semua tingkah Oky.
__ADS_1
Seperti biasa, ketika masuk ke dalam kamar aku selalu membiarkan balkon kamar terbuka. Udara dingin masuk ke dalam kamar terasa sangat segar. Tadi Ibu pamit sebentar katanya ada yang harus dia urus dengan bisnisnya. Akhirnya aku hanya sendiri di rumah yang begitu besar ini. TV di kamar sedari tadi menyala, padahal sama sekali tidak aku perhatikan. Aku duduk di balkon menatap luas ke area persawahan. Hari sudah sore, matahari sudah beranjak pulang tapi Ibu belum juga kembali. Aku turun ke lantai bawah menyalakan semua lampu yang ada di sana. Aku memperhatikan, semua detail ruangan dari rumah ini. Di rumah ini, kami pernah bercanda, pernah tertawa. Ahh Oky aku rindu.
Aku kembali ke kamar, kembali duduk di balkon dengan di temani suara binatang malam. Aku memejamkan mata sebentar, menyeruput hangat kopi ditangan. Ah entah sudah menghabiskan berapa gelas kopi selama aku di sini. Ibu belum juga kembali, padahal hari beranjak malam. Mungkin urusan Ibu belum selesai. Aku pindah ke tempat tidur merebahkan badanku yang tidak karuan. Aku mengambil ponsel yang sedari tadi tidak ku perhatikan. Baru saja aku membuka aplikasi chat, ku dengar deru pagar depan di buka dan suara mobil memasuki pekarangan.
"Ibuu... Kenapa lama sekali.!" Tanyaku saat Ibu duduk di sampingku
"Iyaa, itu anak buah Ibu masa kirim beras aja salah alamat, ibu kan jadi merugi mana yang dikirim beras tidak mengaku." Jawabnya setengah emosi.
"Hmm semoga urusan Ibu cepat selesai yaa! Ibu sudah makan?"
"Ahh Ibu lupa belum makan, tapi Ibu tadi sempat beli martabak kesukaan kamu yang di depan gang itu!"
"Seriuuusss? Aseeekk.. Ibu mau aku buatkan teh hangatnya? Kan martabak enak kalo di nikmati dengan teh hangat!" Ucapku penuh semangat.
Kami menikmati martabak di ruang tengah dengan sambil ngobrol ke sana ke sini. Ibu menaruh harapan pada pernikahan aku dan Oky. Tapi ada sedikit mengganjal, apa pernikahan itu bakal terjadi, mengingat Oky yang sudah sebulan ini tidak menghubungiku. Tepat pukul 10 malam, Ibu pamit untuk tidur. Aku pun naik ke kamar, padahal mata belum ingin terpejam. Setiap tidur aku sengaja membuka pintu balkon agar udara masuk ke dalam kamar.
Sepasang tangan yang terasa dingin tiba-tiba memeluk tubuh mungilku.
"Laras, maafkan aku! Aku ga tau harus ngomong apalagi, tapi aku selalu berharap pintu maaf itu selalu terbuka untukku!" Ucap seorang lelaki yang suaranya tidak asing di telingaku.
Tangannya mengusap pipiku lembut, "kamu perempuan baik-baik, cantik, dan kamu juga berhak mendapatkan lelaki yang baik, yang bisa menyayangi kamu dengan tulus." Ucapnya lirih.
Ingin sekali ku buka mata, tapi aku terlalu takut. "Oky jangan tinggalin aku Ky!" Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Berkali-kali wajahku dikecupnya, rasanya tak ada satu pun yang terlewat dari wajahku dari bibir mungilnya. Tanganku tergenggam erat bahkan sangat erat. Punggung tangan ku juga tak luput dari ciuman lembut bibirnya.
__ADS_1
Aku tersentak bangun, terbangun dari semua mimpi yang entah pertanda apa. Matahari sudah mulai meninggi, cahayanya masuk melalui celah-celah tirai kamar. Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, mengingat mimpi semalam, bagaimana jika mimpi itu jadi nyata? Bagaimana dengan semua harapan Ibu tentang sebuah pernikahan? Aku segera menghapus semua air mataku dan menepis semua pikiran burukku. Aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan air mata. Saat keluar kamar mandi aku baru sadar, ternyata balkon kamar yang semalam aku buka kini sudah tertutup dan terkunci rapat. Dan aku juga baru menyadari jika di meja disamping tempat tidur tergeletak buket bunga mawar putih yang sangat cantik. Aku tersenyum, mengambil bunga itu dan menciumnya. Wangi. Ku dapati selembar kartu ucapan,
"Selamat, sudah lulus sidang proposalnya! Selamat berjuang untuk sidang skripsi! Semoga kamu mampu memahami semua keadaan dan semoga kamu selalu memaafkanku!
Yang selalu mencintaimu:
OkPra"
Aku tersenyum semalam aku mimpi buruk, dan ternyata Oky datang. Aku semalam tidak mimpi Oky datang, tapi aku yakin semua yang Oky katakan itu hanya mimpi. Dan yang menutup balkon juga dia, karena dia yang memang tidak suka jika aku tidur pintu balkon dibuka. Aku berlari menuruni tangga dengan tergesa, aku mencari Ibu yang ternyata sedang sibuk di dapur.
"Ibuuu... Ibuuu....!" Teriakku.
"Iyaaa, ada apa?"
"Ibu semalam Oky pulang? Kenapa dia ga bangunin Laras?" Tanyaku dengan sangat antusias.
"Iyaa semalam Oky naik ke kamar, katanya kamu sudah terlelap bahkan sangat pulas. Jadinya dia hanya sebentar menyimpan bunga itu dan kembali lagi ke sanggar" jelas Ibu.
"Ihh Oky jahat, kenapa ga bangunin aku yaa..?"
"Katanya kasian. Trus dia juga bilang kalo tidur jangan suka dibuka pintu balkonnya!"
"Hahahaa dia itu selalu ada-ada saja bu. Dulu pas ibu hamil dia Ibu ngidam apa sih?" Jawabku dengan tawa. Ibu hanya tersenyum mengusap kepalaku, dan aku masih terlalu bahagia dengan bunga di tanganku.
__ADS_1