
Aku memyaksikan semua adegan itu. Adegan panas yang penuh gairah yang mampu mencabik-cabik perasaan. Perempuan mana yang hatinya tak teriris melihat orang yang disayanginya melakukan perbuatan keji di depan matanya. Aku berusaha untuk tegar, berusaha untuk tidak membuat semuanya menjadi kacau.
***
Hari ini aku berniat untuk mengunjungi Oky di sanggarnya. Aku sudah bersiap sedari tadi. Aku mengambil tasku, memeluk buket bunga yang ku temukan tadi pagi dan bergegas memuruni tangga dengan penuh semangat.
"Ibuuuuu!" Sapaku saat ku lihat Ibu sudah siap di meja makan.
"Laras.. uda rapi aja? Ini kan masih pagi, biasanya kamu pulang siang?" Tanya Ibu.
"Ibuu,, hari ini Laras mau mampir dulu ke sanggar Oky. Mau menemui anak Ibu yang paling tampan!" Candaku.
"Mau Ibu temenin?"
"Ga usah bu.. aku bisa pergi sendiri biar nanti aku langsung pulang!"
"Yakin mau pergi sendiri tanpa Ibu?"
"Yakin dong!"
__ADS_1
"Ya uda, sekarang kamu sarapan dulu! Biar perut kamu diisi.. kalo sudah ketemu Oky kamu pasti lupa makan!"
"Hahaha.. Ibu nih ada-ada aja yaa kalo lapar aku makan dong bu meskipun lagi ketemu Oky!"
"Ahhh, pasti aja makan dilupain!" Jawab Ibu
Aku sarapan nasi goreng buatan Ibu, sesekali diselingi bercanda dan kami tertawa berdua.
Ibu memelukku erat, "sering-sering ya kamu mengunjungi Ibu, biar Ibu tidak kesepian!" Ucapnya.
"Iyaa, Laras usahakan yaa buu. Doain Laras supaya skripsi Laras cepet selesai, jadi Laras bisa punya banyak waktu buat Ibu!"
"Iya sekalian olahraga, kan sanggar Oky juga deket. Nanti pulangnya Laras bisa naik angkot ko Bu!"
"Gamau dianterin sama Ibu?"
"Ga usah, Ibu istirahat aja yaa! Kasian Ibu capee!"
Aku berjalan menjauh dari gerbang megah itu, meninggalkan Ibu yang masih berdiri melihatku. Aku melambaikan tangan dan Ibu membalasnya. Entah kenapa ada rasa berat bahkan sangat berat meninggalkan Ibu hari ini. Seolah aku ga akan bertemu dengannya lagi.
__ADS_1
Ku seka air mataku yang perlahan mengalir diujung mata. Aku sudah sampai di depan gerbang Sanggar, ku lihat gerbangnya sedikit terbuka. Aku masuk tanpa permisi, saat aku memasuki halamannya terlihat sangat sepi, tapi pintunya terbuka meski tidak sepenuhnya. Aku tersenyum menatap buket bunga ditanganku, "kita akan ketemu Ky" ucapku dalam hati. Aku melangkah dengan penuh semangat, menyelinap memasuki ruang depan. Tapi, aku tidak menemukan Oky di sana. Aku berpikir akan mencari Oky sampai ketemu dan mengagetkannya. Setiap ruangan ku susuri dengan sangat hati-hati. Sampai di ruangan paling belakang, aku mendengar desahan-desahan kecil seorang perempuan.
Hatiku sudah tak karuan, bingung, cemas, takut semua bercampur menjadi satu. Jantungku berdetak tak karuan, berdetak tidak dengan iramanya. Sampai di kamar paling ujung, tubuhku membeku seketika. Air mataku perlahan mengalir hangat di pipi. Tak ada kata yang mampu keluar, mulutku seperti terkunci. Lewat pintu yang sedikit terbuka aku menyaksikan Oky sedang bermain gila dengan seorang wanita yang tidak ku kenali. Aku tak mampu berbuat apa-apa selain berdiri di tempatku menyaksikan kejadian panas penuh gairah yang mencabik-cabik perasaanku.
Aku menatap perih buket yang ada ditanganku, sekali lagi ku ciumi buket itu. "Aku mengerti" ucapku lirih. Aku meletakan buket itu tepat di depan pintu kamar. Lama aku berdiri di situ, menyaksikan adegan tiap adegan yang mereka lakukan. Sampai akhirnya aku menyerah, aku kalah dengan semua perasaanku sendiri. Aku berbalik meninggalkan sanggar itu, aku menyusuri jalanan dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Aku tidak mempedulikan semua panggilan dan notif di ponselku. Bahkan aku membuatnya dalam mode silent.
Aku terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Aku sendiri tidak tau akan kemana. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi itu tidak mungkin ku lakukan di tepi jalan seperti ini. Tanpa aku sadari aku sudah berjalan cukup jauh, bahkan sangat jauh. Hari sudah mulai gelap, aku berdiri di sebuah jembatan layang dan menatap jauh ke arah perkotaan dengan lampu-lampu yang mulai menyala. Aku sudah tidak peduli dengan keadaan sekelilingku, yang membahayakan atau tidak. Bahkan sekalipun hari ini akan ada yang membunuhku, itu mungkin lebih baik pikirku.
Aku merasakan mataku sembab, karena menangis terlalu lama. Hati ini hancur berkeping-keping, tapi air mataku mungkin sudah habis hingga tak mampu keluar lagi. Aku meneguk habis air mineral yang ada tasku. Ku lempar botolnya jauh-jauh ke depan sana, tak peduli akan kena orang atau tidak yang jelas aku ingin melakukan apa yang aku lakukan saat ini. Aku terduduk disamping jembatan, dan menangis sesegukan. Entah harus apalagi hanya ini yang bisa aku lakukan.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku.
Seseorang memelukku dengan sangat erat. Aku mengangkat kepalaku dan menangis makin kencang saat aku tahu itu adalah Iday. Iday membantuku berdiri, "kita pulang beb!" Ajaknya.
"Gue ga mau pulang Day, hati gue sakit!"
"Trus mau sampe kapan lo disini? Gimana kalo ada yang jahatin lo Laras?" Nada Iday meninggi
"Tapi gue sakit hati Day!" Ucapku lemah kehabisan tenaga.
__ADS_1
"Makanya lo harus nurut sama gue! Ikut gue balik!" Ajaknya setengah menarik badanku. Aku pasrah di tarik Iday masuk ke mobilnya.