Ini Kah Luka?

Ini Kah Luka?
6


__ADS_3

"Hai Laras, uda rapi aja!" Sapa temanku Ranti saat aku tiba di depan ruang sidang.


"Iya dong ran, kalo ga rapi bisa-bisa di depak dari ruang sidang" jawabku tertawa.


Ranti ikut tertawa mendengar jawabanku, dan mengajakku duduk di sebuah kursi di depan ruang sidang.


Dengan setelan abu-putih dipadukan jas almamater ditambah sepatu cats warna putih, aku melangkah mantap untuk menghadapi hari ini. Oky? Untuk beberapa jam ke depan ini aku akan melupakannya meski itu sulit, tapi demi konsentrasiku untuk sidang hari ini aku harus bisa. Tapi di sisi lain hatiku, aku masih berharap bahkan sangat berharap Oky bisa datang hari ini. Meski dalam kenyataannya itu hanya akan jadi sebuah khayalan saja.


Aku memperhatikan Ranti yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya. "kamu sidang urutan berapa?" Tanyaku. "Aku urutan ke dua, insyallah pukul sembilan." Jawabnya. Aku masih memperhatikannya, temanku yang berhijab ini memang super sekali, seorang yang sangat tenang, dan sepertinya sangat sabar. Jauh sekali denganku yang pecicilian dan panikan. Sebuah tangan memelukku dari belakang, dari wanginya aku tau ini adalah sahabat perempuanku, Riyani.


"Maafkan gue telaat!" Ucapnya.


"Ga telat ko, kan gue belum masuk."


"Lo kebagian urutan berapa?"


"Gue urutan ketiga abis Ranti, paling jam sepuluh deh!"


Riyani duduk di sampingku. Hari ini dia sudah janji mau menemaniku.


"Eh iya, Si Iday mana?" Tanyaku yang mendapati Riyani datang sendiri.


"Beli minum katanya, eh tuh dia!" Tunjuknya pada seorang laki-laki yang jalan ke arah kami.


"Idaaaaaaaaaaaayyyyyyyyyy!" Seruku..

__ADS_1


Dengan gayanya yang khas dia setengah berlari ke arahku. "Ayangku.. maafin kita telaat!" Ucapnya sambil mengecup pipiku. "Kalian ga telat ko, kan gue belum masuk!" Jawabku.


Riyani adalah satu-satunya sahabat perempuanku, banyak hal yang sama yang akhirnya mampu menyatukan kita. Sosok perempuan yang sama cueknya kaya aku, tapi dia lebih kalem dan pendiam. Dan satu lagi Iday, sebenarnya namanya bukan Iday tapi Mahendra. Hanya saja dengan ke lemah lembutannya aku lebih seneng panggil dia Iday, dia adalah sosok penghibur bagi kami. Si lelaki feminim ini, mampu membuat siapa saja yang melihat tingkahnya tertawa. Dengan suara khas yang cempreng, dia mampu membuat suasana lebih hangat. Seperti halnya pagi ini, di tengah semua kegugupanku menghadapi ruang sidang, dia malah bernyanyi menirukan gaya AgnesMo di depanku. Kegugupanku sedikit berkurang.


Dari kejauhan ku lihat Baim dan Ami mendekat, sudah sangat rapi dan dengan langkah mantap menyusuri koridor kampus. Aku melambaikan tangan, mereka tersenyum ke arahku. Ranti sudah sejak tadi masuk ke ruang sidang, sebentar lagi giliranku. "Si Ranti uda masuk Ras?" Tanya Ami saat duduk di sebrangku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ami.


"Lo ga usah so gugup gitu deh bebs!" Seru Iday


"Gue ga gugup, gue cuma lagi berdoa!" Jawabku Asal.


"Eh bebs yang lo hadepin di dalem itu penguji, dosen kita, bukan setan atu malaikat!" Cerocos Iday


"Idaaaaaay apaan sih lo diem deh, tau orang mau masuk ruang sidang lo lagi malah ngericuhin!" Timpal Riyani.


"Hahahhaa, gue bukan ngericuhin kali sis. Gue cuman bikin dia bahagia!"


Ranti keluar dari ruang sidang dengan wajah yang kurang sumringah namun dia tetap maksain tersenyum pada kami. Jantung ini semakin memburu tak karuan. Tiba-tiba Iday memelukku.


"Nee, baik-baik yaa lo di dalam!" Ucapnya dengan nada sedikit panik.


"Ihh iday apaan sih, tadi bilang gue ga boleh gugup tapi sekarang malah lo yang panik!" Ucapku.


"Tiba-tiba gue deg-degan lihat muka si Ranti pas keluar tadi." Lirihnya.


"Doain gue yaaa!"

__ADS_1


Riyani memelukku, "sukses yaa sob!" Ucapnya.


Baim dan Ami hanya mengajakku untuk melakukan tos. Aku pun berjalan memasuki ruang sidang dengan menenteng laptop dan proposalku.


Tepat pukul 12.00 aku baru keluar dari ruangan, semua pertanyaan mampu ku jawab dengan lancar. Rasanya semua mengalir begitu saja, bahkan aku tidak menyadari kalo aku bisa selama itu di dalam. Dari awal masuk aku yang lebih mendominasi, bercerita dan menjelaskan isi proposal yang ku ajukan mengenai judul skripsiku. Dosen hanya mengkoreksi dan bertanya sedikit-sedikit. Lebih tepatnya ini bukan sidang tapi sharing. Ketika pintu ruang sidang ku buka yang pertama aku harapkan adalah, Oky ada di sana dan menyambutku dengan pelukan hangatnya. Sejak lusa aku mengirimnya pesan, dia tidak menghubungiku bahkan membalas pesanku saja tidak dia lakukan. Aku selalu positif thinking mungkin hari ini dia akan datang memberi kejutan, karena aku sudah memberitahunya bahwa aku sidang pukul sepuluh.


"Bagaimana di dalam?" Iday langsung memburuku dengan pelukannya.


"Laras, lo baik-baik saja?" Tanya Riyani yang juga memelukku.


Aku masih celingukan mencari satu sosok yang sangat aku ingikan kehadirannya hari ini.


"Heh, lo diapain di dalem sampe keluar plingak-plinguk begini?" Baim menjitak kepalaku.


"Aaaaaawwww!" Teriakku


Aku tersenyum bahagian melihat semua sahabatku masih kumplit di sana menungguku.


"Gue baik-baik ajaaaa.... Gue masih belum percaya ternyata di dalam gampang banget, gue cuman disuruh cerita tanpa ada revisi apapun. Bayangkan betapa bahagianya gue sampai keluar dari sana ga bisa ngomong!" Cerocosku, seolah nyawaku sudah kembali.


"Ahhhhh syukurlaaaah... Gue di sini gabisa diem nungguin lo bebs!" Timpal Iday.


"Pantesan lo dari tadi ke cacing kepanasan!" Jawab Ami


"Ihhh lo tuh yaaa sirik aja sama kelakuan gue." Jawabnya dengan nada khas.

__ADS_1


Aku hanya tertawa melihat perdebatan kedua sahabatku yang aku sayangi.


Bagaimana dengan Oky selanjutnya aku tidak pernah tau, meskipun aku masih selalu berharap dia datang. Entah hari ini, besok atau lusa.


__ADS_2