
Jalanan hari ini lumayan padat, padahal tak biasanya jalanan kompleks ini ramai. Aku berjalan menyusuri trotoar, seperti biasa setiap pagi aku berjalan kaki menuju kampus. Kebetulan jarak tempat kost dan kampusku cukup dekat, yaa sekalian olahraga 1000 langkah setiap pagi seperti di iklan susu kesehatan tulang.
Aku memasuki area kampus ku, cukup sepi. Mungkin para mahasiswa sedang ada kelas, karena jam sudah menunjukan waktu perkuliahan di mulai. Aku berbelok ke arah kantin, celingukan mencari siapa saja yang ku kenal di sana. Ku dapati salah satu temanku Baim, sedang asyik dengan kopi dan rokok yang terselip ditangannya melambai ke arahku. Aku tersenyum dan menghampirinya.
"Tumben masih pagi lo uda di sini?" Tanyaku saat duduk di depannya.
"Iyaa, gue kira DPA gue mau dateng pagi. Eh taunya dateng siang jam sepuluhan. Yauda gue diem aja di sini." jawabnya sambil menikmati rokoknya.
"Sama DPA gue juga datengnya siang, tapi gue sengaja dateng pagi karena gue lapaar." Jawabku sambil nenghirup aroma bubur ayam yang ku pesan.
"Tapi gue ga nanya." Jawabanya.
"Sialan Lo, eh si Ami tumben belom nampak, biasanya bareng lo Im?"
"Mana gue tau emangnya gue bapknya."
"Yaelah, kan biasanya si Ami nginep di tempat kost lo."
"Tuh anak dari jumat gaada gatau kemana. Atau gue yang gatau dan gamau tau yaa, soalnya gue juga baru dateng malem abis pulang dulu."
"Ihh dasar nyebelin, ga pernah serius lo kalo diajak ngobrol" jawabku sambil melempar kerupuk ke depan mukanya. Dia tertawa terbahak-bahak.
Aku, Baim, dan Ami. Kita cukup dekat semenjak semester tujuh memgambil Tugas Akhir yang sama. Kami sering mengerjakan tugas bareng, ke perpustakaan, makan di kantin, atau sekedar pergi ke toko buku dan ujungnya nongkrong. Menjadi satu-satunya perempuan diantara mereka adalah anugerah terbesar. Banyak hal yang seharusnya sulit menjadi mudah. Terlebih dalam situasi sekrang yang jauh dengan Oky, mereka lah salah satu penghiburku.
"Uhukk... Uhukkk.. Uhukk..."
__ADS_1
Aku tersedak, seketika seseorang mengagetkanku dari belakang. Baim menyodorkan air putih yang ada di depanku.
"Kampret lo!" Semprotku sesaat setelah reda.
"Sorry sorry sorry! Gue kira lo ga lagi makan." Ucapnya
"Lo lagi kenapa ga bilang ada si kampret di belakang gue Baim.!"
"Sebagai permintaan maaf, gue bayar bubur ayam lo." Ucap Ami.
"Ga usaah makasih, uda gue bayar." Jawabku sinis.
Mereka berdua hanya tertawa melihat tingkahku yang kesal.
Tepat pukul sepuluh DPA ku mengabari kalo aku sudah ditunggu di ruang dosen.
"Bareng kalee DPA gue juga uda selesai kelas." Jawab Baim.
"Yaelaa, sono kalian duluan! DPA gue masih OTW." Timpal Ami.
"Yauda. Ketemu di depan perpus yaa kalo uda selesai." Jawabku dan mengikuti Baim dari belakang.
Hari ini kita akan dapat keputusan, apakah proposal yang kita ajukan layak sidang atau tidak. Jika layak maka lusa kita sidang, campur aduk rasanya berjalan ke ruang dosen saat ini. 90% takut gagal, 5% bahagia membayangkan lulus sidang, dan 5% gatau perasaan apa ini. Ku buka pintu ruang dosen, seketika udara dingin sampai ke tulang. Entah ini dingin pengaruh AC atau memang dingin karena aku sangat gugup.
"Eh Ras, ayo masuk mari duduk sini!" Sapa DPA ku saat melihatku masuk ruang dosen.
__ADS_1
"Eh, iya pak. Makasih!" Jawabku sambil duduk di depannya.
"Kamu apa kabar?" Lanjutnya.
"Baik pak, tapi tidak tau dengan hari ini." Jawabku sambil tersenyum.
"Hoalaaah.. baru dikasih proposal aja udah gatau kabar hari ini toh."
"Ga gitu sih pak, cuman yaa kegugupan ini merusak pak."
DPA ku hanya tertawa. Namanya Bapak Prof.Utoyo sejak awal pertemuan dia sangat baik, tidak pernah mempersulit mahasiswanya. Pak Utoyo orangnya sangat welcome, tidak pernah memandang setatus sosial.
Pak Utoyo menyodorkan map ditangannya "buka!" Perintahnya.
Aku pun dengan segera membuka map itu. Dan, namaku ada dalam daftar mahasiswa yang ikut sidang porposal Lusa. Sedikit terharu namaku ada di urutan paling atas. Dan tanpa sengaja aku juga menemukan nama Baim dan Ami di daftar itu.
"Selamat ya Laras, semoga semuanya Lancar! Bapak bangga sama kamu. Sejak awal perkuliahan kamu selalu memberikan yang terbaik."
"Terimakasih pak, aku bisa gini berkat bimbingan bapak juga."
"Ini ada beberapa daftar buku yang harus kamu persiapkan untuk nanti menyusun skripsi kamu."
Pak Utoyo dengan telaten menjelaskan semua yang akan aku hadapi dalam sidang Lusa. Poin-poin penting aku catat, semu buku yang disatankan beliau pun tak luput dari list yang harus ku persiapkan. Kurang lebih satu jam, kami berbincang mengenai segala yang berhubungan dengan Tugas Akhirku. Aku keluar dari ruang dosen dengan hati yang 100% bahagia, aku berjalan menyusuri koridor kampus menuju gedung perpustakaan yang letaknya paling depan. Aku sampai di depan perpustakaan, aku tidak menemukan Baim atau pun Oky di sana, mungkin mereka masih berurusan dengan DPA-nya masing-masing. Tiba-tiba aku teringat Oky, aku buka Hp ku dan mengirim pesan padanya.
"Ky, aku lusa sidang! Aku berharap kamu bisa datang nemenin aku."
__ADS_1
Lama, tak ada balasan darinya. Tapi aku tahu pesanku telah dibaca.