Ini Kah Luka?

Ini Kah Luka?
7


__ADS_3

Gramedia hari ini cukup sepi. Aku duduk di sebuah kursi yang tersedia di situ. Aku memperhatikan Baim dan Ami yang sedang mondar-mandir mencari buku yang mereka perlukan. Sementara aku sudah selesai dengan setumpuk buku di sampingku. Ku buka Hp untuk mengusir rasa bosan, iseng ku buka chatingan ku dengan Oky yang tak pernah ku hapus sejak dulu. Manis. Bahkan terlalu manis. Aku tersenyum sendiri betapa indahnya hari itu.


Hampir satu bulan semenjak aku dinyatakan lulus sidang proposal. Bulan depan targetku adalah sidang skripsi. Aku masih punya waktu sekitar satu bulan setengah lagi untuk menyelesaikan skripsiku. Target itu harus tercapai, berhubung aku sudah taken kontrak dengan dikti dan semua penyusunan Skripsiku dibiayai oleh dikti. Oleh karenanya, mau tidak mau aku harus mengesampingkan seluruh perasaanku untuk Oky.


Semakin ke bawah rasanya chatingan itu semakin hambar. Rasa perih tiba-tiba menyelinap dalam hati, baru aku sadari sejak satu bulan lalu Oky tidak pernah membalas chat-ku. Aku saja yang rajin mengiriminya kabar, bercerita tentang hari-hari yang ku lalui. Apa daya semua chat-ku hanya dibaca tanpa mendapat balasan. Aku selalu positif thingking, mungkin dia terlalu sibuk. Bahkan sangat sibuk. Sudah ku putuskan, weekend ini aku akan berkunjung ke rumah Ibu. Masih besar harapanku, semoga nanti aku bisa bertemu dengan Oky walau cuman sesaat. Aku merindukannya.


"Kebiasaan deh Lo, ngelamun ga tau tempat!" Ucap Baim.


"Gue ga ngelamun, cuma lagi maen Hp aja."


"Main Hp tapi Hp nya mati. Cuman orang ***** yang ngelakuin itu semua."

__ADS_1


Aku cuma bengong mendapati memang Hp ku sudah mati, bahkan mungkin sejak tadi.


"Ayoolaaa kita makan perut gue uda ribut!" Ami menimpali sambil membawa semua buku-buku di sampingku.


Aku mengikuti mereka di belakang. Memang akhir-akhir ini aku banyak di tegur Baim dan Ami kalo semua kerjaanku kurang rapi karena aku kebanyakan ngelamun.


"Gue ga paham deh sama lo Ras." Ucap Ami sambil menyeruput lemon tea nya.


"Lo kebanyakan ngelamun Ras. Kalo skripsi lo ga kelar gimana? Lo mau tuh beasiswa di cabut dikti?" Timpal Baim.


"Betul itu Im.. Laras lo bayangin cuman lo satu-satunya yang dapet kesempatan ini trus lo mau sia-siain gitu aja. ****!" Tambah Ami.

__ADS_1


"Gatau deh gue sama pikiran ni anak. Udah deh Ras, lo lupain orang yang ga peduli sama lo. Capek!" Tambah Baim. Aku cuman berusaha mencerna kata-kata mereka, disatu sisi ada benernya juga masa iya mau di sia-siain, tapi disisi lain aku punya keyakinan kalo Oky hanya sedang sibuk.


"Weekend nanti gue sama Baim mau balik dulu, lo mau ikut ga?" Tanya Ami.


"Ga ah, gue di sini aja. Gue mau nyicil bab tiga gue."


"Yakin lo ga ikut? Lo baik-baik aja?" Tanya Baim.


"Iyaa yakin gue. Lagian seninnya dospem gue pengen lihat sampe mana skripsi gue."


"Okelah kalo gitu. Ada si Riyani sama si cucok juga kan disini."

__ADS_1


"Iyaaa.. baik-baik kalian di sana yaa.. pulang bawa oleh-oleh buat gue." Jawab gue sambil nyengir kuda. Baim dan Ami saling tatap dengan ekspresi yang menjijikan.


__ADS_2